
Kini Fajar sudah memarkirkan sepeda motornya di halaman yang cukup luas di sebuah rumah yang begitu megah, namun juga terlihat sederhana karna bangunannya yang memang seperti bangunan rumah-rumah pada zaman dulu.
Sabitha pun turun dari motor, sambil membuka helm dia pun mengeryit heran mengedarkan pandangan ke penjuru rumah. Entah rumah siapa yang dirinya datangi, pikirnya.
"Eh, ini rumah siapa? Kenapa kamu malah ajak aku ke sini? Wah jangan-jangan kamu jual aku ke orang Belanda ya? Atau kamu..."
pletak
"Ow! Ish sakit tau!"pekik Sabitha saat Fajar tiba-tiba menjitak kepalanya.
"Kamu tuh kalo berpikir bisa gak, gak usah drama? Mana ada aku mau jual kamu ke orang Belanda? Lagian kenapa kamu mikirnya gitu sih?"gertak Fajar kesal.
"Ya liat aja tuh rumahnya kayak rumah orang Belanda jaman dulu tau gak?! Kamu kan bukan keturunan Belanda, jadi gak mungkin kan kalo ini rumah kamu?"ucap Sabitha yang masih keukeuh, mengira Fajar akan menjual dirinya.
"Ngaco banget ya pikiran kamu! Rumah ini emang peninggalan orang Belanda, tapi penghuni rumah ini bukan orang Belanda asal kamu tau. Penghuni rumah ini tuh asli orang Indonesia, jadi kamu gak usah berpikiran aneh-aneh deh!"Fajar merasa kesal karna pikiran Sabitha yang terlalu aneh menurutnya.
"Ya terus ini rumah siapa?"tanya Sabitha yang semakin penasaran.
"Kalo kamu pengen tau, ayo kita masuk!"ajak Fajar yang melangkah terlebih dulu meninggalkan Sabitha yang masih berdiri ragu di tempatnya.
Fajar pun membalikkan badannya, saat menyadari Sabitha tak juga mengikutinya. "Woy, mau sampai kapan berdiri di situ? Buruan, gak usah takut lah. Aku gak akan jual kamu!"teriak Fajar, yang akhirnya membuat Sabitha mau tak mau mengikuti Fajar.
"Assalamu'alaikum!"salam Fajar saat pintu utama rumah itu telah terbuka. Sabitha masih dengan langkah ragu mengikuti Fajar di belakangnya.
"Wa'alaikumussalam! Eh, den Fajar."jawab seorang wanita paruh baya yang merupakan asisten rumah tangga di sana.
"Bi Mae, apa kabar?"tanya Fajar mendekati wanita itu dan menciu. tangannya.
"Alhamdulillaah, bibi mah begini-begini aja den. Aden kenapa baru dateng, bibi teh kangen sama aden."ucap Bi Mae dengan logat sundanya.
__ADS_1
"Iya, maaf Bi. Fajar sibuk di kampus. Oya, Opa sama Oma mana Bi?"
"Tuan sama Nyonya ada di belakang den, biasa kalo jam segini mah mereka sibuk sama tanaman mereka. Oiya, aden ajak siapa itu?"bosik Bi Mae, saat menyadari keberadaan Sabitha yang berdiri di belakang Fajar.
"Oiya, Sab sini!"panggil Fajar. "Kenalin Bi, ini Sabitha temen Fajar. Dulu satu sekolah di SMA."
Sabitha pun tersenyum sembari mencium tangan Bi Mae.
"Oalah, meni geulis den temennya! Yakin cuman temen den?"goda bi Mae tersenyum menatap Fajar dan Sabitha bergantian.
"Ish, apaan sih Bi. Udah ah, Fajar mau ketemu Opa sama Oma dulu ya. Oya, minta tolong bikinin minum ya buat Sabitha."ucap Fajar lembut.
"Iya den tenang aja, nanti bibi bikinin. Yasudah, ajak si non nya ke belakang aja den."
"Oke bi, makasih ya. Yuk Sab!"Fajar pun mengajak Sabitha ke halaman belakang, untuk menemui Opa dan Omanya.
