
Selama 3 hari di waktu liburannya, Sandi pulang ke rumah orangtuanya. Yang niat awal ingin tinggal di sana selama seminggu, dia batalkan karna orangtuanya yang tak bisa menemaninya di rumah karna harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Kini, Sandi pun sudah kembali dari rumah orangtuanya. Sepulangnya dari rumah orangtuanya, Sandi langsung menemui Widya di rumahnya.
"Kamu, kok udah balik lagi sih San?"tanya Widya, yang kini sedang selonjoran di ruang tengah sambil menonton tv.
"Bosen, di rumah juga sepi. Ngapain lama-lama di sana." jawab Sandi datar.
"Ish, emang Mama sama Papa kemana? Kalian beneran udah ketemu kan?"tanya Widya lagi menatap Sandi sekilas, sebelum akhirnya kembali menonton tv.
"Iya ketemu, selama 3 hari kemarin itu. Dan itu juga, ketemu pas pagi sebelum mereka berangkat sama malem kalo aku belum tidur. Dan tadi pagi, mereka udah pergi lagi ke luar kota." jawab Sandi dengan nada yang berubah sendu.
"Emm, sabar yaa San. Mereka gitu juga buat kamu! Tetep semangat yaa!Kan di sini masih ada aku, Ayah sama Bunda yang bisa nemenin kamu." ucap Widya tersenyum, merangkul pundak Sandi.
"Iya, makannya aku betah disini. Tapi sayang,.."Sandi menggantung ucapannya, menatap Widya intens.
"Sayang kenapa?"tanya Widya melepas rangkulannya menatap Sandi dengan serius.
"Gak apa-apa ah, eh aku laper. Kita keluar yuk, cari makan."ajak Sandi mengalihkan.
"Cari makan?Emang dia hilang?"ucap Widya sok polos.
"Ish, saa aeee nih kamu ya!"seru Sandi menarik hidung Widya gemas.
"Adduu sakit tau ih!"pekik Widya mengelus hidungnya yang memerah.
"Hehe, maaf ya. Yaudah, mau gak?"
"Iya, bentar aku ganti baju dulu."Widya pun melenggang pergi menuju kamarnya.
"Sayang, aku gak bisa nempatin hati kamu Wid.."gumam Sandi pelan setelah Widya naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Kini Widya dan Sandi tengah berada di sebuah resto cepat saji. Setelah kurang lebih 30 menit berputar-putar, tujuan akhir tetap memilih tempat makan cepat saji. Katanya biar cepet dan praktis.
"Kamu udah ketemu Irda?"tanya Widya, sambil memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya.
"Belum."jawabnya singkat.
"Loh, emang dia gak nyariin?"tanya Widya dengan nada mengejek.
"Ya enggaklah, emang aku anak ilang apa dicariin?"Sandi pun menatap jengah pada sahabatnya itu.
"Hehe, yakali aja gitu. Kan udah 3 hari tuh gak ketemu kaliannya."ujar Widya terkekeh.
"Ah biarin aja lah. Aku tuh bingung sebenernya Wid, "ucap Sandi pelan, menatap Widya yang juga sedang menatapnya.
"Bingung kenapa?"tanya widya yang juga menatap Sandi dengan lekat.
"Bingung sama perasaan aku."ucap Sandi lirih, sembari menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Perasaan kamu? Maksudnya gimana sih San? Jangan setengah-setengah deh ngomongnya!"ucap Widya kesal.
"Aku tuh sebenernya gak yakin bisa nerusin hubungan ini sama dia, Wid."menatap sekilas pada Widya lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Loh, kok gitu? Kenapa emangnya, apa kalian ada masalah?Kenapa kamu ngomongnya gitu San?"Widya semakin bingung dengan pernyataan sahabatnya itu.
"Kamu, gak tau aja Wid..di hatiku gak pernah ada dia!" batin sandi lirih.
"Woy, malah bengong!Cerita aja sih sama aku, kita kan udah kenal dari kita batita loh. Kita selalu sama-sama, suka maupun duka. Jadi, jangan ada yang bikin kamu ragu buat cerita sama aku. Kamu masih percaya kan, sama aku San?" ujar Widya serius, menatap Sandi sangat dalam.
"Iyalah, aku percaya banget sama kamu. Tapi, tetep lah lebih percaya sama Allah!Haha.."Sandi pun tertawa mengacak-acak rambut Widya.
"Ish kamu mah, kebiasaan!"Widya pun hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
"Udah ah, yuk kita pulang!"ajak Sandi, beranjak dari tempat duduknya yang diikuti Widya di sampingnya.
