
Kini Irda dan Erick tengah berada di warung penjual bubur ayam, yang mangkal di pinggir jalan. Erick memang sudah sering makan di tempat itu, maka dari itu dia sengaja mengajak Irda untuk sarapan di sana. Awalnya Mama Irda memang mengajak mereka untuk sarapan di rumah, tetapi Erick menolaknya secara halus. Dan berakhirlah mereka di sini sekarang.
"Rick, kenapa kita makan di sini sih?Liat tuh penuh banget tau!"ketus Irda melihat hampir seluruh kursi penuh.
"Ya justru karna di sini penuh, berarti buburnya enak kan?Udah, tuh ada kursi kosong di sana!Kamu duduk duluan aja, biar aku pesen dulu."ujar Erick lembut.
"Yaudah jangan pake lama!"Irda pun berlalu masuk menuju kursi yang kosong. Sedangkan Erick segera memesan bubur untuk mereka.
Tak lama Erick pun datang bersama pelayan membawa dua buah mangkuk bubur beserta dua gelas air teh hangat juga dua mangkuk kerupuk. Setelah semuanya tersimpan rapi di meja, Erick pun segera mempersilakan Irda untuk makan.
"Ayo Da dimakan, enak kok buburnya. Aku udah sering sarapan di sini, dan dijamin aman!"ucap Erick yang sudah mulai memakan buburnya dengan lahap.
Irda yang melihatnya pun merasakan lapar, meski tak yakin akhirnya Irda pun mulai menyendokkan buburnya dan memakannya dengan perlahan. Merasakan rasa dari bubur itu, secara perlahan setelah bubur itu masuk ke dalam mulutnya, Irda melebarkan matanya. Tak menyangka dengan rasa dari bubur itu, yang jauh dari bayangannya sebelumnya.
"Gimana?"tanya Erick dengan senyuman menyeringai menatap Irda.
"Gila, ini sih enak banget Rick!Asli, aku kira gak akan seenak ini!"pekik Irda heboh, memakan buburnya dengan lahap.
"Makannya aku ajak ke sini juga. Yaudah abisin buburnya, udah gitu kita pergi ke taman. Kita olaharaga dulu, "Irda hanya mengangguk, karna fokus memakan buburnya. Erick pun tersenyum melihat sikap Irda yang menurutnya menggemaskan.
Sedangkan Widya dan Deni baru saja tiba di taman komplek. Dan mereka sudah mulai berlari bersama. Awalnya memang mereka tak saling mengobrol, sampai saat Widya memutuskan untuk beristirahat dan duduk di bangku kosong Deni mengikutinya.
"Boleh ikutan duduk juga gak?"tanya Deni berdiri di depan Widya.
"Eh, boleh kok Kak. Silakan!"Widya pun menggeser memberi tempat untuk Deni. Setelahnya Deni pun duduk, Deni mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang memang dirinya bawa.
Widya diam-diam memperhatikan Deni, sejenak membuatnya terpana. Hingga suara Deni menyadarkan dirinya dari lamunan liarnya.
"Aku tau kok aku ganteng, tapi jangan diliatin terus. Kalo sampe suka bahaya loh!"ucap Deni tanpa menatap ke arah Widya.
"Eh, apa sih?"ucap Widya malu, seraya mengalihkan pandangannya ke segala arah. Deni hanya tersenyum tipis.
"Cowok yang sering dateng ke rumah itu, pacar kamu?"tanya Deni tiba-tiba.
"Sandi? Bukan kak, dia sahabat aku dari kecil.."jelas Widya.
"Oh, aku kira dia pacar kamu."ucap Deni dengan senyuman tipis.
"Emang kenapa Kak?"tanya Widya polos.
"Gak apa-apa kok, lupain aja. Udah ini mau kemana?"tanya Deni mengganti topik.
"Aku sih mau pulang aja Kak, udah capek banget!"
"Ouh, yaudah kalo gitu aku mau lanjut lari lagi. Kalo kamu mau pulang, hati-hati ya!"Deni pun beranjak dan langsung berlari menuju lapangan.
"Heumm main tinggal aja!"dengus Widya. Dia pun memilih untuk segera pulang ke rumah.
