Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
71


__ADS_3

"Jar, Opa sama Oma kamu baik banget ya."puji Sabitha saat mereka dalam perjalanan pulang. Setelah hampir menghabiskan waktu siang mereka bersama Opa dan Oma Fajar.


"Ya, mereka emang baik banget. Makannya cucunya juga gak kalah baik kan?"ujar Fajar dengan bangga.


"Ish, mana ada orang baik ngaku sendiri?"dengus Sabitha kesal.


"Ya gak apa-apa dong, daripada ngaku jahat nanti malah dibawa sama polisi kan bahaya."mendengar ucapan Fajar, Sabitha hanya memutar matanya malas.


"Iya lah gimana kamu aja."ujar Sabitha sembari turun dari motor Fajar, karna sudah mereka sudah tiba di depan rumah Sabitha.


"Besok, kamu dateng agak siangan aja. Soalnya nanti malem aku nginep di rumah Opa."


"Oh, oke. Nanti aku dateng pas jam makan siang aja. Sekalian masak buat makan siang."


"Oke. Maaf nih, aku gak bisa pamit sama orangtua kamu. Aku masih ada urusan soalnya."


"Iya, gak apa-apa. Makasih ya, udah ajak aku jalan-jalan."


"Santai aja. Lain kali kita bisa kok jalan-jalan lagi. Yaudah, aku pamit ya. Bye!"Fajar pun langsung melajukan kembali sepeda motornya meninggalkan Sabitha yang masih berdiri menatap kepergiannya.


"Dia emang baik sih. Baik banget malah,"gumam Sabitha pelan saat motor Fajar semakin menjauh. "Ish, apaan sih aku ini? Gak boleh mikir macem-macem, fokus aja sama kerjaan!"sambungnya seraya berjalan memasuki rumahnya.


*


*


*


Petang telah berganti malam, setelah kejadian tadi di kelas yang akhirnya membuat Sandi mendiamkannya selama perjalanan pulang hingga mereka tiba di rumah. Bahkan yang biasanya Sandi akan betah berlama-lama di rumah Widya, tadi setelah mengobrol sebentar dengan bunda Novie Sandi langsung pamit pulang. Itupun lagi-lagi tak berbicara dengan Widya.


Widya pun merasa aneh juga kesal, karna sikap Sandi yang tiba-tiba seperti itu padanya. Namun, meski kesal Widya juga merasa tak tenang karna baru kali ini Sandi menunjukkan sikap seperti itu.


"Apa mungkin Sandi cemburu?"gumam Widya lirih saat dirinya menatap room chat nya bersama Sandi. Ya sejak tadi Widya mengirimkan pesan pada Sandi, namun belum juga mendapatkan balasan dari Sandi.

__ADS_1


"Dia kemana sih? Nyebelin banget, gak biasanya kayak gini. Masa iya beneran cemburu? Ah gak mungkin, aku kan cuman dia anggap sahabat, mana mungkin lah cemburu liat aku sama Evan kayak tadi."ucap Widya masih dengan pikiran ngasalnya.


Di lain tempat, Sandi tengah bersama Irda di rumahnya. Tadi sepulangnya Sandi dari rumah Widya, Irda menelfonnya untuk datang ke rumahnya dengan alasan untuk mengerjakan tugas yang tadi siang diberikan oleh dosennya. Irda mengatakan bahwa dirinya sedikit kesulitan dalam mengerjakan tugas tersebut, maka tanpa rasa curiga Sandi pun segera datang ke rumah Irda.


Di saat Sandi tengah serius mengerjakan tugasnya, Irda diam-diam memotret dirinya. Irda pun langsung mengauploud foto itu ke dalam media sosialnya, dengan tulisan yang membuat seolah-olah mereka berdua tengah menjalin hubungan pendekatan. Bahkan baru beberapa menit foto itu di posting, sudah banyak yang memberikan like dan komentar yang memberikan dukungan untuk hubungan mereka.


Bahkan Widya yang juga tengah berseluncur di media sosial pun tak terlewat untuk melihat postingan itu.


"Makasih loh udah bela-belain dateng 🤍...."ucap Widya saat membaca tulisan yang Irda buat di postingannya.


