
Akhirnya, bus yang Widya tumpangi berhenti di halte dekat sekolah Widya. Widya pun bersiap untuk turun dari bus. Dan sebelum turun, Widya pun pamit pada pemuda yang duduk di sebelahnya tadi.
"Kak, sekali lagi makasih ya!Aku turun disini, duluan ya Kak!"ucap Widya yang berdiri dari tempat duduknya, bersiap untuk turun dari bus.
"Btw, kenalin gue Deni!"ucap pemuda itu mengulurkan tangan pada Widya, sebelum Widya melangkahkan kakinya.
"Eh, Widya Kak!"balasnya tersenyum, lalu Widya pun segera turun dari bus, setelah menjabat sekilas tangan Deni.
"Imut juga tuh cewek!"gumam Deni dalam hati, yang terus menatap Widya dari balik kaca jendela bus. Hingga bus tersebut kembali berlaju meninggalkan halte.
Widya pun memasuki halaman sekolah yang sudah terlihat agak ramai. Widya segera berjalan menuju kelasnya. Di sekolahnya, selain Sandi dan Fajar memang Widya tidak terlalu dekat dengan teman-temannya yang lain. Karna dari awal, Widya selalu bersama Sandi. Baru beberapa bulan ini saja, kini Widya dekat dengan Fajar.
"Widya!"panggil seseorang dari arah belakang tempat Widya kini berjalan. Widya pun yang merasa namanya dipanggil, segera menoleh ke belakang.
"Hai!Baru nyampe?"tanya Widya tersenyum manis.
"Iya nih, kamu berangkat sama siapa?"tanya Sandi. Iya, yang memanggilnya adalah Sandi.
"Aku sendiri San."jawbanya, sembari masuk ke dalam kelasnya, dan segera duduk di bangkunya bersama Sandi.
"Kamu bawa mobil sendiri?"tanya Sandi menatap Widya lekat.
"Enggak Sandi, aku naik bus!"ucap Widya yang juga menatap Sandi.
"Naik bus?Kenapa gak diantar ayah?"tanya Sandi kaget.
"Ya gak apa -pa, aku pengen aja naik bus!"jelasnya asal.
"Heumm dasar kamu ini!"ucap Sandi mengacak rambut Widya gemas.
"Ish malah diacak-acak sih, kan mau upacara nanti!"seru Widya kesal, sembari merapikan kembali rambutnya.
Fajar yang baru saja datang, melihat interaksi antara Widya dan Sandi membuat dadanya terasa sesak juga panas. Cemburu. Fajar merasa tak suka dengan kedekatan Widya dan Sandi. Ingin rasanya dia yang sekarang duduk bersama Widya, bercanda bersama Widya seperti itu. Namun sudah pasti itu tak mungkin.
Upacara hari ini pun telah selesai dilaksanakan. Semua murid telah kembali masuk ke dalam kelas masing-masing. Karna hari ini adalah hari pertama, setelah mereka liburan maka jam pelajaran pun tak semuanya penuh. Seperti saat ini, guru mata pelajaran yang mengisi di kelas Widya hanya mengisi jam nya dengan menyalin catatan saja. Selebihnya mereka pun bebas.
"Wid, bantuin aku serahin buku catatan ini yuk!"Ajak Fajar, selaku ketua kelas disana.
"Lah, emang wakil kamu kemana?"tanya Widya.
"Lagi ke toilet, yuk buruan kan ditungguin sama Pak Bayu!"
__ADS_1
"Kenapa harus Widya sih, Jar?Kan masih banyak temen yang lain."ucap Sandi ketus.
"Gak apa-apa kok San, yaudah yuk Jar. Sini sebagian bukunya!"Widya pun membawa sebagian buku catatan milik teman-temannya.
"Wid, nanti pulang sekolah aku anterin ya"ucap Fajar, saat mereka tengah berjalan menuju ruang guru.
"Aku naik bus aja, Jar."jawabnya tersenyum.
"Yaudah aku juga naik bus aja kalo gitu." seru Fajar santai.
"Lah kenapa?Kamu kan pake motor Jar."ucap Widya polos.
"Ya biarin, disimpen aja di sekolah aman kok!"jawab Fajar tersenyum.
"Ish, yaudah yaudah nanti aku pulang bareng kamu." ucap Widya akhirnya.
