
Erik. Laki-laki itu yang kini berada di depan kostan Irda. Erik adalah salah satu teman satu kelas Irda. Lebih tepatnya teman dekat Irda. Dari awal masuk SMA, Irda sudah dekat dengan Erik. Namun, Irda tak pernah menyadari bahwa sebenarnya Erik sangatlah menyukai dirinya.
"Kamu, kok tumben sih maen kesini gak telfon atau chat dulu."ucap Irda yang kini tengah duduk bersama Erik di halaman depan kamar kost Irda.
"Ya biar kejutan dong."jawab Erik tersenyum.
"Iya, bener-bener bikin terkejut!Tapi, kalo misalnya aku gak ada gimana coba?"ucap Irda sedikit ketus.
"Ya gak apa-apa, tinggal pulang lagi aja."jawabnya dengan santai.
"Ish kamu mah ya!"ucap Irda menepuk bahu Erik, sambil tersenyum.
"Kayaknya Irda akrab banget sama cowok itu. Heumm, lebih baik sekarang aku pulang aja deh!"ucap Sandi, yang langsung bergegas pergi dari tempat persembunyiannya.
"Eh, Da kamu udah makan belum?"tanya Erik sambil menatap Irda.
"Belum sih, males banget soalnya."ucap Irda lesu.
"Ngapain males makan segala sih. Yuk, aku temenin cari makan!"Erik pun berdiri dari tempatnya.
"Lah, mau kemana ih. Aku males Rik ah!"Irda masih duduk tak berniat mengikuti Erick.
"Udah pokoknya sekarang kita cari makan, yuk buruan pake jaket dulu sanah!"ucap Erik menarik tangan Irda dan mendorong bahu nya pelan menuju kamarnya.
"Ish bener-bener ya kamu mah!Udah aku ambil dulu jaket!"seru Irda pasrah, dan segera masuk ke dalam kamarnya.
Akhirnya Erik berhasil mengajak Irda untuk makan bersama dengannya. Sedangkan Sandi yang sudah tiba di kostannya, terus memikirkan kejadian yang tadi dia lihat di depan kostan Irda juga pesan dinding di akun facebook milik Irda. Sandi yakin jika laki-laki tadi adalah orang yang sama dengan yang mengirim pesan pada Irda.
"Apa mungkin, Irda punya pacar yang lain?"gumam Sandi, saat dia berada di kamar kostannya.
"Ah tapi masa iya sih? Kayaknya bukan, tapi bisa jadi emang iya kan?Aggrhh, pusing!Mending juga tidur aja lah!"teriak Sandi kesal.
Di rumah Widya
"Widya, Widya sayang!"teriak Bunda dari luar kamar Widya.
"Iya Bunda!"teriak Widya, seraya menghampiri Bundanya. "Ada apa Bunda?"tanya Widya saat tepat di hadapan Bundanya.
"Temenin Bunda ke rumah Jeng Resni ya, Bunda mau ngasih rendang ini sekalian mau ngundang mereka besok malem."ajak Bunda sambil menunjukkan kotak makanan, berisikan rendang.
"Heumm, kenapa gak sama Ayah aja Bun?"jawab Widya agak lemas.
"Ayah lagi banyak kerjaan sayang, tuh sekarang aja masih lembur gitu. Udah yuk, cuman sebentar kok!"rayu Bunda dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin.
"Ish, iya iya Bunda. Hayu!"akhirnya Widya dan Bunda pergi ke rumah Ibu Resni.
ting tong
__ADS_1
ting tong
ting tong
"Iya sebentar!"ucap seseorang dari dalam rumah Ibu Resni.
"Loh..?"ucap Widya dan Deni berbarengan.
"Kalian saling kenal sayang?"tanya Bunda membuyarkan keterkejutan Widya dan Deni. Widya hanya menjawabnya dengan anggukan, namun seketika menggelengkan kepalanya. Deni yang melihatnya pun tersenyum geli.
"Yee kamu mah, oya ini pasti Nak Deni ya?Ibu nya ada?"tanya Bunda langsung, dengan senyuman ramahnya.
"Iya tante, ada. Mari silakan masuk, biar saya panggilkan dulu!"jawab Deni tersenyum ramah.
Tak lama Ibu Resni pun keluar sendirian menemui Bunda Novie dan Widya yang sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Hai jeng Novie!"sapa Ibu Resni tersenyum.
"Hai!Maaf malem-malem saya bertamu, ini saya mau ngasi rendang, kebetulan saya masak banyak!"ucap Bunda sembari memberikan kotak makanannya pada Ibu Resni.
"Aduu, makasih loh. Saya jadi enak dikirimin terus makanan."ucap Ibu Resni sembari menerima kotak makanannya dengan tersenyum sumringah.
"Kalo gak salah lelaki tadi itu kan yang di bus waktu itu ya.."gumam Widya dalam hati masih memikirkan Deni.
