Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
53


__ADS_3

Setelah sarapan bersama, Sandi mengajak Widya pergi ke taman. Dan kini mereka tengah duduk bersama di sebuah kursi panjang.


"Jadi kamu mau ambil jurusan apa Wid?"tanya Sandi seraya menatap wajah sahabatnya itu.


"Heumm, jujur aku masih bingung San. Ayah pengennya aku ngambil bisnis, tapi..."ucap Widya menggantung. Dirinya nampak lesu dan gundah, hingga menundukkan kepalanya.


"Kamu pengen ambil sastra kan?"Widya hanya menganggukkan kepala sekali tanpa menatap Sandi. "Udah ngomong sama Ayah?"tanya Sandi kembali.


"Aku takut Ayah kecewa,"ucap Widya lirih.


"Ya gak ada salahnya dicoba Wid. Tinggal kamu loh yang belum mendaftar."Sandi mengingatkan kembali. "Tenang, nanti aku temenin."ucap Sandi seraya mengusap punggung Widya.


Widya pun tersenyum menatap Sandi. Merasa kembali bersemangat, mendapat dukungan dari seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Widya yang tadinya merasa takut akan pilihannya tak di setujui sang ayah pun, kini dirinya mulai berani untuk mengungkapkan apa yang dirinya pilih. Karna dia pun tak ingin salah memilih.


"Oiya, kamu inget gak sama Kak Kenny?"tanya Widya.


"Kak Kenny yang pendiem itu kan? Inget lah, kenapa?"ujar Sandi.


"Mulai besok dia mau stay loh di Indo. Dan bakalan tinggal di rumah."


"Oyah? Apa sekarang Kak Kenny masih suka menyendiri?"


"Gak tau juga sih, tapi ya mudah-mudahan aja enggak."


Keesokan harinya, sekitar pukul 09.00 Ayah Irwan, Bunda Novie juga Widya pergi ke bandara untuk menjemput keponakan Bunda Novie. Setelah tiba di bandara, mereka langsung menuju ke tempat kedatangan penumpang dari luar negeri. Sekitar 10 menit mereka menunggu, akhirnya yang ditunggu pun menampakkan dirinya. Dengan wajah datar, Kenny menghampiri Om, Tante dan sepupunya itu.


"Sayang, bagaimana kabarmu?"tanya Bunda Novie memeluk Kenny erat.


"Baik tante. Tante gimana?"Kenny tersenyum tipis saat Bunda Novie melepas pelukannya.


"Baik juga sayang."

__ADS_1


"Om...."Kenny memeluk Ayah Irwan.


"Kamu makin cantik aja sayang."ucap Ayah mengelus rambut Kenny.


"Makasih Om."Kenny menatap Widya yang masih berdiri di samping ayahnya. "Kamu gak mau peluk Kakak Wid?"Widya pun langsung memeluk kakak sepupunya itu.


"Kakak, Widya kangen tau!"ucap Widya dengan semangat memeluk sang kakak.


"Kenapa gak dateng aja ke sana?"goda Kenny.


"Yakali Kak, Singapure tuh jauh. Mana boleh lah, aku pergi sendiri ke sana."ujar Widya sembari melirik ayah dan bundanya.


"Sudah sudah, ngobrolnya kita lanjut di mobil aja yuk!"ajak Bunda, mereka pun segera meninggalkan bandara dan langsung pulang ke rumah.


Kini mereka sudah tiba di kediaman milik ayah Irwan. Kenny langsung masuk ke dalam kamar miliknya yang sudah disiapkan sebelumnya oleh Bunda Novie. Sedangkan bunda pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang nanti. Widya segera menghubungi Sandi untuk datang menemaninya berbicara dengan Ayah Irwan.


"Hallo San! Bisa gak kamu dateng sekarang ke rumah? Aku mau bilang sama ayah sekarang,"ucap Widya saat dirinya menelfon Sandi.


"Iya, aku ke sana sekarang! Tunggu ya!"Sandi pun segera mengambil kunci motornya setelah sambungan telfonnya terputus.


Di kediaman ibu Resni, semuanya sedang berkumpul. Sebenarnya Ibu Resni berencana akan memasak bersama Bunda Novie seperti biasanya, hanya saja karna semalam Bunda Novie memberitahukan tentang kedatangan keponakannya, Ibu Resni pun mengurungkan niatnya. Dan akhirnya Ibu Resni hanya akan membuatkan kue kering juga bolu untuk dikirimkan ke rumah tetangganya itu.


