Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
54


__ADS_3

Kini, Widya sedang bersama dengan Sandi di halaman depan. Widya masih merasa gugup dan takut untuk menemui ayahnya. Widya takut ayahnya tak akan menyetujui keinginannya untuk mengambil jurusan sastra. Tetapi, Sandi memberinya dukungan dan semangat agar Widya berani mengutarakan keinginannya. Sandi justru yakin kalau ayahnya akan dengan senang hati menerima keputusan Widya.


"Wid, tenang dong! Kamu kan mau ngomong sama Ayah bukan sama orang lain,"ujar Sandi mencoba menenangkan Widya.


"Ya iya, tapi kan tetep aja aku takut San."ucap Widya yang terlihat gusar.


"Udah, kan ada aku. Lagian aku yakin kok, Ayah gak akan marah. Malah Ayah pasti setuju, udah yuk masuk!"Sandi menggenggam tangan Widya dengan lembut, dan mengajaknya masuk ke dalam dan segera menemui Ayahnya.


Saat masuk ke dalam, Widya dan Sandi berpapasan dengan Kenny yang baru saja selesai membantu bunda Novie di dapur.


"Eh, kak dari mana?"tanya Widya saat berhadapan dengan Kenny.


"Dari dapur,"jawabnya sembari melirik ke arah Sandi.


"Oyah, kakak masih inget sama Sandi gak?"tanya Widya.


"Hai, kak! Masih inget dong, masa lupa sama cowok ganteng kayak aku!"ujar Sandi dengan gaya sombongnya Pede.


"Inget lah, dia kan temen kamu satu-satunya De. Dan narsisnya gak ilang-ilang ya!"ucap Kenny dengan senyuman mengejek.


"Ish Kak Kenny mah, aku tuh bukan narsis tapi emang kenyataannya aku ganteng!"ujar Sandi misah misuh. Kennya hanya tertawa menanggapinya.


"Kak, kita ketemu ayah dulu ya! Yuk San,"Widya dan Sandi pun pergi menuju ruang kerja ayah Irwan. Sedangkan Kenny melenggang menuju teras depan.


Kenny memilih duduk di kursi yang ada di teras sembari membuka akun instagram miliknya. Saking asiknya berseluncur di instagram, Kenny sampai tak menyadari ada yang datang dan sudah berdiri di hadapannya.


"Aku gak salah liat kan ini?"batin Deni menatap Kenny.


"Assalamu'alaikum!"salam Ibu Resni mengejutkan Kenny.


"Eh,"hampir saja Kenny menjatuhkan Hp nya, namun dengan sigap Deni segera menangkap hp milik Kenny. Tanpa sadar mereka saling bertatapan. Saling meyakinkan diri bahwa orang yang ada dihadapannya adalah orang yang selama ini selalu ada di hati mereka masing-masing.


"Aduh, ya Allah maafkan Ibu! Kamu kaget ya?"tanya Ibu Resni merasa bersalah.


"Eh, enggak kok Bu. Gak apa-apa!"jawab Kenny gugup.


"Ini Hp nya!"Deni mengembalikan Handphone milik Kenny dengan tatapan yang berubah menjadi dingin.


"Eh i iya makasih."Kenny mendadak gugup karna kini dirinya berhadapan dengan orang yang selama ini dia rindukan.


"Kamu keponakannya jeng Novie ya? Saya Bu Resni, kami tetangga di depan."jelas Ibu Resni.

__ADS_1


"Oh, ya saya Kenny keponakannya tante Novie. Mari masuk Bu, saya panggilkan tante dulu."Kenny pun mengajak Ibu Resni dan Deni untuk masuk, dan dia segera menemui Bunda Novie.


"Cantik ya Bang,"bisik Ibu Resni pada Deni.


"Namanya juga perempuan Bu."jawab Deni cuek, membuat sang Ibu mendelik mendengar jawabannya.


Tak lama, bunda Novie datang menemui mereka namun tanpa Kenny. Karna Kenny sudah kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Eh, sudah datang jeng!"sapa Bunda Novie bersalaman dan saling cium pipi masing-masing. Biasa ibu-ibu (-_^)


"Ini saya bawakan bolu, Jeng."Ibu Resni memberikan kotak makanan yang berisikan kue bolu buatannya sendiri.


"Aduu makasih loh, padahal gak usah repot-repot."Bunda Novie menerimanya dengan senyuman lebar.


"Ah gak repot,"


"Eh, kebetulan ada nak Deni. Sebenarnya tante mau minta tolong, sama nak Deni."


"Minta tolong apa tante?"


"Em, begini keponakan tante kan baru dateng dari Singapure. Nah tujuannya kesini mau lanjutin kuliah di sini. Karna tante sama Om lagi ada kerjaan, jadi gak akan sempet anterin keponakan tante buat daftar ke kampus. Kalo gak keberatan, boleh gak tante minta tolong sama nak Deni?"


"Syukurlah kalau begitu. Tolong anterin keponakan tante ya, ke kampus Mahardika buat daftar ulang? Gak apa-apa kan?"bunda Novie menatap Deni penuh harap.


