
"Katanya pulang sendiri, bilangnya udah di jalan!Pembohong!"Ujar Sandi melihat Irda yang asik jalan bersama Erik. Ya pria yang membonceng Irda dari sekolah hingga kini berada di Mall adalah Erik.
Sandi pun memilih untuk pulang, cukup tau saja bagaimana Irda di belakangnya. Begitu pikirnya. Sandi melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, meski dia tak benar-benar menyayangi Irda sebagai kekasih tetapi dia sudah menganggap Irda sebagai sahabatnya. Jadi tetap saja, dibohongi seperti itu membuatnya marah dan sangat kesal.
Sementara di Mall..
"Da, gakkan ada yang marah kan kalo kita jalan gini?"tanya Erik, sekarang mereka sedang menunggu antrian di loket tiket bioskop.
Irda nampak mengernyitkan keningnya, "Kenapa tiba-tiba nanya gitu?Santai aja kali, ngapain mikir bakalan ada yang marah atau enggak."ucap Irda santai.
"Ya kali, tiba-tiba ada cowok kamu dateng kesini terus mukul aku. Kan gak lucu. Kesannya aku pebinor dong."ujar Erik terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Hahaa. Apaan tuh pebinor?yang aku tau adanya pelakor deh?"tanya Irda dengan tawanya.
"Perebut bini orang.."jelas Erik berbisik. Membuat Irda semakin tertawa. Hingga beberapa pengunjung yang lain menatap aneh pada mereka berdua.
"Aku kan belum nikah, yakali kamu mau disebut pebinor Rik!Ada-ada aja kamu mah!"ucap Irda setelah tawanya mereda.
"Aku seneng kamu ketawa gitu Da, terlihat lebih cantik."ucap Erik tersenyum menatap Irda. Sontak Irda merasakan pipinya memanas.
"Ish apaan sih, tuh maju udah kosong juga!"ucap Irda menghilangkan rasa gugupnya. Dan Erik pun langsung membeli 2 tiket untuk mereka menonton.
Sedangkan di kostan, Sandi terus merenung memikirkan Irda yang sudah membohonginya. Namun, dia juga tak ingin terburu-buru mengambil keputusan, dia harus mencari tau lebih banyak lagi. Karna bisa jadi di antara mereka tak ada hububgan apapun, begitulah yang dipikirkan Sandi.
Rumah Widya
Widya dan Fajar baru saja tiba di rumah, setelah tadi mereka berkeliling mencari anak-anak pengamen dan berujung di tempat makan cepat saji. Fajar memang tak langsung pulang, karna mereka akan membahas soal tugasnya terlebih dulu. Kini mereka sedang berada di rooftop, serius mengerjakan tugas mereka.
Hingga akhirnya sebagian tugas telah mereka kerjakan. Fajar pamit pulang karna hari juga semakin senja. Setelah mengantar Fajar hingga depan pagar, sebelum menutup pagar rumahnya Widya melihat ke arah rumah Ibu Resni. Di depan pagar rumah Ibu Resni, Deni sedang berdiri dan menatap ke arah Widya. Meski canggung, Widya tetap menyapa Deni walau hanya dengan senyuman.
__ADS_1
Namun tak disangka, setelah Widya menyapanya Deni malah menghampiri Widya. Terpaksa Widya pun mengurungkan niatnya untuk menutup pagar rumahnya.
"Hai!"Sapa Deni setelah tepat berdiri di depan Widya.
"Hai Kak!"balas Widya tersenyum.
"Yang barusan pacar kamu?"tanya Deni tanpa basa basi.
"Hah?Bukan Kak, dia temen aku. Kenapa?"ujar Widya.
"Oh, kirain pacarnya. Yaudah masuk sana, udah mau maghrib gak baik masih di luar. Nanti di culik gen****wo."bisik Deni, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Widya yang masih bengong mendengar ucapan Deni.
Tak lama, Widya pun tersadar setelah Deni benar-benar telah masuk ke dalam rumahnya. Widya mendadak melihat ke sekitar, bergidig dan bergegas menutup pagar dan berlari masuk ke dalam rumah. Dia pikir ucapan Deni itu benar, bahwa akan ada gen****wo yang akan menculiknya.
