Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
42


__ADS_3

Widya telah tiba di rumahnya. Nampak rumahnya sepi seperti tak berpenghuni, lampu yang berada di teras depan juga halaman belakang masih belum menyala. Widya hanya mengeryit heran, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dan biasanya Bunda nya tak pernah lupa menyalakan seluruh lampu di rumahnya.


"Kok pada gelap Wid?Emang di rumah gak ada orang?"tanya Fajar yang juga merasa heran dengan kondisi rumah Widya yang gelap gulita.


"Gak tau, tadi sih waktu sampe sekolah Ayah cuman nge chat kalo ada rapat mendadak makannya gak bisa jemput."


"Coba kamu telfon,"


"Ouh iya lupa!"Widya segera mengambil Hp nya yang dia simpan di dalam tas kecilnya. Widya hendak menelfon Bunda Novie, tetapi sebelumnya Widya membuka pesan yang dikirim oleh Bunda Novie 1 jam yang lalu.


📥My Bunda


Sayang, kamu udah sampe sekolah?


Bunda harus pergi nemenin Ayah, ada urusan mendadak dari kantor Ayah. Mudah-mudahan gak lama.


"Kayaknya Bunda lupa nyalain lampu sebelum pergi. Jar kamu pulang aja, aku gak apapa kok."ujarnya setelah membaca pesan dari Bunda Novie.


"Yakin gak apapa?Kamu bawa kunci?"tanya Fajar khawatir.


"Iya, ada kok tenang aja. Kamu pasti capek, udah pulang aja gak apapa biar cepet istirahat."


"Ngusir nih ceritanya?"ucap Fajar menggoda.


"Eh, bukan. Ya kan ini udah malem, kita juga baru pulang pasti kamu capek." jawabnya sedikit kikuk.


"Haha, iya aku tau. Yaudah, aku pulang ya. Kamu hati-hati di rumah!Istirahat ya!"ucap Fajaf sembari mengelus puncak kepala Widya, membuatnya diam terpaku. Setelahnya Fajar segera pergi dari rumah Widya.


"Ya ampun, bikin baper aja si Fajar!"ucapnya menggelengkan kepala seraya membuka gembok pagar rumahnya.


Baru saja Widya masuk ke halaman rumahnya dan menutup kembali pagar rumahnya. Widya harus kembali membalikan badannya, karna ada seseorang yang memanggilnya. Yang tak lain adalah Ibu Resni.


"Nak Widya!"panggil Ibu Resni dari luar pagar rumah Widya.


"Eh, Tante. Ada apa tante?"tanya Widya sembari membuka kembali pagar rumahnya.


"Kamu baru pulang?Kenapa rumahnya gelap?Bundamu ada di rumah?"tanya Ibu Resni dengan nada khawatir.


"Iya tante, Aku baru pulang. Bunda tadi pergi ke kantor Ayah, dan mungkin Bunda lupa nyalain lampunya."jawab Widya sembari tersenyum.


"Oalah. Jadi di rumah gak ada siapa-siapa?Memangnya gak ada asisten rumah tangga?"


"Ada, cuman emang gak nginep di sini tante. Jam 4 udah pulang, soalnya Bunda lebih seneng ngerjain sendiri atau dibantu aku."jawabnya terkekeh.

__ADS_1


"Heumm, yasudah kamu pasti capek dan lapar. Bagaimana kalo kamu ke rumah Tante saja, kita makan dulu."


"Gak apapa tante, nanti malah ngerepotin."tolak Widya halus.


"Enggak kok, mana ada ngerepotin. Tante kan gak akan nyuapin kamu,"jawabnya tertawa kecil.


"Tante bisa aja,"


"Yaudah, kamu nyalakan saja dulu lampu-lampunya. Dan simpan ransel kamu, kayaknya berat tuh. Tante tunggu di rumah ya,"


"Emm, yaudah kalo gitu. Makasih ya Tante,"


"Iya yaudah Tante pulang dulu, mau siapin makan malam nya. Tante tunggu ya!"Ibu Resni pun kembali melangkah menuju rumahnya. Sedangkan Widya segera masuk ke dalam rumahnya, untuk menyalakan semua lampu dan menyimpan ranselnya.


Setelah mencuci mukanya dan menyalakan semua lampu, Widya pun segera pergi menuju rumah Ibu Resni. Meski merasa sungkan, tetapi karna dirinya yang memang sudah sangat lapar, Widya pun memberanikan diri untuk datang ke rumah Ibu Resni.


Sementara di warung kaki lima yang menjual nasi goreng, Irda dan Sandi sedang memakan makanannya tanpa ada suara. Sandi yang kesal, tetapi karna memang perutnya yang lapar mau tak mau dirinya pun ikut makan di sana. Irda merasa sangat senang, karna bisa bersama-sama Sandi tanpa ada gangguan.


