
Toddy Wen bukan cecunguk yang hanya bisa merayap tanpa upaya. Dia memiliki koneksi racun yang tak sembarang. Melalui internet, instagram dan virtual lain-lainnya, pria itu mengulik kehidupan Samudra hingga mengobok ke ranah pribadi. Dan nama Glorien dipilihnya sebagai ceklis terkuat.
Awalnya ia meminta orang untuk menculik wanita itu di Indonesia, tapi Dewi Fortuna memberi senyum dan menjulurkan kemudahan yang membuatnya tak perlu bersusah payah dengan biaya banyak. Glorien diketahuinya akan datang ke Moskow untuk menyusul Samudra. Dia menunggu kesempatan itu dengan sabar.
Didukung langit, Glorien tiba lebih cepat di bandara. Toddy dan para anteknya siap dengan siasat.
Glorien ditangkapnya dalam perjalanan. Supir taksi malang dibuat pingsan dengan pukulan keras di bagian tengkuk. Dan kini wanita itu berakhir dalam sekapannya bersama bom waktu yang kapan saja bisa meledak.
Samudra meradang marah.
Dokumen yang disodorkan Toddy ternyata berisi peralihan aset menjadi atas nama pria tua itu. Siapa sangka, Hector juga ada di sana. Pria itu ditangkap saat dalam perjalanan menuju gedung firma tempatnya bertugas sebagai pengacara. Wajahnya ketakutan setengah mati. Menyorot Samudra dengan tatapan meminta tolong.
Jika dipikir-pikir, Glorien memang menyusahkan, tapi Samudra bukan iblis yang tega mengorbankan nyawa seperti ibunya. Apalagi wanita itu adalah ibu dari anaknya.
"Ayo tandatangani. Kalau kau tidak mau, tombol ini akan kutekan untuk menjalankan bom di tubuh wanitamu." Toddy mengultimatum. Sebuah benda diangkatnya ke depan wajah. Itu adalah tombol untuk menyalakan waktu sesuai yang dia katakan barusan.
Samudra menatap Glorien dengan rasa cemas, lalu beralih pada kertas di atas meja kecil di hadapannya. Harta Karl, itu sangat disayangkan jika jatuh ke tangan orang sinting seperti Toddy. Tapi mencari opsi lain di saat urgent seperti sekarang sungguh tak ada waktu.
Pandangan tajam Samudra menyapu sekeliling. Orang-orang Toddy tak satu pun memegang pistol. Terhitung jumlahnya ada sembilan orang. Badan mereka lumayan kuat, terlihat dari otot-otot lengan yang kokoh seperti kawat.
Sebentar, Samudra berpikir sebentar saja.
Hector tertangkap pandangnya masih dalam ancaman.
__ADS_1
Jadi ....
Satu, dua, ... tiga!
BRAKK!
DUGG!
Meja kecil ditendang tinggi oleh Samudra hingga mendarat di wajah Toddy. Semua terkejut. Toddy berteriak marah, "Keparat!"
Samudra mulai melawan satu per satu hingga dikeroyok.
Hector menyisi ke satu bagian seraya menudungi kepalanya dengan kedua tangan, takut kena hantam.
Perkelahian berlangsung cepat. Orang-orang Toddy nampak antusias menyumbang tinju untuk satu ekor cecunguk.
Tapi Samudra bukan jenis serangga yang mudah ditepuk. Perlawanannya seperti menggunakan sepuluh tangan.
Satu per satu tersungkur dengan keadaan tidak baik.
Sampai ....
"Samudra, tolong!"
__ADS_1
Pandangannya langsung melengak ke suara Glorien, lalu ke arah Toddy yang siap melarikan diri di bingkai pintu. Pria itu menyeringai seraya mengangkat satu tangan ke depan wajah.
Seketika Samudra membelalak. Angka waktu di bom yang menempel di perut Glorien mulai berjalan. Hanya terhitung sepuluh menit. Toddy baru saja menyalakannya, dan pria itu langsung mencelat pergi.
Samudra menggeleng. "GLOOO!"
Yang terkapar yang masih hidup berusaha bangkit untuk melarikan diri, namun yang terpuruk mungkin harus siap menerima kemungkinan terburuk.
Glorien dihampiri Samudra. Memeluknya sesaat, lalu turun pada bagian perut yang melingkar bahaya di sana.
"Gimana ini, Samudra? Aku takut." Glorien menangis.
Samudra naik menatapnya seraya memegang dua bahu wanita itu. "Kamu harus tenang, oke?"
Glorien mengangguk walaupun ia sendiri tak yakin dengan itu.
Waktu berjalan terus, sisa delapan menit saja.
Samudra menoleh ke sekeliling, Hector bahkan sudah tak di sana entah sejak kapan. Lagi pula siapa yang mau mati dengan cara konyol seperti ini? Saat ada kesempatan, kenapa tidak melarikan diri, itu yang dilakukan Hector.
Untuk melepaskan benda itu di badan Glorien terlalu sulit dan beresiko. Setiap kabel saling berhubungan bahkan hingga ke bagian belakang, bisa memicu ledakan lebih cepat dari angka waktu yang berjalan.
Tapi Samudra tidak akan menyerah. Sekeliling tempat diedarnya, mencari sesuatu yang mungkin bisa digunakan untuk membatalkan tugas detonator di badan bom.
__ADS_1
Dalam mode itu, seorang musuh yang terkapar tiba-tiba bersuara, "Kabel biru kecil ketiga setelah hitam."