"Loh, sayang kamu kenapa lari-lari gitu?Sampe nutup pintu kenceng banget."tanya sang Ayah, saat Widya akan menaiki tangga.
"Eh, gak apa-apa kok Yah. Widya mau mandi, bentar lagi kan mau maghrib. Widya ke kamar dulu ya, Yah!"ucapnya sembari melanjutkan langkahnya.
Di kamarnya, Widya mengatur nafasnya yang masi terasa seperti sedang marathon. Widya masih memikirkan kata-kata Deni, namun dia juga menyadari mana mungkin ada gen****wo. Akhirnya dia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih dan bersiap untuk sholat berjamaan bersama ayah dan bundanya.
Keesokan harinya, seperti biasa setelah sarapan Widya bergegas pergi menuju halte. Namun kali ini, saat keluar dari rumah dan menutup kembali pagarnya, Widya dikagetkan dengan sesosok pria yang tengah berdiri di belakangnya.
"Astaghfirullaah!"teriak Widya saat memutar tubuhnya, sembari menutup mulutnya dengan sebelah tangannya dan sebelah lagi mengelus dadanya karna kaget.
"Haii!"sapa Deni tersenyum tanpa dosa.
"Ya allah Kak, ngapain sih bikin kaget tau?!"gerutu Widya masih dengan nafas tersengal-sengal karna kaget.
"Lah, kirain gakkan kaget. Maaf."ucapnya masih dengan nada santai.
__ADS_1
"Iya, gak apa-apa. Ada apa ya Kak?"tanya Widya yang sudah tenang.
"Kamu mau naik bus lagi?"tanyanya langsung.
"Iya Kak,"jawabnya singkat.
"Yuk bareng,"ucapnya sembari berjalan mendahului Widya.
"Lah, bareng tapi ninggalin. Emang aneh, dasar!"gerutu Widya sembari menyusul Deni. "Kak Deni kenapa naik bus?Bukannya kakak punya motor sama mobil sendiri ya?"tanya widya yang kini tengah berada di samping Deni.
"Ya pengen aja, biar gak tambah macet. Itung-itung ngurangin kendaraan lah."jawabnya santai.
"Ya kalo kayak gitu, ngapain beli motor atau mobilnya?"tanya Widya polos.
"Ya biar penjual mobil sama motornya gak bangkrut."jawabnya tersenyum tipis. Widya hanya manggut-manggut tanpa mau bertanya lagi.
Mereka terus berjalan, hingga mereka tiba di halte. Bertepatan dengan bus yang akan mereka tumpangi pun tiba. Karna penumpangnya cukup banyak, Widya agak kesusahan untuk bisa masuk ke dalam bus, namun beruntung karna Deni membantunya hingga dirinya bisa masuk ke dalam bus.
Akan tetapi belum juga Widya mendapatkan tempat duduk, dan masih berjalan tiba-tiba sang supir sudah melajukan busnya, hingga Widya yang sedang berjalan menjadi tak seimbang hampir saja tersungkur, bila Deni tak menariknya. Deni menarik lengan Widya yang hampir terjatuh hingga masuk ke dalam pelukannya. Terdengar debaran jantung Deni yang cukup kencang, begitu juga dengan apa yang Widya rasakan. Ada debaran aneh yang Widya rasakan, saat berada tepat di dada Deni.
"Kamu gak apa-apa Wid?"tanya Deni menunduk ke arah Widya yang berada di pelukannya.
Widya pun mendongakkan kepalanya, hingga tatapan mereka terkunci. Saling menatap dan saling memuji dalam hati mereka masing-masing.
"Yaa allah, salah gak ya ini. Kok, rasanya kak Deni ganteng banget kalo diliat lebih deket gini..Sandi aja lewat!Jantung ku jadi lari-lari gini.."batin Widya yang masih menatap Deni.
"Cewek ini, kenapa mirip sama dia??Dia lucu, manis juga cantik. Dan apa ini, kenapa jantung aku rasanya gak berhenti ngedrum sih?!"batin Deni yang juga menatap Widya.
Hai readers....makasii yaa udah mau baca...tapii boleh dong yaa, setelah baca di like ituu jempolnya. kalo mau komen juga boleh....
__ADS_1
maaf maaf aja kalo ceritanya kurang gregeett...