Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
74


__ADS_3

Widya sudah tiba di toko buku, untuk mengalihkan perasaannya yang tengah sakit juga kecewa Widya memilih menyibukkan diri dengan terus memilih dan membaca beberapa blurb daei novel-novel yang ada di sana. Hingga tak sadar saat dirinya akan bergeser dari tempatnya, Widya malah menabrak seseorang yang membuat semua buku yang dirinya juga orang itu berhamburan ke lantai.


"Ya ampun!"pekik Widya kaget, menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Maaf, maaf aku gak sengaja!"Widya lantas berjongkok untuk membereskan buku-buku miliknya juga orang yang ditabraknya.


Dan ternyata orang itu pun ikut berjongkok di depan Widya, mengambil sebagian buku yang sudah Widya bereskan.


"Lain kali jangan terlalu serius makannya!"ucapan ketus dari orang yang ditabraknya membuat Widya mendongakkan seketika wajahnya untuk melihat siap orang itu.


Saat tatapan mereka saling beradu, Widya menahan kaget karna ternyata orang yang ditabraknya adalah Evan.


"Evan?"ucap Widya kaget. Sedangkan Evan hanya menatapnya datae, sembari berdiri setelah membereskan semua buku yang tadi terjatuh.


"Udah?"tanya Evan membuat Widya bingung. "Pilih bukunya."sambungnya seolah mengerti dengan raut kebingungan Widya.


"Eh, i iya udah."jawab Widya sedikit terbata karna masih merasa gak menyangka bisa bertemu dengan Evan.


Setelah mendapat jawaban dari Widya, tanpa berkata lagi Evan langsung berbalik menuju kasir dengan membawa semu buku miliknya juga milik Widya. Widya yang sempat bengong langsung mengerjapkan matanya menyadari Evan yang sudah mulai menjauh darinya.


"Eh, tunggu!"Widya pun berlari menyusul Evan. "Itu, buku aku biar aku aja Van."ucap Widya sembari mencoba untuk mengambil novel-novel miliknya, namun belum sempat dirinya menyentuh buku milikya Evan sudah lebih dulu memberikan semua buku itu pada kasir.


"Itung semua mbak, satuin aja."ujar Evan masih dengan nada datarnya.


"Eh, gak usah!"lagi-lagi Widya dibuat terkejut dengan sikap Evan. Ingin memisahkan buku-buku miliknya, namun tatapan Evan yang menatapnya tajam membuat dirinya mengurungkan niatnya dan hanya bisa terdiam pasrah.


Setelah selesai membayar semua buku itu, lagi-lagi tanpa ucapan apapun Evan melenggang pergi keluar dari toko buku tanpa menghiraukan Widya yang menatapnya dengan kesal.


Akhirnya dengan memberanikan diri, Widya berjalan cepat menyusul Evan dan langsung berdiri di hadapan Evan. Membuat Evan menghentikan langkahnya menatap Widya dengan sebelah alis yang terangkat.

__ADS_1


"Siniin buku aku, dan ini aku ganti uangnya!"Widya hendak mengeluarkan dompetnya, namun lagi-lagi Evan menghentikan niatnya itu.


"Traktir aku makan siang."ucapnya langsung masih menatap Widya dengan tatapan datarnya.


"Hah? Maksudnya?"Widya masih tak mengerti maksud dari ucapan Evan.


"Sebagai ganti, traktir aku makan siang!"tegas Evan langsung menarik tangan Widya menuju food court yang berada di lantai atas mall itu.


Widya yang masih merasa bingung, hanya bisa pasrah mengikuti Evan tanpa melepas genggaman tangan Evan di tangannya.


Di lain tempat, Sandi dan juga teman-temannya baru saja keluar dari ruangan bioskop. Ya acara menonton mereka telah selesai, mereka berbincang-bincang dengan akrab.


"Eh, kita makan dulu yuk! Katanya makanan di food court mall di sini enak-enak."ajak Eki pada teman-temannya, yang langsung disetujui oleh semuanya. Mereka pun segera menuju food court.