Ya, rumah yang mereka kunjungi adalah rumah milik Opa dan Omanya Fajar. Karna orangtua Fajar tinggal di Bali, jadi dari SmP sampai SMa kemarin Fajar memang tinggal bersama Opa dan Omanya. Dan baru sejak lulus SMa, Fajar memilih untuk tinggal di apartemen.
*
*
*
Di kampus Mahardika, Sandi tengah menunggu Widya di depan kelasnya. Sandi sengaja menunggu Widya, karna berniat untuk mengajak pulang bersama. Sudah beberapa hari ini, mereka jarang pulang bersama, maka dari itu kali ini dia tak akan membiarkan Widya untuk pulang sendirian lagi.
Setelah 10 menit menunggu, akhirnya pintu kelas Widya pun terbuka menandakan mata kuliah di kelasnya sudah selesai. Bergiliran semua mahasiswa di kelas itu keluar satu persatu setelah tadi dosennya yang keluar terlebih dahulu. Namun, setelah hampir seluruh mahasiswa di kelas itu sudah keluar, Widya belum juga menampakkan hidungnya.
Sandi yang penasaran pun, memilih untuk melihat langsung ke dalam kelas Widya. Sandi mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Widya. Dan ya, tepat saat dirinya menemukan dimana tempat duduk Widya, bertepatan dengan dirinya yang melihat Widya sedang bersama Evan dalam posisi Evan yang memeluk Widya. Tentu pemandangan seperti itu membuat perasaan Sandi menjadi panas.
__ADS_1
Seperti tertimpa bebatuan yang besar, menghantam tepat di dadanya. Rasanya sangat sesak dan sakit. Meski Widya bukanlah kekasihnya, dan mungkin dirinya pun tak berhak untuk merasa cemburu namun, tetap saja perasaan itu muncul dengan sendirinya tanpa bisa dirinya cegah.
Dengan tangan terkepal, Sandi memberanikan diri untuk menghampiri Widya yang sudah melepaskan diri dari pelukan Evan.
"Ekheem!"Sandi sengaja berdehem dengan suara yang cukup keras saat berada di hadapan mereka.
Widya dan Evan pun sontak menatap ke arah Sandi.
"Sandi?"panggil Widya kaget dan gugup.
"Udah selesai kan?"tanya Sandi dingin.
"Ah, eh iya udah kok San."jawab Widya sembari mengambil tas nya, dan berjalan mendekati Sandi. Jangan tanyakan Evan, karna tanpa kata dirinya sudah lebih dulu pergi saat Sandi datang menghampiri mereka.
"Apa tadi Sandi liat ya?"tanya Widya dalam hati, sembari melirik ke arah Sandi yang berjalan di sampingnya dengan raut wajah datar.
Sampai akhirnya mereka tiba di tempat parkir, Sandi masih tak mengajak Widya berbicara. Hingga mereka masuk dan duduk di tempatnya masing-masing, Widya akhirnya membuka percakapan si antara mereka.
"San.."panggil Widya pelan, saat Sandi baru saja menyalakan mesin mobilnya. Sandi hanya meliriknya sekilas, dan kembali fokus pada jalanan.
"San ih diem aja, kenapa sih?"tanya Widya sedikit kesal, karna Sandi yang masih saja tak menghiraukannya.
"Gak papa."jawabnya singkat.
"Ish nyebelim tau gak!"Widya mengerucutkan bibirnya kesal. Akhirmya Widya memilih untuk melihat ke arah jalan tak ingin lagi mengajak bicara Sandi.
"Aku yang lagi kesel, kenapa sekarang malah jadi dia sih yang kesel gitu?"gumam Sandi dalam hati melihat Widya yang masih menekuk wajahnya kesal. Sandi pun memilih untuk kembali fokus pada jalanan, biarlah nanti saat tiba di rumah dirinya akan mempertanyakan perihal kejadian tadi di kelasnya Widya. Karna sampai sekarang hatinya masij saja terasa sesak juga panas.
Namun, Sandi tak ingin langsung melampiaskan emosinya pada Widya. Karna dirinya bukanlah seseorang yang berhak untuk cemburu, jadinya dia memilih untuk diam agar emosinya tak meledak di tempat yang salah.
__ADS_1
*maafkan bila ada typo yaa...