
Tiba di kelas, Widya langsung masuk dan duduk di kursinya dengan menundukkan kepala. Tadinya, dia mengira teman-teman sekelasnya ada yang mengetahui kejadian tadi di kantin. Tapi, alangkah bersyukurnya ternyata teman-temannya tak ada yang mengetahui kejadian memalukan dirinya. Hingga datang pria misterius yang duduk di kursi sebelahnya, yang tiba-tiba saja memberikan sebotol minuman isotonik.
Widya hanya memandang dengan bingung pada sebotol minuman yang disodorkan ke arahnya.
"Ambil!"ujar pria itu dengan tegas.
"Buatku? Kenapa?"tanya Widya semakin bingung.
"Biar perutmu enakan."jawabnya seraya meletakkan minuman itu di atas meja Widya.
Sontak mendengar ucapan pria itu membuat Widya kaget, ternyata pria itu mengetahui kejadian tadi saat dirinya di kantin. Merasa malu juga tak enak, Widya hanya bisa tersenyum canggung sembari mengambil minuman itu untuk di minumnya. Karna memang perutnya masih terasa tak enak.
"Ma makasih ya."ucap Widya kikuk. Pria itu hanya berdehem tanpa mau menatap ke arah Widya, karna sudah fokus dengan hp miliknya. Sedangkan Widya segera meminum minuman isotonik itu, berharap perutnya segera membaik.
Sedangkan di kelas Sandi, dia terus merasa tak tenang karna tak menghampiri Widya. Namun, dia juga tak bisa meninggalkan kelas karna dosen sudah memulai pelajarannya. Irda yang melihat kecemasan di wajah Sandi hanya bisa tersenyum menyeringai, karna rencana yang sudah dia buat telah berhasil. Setidaknya membuat perlahan-lahan Sandi dan Widya tak selalu bersama.
*
*
*
Usai sudah mata kuliah terakhir di kelas Widya, perutnya pun sudah membaik karna minuman yang diberikan pria itu. Di saat pria itu sedang membereskan barang-barangnya, Widya memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan. Karna dari awal masuk, dia belum sama sekali mengetahui nama dari pria itu.
"Ekhem! Nama kamu siapa?"tanya Widya saat pria itu baru saja selesai memasukkan barang-barangnya ke dalam tas miliknya.
Pria itu pun menatap ke arah Widya dengan tatapan yang dingin, membuat nyali Widya tiba-tiba menciut. Ada perasaan takut juga aneh saat berhadapan dengan pria itu. Namun, Widya yakin dia bukanlah pria yang tak baik, buktinya dia mau memberikan obat yang dapat membuat perutnya kembali membaik.
__ADS_1
"Sorry kalo aku lancang, tapi gak ada salahnya kan kalo kita kenalan? Kita satu kelas dan kamu juga teman sebangku aku..."
"Evan."ucapnya singkat lantas segera beranjak dari kursinya dan meninggalkan Widya yang masih bengong.
"Hah? Loh, ampun deh kenapa sih tuh cowok sok misterius banget. Evan...ya, setidaknya aku udah tau deh nama dia."Widya pun segera membereskan barang-barangnya dan segera keluar kelas.
Hari ini benar-benar membuatnya lelah terlebih karna kejadian memalukan yang terjadi pada dirinya. Rasanya dia ingin segera pulang dan berharap esok hari mereka yang mengetahui kejadian itu tak lagi membicarakannya.
Awalnya Widya hendak menghampiri Sandi di kelasnya, namun baru saja keluar dari kelasnya Widya mendapat pesan dari Irda yang membuat dia mengurungkan niatnya dan langsung pulang tanpa bertemu dengan Sandi terlebih dulu.
📥Irda
Wid, maaf Sandi bilang gak bisa pulang bareng. Soalnya kita dapet tugas kelompok gitu, yang harus dikerjain sekarang di perpus. Terus hp Sandi juga lowbet, kamu gak apa-apa kan pulang sendiri?
Memang benar Sandi dan Irda mendapat tugas kelompok bersama. Hanya saja, tadinya Sandi berniat untuk menemui Widya terlebih dahulu, untuk menanyakan kondisi sahabatnya itu. Kelas Widya memang 5 menit lebih awal selesai dibanding kelas Sandi, maka dari itu saat Sandi menghampiri Widya ke kelasnya mereka tak bertemu karna Widya sudah lebih dulu pulang. Irda yang mengetahui hp Sandi lowbat, memanfaatkannya untuk menghubungi Widya agar mereka tak saling bertemu.
