
Saat ini Widya sedang duduk di kelas, dengan menopang dagu dengan sebelah tangan. Membayangkan apa yang sudah terjadi saat di bus tadi, rasanya dia sungguh malu. Namun, ada perasaan lain yang dia rasakan, yang harus dia tepis agar tak semakin dalam. Widya yakin ini hanya perasaan sesaat atau sekedar kagum.
"Woyy!"teriak Sandi membuyarkan lamunan Widya.
"Ish, ngagetin aja ih!"ujar Widya jengkel.
"Ya maaf, lagian ngapain sih masih pagi udah ngelamun aja?"ujar Sandi duduk di sebelah Widya.
"Gak apa-apa kok. Eh, gimana soal Irda udah ditanyain?"ujar Widya mengalihkan.
"Belum. Masih bete, bisa-bisanya dia bohong."ujar Sandi ketus.
"Yaudah sih, makannya kamu tuh harus nanya sama dia. Biar masalahnya cepet beres, gak jadi salah paham."jelas Widya tersenyum.
"Coba aku bisa putus sama dia.."gumam Sandi dalam hati, yang juga tersenyum pada Widya.
"Kok, malah bengong sih San?"
"Eh, iya nanti pulang sekolah aku langsung tanya sama dia."
Tak lama bel tanda jam pelajaran dimulai. Semua murid kini fokus dengan apa yang sedang guru mereka jelaskan. Hingga bel kedua berbunyi, tanda waktunya murid-murid memanjakan perut mereka. Segera mereka berhamburan menuju kantin tempat favorit mereka. Termasuk Widya, Sandi juga Fajar.
"Fajar!Sini gabung!"teriak Widya saat melihat Fajar berjalan setelah membeli minuman. Fajar pun menghampiri meja mereka, ya Widya dan Sandi.
"Gimana tugas kita Jar, udah selesai?"tanya Widya menatap Fajar.
"Sedikit lagi, aku tinggal masuk masukin foto-foto yang udah kita ambil aja."jelas Fajar setelah meminum minumannya.
"Ada yang masih harus aku bantu gak?"
"Gak ada, biar aku aja yang beresin." Widya pun hanya mengangguk setuju.
Sesuai rencana, Sandi hari ini datang ke sekolah Irda untuk menjemputnya. Namun, Sandi tak memberitahukan Irda sebelumnya. Yang Irda tau, Sandi masih sibuk dengan tugasnya. Dan hari ini, Sandi harus kembali melihat Irda pulang bersama Erik. Sandi pun kembali mengikuti Irda juga Erik, dan lagi-lagi Erik kembali mengajak Irda ke Mall sebelum pulang ke kostan.
"Sial!Lagi-lagi mereka malah jalan-jalan gini!"gerutu Sandi saat mengikuti Irda dan Erik di dalam Mall.
"Rik, kenapa sih kamu suka banget ngajak aku ke Mall gini?"tanya Irda sembari jalan melewati toko-toko yang ada di Mall itu.
"Ya terus kamu mau nya aku ajak kemana dong?Bukannya cewek suka ya jalan ke Mall?"ujar Erik santai.
"Ya emang, tapi ya aku heran aja kenapa kamu ngajak aku ngeMall terus?Emang kamu gak ada temen yang lain, yang bisa kamu ajak ke Mall? Atau pacar mungkin,"tanya Irda, namun tatapannya terus melihat-lihat baju di toko yang baru saja mereka masuki.
"Ya karna gak ada yang lain, apalagi pacar makannya aku ngajak kamu. Kenapa, kamu gak suka ya aku ajak ngeMall?Atau cowok kamu marah sama kamu?"tanya Erik yang berdiri di sampingnya menatap wajah Irda penuh harap.
"Bukannya gitu, aku suka kok. Tapi, masa iya sih gak ada yang lain yang bisa kamu ajak?Terus masa sih kamu gak ada pacar? Bukannya kamu deket ya sama si Intan?"ujar Irda yang juga menatap wajah Erik.
__ADS_1
"Aku emang gak ada pacar, yakali aku punya pacar tapi jalan sama Kamu sih? Kalo sama Intan ya kita emang deket tapi cuman sebatas ketua kelas sama sekretaris aja kali ah."jelas Erick serius.
"Yakali aja.."ucap Irda cuek.
"Kamu sendiri gimana, pacar kamu gak marah kita jalan bareng gini? Terus kemana dia, kok beberapa hari ini gak jemput terus?"
"Enggak, dia gak marah kok. Dia lagi ada tugas lapangan gitu makannya gak bisa jemput."
"Oh gitu."
"Eh, kita cari makan aja yuk. Laper nih,"ajak Irda sembari menarik tangan Erick keluar dari toko baju.
Tanpa sepengetahuan mereka, dari sejak mereka memasuki toko pakaian itu Sandi terus mengikutinya. Dan dia pun mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Setelah Irda dan Erick agak jauh, Sandi mencoba untuk menelfon Irda menanyakan keberadaan dirinya.
Terlihat oleh Sandi, Irda mengeluarkan hp dari sakunya, Sandi masih terus mengikuti Irda dan Erick.
"Bentar Rick, aku angkat telfon dulu ya!" Irda pun sedikit menjauh dari Erick untuk menerima panggilan dari Sandi.
"Hallo sayang!"sapa Irda saat sambungan telfonny terhubung.
"Hallo. Kamu udah pulang?"tanya Sandi dengan nada lembut seperti biasanya.
"Udah kok sayang, ini baru aja nyampe. Kamu sendiri masih di lapangan? Atau udah pulang?"jawab Irda yang jelas berbohong.
