Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
49


__ADS_3

WIDYA POV


Tepat jam 5 subuh, aku bangun dari tidurku. Segera aku ke kamar mandi untuk bersih-bersih agar aku bisa shalat subuh. Setelah selesai mandi, aku pun segera shalat subuh. Seusai shalat aku pun membereskan tempat tidur yang semalam aku pakai. Ku rasa sudah cukup rapi, aku pun keluar dari kamarku. Tepatnya sih kamar tamu yang ada di rumah Sandi.


Ya, karna semalam aku menginap di rumah Sandi. Itu karna Mamanya Sandi yang memintaku untuk menginap. Karna Ayah dan Bunda pun memberi ijin, tentu dengan senang hati aku menerima permintaan Mamanya Sandi.


Aku pun turun langsung menuju dapur. Karna dari atas, ku dengar ada beberapa orang yang sedang mengobrol di sana. Dan ternyata, itu Mamanya Sandi yang sedang sibuk dengan para asisten rumah tangganya.


"Mama..."panggilku pelan, Mama Sandi pun menghentikan kegiatannya dan melihat ke arahku dengan senyuman hangatnya.


"Eh, sudah bangun sayang."ucap Mama Sandi menghampiriku.


"Iya, Mama lagi bikin apa?"tanyaku melihat keadaan dapur yang cukup ramai dengan sayur mayur juga perabotan untuk memasak.


"Mama lagi masak ayam goreng balado, sama tumis kangkung."jelas mama sambil masih sibuk dengan pisau dan sayur kangkung yang sedang dipotong-potong.


"Widya bantuin ya Ma?"tawarku, karna merasa tak enak bila tak mengerjakan apa-apa di rumah orang lain.


"Boleh sayang, yuk sini!Kamu potong-potong aja kangkungnya ya terus nanti bersihin. Mama mau siapin puding dulu."Mama menyerahkan sayur kangkung padaku.


"Siapp!"Aku pun segera memotong sayur kangkung yang sudah tersedia di atas wastafel.


Aku sangat senang, karna ternyata Mamanya Sandi sangat menerima kehadiranku. Gimana nanti kalau mamanya Sandi jadi mertua aku ya, pasti bakalan baik banget. Eh, apaan aku ini kejauhan mikirnya.


Widya pov and


Setelah selesai dengan acara masak-memasaknya, Sandi juga Papanya telah bergabung di ruang makan. Mereka makan bersama dengan suasana yang hangat. Sesekali terselip obrolan yang mengundang tawa diantara mereka. Hingga acara sarapan pagi itu selesai, mereka masih asik mengobrol.


"Wid, kenapa buru-buru pulang sih?Nginep di sini lagi ya, temenin Mama..."ujar Mama Sandi saat Widya dan Sandi bersiap untuk pulang.


"Maaf Ma bukannya gak mau tapi, Widya harus siapin buat persiapan masuk kuliah. Lain kali Widya pasti main ke sini lagi kok,"Widya memeluk Mamanya Sandi, menyalurkan rasa sayangnya.


"Iya nih Mama tenang aja, nanti pasti Sandi ajak lagi Widya ke sini. Sekarang ijinin kita pulang dulu ya, keburu makin siang ini."kata Sandi yang sudah siap dengan helm yang dirinya bawa.

__ADS_1


"Iya, iya Mama ijinin kok. Kalian jaga kesehatan ya, dan kamu Sandi. Inget rumah, jangan mentang-mentang nge kost, lupa sama rumah!"Mama Sandi pun memeluk anak semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang.


"Yaelah Mah, ya gak mungkin lah aku lupa. Mama tenang aja oke!"Sandi melepas pelukannya dan segera mencium kedua pipi Mamanya.


"Iya, sayang."


"Yaudah kita pamit ya Ma, Mama sama Papa juga jaga kesehatan ya. Doain kita biar bisa sama-sama lolos masuk kampus yang kita pengen."ujar Sandi.


"Iya pasti. Widya tolong ingatkan Sandi ya kalau dia lupa sama rumah!"ucap Mama dengan nada bercanda.


"Siap Mah!"jawab Widya tersenyum.


"Udah ah, yuk Wid kita jalan sekarang."Sandi pun segera naik ke atas motornya.


"Kita pulang ya Ma,"ujar Widya mencium kedua pipi juga tangan mama Sandi dan juga Papa Sandi.


"Assalamu'alaikum!"salam Sandi juga Widya, sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan kediaman orangtua Sandi.