"Jadi, Sandi lagi sama Irda? Apa mereka udah balikan lagi ya?"gumam Widya sendu sembari terus menatap layar hp nya yang menampilkan foto Sandi yang tengah serius menulis.


"Da, ini aku udah beres bikin rangkumannya. Nanti kamu tinggal salin aja ya."ucap Sandi sembari menyerahkan buku catatan yang tadi dirinya kerjakan pada Irda.


"Waah makasih banget ya San, akhirnya aku bisa kelarin nih tugas. Kamu minum dulu tuh jusnya, atau mau diganti aja kayaknya udah gak dingin deh,"


"Enggak, gak apa-apa Da. Lagian udah malem juga, aku pamit pulang aja ya. Besok kan kita ada kelas pagi."ujar Sandi yang kini sibuk membereskan buku-buku miliknya.


"Ouh iya. Oke deh, sekali lagi makasih loh ya. Udah mau direpotin, hehe."


"Ya biasalah, tapi bentar lagi juga paling mereka pulang kok. Tenang aja. Aku juga gak sendirian banget di rumah, kan ada para bibi sama satpam."


"Heumm yaudah, aku pulang ya."


"Eh, San besok bisa gak kamu jemput aku? Soalnya mobil aku lagi-lagi mogok. Mau minta ganti sama papi, belum sempet ngomong."


"Heumm, oke deh besok aku jemput. Yaudah, aku pulang ya. Kamu hati-hati di rumah."ujar Sandi seraya melangkah keluar dari rumah Irda.


"Iya, kamu juga hati-hati ya San."Irda melambaikan tangannya saat Sandi sudah melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah.


"Yes, pelan-pelan pasti Sandi bisa jadi pacarku lagi."gumam Irda tersenyum smirk.


*

__ADS_1


*


*


Keeseokan harinya, Widya sudah siap untuk berangkat ke kampus. Kini dirinya tengah sarapan bersama kedua orangtuanya juga Kenny. Sembari memakan sarapannya, Widya terus menengok ke arah ruang tamu menunggu kedatangan Sandi yang biasanya ikut sarapan di rumahnya. Tapi, hari ini Sandi belum menampakkan dirinya bahkan sampai mereka selesai sarapan pun, Sandi belum juga datang.


"Kok tumben, Sandi gak ikut sarapan di sini sayang?"tanya bunda Novie sembari membereskan piring-piring bekas sarapan mereka.


"Mungkin, Sandi kesiangan bangun Bun."jawab Widya asal.


"Yaudah, nanti kamu bawain bekel aja ya buat Sandi. Takutnya dia belum sarapan lagi."usul bunda Novie yang langsung menyiapkan kotak bekal untuk Sandi.


"Sayang, Ayah berangkat duluan ya. Kamu hati-hati nanti, dan semoga kuliah kamu lancar ya!"ucap Ayah lalu mencium kening Widya.


"Iya Yah. Ayah juga hati-hati ya."balas Widya mencium tangan ayah.


"Kenny, kamu juga hati-hati ya sayang!"


"Iya Om."Kenny pun mencium tangan ayah Irwan.


"Bunda... Sini dong peluk ayah dulu!"Ayah menghampiri bunda yang masih asik dengan kotak bekalnya.


"Ish Ayah nih, malu tuh diliatin para gadis."ucap Bunda tersenyum malu.


"Ya gak apa-apa dong, mereka juga udah pada dewasa."ucap ayah sembari tersenyum genit menatap bunda, tanpa menghiraukan keberadaan anak dan keponakannya.


"Ish, ayah tuh kalonmau mesra-mesraan ya jangan di depan kita juga dong!"delik Widya protes. Sedangkan Kenny hanya tersenyum melihat sikap ayah Irwan yang sedang mode genit.


"Kamu kalo iri bilang dong,"ledek ayah yang langsung memeluk bunda dengan erat.


"Ampuun deh, udah yu ah kak kita ke depan aja!"ajak Widya beranjak dari tempat duduknya menuju ruang tamu yang diikuti Kennya.


"Ayah sih, tuh anaknya jadi ngambek gitu!"tegur bunda setelah melepaskan pelukan suaminya itu.

__ADS_1


"Biarin lah sayang, palingan juga cuman baper."


__ADS_2