Widya sudah duduk di depan Evan yang tengah menikmati makan siangnya. Sedangkan Widya hanya memesan seblak untuk makan siangnya, karna dirinya masih merasa bingung dengan sikap Evan yang terkesan seenaknya. Widya merasa kesal namun juga tak bisa berkata-kata, karna sikap Evan yang kelewat datar seolah tak pernah terjadi apa-apa. Yang akhirnya Widya hanya bisa menahan kekesalannya sendiri.


Widya pun lantas mulai memakan seblaknya dengan perasaan malu juga kesal. Hingga dirinya tak sengaja melihat ke arah pintu masuk, saat Sandi juga temannya memasuki area food court. Seblak yang baru saja masuk ke dalam mulutnya tiba-tiba terasa seperti sedang mengunyah batu yang keras hingga sulit sekali untuk ditelan.


Yang akhirnya malah membuat dirinya tersedak, refleks Evan langsung memberikan minumannya kepada Widya. Widya pun langsung menerimanya karna merasakan sakit juga pedas secara bersamaan di tenggorokannya.


"Uhuk uhuk uhuk!"Widya terus menepuk-nepuk dadanya mencoba untuk mengatur kembali saluran pernafasannya.


"Pelan-pelan,"ucap Evan lembut, membuat Widya menatapnya heran.


Di tempatnya Sandi ternyata tengah melihat ke arah Widya dan Evan. Tiba-tiba Sandi merasakan hawa panas di tubuhnya, melihat Evan yang tengah mengelap sudut bibir Widya. Sandi merasa sesak di dadanya, hingga kedua tangannya terkepal rahangnya pun mengeras. Tanpa menghiraukan keberadaan teman-temannya, Sandi langsung berjalan menuju meja Widya.


"Loh, San mau kemana?"teriak Irda heran melihat kepergian Sandi yang terburu-buru. Namun, tatapannya langsung mengarah pada meja Widya dan Evan. "Widya?"gumam Irda pelan.

__ADS_1


"Eh, tuh si Sandi mau kemana Da?"tanya Yuli yang juga melihat kepergian Sandi.


"Ada temennya di sana. Eh, mending kalian cari meja aja. Nanti aku nyusul, sekarang aku mau nyusul Sandi dulu!"Irda langsung berlari menyusul Sandi.


"Ngapain di sini?"tanya Sandi tiba-tiba saat sudah berada di samping Widya. Tatapannya begitu tajam. Widya pun menoleh kaget, setelah menepis pelan tangan Evan.


"Sandi!Kamu di sini?"tanya Widya berusaha untuk tenang.


"Hai Wid!"sapa Irda langsung berdiri di sebelah Sandi.


"Eh, hai Da."balas Widya kikuk.


"Wid, siapa dia?"tanya Sandi seraya menatap Evan dengan tatapan tak suka.


"Oh, dia Evan. Temen sekelasku, Van kenalin ini Sandi dan ini Irda."Widya pun mengenalkan mereka pada Evan. Evan hanya menanggapinya dengan senyuman tipis, lantas kembali fokus pada makanannya.


Sikap Evan yang seperti itu malah membuat Sandi semakin geram, seolah-olah kehadirannya tak mempengaruhi dirinya sama sekali. Bahkan mungkin memang tak penting sama sekali.


"Kalian udah pesen makanan? Mau gabung?"tanya Widya basa-basi.


"Kita sama temen-temen yang lain Wid, San yuk kita pesen makanan dulu, tuh yang lain udah nunggu!"Irda menggenggam tangan Sandi untuk mengajaknya pergi dari meja Widya.


Sandi masih tetap bergeming, menatap ke arah Evan dengan tajam. Ingin meluapkan emosi, tapi dirinya sadar bahwa kini sedang berada di tempat umum. Dan dirinya pun menyadari tak ada alasan untuk diringa marah, kecuali dirinya mengakui bahwa kini tengah cemburu. Dan utu tak mungkin dirinya lakukan.


"Wid, kita ke sana ya. Bye!"Akhirnya Sandi pun pasrah mengikuti Irda setelah menatap sekilas Widya.


Widya menatap sendu punggung Sandi yang semakin menjauh darinta. Apalagi, tangan Irda yang masih menggenggam tangan Sandi tak dilepaskannya. Apakah mereka sudah benar-benar balikan, batin Widya lirih.

__ADS_1


__ADS_2