"San makasih ya udah mau makan bareng sama aku!"ucap Irda setelah mereka menghabiskan makanan mereka.


"Hm."Sandi segera berdiri dan melangkah untuk membayar makanannya dan makanan Irda. Setelahnya Sandi segera menuju motornya.


"Sandi tunggu dong!"rutuk Irda yang langsung naik ke atas motor Sandi. Tanpa peduli dengan wajah Irda yang kesal, Sandi segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Karna dirinya sudah sangat lelah dan tak ingin berlama-lama lagi dengan Irda.


"Apa lagi sih?!"tanya Sandi geram.


"San, kamu masih belum bisa maafin aku?"tanya Irda pelan.


"..."


"San, aku masih sayang banget sama kamu!Tolong, maafin aku!"


"..."


"Sandi, kok kamu diem aja sih?"Irda merasa kesal karna diabaikan oleh Sandi.


Sandi menatap tajam ke arah Irda. Sungguh Sandi merasa sangat lelah, dan sekarang lagi-lagi Irda malah terus menahannya di sana. Tanpa menjawab atau berkata apapun pada Irda, Sandi melepas tangan Irda dari lengannya. Sandi bergegas meninggalkan kostan Irda, melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Sandi!"teriak Irda kesal. Setelah Sandi tak lagi terlihat dirinya pun segera masuk ke dalam kamarnya.


"Aaghhh!Kenapa sih, susah banget ngeluluhin kamu San?!Apa karna Widya?Aku gak akan tinggal diam, kamu liat aja nanti!"Irda mengepalkan tangannya mengingat Widya yang selalu dekat dengan Sandi.


Rumah Ibu Resni

__ADS_1


"Makasih tante, Om udah ngebolehin aku ikut makan malam di sini."ucap Widya setelah dirinya dan anggota keluarga Ibu resni selesai makan malam.


"Iya sayang sama-sama. Tante malah seneng kamu ikut makan sama kita, jadinya tante ada temen perempuan."ucapnya tersenyum.


"Tapi sayang Deni gak bisa ikutan makan bareng kita, dari tadi dia belum juga pulang."sambungnya. Widya hanya diam tak tau harus menanggapi apa.


"Emm, tante kalo gitu aku pamit pulang ya. Sekali lagi makasih banyak."


"Iya sayang, lain kali makan bareng lagi di sini ya sama Bunda juga."Ibu Resni mengantar Widya hingga ke teras, bertepatan dengan Deni yang baru saja masuk dengan mobilnya ke halaman rumah.


"Assalamu'alaikum!"salam Deni saat turun dari mobil dan menghampiri Ibunya dan Widya.


"Wa'alaikumussalam!"jawab Ibu Resni dan Widya barengan.


"Tante, aku pulang dulu!Assalamu'alaikum!"ucap Widya sembari mencium tangan Ibu Resni dan segera berlalu menuju rumahnya.


"Tumben Bu, dia main ke sini?"tanya Deni saat Widya sudah keluar dari halaman rumahnya.


"Iya, di rumahnya lagi gak ada siapa-siapa. Tadi, dia baru aja pulang kemping, yaudah Ibu ajak makan malam bareng aja di sini. Kamu kenapa baru pulang?Katanya sebentar tadi?"ujar Ibu Resni seraya menjewer telinga putra sulungnya itu.


"Awwww, aduuh Ibu lepas!Sakit telinga Deni!"Deni meronta meminta Ibu Resni untuk melepas jewerannya. Bukannya melepas, Ibu Resni malah terus menarik telinga Deni hingga ke dalam rumah.


"Ibu, kenapa bang Deni dijewer gitu?"tanya Doni yang baru muncul dari ruang tengah.


"Ibu gemes sama abang kamu!"ujar Ibu Resni seraya melepaskan jewerannya.


"Gemes sih gemes Bu, tapi telinga Deni kan sakit,"kata Deni sembari mengusap-usap telinganya yang memerah dan terasa panas.


"Makannya suruh siapa malah keluyuran, kamu tau kan waktunya makan itu kita harus kumpul bareng-bareng?Kamu lupa?"tanya Ibu Resni yang kesal.


"Iya, Ibu maaf Deni tadi ada urusan. Lain kali gak akan telat pulang lagi, janji deh!Maafin Deni yaa ibuku yang paling cantik!"ujar Deni sembari memeluk ibunya erat.


"Yasudah, ibu maafin!Kamu sudah makan belum?"


"Belum."jawabnya sembari tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih.


"Yasudah, sana makan!"


"Siap kanjeng ratu!"ujarnya sembari tersenyum yang diikuti kekehan dari Ibu Resni.


"Abang lebay!"kata Doni seraya melangkah menjauh dari Ibu dan kakaknya itu.


Boleh dong yang udah baca like dan komennya😁

__ADS_1


__ADS_2