"Bu, lagi bikin apa sih? Aromanya wangi banget!"tanya Deni saat dirinya menghampiri sang ibu ke dapur.


"Ibu lagi bikin kue sama bolu sayang, nanti kamu ikut ibu ya! Anterin kue ini,"ajak Ibu Resni pada putra sulungnya itu.


"Emang kemana Bu?"tanya Deni seraya mengambil dan memakan kue yang sudah matang.


"Itu ke rumah depan."jawab ibu Resni.


"Heumm ke rumah depan doang kenapa harus dianter sih Bu?"ujar Deni malas.

__ADS_1


"Ya gak apa-apa dong, sekalian main aja. Katanya ada keponakan jeng Novie yang baru dateng, siapa tau bisa jadi temen kamu."


"Heumm ibu ini, yaudahlah nanti aku ikut."ucapnya sembari melangkah keluar dari dapur.


Deni pergi ke kamarnya, membuka handphonenya yang sejak tadi tersimpan di atas nakas. Deni mengernyit ketika ada pesan masuk dari no yang tak dikenal. Namun, setelah membaca pesan itu raut mukanya berubah kesal. Menghela napas berat, Deni melempar handphonenya ke atas kasur dengan kesal.


"Jadi, dia beneran balik?"gumamnya menyeringai.


Deni pun keluar menuju balkon yang terletak di kamarnya. Deni menghembuskan nafasnya pelan, memejamkan matanya. Mencari ketenangan setelah mendapat pesan dari seseorang yang membuat perasaannya kacau. Saat dirinya membuka matanya, terlihat di depannya ada seorang wanita yang baru saja membalikkan badannya untuk masuk ke dalam kamar.


"Siapa dia?Kayaknya bukan Widya deh,"gumam Deni saat melihat Kenny masuk ke dalam rumah. Ya kebetulan kamar Deni berhadapan dengan kamar Kenny.


"Aku gak salah liat kan tadi? Dia beneran Deni kan?"gumam Kenny memegang dadanya setelah masuk ke dalam kamar. Kenny mengintip dari jendela kamarnya, memastikan apakah Deni masih berada di balkon atau tidak. Ternyata Deni masih berdiri di tempatnya, Kenny pun memilih untuk turun ke bawah menghampiri tantenya.


Bunda Novie masih sibuk dengan acara memasaknya, meski dibantu oleh asisten rumah tangga tetapi Bunda Novie selalu memasak sendiri. Kenny menghampiri tantenya, dan menawarkan bantuannya untuk Bunda Novie.


"Tan, lagi masak apa?"tanya Kenny yang kini berdiri di samping tantenya.


"Loh, kenapa ke sini? Istirahat aja di kamar sayang."ucap Bunda tanpa menjawab pertanyaan Kenny.


"Aku udah istirahat kok tante, malah makin pegel kalo diem aja di kasur. Tante masak apa? Ada yang bisa aku bantu gak?"tanya ulang Kenny.


"Tante lagi bikin gulai ayam sayang, kamu duduk aja. Ini sebentar lagi juga selesai. Tadi bibi udah bantuin tante."jawab Bunda Novie yang masih mengaduk-aduk masakannya. Kenny pun memilih untuk duduk di kursi meja makan.


Sembari menunggu tantenya selesai masak, Kenny membuka handphonenya. Melihat-lihat postingan di instagram juga facebook, tak ada yang membuatnya menarik. Hingga akhirnya Kenny mencoba kembali menghubungi kontak seseorang yang dulu selalu ada di sampingnya. Namun, nyatanya masih sama seperti sebelumnya kontaknya masih di blokir. Kenny pun menghembuskan napas berat, ingin rasanya Kennya bertemu dengannya dan menjelaskan semuanya.


"Sayang, nanti kamu lanjut kuliah dimana?"tanya Bunda saat dirinya selesai memasak.


"Belum tau tante. Aku juga kurang tau sih kampus di sini."jawab Kenny setelah menyimpan handphone di atas meja.


"Heumm gimana kalo kamu kuliah di kampus Mahardika aja, bareng sama Widya?"usul Bunda semangat.

__ADS_1


"Boleh Tan,"jawabnya singkat dengan senyuman tipis di bibirnya.


like nya dong👍


__ADS_2