
"Jar, kita mau kemana sih?"teriak Sabitha pada Fajar yang kini tengah duduk di depannya mengendarai motor sport hitam miliknya.
"Nanti juga kamu tau!"jawab Fajar dengan teriakan juga. Membuat Sabitha menghela napas pasrah, karna tak mendapat jawaban yang membuat rasa penasarannya menghilang.
Dari awal keluar rumah tadi, Sabitha yang menanyakan kemana tujuan mereka akan pergi selalu tak mendapat jawaban yang pasti. Fajar selalu menjawabnya dengan jawaban yang sebenarnya bukan jawaban. Itu sungguh membuatnya kesal, tetapi dia pun hanya bisa pasrah dan tak ingin bertanya kembali. Memilih untuk diam sembari menikmati perjalanan yang cukup lengang, karna mungkin hari ini masih hari kerja dan sebagian orang sedang bekerja di tempatnya masing-masing.
Sekitar hampir 1 jam di perjalanan, akhirnya Fajar membelokkan motornya ke sebuah mall yang cukup besar di kota Bandung. Tentu hal itu membuat Sabitha membulatkan matanya tak percaya, kini dirinya memasuki wilayah mall yang belum pernah dirinya datangi sebelumnya.
"Jar, ngapain kita ke sini?"tanya Sabitha saat turun dari motor yang sudah berhenti di tempat parkir khusus sepeda motor.
"Belajar. Ya main lah, atau belanja mungkin. Kan ini emang tempat buat belanja juga main."jawab Fajar santai. Setelah selesai memarkirkan motornya dengan benar, Fajar pun langsung menggenggam tangan Sabitha.
"Biar gak ilang nanti di dalem."ucapnya ketika melihat raut wajah kaget juga bingung Sabitha.
"Enak aja! Emang aku anak kecil apa?"ucap Sabitha ketus, namun tak ada niat untuk melepaskan genggaman Fajar di tangannya.
Sebelum memasuki kawasan bermain, Fajar sengaja mengajak Sabitha untuk berkeliling terlebih dahulu. Siapa tahu, ada barang yang akan Sabitha beli pikirnya.
"Kamu mau belanja dulu gak?"tawar Fajar saat mereka sudah berada di dalam mall itu.
"Belanja? Di tempat ini? Yang bener aja dong, bisa abis dalam sekejap dong uang aku."gerutu Sabitha.
"Kamu tenang aja, hari ini biar aku yang traktir. Sok kamu mau apa, nanti aku yang bayarin!"ujar Fajar dengan senyuman lebarnya.
"Hah, seriusan? Ada apa nih, pake traktir segala?"tanya Sabitha curiga.
"Ya gak ada apa-apa. Emang kenapa kalo aku traktir kamu?"Fajar menatap Sabitha yang berjalan di sampingnya.
"Ya aneh aja gitu, baru kemarin kamu ngasih aku gaji pertama aku tambah bonus lagi. Masa sekarang kamu bilang mau traktir?"ucap Sabitha yang kini juga menatap Fajar dengan tatapan bingung.
Fajar menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal karna merasa malu.
"Yaudah sih, gak usah kamu pikirin. Sekarang aku tanya ada gak barang yang lagi kamu pengen sekarang? Mumpung kita ada di sini, dan aku juga gak main-main loh mau traktir kamu."
"Ish dasar mau neraktir aja maksa!"desis Sabitha seraya berlalu meninggalkan Fajar.
__ADS_1
"Yee malah ninggalin!"Fajar pun segera menyusul Sabitha.
*
*
*
Setelah dari perpustakaan tadi, Widya, Sandi juga Irda sudah kembali masuk ke kelasnya masing-masing. Entah mengapa, belakangan ini Widya merasa Sandi semakin dekat dengan Irda dan itu sangat membuatnya tak nyaman. Namun, dirinya pun tak bisa mengungkapkan perasaan tak sukanya terhadap Sandi. Widya cukup tau, posisinya hanya sahabat bukan seorang kekasih. Widya hanya bisa mencoba untuk dapat menutupi perasaannya itu agar Sandi tak mengetahuinya, Widya hanya takut bila Sandi akan menjauhinya bila mengetahui perasaan Widya yang sebenarnya.
Widya kini tengah menyalin catatan materi yang sudah ditulis dosennya di papan tulis. Namun, sikap teman sebangkunya yang malah asik tertidur membuat konsentrasi sedikit terganggu. Evan, dia malah memposisikan kepalanya dengan nyaman di atas meja miliknya menghadap Widya. Widya sama sekali tak menyangka, kelakuan Evan benar-benar tak menunjukkan keseriusan dalam belajar. Selain sering absen, saat di kelas pun kebanyakan tidurnya dibanding fokus dengan pembahasan materi yang diberikan oleh dosen.