"Gak apa-apa lah pasti, Deni pasti mau anterin. Ya kan sayang?"lagi-lagi Ibu Resni yang menjawab seraya menatap Deni seolah mengatakan jangan berani-berani untuk menolak permintaan bunda Novie.


"Emm... I Iya gak apa-apa tan. Aku bisa kok,"jawab Deni kikuk.


"Ah makasih ya nak Deni, tante jadi lega. Soalnya kan Kenny masih baru di sini, takutnya dia kesasar."kekeh Bunda Novie diikuti ibu Resni.


"Memang kapan rencananya jeng?"


"Sebentar saya panggil dulu anaknya, mari jeng duduk dulu!"bunda Novie lantas pergi menemui Kenny di kamarnya.


"Bu, ibu ini kenapa main setuju-setuju aja sih?"ujar Deni gusar.


"Ya gak apa-apa dong sayang, gak baik loh nolak permintaan tolong dari orang."jawab ibu Resni santai. Deni hanya bisa menghembuskan napas pasrah.


Di lain tempat, tepatnya di sebuah kafe seorang gadis sedang sibuk dengan pekerjaannya yang baru saja dia dapatkan 2 hari yang lalu. Sabitha, ya setelah mendapat pengumuman kelulusannya Sabitha segera mencari pekerjaan. Dan beruntungnya dia mendapatkan pekerjaan menjadi pelayan di kafe, karna mendapat bantuan tetangganya yang sudah lebih dulu bekerja di sana. Sabitha tak dapat melanjutkan sekolahnya karna merasa tak tega pada orangtuanya.


Sabitha akan menabung dari hasil kerjanya sendiri untuk biaya kuliahnya nanti.

__ADS_1


Saat Sabitha sedang membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan oleh pelanggan, datang seorang pemuda yang langsung duduk di kursi yang mejanya sedang dibersihkan oleh Sabitha. Awalnya, Sabitha merasa kaget juga kesal. Tetapi, setelah melihat siapa yang duduk di hadapannya, Sabitha hanya bisa menahan emosinya. Karna tak mungkin dirinya berdebat dengan pelanggan kafe tempatnya bekerja.


"Selamat pagi! Maaf mejanya masih saya bersihkan."ucap Sabitha selembut mungkin, meski masih terdengar nada kesal dari ucapannya. Sabitha melanjutkan kembali mengelap mejanya.


Sedangkan pemuda itu terus menatap Sabitha dengan senyuman tipis di bibirnya. Fajar, pemuda yang kini masih saja menatap Sabitha dengan tatapan yang tak dapat dibaca.


Menyadari dirinya sedang ditatap, Sabitha menatap balik Fajar dengan tajam.


"Kenapa kamu liatin akuterus?"tanya Sabitha dengan suara pelan.


"Gak apa-apa. Kamu udah ngelap mejanya? Kalo udah tolong bawain pesanan aku ya," ujar Fajar dengan senyuman menyeringai.


Sabitha pun segera berlalu menuju dapur. Dirinya kesal juga malu, karna disaat seperti ini dia harus kembali bertemu dengan Fajar. Sedangkan Fajar, di tempat duduknya pun tak menyangka dapat bertemu kembali dengan Sabitha. Ditambah mengetahui Sabitha bekerja di kafe itu. Sebenarnya Fajar bangga dengan Sabitha, di usianya yang masih muda tetapi Sabitha harus bekerja demi dapat melanjutkan pendidikannya.


Tak lama, Sabitha datang kembali dengan membawa pesanan milik Fajar. Sabitha menyimpan semua pesanan milik Fajar di mejanya, setelah semuanya selesai Sabitha hendak kembali ke dapur, namun Fajar menahannya.


"Silakan dinikmati."ucap Sabitha tersenyum, setelahnya segera membalikkan badan hendak pergi.


"Tunggu!"ujar Fajar menghentikan langkah Sabitha, dengan terpaksa Sabitha membalikkan kembali badannya menghadap Fajar.


"Ya ada yang bisa saya bantu?"


"Kamu pulang jam berapa?"tanya Fajar santai.


"Hah? Maaf saya harus kembali bekerja!"Sabitha kembali melangkah menuju dapur.


"Aku tunggu di parkiran!"teriak Fajar, namun tak dihiraukan oleh Sabitha.


Di ruang kerja Ayah Irwan, Widya dan Sandi sudah duduk berhadapan dengan ayah Irwan. Ayah Irwan masih fokus dengan dokumen-dokumen kerjaannya.


"Ayah..."panggil Widya pelan.


"Ya sayang ada apa?"tanya Ayah tanpa menatap Widya.


"Aku... aku mau ngomong sama ayah."


"Ngomong apa sayang? Ayah dengerin kok,"


"Emmm... Widya mau minta ijin sama ayah, Widya pengen kuliah jurusan sastra!"ujar Widya dengan cepat tanpa mau menatap ke arah ayahnya.


~akhirnya bisa up lagi~

__ADS_1


__ADS_2