"Oya, kedatangan saya kesini juga mau mengundang jeng Resni sekeluarga makan malam besok di rumah. Kalau gak keberatan, bisa kan kalian datang?"ucap bunda Novie mengutarakan maksud kedatangannya.
"Baiklah kalau begitu, kami tunggu kedatangannya. Kami permisi kalau begitu, Assalamu'alaikum!"ucap Bunda beranjak dari tempat duduknya diikuti Widya.
"Wa'alaikumussalam!"Bunda dan Widya pun keluar dari rumah Ibu Resni.
"Bu, mereka itu siapa?"tanya Deni yang tiba-tiba datang di belakang Ibu Resni saat menutup pintu.
"Ya allah kamu ini, bikin kaget ibu aja."ucap Ibu Resni mengusap dadanya kaget.
"Hehe, maaf Bu. Jadi mereka itu siapa Bu?"tanya Deni kembali.
"Mereka itu tetangga kita, itu rumahnya yang di depan kita. Besok malam, mereka mengundang kita buat makan malam."jelas ibu Resni sembari jalan menuju dapur.
"Oh."jawab Deni singkat, yang masih mengikuti ibunya.
"Oh doang?Pokoknya besok kamu harus ikut ya!"ucap Ibu Resni saat tiba di dapur.
"Oh, jadi dia tetangga. Heumm.."gumam Deni tersenyum.
*
*
__ADS_1
*
Pagi ini, Widya kembali pergi ke sekolah dengan naik bus. Padahal Sandi sudah menawarkan diri untuk menjemput, namun Widya tetap memilih untuk menaiki bus. Setelah sarapan, Widya lekas berangkat menuju halte. Saat keluar dari rumah, Widya tak menyadari bahwa Deni mengikutinya dari belakang. Karna Deni pun akan pergi kuliah dengan menggunakan bus.
"Cewek itu lagi. Gak nyangka, padahal dia dari keluarga terpandang, tapi lebih memilih naik bus."gumam Deni dalam hati, yang berjalan di belakang Widya.
"Perasaan kok kayak ada yang ngikutin ya, heumm mau nengok ke belakang tapi takut ah. Mending buru-buru aja deh jalannya!"gumam Widya dalam hati, sembari mempercepat langkahnya menuju halte.
Akhirnya, Widya pun tiba di halte. Dia harus menunggu terlebih dulu, karna bus yang akan mengantarkannya ke sekolah belumlah tiba. Widya belum menyadari, kehadiran Deni di sampingnya karna dia sibuk dengan Hp nya. Hingga bus yang akan mereka tumpangi datang, Widya masih asik dengan Hp nya. Deni yang menyadari itu, langsung menarik tangan Widya untuk segera menaiki bus.
"Loh..!"ucap Widya kaget. "Eh, kak Deni..Loh bus nya udah ada."gumam Widya bingung, namun tak berniat melepaskan genggaman Deni.
"Lain kali kalo lagi di halte atau di tempat umun lainnya, jangan main Hp kayak gitu!"ucap Deni, saat mereka sudah sama-sama duduk.
"Eh, i iya kak!"ucap Widya tersenyum kikuk. "Kak, maaf!"ucap Widya mengangkat tangannya yang masih digenggam erat oleh Deni.
"Eh iya lupa, maaf!"ucap Deni tersenyum, sembari melepaskan genggamannya.
"I iya Kak,"Widya pun tersenyum dan memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Kamu tiap hari naik bus gini?"tanya Deni.
"Enggak sih, ini baru kedua kalinya aku naik bus Kak."jawab Widya yang masih belum mau menatap Deni.
"Ouh pantesan."
"Pantesan kenapa Kak?"tanya Widya menoleh ke arah Deni.
"Ya keliatan aja sih, kalo kamu emang gak pernah naik bus."ucapnya tersenyum.
"Iihh cakep!"gumam Widya dalam hati. "Oh gitu ya Kak."ucap Widya yang kembali melihat ke arah jendela.
15 menit kemudian, Widya pun tiba di halte dekat sekolahnya. Widya pun pamit pada Deni untuk turun duluan. Saat Widya melewati gerbang sekolah, dari arah belakang Sandi yang baru datang pun menghampiri Widya.
"Wid!"ucap Sandi, yang masih berada di atas motornya.
"Eh, kamu baru dateng?"tanya Widya menghentikan langkahnya.
"Ikut yuk!"ajak Sandi.
"Ikut?kemana?kita kan mau sekolah."tanya Widya polos.
"Ke parkiran..hehe"jawab Sandi cengengesan.
"Ish kamu mah ya, ngapain juga ih ikut ke parkiran."
"Yaudah, kamu tunggu aku ya, kita bareng ke kelas!"
__ADS_1
"Oke, aku tunggu di sana!"Sandi pun segera berlalu ke parkiran untuk menyimpan motornya.