"Heran deh ni orang, niat kuliah gak sih sebenernya?"gumam Widya dalam hati menggelengkan kepalanya miris.
"Yang penting aku udah paham sama materinya!"gumam Evan lirih tanpa membuka matanya, seolah mengetahui apa yang diucapkan Widya.
Widya yang mendengar ucapan Evan membelalakan matanya kaget, namun saat menatap ke arahnya yang dia lihat Evan masihlah tertidur.
"Dia kok bisa tau?"tanya Widya dalam hati bingung.
"Gila!"desis Widya pelan. Evan mendengarnya, namun dia hanya tersenyum tipis dengan masih terus memejamkan kedua matanya.
Sedangkan di kelas Sandi, mereka baru saja selesai dengan mata kuliah terakhirnya. Selesai lebih cepat karna dosen yang mengisi kelas mereka ada keperluan lain, maka dari itu jam kuliahnya selesai lebih cepat.
"San, kita ke kantin dulu yuk. Kelas Widya juga kayaknya belum keluar deh."ajak Irda.
"Boleh deh, yuk!"Sandi dan Irda pun keluar dari kelas menuju kantin.
Sandi dan Irda sudah berada di kantin, mereka pun sudah memesan makanan. Mereka berdua terlihat sangat akrab dan dekat, sampai-sampai ada beberapa mahasiswa yang kebetulan memang teman sekelas mereka mengira kalau mereka adalah pasangan kekasih.
Tentu Irda yang mendengarnya sangat senang, meski dirinya di gosipkan tapi selama itu bersama Sandi tak jadi masalah untuknya. Malah itu membuat dirinya merasa memang yang paling cocok untuk Sandi.
Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba Erick datang menghampiri Irda dan Sandi. Dengan tanpa rasa malu, Erick langsung duduk bergabung di meja mereka berdua. Tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Irda, tanda dirinya tak ingin di ganggu. Tetapi, Erick seolah tak pedulikan itu.
"Hai, ikut gabung ya!"ucap Erick setelah mendudukan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Irda.
__ADS_1
Sandi pun hanya mengangguk memberi ijin, sembari mengingat siapa lelaki yang tiba-tiba datang di hadapannya itu.
"Kayaknya pernah liat, dimana ya?"gumam Sandi dalam hati menatap dengan lekat pada Erick.
"Ngapain sih kamu? Emang gak ada kelas?"tanya Irda tak suka.
"Baru aja beres, karna haus ya jadi ke kantin dulu deh."jawab Erick seraya mengangkat cup minuman dingin yang baru saja dirinya beli.
"Ya terus ngapain malah ke sini, bukannya langsung pulang sana."ucap Irda lagi lebih ketus. Sedangkan Sandi baru saja mengingat siapa Erick.
"Kalo gak salah kamu temen SMA nya Irda kan ya?"tanya Sandi tiba-tiba. Membuat Irda langsung menatap Sandi kaget.
"Iya. Kenalin Erick."ucap Erick mengulurkan tangan kanannya pada Sandi.
"Sandi."Sandi pun menjabat tangan Erick dengan senyuman tipisnya.
"Ambil jurusan apa?"sambung Sandi setelah melepas jabatannya.
"Teknik. Kalian udah gak ada kelas kan?"
"Gak ada."jawab Irda ketus seraya mengaduk minumannya dengan sedotan.
"Oke kalo gitu, aku boleh bawa Irda ya San. Ada urusan penting soalnya sama dia."ucapan Erick tentu membuat Irda membelalakan kedua matanya tak percaya.
"Ouh, ya silakan."jawab Sandi datar.
Tanpa menunggu persetujuan dari Irda, Erick langsung menarim tangan Irda untuk mengikutinya.
"Rick, apaan sih ih? Aku masih ngobrol sama Sandi!"ucap Irda tak terima.
"Gak apa-apa Da, lagian aku juga mau ke kelas Widya."ucap Sandi sembari berdiri dari tempat duduknya.
"Tapi, San.."
"Yaudah aku duluan ya. Bye!"Sandi pun pergi terlebih dahulu meninggalkan Irda juga Erick.
__ADS_1
Sandi memang merasa tak nyaman saat kedatangan Erick. Itu mengingatkannya dengan kejadian dulu, saat dirinya masih berpacaran dengan Irda.