"Kenapa San?Kok lesu gitu?"tanya Irda saat Sandi kembali ke kelasnya.
"Loh dia gak bilang sama kamu emangnya?"
"Hp aku lowbat, aku gak tau dia hubungin aku atau enggak."
"Heumm yaudah mungkin dia masih gak enak perut. Mending kita vepet susul yang lain ke perpus, biar tugas kita cepet beres."Sandi dan Irda pun akhirnya pergi menuju perpustakaan.
Widya memilih untuk pulang naik bus. Sebenarnya dia juga masih kecewa pada Sandi, sejak kejadian tadi di kantin Sandi tak ada menghubinginya untuk menanyakan kondisinya. Dan tadi pun malah Irda yang memberitahukan dirinya kalau mereka tak bisa pulang bersama. Ada perasaan cemburu, saat tau Sandi dan Irda sekarang kembali dekat. Namun, dirinya juga tak bisa bersikap egois untuk meminta Sandi agar tak terlalu dekat dengan Irda. Karna dia sendiri yang meminta Sandi untuk berdamai dengan Irda.
*
__ADS_1
*
*
Sabitha sudah selesai dengan masakannya, dia berniat memberitahukan Fajar untuk makan siang bersama. Baru saja dia akan mengetuk pintu kamar, Fajar sudah lebih dulu membuka pintu kamarnya. Fajar yang kaget langsung terpaku menatap Sabitha yang berada di hadapannya dengan jarak yang lumayan dekat. Membuat debaran jantungnya lagi-lagi berdetak dengan cepat. Sedangkan Sabitha yang merasa heran dengan sikap Fajar, mengeryit bingung menatap Fajar.
"Woy! Kamu kenapa? Liat aku kayak liat setan!"omel Sabitha karna Fajar yang terus menatapnya dengan tatapan yang sangat terlihat kaget juga panik.
"Hah? Eh, enggak! Ada apa?"tanya Fajar sembari mencoba menenangkan kembali debaran jantungnya.
"Makan siang nya udah siap, mau makan sekarang atau belum?"
"Oh, yaudah."tanpa berkata lagi, Fajar segera pergi menuju ruang makan meninggalkan Sabitha yang menatapnya cengo.
"Lah tuh orang kenapa sih? Aneh."Sabitha pun menyusul Fajar untuk ikut makan siang bersama. Karna memang Fajar yang memintanya untuk makan bersama di saat Fajar ada di apartemen.
Fajar yang masih agak gugup langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi juga lauk yang sudah Sabitha masak. Fajar selalu suka dengan apa yang dimasak Sabitha, meski itu hanya masakan rumahan biasa. Menurutnya masakan Sabitha cukuplah enak dan cocok di lidahnya.
Tanpa menghiraukan kedatangan Sabitha yang ikut bergabung, Fajar terus makan dengan lahap. Sabitha yang melihatnya pun tak ambul pusing, dia pikir mungkin Fajar sedang banyak tugas yang membuatnya makan dengan cepat. Hingga tiba-tiba Fajar tersesak makanannya karna terlalu terburu-buru, dengan sigap Sabitha segera menyodorkan segelas air putih padanya.
"Makannya kalo makan tuh pelan-pelan. Toh aku masak juga buat kamu, gak mungkinlah aku abisin!"ujar Sabitha setelah memberikan segelas air pada Fajar yang langsung diminum hingga habis.
Fajar yang masih terbatuk-batuk hanya meliriknya sekilas.
"Kenapa sih? Lagi banyak tugas? Sini aku bantuin, bukannya itu termasuk kerjaan aku ya, mumpung kerjaan aku di sini udah beres semua tinggal cuci piring ini aja sih."ucap Sabitha dengan penuh semangat.
"Yakin udah beres semua?"tanya Fajar yang baru saja tenang. Sabitha hanya menjawabnya dengan anggukan.
__ADS_1
"Yaudah beresin ini dulu, terus nanti ikut aku!"Fajar langsung pergi ke kamarnya tanpa memberitahukan dengan jelas maksud dari ucapannya.
"Yee dasar aneh!"gerutu Sabitha.