"Oh, syukurlah. Aku masih di luar. Yaudah kalo gitu nanti aku ke kostan ya! Ada yang perlu aku bicarain."ujar Sandi dengan nada bicara yang berubah menjadi datar.
"Gak nyangka kamu makin pinter bohong ya Da!"gumam Sandi setelah mempotret keberadaan Irda dan Erick yang sedang berdiri di hadapannya. Setelahnya dia pun segera pergi, dan akan menunggu Irda di kostannya.
"Rick, kayaknya kita langsung pulang aja deh."ajak Irda buru-buru.
"Loh, kenapa? Bukannya kamu laper? Kita makan dulu aja, aku yang traktir!"
"Lain kali aja deh, aku harus cepet-cepet pulang soalnya."
"Yaudah, kita take away aja makanannya ya! Biar kamu nanti langsung makan di kostan."
"Yaudah deh yuk buruan!"Irda dan Erick pun segera membeli makanan untuknya.
Setelah hari sudah mulai senja, Irda dan Erik baru tiba di depan kostan Irda. Sandi yang sudah menunggu kedatangan mereka, tengah duduk di kursi depan kamar Irda. Tadinya dia pikir akan sekalian bertemu dengan Erik, nyatanya Erik malah menurunkan Irda di depan gerbang.
"Sorry Da, gue gak bisa masuk. Gue harus buru-buru pulang!"ujar Erik saat Irda turun dari sepeda motornya.
"Iya gak apa-apa, santai aja. Makasih ya, kamu udah traktir aku lagi."ucap Irda tersenyum manis.
"Iya. Yaudah kamu masuk gih, aku pulang dulu. Bye!"Erik pun melajukan sepeda motornya. Setelahnya, Irda masuk menuju kamarnya.
__ADS_1
Baru saja berada di tengah halaman, Irda dikagetkan dengan sosok yang kini tengah duduk santai dan menatap ke arahnya dengan tatapan yang tajam. Jantung Irda berdegup dengan kencang, rasanya seperti dia sedang berada di tempat ketinggian dan dirinya akan terjatuh. Tatapan Sandi yang begitu tajam dan dingin, membuatnya kaku untuk melangkahkan kakinya.
"Kenapa diem di situ, kamar kamu kan di sini."ujar Sandi dingin. Irda pun dengan berat melangkahkan kakinya menghampiri Sandi.
"Ka.. kamu udah lama San?"tanya Irda gugup setelah berhadapan dengan Sandi kini.
"Udah."jawabnya dingin tanpa melepas tatapan tajamnya. "Darimana?"sambungnya.
"Hah?Aku.. aku, tadi main dulu sama temen."Irda semakin gugup. "Mampus!Kayaknya Sandi marah banget!"gumam Irda dalam hati.
"Oyah?Kok masih pake seragam, bukannya tadi katanya udah pulang ya?"suara Sandi semakin datar dan dingin, membuat Irda semakin merasa gugup.
"Emm itu.. tadi.."Irda kehabisan kata-kata, karna jelas-jelas dia sudah ketauan berbohong.
"Erick siapa?"tanya Sandi to the point.
"Erick?Darimana kamu tau dia?"tanya Irda kaget.
"Aku gak tau dia, makannya aku tanya Erick siapa?"
"Erick..Erick temen aku San. Kenapa sih, tiba-tiba kamu tanya soal Erick?"tanya Irda mencoba untuk bersikap tenang.
"Yakin cuman temen?Temen kok ngedate mulu."ucapnya sarkas.
"Ngedate?Siapa yang ngedate sih San?"Elak Irda sedikit emosi.
"Gak usah bohong lagi Da, aku tau kok. Emang kalo cewek sama cowok jalan ke Mall, makan sampe nonton apalagi dibelanjain gitu apa namanya kalo bukan ngedate?"ujar Sandi yang juga semakin emosi.
"Enggak,San. Gak kayak gitu! Aku sama dis beneran temenan aja kok. Aku juga gak jalan sama dia..."
"Terus ini apa?"ucap Sandi memotong ucapan Irda memperlihatkan foto yang tadi dirinya ambil saat di mall.
Irda membelalakan matanya tak menyangka. Dia benar-benar kaget, karna Sandi ternyata mengikuti dirinya.
"San ini gak seperti yang kamu bayangin. Aku sama dia beneran cuman temenan. Ya.. Ya sama kayak kamu sama Widya! Iya, aku sama Erick cuman sahabat!"elak Irda berharap Sandi akan percaya padanya.
"Oyah? Yakin cuman sahabatan? Tapi, yang aku liat dia kayaknya naksir tuh sama kamu. Terus kalaupun kalian emang sahabatan, kenapa kamu harus bohong sama aku?"
"Ma..maaf San!"Irda menangis, mencoba memegang tangan Sandi.
"Da, aku selalu jujur ya sama kamu. Dan aku juga gak pernah larang kamu untuk temenan ataupun sahabatan sama siapa pun itu. Tapi, aku paling gak suka kalo aku dibohongin gini Da. Bahkan disaat aku sedang berusaha untuk numbuhin perasaan aku sama kamu, kamu malah bersikap kayak gini!"
"Maaf San, aku gak bermaksud boongin kamu. Aku, aku cuman takut aja kamu marah kalo aku jalan sama Erick. Aku beneran sayang sama kamu San! Maafin aku!"jelas Irda dengan suara yang serak.
"Mulai hari ini, kita Putus!Jangan pernah hubungin aku lagi apalagi temuin aku!Kamu bebas jalan sama Si Erik itu!!"ucapnya lalu segera menaiki sepeda motornya dan pergi dari hadapan Irda, yang terus memanggil namanya.
__ADS_1
"Sandi, dengerin aku dulu!Sandi, Sandi!"teriaknya semakin menangis.