
"Kamu ada hubungan sama Fajar?" tanya Sandi menatap Widya lekat, berharap apa yang dipikirkan nya itu salah.
"Ya ada lah!" jawab Widya cuek, sambil mencoba untuk berdiri kembali.
"Maksud kamu, kamu sama dia..." Sandi mengira Widya berpacaran dengan Fajar.
"Temenan. Aku sama Fajar cuman temenan, sama kayak aku dan kamu cuman sahabatan!" jelas Widya menekankan kata Sahabat, sambil menatap lurus ke arah lain.
Sandi pun merasa lega dan sedih secara bersamaan. Lega karna ternyata Widya dan Fajar tidak berpacaran. Namun, merasa sedih saat Widya mengatakan mereka hanya sepasang sahabat. Kenyataan yang memang benar, namun juga menolak untuk seperti itu.
"Yaudah ya, aku mau bantuin bunda dulu!" seru Widya sambil berlalu keluar dari kamar, Sandi hanya menatap kepergian Widya dengan perasaan yang masih saja membuat nya tak tenang.
"Sebenernya aku tuh kenapa sih,? perasaan apa ini, bukannya emang bener ya Widya itu sahabat aku?!"batin Sandi terus menggerutu tanpa ada yang menjawab. Dia pun menyusul Widya pergi ke dapur.
Setelah makan malam bersama, kini Sandi dan Widya tengah duduk bersama di kursi halaman belakang. Entah mengapa ada perasaan canggung diantara mereka.
"Wid,"
"San," sahut mereka bersamaan, mereka pun saling tatap tersenyum canggung.
"Kamu aja duluan," ucap mereka barengan lagi.
"Yaudah!" barengan lagi.
__ADS_1
"Ish, yaudah suit aja deh biar adil!" usul Widya akhirnya, karna merasa canggung juga kesal.
"Oke!" mereka pun melakukan suit yang ternyata, Widya yang menang. "Nah, kamu duluan mau ngomong apa?" tanya Sandi menatap Widya.
"Emmm.." Widya pun jadi merasa ragu untuk bertanya soal hubungan Sandi dan Irda. Tapi, dia pun sangat merasa penasaran mengapa Sandi tak pernah cerita sebelumnya.
"Jadi ngomong gak Wid?" tanya Sandi lagi, karna Widya hanya diam melamun.
"Eh, iya. Tapi, kamu jawab jujur dan jangan marah ya sama aku" ucap Widya akhirnya.
Menaikkan alis sebelah menatap Widya heran dengan permintaannya barusan, namun tak urung dia pun mengangguk setuju.
"Oke, sebenernya aku tuh penasaran banget sama hubungan kamu dengan Irda. Kenapa kamu gak pernah cerita, kalo selama ini kamu udah punya pacar?"akhirnya Widya pun mengutarakan apa yang selama ini ada dalam pikirannya.
"Yaudah gapapa kalau gak mau..."ucapan Widya terpotong, karna Sandi akhirnya menjawab pertanyaannya.
"Bukannya aku gak mau cerita Wid. Lagian kan aku sama dia juga emang baru pacaran, ya jadi selama ini aku juga masih pendekatan lah sama dia. Saling mengenal karakter masing-masing." jawab Sandi mencoba tenang.
"Terus gimana ceritanya kalian bisa pacaran? Kalian kenal dimana?"tanya Widya lagi.
"Waktu itu, aku gak sengaja ketemu sama Irda di jalan. Waktu aku pulang main basket, dia lagi nangis di pinggir jalan. Tadinya aku gak mau peduli, tapi karna waktu jalanan lagi sepi dan mau malam, aku jadi gak tega. Makannya aku samperin dia." jelas Sandi menjeda sebentar, menatap Widya.
"Terus?aku masih setia ngedengerin kok,"ucap Widya tersenyum. Membuat Sandi merasa tenang dan nyaman.
__ADS_1
"Iya, setelah aku samperin dia, aku tanya lah dia kenapa. Ternyata dia abis kecopetan, semua barangnya diambil. Terus, dia juga hampir aja jadi korban pelecehan."sambung Sandi menceritakan tanpa kurang sedikitpun.
"Yaa Allah.." Kaget Widya, menutup mulut dengan tangannya merasa ikut sedih.
"Tapi, dia gak sampe di lecehin sih soalnya keburu dateng warga, terus mereka kabur. Tapi, warga gak tau kalau dia di copet sampe mau di lecehin. Karna tempatnya agak ketutup gitu. Makannya dia nangis di tempat kejadian karna merasa ketakutan, sampe akhirnya aku datang."Sandi kembali menghentikan ceritanya, menarik nafas dalam lalu membuangnya.
"Kenapa?" tanya Widya heran, karna Sandi tak meneruskan ceritanya.
"Udah dulu ya, udah malem banget. Aku mau pulang, gak mungkin kan aku nginep disini?"Jawab Sandi tersenyum karna berhasil membuat sahabatnya itu penasaran.
"Ish kamu mah ya, ceritanya nanggung banget sih! Aku kan lagi seru dengerinnya." gerutu Widya cemberut, melipat kedua tangannya di dada.
"Ya nanti lagi kan bisa, kayak gakkan ketemu lagi aja deh. Udah ya aku mau pulang, yuk ke dalem mau pamit sama ayah bunda. Kamu cepet tidur, besok-besok kan masi ketemu aku di sekolah. Jangan sedih gitu, apalagi kangen."ucap Sandi mengacak rambut Widya, lalu menarik tangannya masuk ke dalam rumah.
"Ish kebiasaan!!"Widya pun akhirnya pasrah masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan dengan Sandi.
Sandi pun pulang menuju rumah kost nya. Iya, Sandi memang tinggal sendiri di kostan karna orangtua nya sibuk bekerja di luar kota. Padahal, Sandi punya rumah hanya saja dia tak ingin benar-benar merasa sendiri di rumah. Makannya dia lebih memilih kost, walau di kamar sendiri setidaknya di sebelah pinggir kanan kiri juga depan ada teman yang sama-sama kost disana.
Tiba hari Senin, Widya dan semua murid SMA Jaya kembali bersekolah. Seperti biasa, Widya dan Sandi menghabiskan waktu dengan canda, makan bersama di kantin, mengerjakan tugas bersama. Hanya saja saat ke kamar mandi tentu mereka tak sama-sama. (Iyalah bisa digrebek nanti mereka!).
Namun saat waktunya pulang, Sandi kembali harus pulang duluan, karna harus menjemput Irda. Sebenarnya Widya masih sangat penasaran dengan kelanjutan cerita Sandi, yang masih menggantung itu. Tapi, dia mencoba untuk bersabar tak terus bertanya-tanya pada sahabat nya itu. Yang nanti nya akan membuat perasaannya kembali sakit.
Like dan komennya yaa... makasiih
__ADS_1