Menantu Sempurna

Menantu Sempurna
Mengejutkan


__ADS_3

Tidak ada yang berubah, permintaan Laura masih sama seperti sebelumnya. Tetap di pihaknya, urus perusahaan dan menikah dengan dirinya. Dan semua kembali diangguki Samudra untuk kedua kali.


Petugas sipil pencatatan nikah berganti dan dia baru saja datang, yang tadi ternyata tertembak mati.


Setelah semua yang mati disembunyikan dalam satu ruangan, kursi yang sama dengan sebelumnya diduduki Samudra berdampingan dengan Laura.


"Siap, Honey?" Laura kembali tersenyum dan membelai pipi dingin calon suami mudanya yang tetap diam tak menyambutnya.


Glorien dalam gandengan David berdampingan dengan Mada, wanita itu masih menangis. Tidak kuasa melihat adegan yang sebenarnya juga tak diinginkan Samudra. Pria itu berkorban banyak, jadi apa yang bisa Glorien korbankan?


Tidak usah! Cukup pulang ke tanah air bersama Sagara dalam keadaan baik, itu saja, kata Samudra beberapa saat lalu.


Mada dan lainnya, mereka tetap dalam keadaan ditodong senjata oleh anak buah Laura. Tak tertinggal satu orang pun, tak akan ada yang bisa menghentikan lagi.


Sagara masih dalam ancaman. Dia tetap jadi jaminan sampai semua tuntas dan Samudra tak mengingkari apa yang telah dia sanggupi.


Sebenarnya jika dipikirkan, masalah ini tak seberat itu. Samudra hanya diminta menjadi suami dan pengurus perusahaan oleh Laura. Hanya mengorbankan cinta Glorien yang suatu saat juga pasti akan sembuh seiring waktu.


Hanya saja, Sagara yang mungkin tak akan bisa dimilikinya. Samudra harus kuat hanya demi anak itu bisa tetap hidup dan bahagia, setidaknya bersama ibu yang lama tak mendekapnya.


Untuk saat ini, itu cukup. Perusahaan Pascal tak akan habis untuk menghidupi mereka bahkan hingga sepuluh turunan.


"Aku siap! Lakukan secepatnya, agar anakku dan lainnya bisa cepat pulang ke Indonesia. Berikan kertas-kertas itu!"


Laura tersenyum senang mendengar kalimat yang dilontar Samudra. "Tentu, Sayang," katanya. Lalu menghadap lurus pada pria petugas sipil di hadapannya. "Siapkan segera!"


"Okay, Mrs Laura.”


Keadaan hening, selain suara kertas yang berkeresak di atas meja.


"Silakan, Pak." Pria petugas menyodorkannya pada Samudra.


Kali ini tak ada keraguan, Samudra akan melakukannya dengan cepat demi agar drama menjijikkan ini segera berakhir.

__ADS_1


Kembali menjadi pion Laura tidak begitu buruk, walaupun kini berganti tema dengan perannya sebagai suami dan teman di atas ranjang, Samudra akan menata dirinya untuk benar-benar siap berada di kancah itu.


Laura tak henti memasang senyum, menanti gilirannya menandatangani berkas pernikahan yang hanya tinggal sesaat lagi.


Samudra baru membubuhkan dua tanda tangan, dan hanya tersisa satu poin saja.


Situasi gaduh dalam sekejap menjadi sakral.


Mada terus menggeleng tak habis pikir.


Menyayangkan betapa hidup sahabatnya sekonyol ini.


Setetes air mata jatuh menggelinding di pipinya sesaat setelah menoleh Glorien lalu menatap Sagara di belakang Laura.


"Andai ada yang bisa gua lakuin buat gagalin ini, Sam.” Dia menyesali sedalam lautan.


Tapi Tuhan bertindak dengan caranya, walau tidak dengan tangan Mada.


"APA KAU IBLIS SUCCUBUS YANG TEGA MENGHANCURKAN HIDUP PUTRAMU SENDIRI, MOMMY!"


Semua terkejut dan serentak menoleh pada satu arah.


"Charlotte!"


Gadis itu berdiri dengan napas terengah di pertengahan tangga. Menatap Laura dengan amarah, berlinangan air mata.


"Benar, Nyonya Laura! Hentikan pernikahan ini! Anda tidak bisa menikahi putra Anda sendiri. Samudra adalah anak kandung Nyonya!" Seorang pria menyusul Charlotte kemudian berdiri di samping gadis itu.


"Ayah!" Samudra melengak terkejut setengah mati dan langsung berdiri.


"Om!" Mada dan David turut membelalak.


"Ayah," Glorien mendesis.

__ADS_1


Semua kata itu terlontar bersamaan.


Sebagian senjata anak buah Laura tertodong ke arah Charlotte dan juga pria yang tak lain adalah Darius. Entah bagaimana dia ada di sana----akan terjawab lain kesempatan.


"Siapa kau?!" Laura bertanya tajam. Sepasang matanya melotot dan memerah kesal.


"Aku orang yang merawat Samudra sedari kecil, Nyonya," Darius mengakui tanpa basa-basi. Perlahan dia menuruni tangga. Charlotte Wen mengikuti dengan wajah terluka, tak habis pikir dengan kelakuan ibunya yang dengan sinting menikahi anaknya sendiri, walau yang dia tahu hanyalah seorang anak angkat.


Meski dalam keadaan dibidik senjata, Darius tetap tenang berjalan mendekat ke arah Laura juga Samudra. Hentak kaki bergema karena keadaan tenggelam hening.


"Apa maksud perkataan Ayah tadi?" Samudra bertanya lebih dulu, tak sabar. Keadaan dalam dadanya sudah berdentam-dentam tidak karuan. Perkataan Darius beberapa saat lalu terngiang keras menguasai kepalanya seperti pukulan berulang. "Samudra adalah anak kandung Nyonya!"


Dengan wajah rapuh, Darius menatap pria yang kini nampak perkasa, bahkan lebih darinya yang selalu kuat di hadapan anak yang dia besarkan itu. "Maafin Ayah, Sam. Ayah juga baru tahu ini dua hari lalu."


"Damn! Bicara apa kau sebenarnya, Pak Tua?!" Laura mulai meradang.


"Mommy, please listen first!" Charlotte membentak. Setelah itu matanya kemudian memeloti semua anak buah Laura yang terus saja menodongkan senjata mereka. "Put down your guns!" pintanya menggeram.


Para pria itu menurutinya. Senjata mereka turunkan, karena Laura juga tak menghardik apa pun perihal kalimat itu.


Semua menunggu dengan tak sabar apa yang akan dipaparkan Darius.


Pria itu menatap Laura kini. "Nyonya, Anda masih ingat Jaladipa?"


Demi apa pun, mendengar nama berjenis sansekerta itu disebut Darius, sepasang mata Laura langsung membola.


"Dari ekspresi Anda, saya yakin Nyonya ingat," todong Darius.


Wajah Laura makin mengurat. "Katakan apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Pak Tua!"


Darius menghela napas. Menatap Laura dengan sorot miris, lalu pada Samudra juga dengan tatapan sama.


"Katakan cepat!" sembur Laura makin tak sabar.

__ADS_1


Semua menunggu sama tak sabar, tapi tak ada yang seperti Laura.


"Jaladipa yang membawa lari putra kecil Anda dulu, lalu dia memberikannya pada saya. Dan anak itu adalah ... Samudra."


__ADS_2