"Wa'alaikumussalam!Hati-hati!"teriak Mama Sandi yang mungkin sudah tak terdengar lagi oleh mereka. Karna Sandi yang langsung menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Sudahlah Ma, namanya juga anak muda. Dulu papa juga gitu kok, malah lebih jago dari Sandi."ucap Papa Sandi bangga.


"Ish malah narsis!"Mama Sandi pun masuk ke dalam rumah meninggalkan sang Suami yang masuh tersenyum mengenang masa lalunya.


Di kostan Irda


Irda tengah membereskan semua barang-barangnya untuk dibawa kembali ke rumah milik orangtuanya. Ya, karna sesuai kesepakatannya dengan sang Papa saat dulu dirinya memutuskan untuk tinggal di kostan. Irda hanya diijinkan untuk tinggal di kostan selama dirinya sekolah, setelah lulus tentu dia harus kembali ke rumah orangtuanya. Awalnya Irda meminta untuk kembali meneruskan ngekost, hanya saja Papanya tidak memberi izin karna terlalu khawatir. Akhirnya Irda pun menuruti keinginan sang papa daripada dia harus menerima semua fasilitas yang diberikan Papanya dicabut.


Disaat Irda tengah memasukkan pakaiannya ke dalam tas, terdengar ada seseorang di luar kamarnya sedang mengetuk pintu kamarnya. Irda pun mengernyit, merasa bingung siapa yang tengah datang ke kostannya itu.


"Siapa ya?Gak mungkin Sandi kan?"tanya Irda pada dirinya sendiri, sebelum akhirnya dirinya membukakan pintu kamar kostnya.


"Hai!"ucap seseorang yang berada di balik pintu kamar Irda.

__ADS_1


"Loh, Erick?"pekik Irda saat membuka pintu kamarnya dan mendapati Erick lah yang datang.


"Iya ini aku lah, kenapa?Kayaknya gak seneng gitu aku dateng,"ujar Erick memasang wajah sedih.


"Eh bukan gitu, aku kaget aja. Yaudah duduk aja dulu, aku ambilin minum."Erick pun duduk di kursi yang berada di teras kamar Irda. Sedangkan dirinya membawakan minuman kaleng yang memang selalu tersedia di kamarnya.


"Untung aja masih ada,"gumamnya saat membuka lemari es mini yang ada di kamarnya.


"Nih buat kamu, cuman ada minuman soalnya aku lagi beberes."ujar Irda menyodorkan minuman kaleng kepada Erick.


"Santai aja, kesini juga bukan buat minta minum atau makan."ucap Erick seraya menerima minumannya. "Emang lagi beberes apa?tumben,"ucapnya dengan nada meledek.


"Ish, kenapa?Kesannya aku gak pernah beberes aja sih."Irda mengerucutkan bibirnya merajuk.


"Haha, yang bilang gitu siapa?Aku kan cuman bilang tumben, soalnya biasanya kan emang kalo aku ke sini, kamu lagi gak beberes."jawab Erick dengan tawanya.


"Ish, aku tuh lagi beresin barang-barang. Soalnya besok aku udah harus pulang ke rumah. Sekarang hari terakhir aku di sini."terang Irda sembari menatap lurus dengan tatapan sendu.


Erick pun merasa kaget, namun juga senang mendengar pernyataan dari Irda. Itu berarti kesempatan dirinya untuk dekat dengannya semakin besar.


"Perlu aku bantu gak?"tawar Erick dengan senyuman manis yang selalu dirinya berikan hanya untuk Irda.


Irda terlihat menimbang tawaran yang diajukan oleh Erick, sampai akhirnya Irda pun menyetujuinya.


"Boleh deh, capek juga aku daritadi gak beres-beres."keluh Irda sembari meregangkan kedua tangannya.


Erick pun tersenyum gemas melihat Irda yang memang terlihat menggemaskan dimatanya.


"Yaudah yuk, biar cepet beres!Tapi, ini gak gratis loh ya!"ujar Erick dengan senyum menyeringai.


"Hah?Maksudnya gak gratis?Jadi aku harus bayar jasa kamu gitu?Ish dasar, berapa emang?"tanya Irda polos.


"Udah mending sekarang kita beresin dulu aja barang-barangnya, soal bayaran bisa nanti kalo udah beres semua!"ujar Erick yang segera menarik tangan Irda masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Maafkan kalo ada typo😔


__ADS_2