"Pake bus?"
"Motor Fajar, masa iya motor kamu mau disimpen di sekolah sih!"ucap Widya, terus melangkah mendahului Fajar, lalu masuk ke ruang guru.
Fajar senang, karna dia masih bisa terus bersama Widya. Namun, dia juga belum siap untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya kepada Widya. Dia tak ingin bila Widya menjauhinya, bila dia tau bahwa selama ini Fajar begitu mencintai Widya. Biarlah menjadi sahabatnya terlebih dulu, sebelum menjadi kekasihnya fikir Fajar.
Kring
Kring
"Wid, besok aku jemput ya!"ucap Sandi, yang kini sedang duduk berdua dengan Widya di kantin.
"Emang kamu gak jemput Irda?"tanya Widya heran.
"Enggak, aku pengen jemput kamu. Gak boleh?"ujar Sandi dengan tatapan serius.
"Ya boleh aja, cuman aku gak enak aja sama Irda."
"Kenapa harus gak enak, enakin aja kali!"
"Heum kamu mah, dia kan pacar kamu. Masa kamu malah jemput aku."
"Iya dia emang pacar, tapi kamu sahabat aku. Lebih penting dari siapa pun!" ujar Sandi menggebu-gebu.
Widya pun tak mengatakan apapun lagi. Rona merah muda tercetak di kedua pipinya. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Widya menatap Sandi sampai tak menyadari, kini ada Fajar diantara mereka.
__ADS_1
"Widya!"sahut Fajar, yang kini berdiri di samping Widya.
"Eh, Fajar."ucap Widya tersadar dari lamunannya.
"Boleh ikut gabung disini kan, kayaknya meja yang lain udah pada penuh tuh!"ucap Fajar, tanpa menghiraukan Sandi yang kini tengah menatapnya dengan tajam.
"Boleh, boleh duduk aja Jar!"ucap Widya tersenyum, Fajar pun akhirnya duduk di samping Widya.
"Nimbrung aja deh!"ucap Sandi ketus.
"Suka suka dong, Widya nya aja gak apa-apa. Kenapa kamu sewot amat!"seru Fajar tak kalah ketusnya.
"Ish kenapa sih kalian, kok malah jadi pada ribut. Udah sih makan aja, keburu bel masuk bunyi tuh!"Widya pun menghentikan perdebatan mereka.
......................
"Da, kamu dijemput?"tanya Erik.
"Iya, kenapa emang?"jawab Irda.
"Kirain, tadinya sih aku pengen anterin kamu pulang."jawabnya agak kecewa.
"Lain kali deh, kalo dia gak bisa jemput. Hehe"ucap Irda tersenyum.
"Yaudah, yuk aku anterin ke depan aja!"ajak Erik, meraih tangan Irda dan menggenggamnya lembut. Irda sempat merasa kaget, namun dia pun tak menolak ataupun berontak. Irda hanya terus mengikuti Erik hingga akhirnya mereka tiba di depan gerbang sekolah mereka.
"Udah sih, kamu kalo mau pulang duluan aja Rik. Aku gak apa-apa kok, nunggu sendiri disini!"ujar Irda saat mereka tiba di depan gerbang.
"Yakin, gak apa-apa?"tanya Erick yang sebenarnya masih ingin bersama Irda.
"Iya ih, paling bentaran lagi juga dia dateng. Kamu tenang aja, oke!" ucap Irda meyakinkan.
"Yaudah, kalo gitu aku ke parkiran dulu aja deh. Bentar ya!"Erik pun kembali masuk, menuju parkiran untuk membawa mobilnya. Tak lama, Erik pun keluar dan berhenti tepat di depan Irda yang masih menunggu kedatangan Sandi.
"Da, beneran nih gak mau bareng aku aja?!"ucap Erik penuh harap.
"Iya Erik, lain kali aja ya."ucap Irda tersenyum manis.
"Yaudah deh, aku duluan ya. Kalo ada apa-apa kamu hubungin aku aja!"
"Iya, kamu hati-hati ya!"ucap Irda melambaikan tangan pada Erik yang sudah melajukan mobilnya meninggalkan Irda.
__ADS_1
Tak lama, Sandi pun datang menghentikan sepeda motornya di depan Irda. Sandi tak melihat kepergian Erik secara jelas, namun hanya melihatnya sekilas.