Sandi tak ingin menceritakan yang sebenarnya pada Widya, karna dia sendiri pun belum benar-benar yakin dengan perasaannya. Terlebih, dirinya tak ingin Widya menjauh darinya bila tau alasan mengapa dirinya tak bisa meneruskan hubungannya dengan Irda.
Sandi dan Widya pun kembali pulang menuju rumah Widya. Sejujurnya, Sandi ingin mengungkapkan semuanya pada Widya, namun dia tak siap. Biarlah, mungkin saat ini bukan waktunya untuk dia bercerita pada Widya.
Di lain tempat, Irda pun sedang berjalan-jalan di sebuah mall, bersama seorang pria.
"Da, makasih loh ya kamu akhirnya mau jalan sama aku!" ucap pria yang berjalan di samping Irda.
"Nyantai aja kali, aku juga makasih sama kamu, berkat kamu liburan aku jadi gak terlalu ngebosenin."ucap Irda tersenyum.
"Emang cowok kamu gak ngajak kamu maen atau berlibur gitu?" tanya pria itu lagi.
"Boleh, apa sih yang enggak buat kamu?" ucap pria itu tersenyum menggoda.
"Elaah gembel!" jawab Irda terkekeh. Mereka pun pergi menuju ke toko yang dimaksud Irda.
Irda tak mengetahui bahwa Sandi telah kembali dari rumah orangtuanya. Sandi pun tak berniat untuk memberitahukan kepulangannya pada Irda. Sandi ingin menikmati akhir liburannya bersama Widya saja.
*
*
*
Drrtttt
Drtttt
Drtttt
Bunyi ringtone yang berasal dari hp milik Widya terus berbunyi, namun sang empunya terlalu lelap dalam tidurnya. Hingga, sudah 3 kali berbunyi tak kunjung juga terbangun. Pada akhirnya Widya terbangun karna sang Bunda mengetuk pintu kamarnya.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Widya, bangun!!Udah siang ini, ayo bangun!" teriak Bunda dari luar kamar.
"Euhhh." Widya pun membuka matanya dan meregangkan otot lengannya. "Eh, udah siang ya ini?"Gumamnya sambil membuka kunci layar hp miliknya. "Yaampun jam 9! Eh, Fajar nelfon ada apa ya?"melihat ada beberapa panggilan tak terjawab juga pesan dari Fajar.
Fajar KM::
Wid, kamu lagi apa?
Aku udah pulang nih, kita jalan kuy!
Wid, kamu belum bangun ya?
Elaah masa anak gadis bangun siang sih?
Jam 10 aku ke rumah ya.
"Ya ampun, ini udah jam 9 aku belum mandi belum beberes aduuh! Gara-gara Sandi nih ah!" gerutu Widya sembari berlari ke kamar mandi untuk segera membersihkan badan, alias mandi. (Yaelah!)
Setelah beres mandi, Widya pun segera membereskan kamarnya dan bersiap untuk menunggu kedatangan Fajar. Tak lama, Fajar pun datang ke rumah Widya dengan membawa 2 buah paper bag yang akan dia berikan untuk Widya dan Bundanya.
"Assalamu'alaikum!"salam Fajar dari luar.
"Wa'alaikumussalam!" teriak Bunda seraya membukakan pintu. "Eh, nak Fajar. Sudah pulang dari Bali nya?" tanya Bunda tersenyum.
"Iya Bunda, baru kemarin sampe. Widya nya ada Bun?"tanya Fajar yang juga tengah tersenyum.
"Ada, ayuk masuk dulu!"ajak Bunda, diikuti Fajar masuk ke dalam.
"Bunda panggilin dulu ya, sekalian bikin minum. Kamu duduk dulu aja ya,!" ucap Bunda.
"Iya Bunda makasih, oya Bunda ini ada oleh-oleh. Gak banyak sih, tapi semoga Ayah sama Bunda suka." ucap Fajar tersenyum kikuk, menyerahkan 1 buah paper bag yang dia bawa tadi.
"Adduu, makasih loh ya udah inget sama Bunda sama Ayah. Repot gak nih bawa oleh-oleh buat Bunda?" tanya Bunda dengan senyum lembutnya.
"Enggak kok Bun, sama sekali gak repot."jawab Fajar.
"Yaudah, Bunda terima ya. Makasih ya! Bunda ke belakang dulu."Bunda pun pergi meninggalkan Fajar di ruang tamu.
"Widya!"panggil Bunda saat membuka pintu kamar Widya.
"Iya, Bun"
__ADS_1
"Itu, ada Fajar. Cepet kamu temuin, Bunda mau bikin minum dulu." Bunda pun segera melangkah ke dapur.
"Iya Bun!" Widya pun keluar dari kamarnya menghampiri Fajar.