Setelah melihat Widya pergi dari taman, Deni pun kembali berhenti berlari. Deni pun kembali duduk di kursi taman, menghela napas panjang. Sudut bibirnya terangkat membayangkan sesuatu yang membuatnya menggelengkan kepalanya.
"Bisa-bisanya aku berharap..."ucapnya dengan senyuman menyeringai.
__ADS_1
drrrt
drttt
drttt
Terdengar suara dari Handphone nya, Deni pun merogoh saku celananya untuk mengambil handphonenya. Dan setelah melihat siapa yang menelfon, seketika raut wajahnya berubah masam. Dengan terpaksa Deni pun menerima panggilan itu.
"Hallo!"ucapnya ketus.
"..."
"Gak bisa!"
"..."
"Sibuk!"
"..."
"..."
Cukup lama Deni terdiam sampai akhirnya Deni pun mengakhiri panggilan itu dengan wajah yang terlihat sangat kesal. Tak lama, Deni pun beranjak dari tempat duduknya, memutuskan untuk pergi dari taman.
Widya baru saja tiba di rumahnya. Kedua orangtuanya tengah berada di taman belakang, Widya pun langsung menghampiri mereka.
"Yah, Bun lagi apa?"tanya Widya menghampiri kedua orangtuanya.
"Iya, Bunda capek ah!"jawabnya seraya memamerkan deretan giginya.
"Kamu ini, namanya olahraga ya memang harus capek biar keringatnya keluar."kata Ayah yang tengah duduk santai.
"Iya iya Ayah ku sayang, kan Widya juga udah keringetan ini. Oya tadi Ayah sama Bunda lagi ngobrolin apaan?"
"Itu tadi tante kamu ngabarin kalo Kakak kamu bakalan dateng ke Indo. Dan rencananya untuk sementara dia bakalan tinggal dulu di sini sama kita."
"Oyah, beneran Bun?Asik dong jadinya rumah bakalan tambah rame!"seru Widya senang. "Kapan datengnya Bun?"
"Katanya sih besok baru sampai di bandara. Besok kita jemput sama-sama ya!"titah Bunda Novie lembut.
"Iya Bunda, yaudah aku mandi dulu ya Bun Yah, udah gerah banget!"Widya pun segera berlari menuju kamarnya.
"Bunda yakin mau minta dia tinggal di sini?Bukannya dia selalu nolak ya?"tanya Ayah pada Bunda.
"Ya gak ada salahnya di coba lagi kan?Lagian, sekarang Bunda rasa dia udah bisa berbaur sama orang lain. Wafa sendiri yang bilang, makannya sekarang di putuskan untuk melanjutkan kuliah di Indo."
"Yasudah, semoga saja memang benar seperti itu."ucap Ayah pasrah.
Wafa adalah adik kandung dari Bunda Novie. Wafa dan suaminya beserta kedua anaknya tinggal di Singapura. Namun, kali ini anak bungsunya memutuskan untuk tinggal di Indonesia bersama Bunda Novie. Kenny Mahadva Nada, dialah keponakan dari Bunda Novie. Usianya sudah 20 tahun, kepindahannya ke Indonesia karna dirinya yang ingin merubah sikapnya yang terkesan introvert sebelumnya. Dan dia juga ingin memperbaiki hubungan dengan seseorang.
Widya baru saja selesai dengan ritual mandinya. Kini dirinya sedang merias diri di depan meja rias miliknya. Saat Widya tengah menyisir rambutnya, terdengar ada notif masuk di handphone nya.
__ADS_1
📥Sandi
Pagi cantik!
Ternyata pesan dari Sandi, membacanya membuatnya tersenyum. Tak menyangka pagi-pagi Sandi sudah membuatnya baper. Karna biasanya, Sandi tak pernah menyapanya seperti itu.
^^^📤Widya^^^
^^^"Pagi menjelang siang jelek!"^^^
📥Sandi
Enak aja aku dibilang jelek.
Aku ganteng tau!
^^^📤Widya^^^
^^^Itu sih kata kamu yeey!^^^
📥Sandi
Lah emang kenyataannya aku ganteng dari lahir.
Sirik aja kamu!
^^^📤Widya^^^
^^^Yalah yalah yang cantik ngalah 😋^^^
📥Sandi
Hugh dasaar!
Kita jalan yuk!
^^^📤Widya^^^
^^^Kemana?^^^
📥Sandi
Ya kemana aja lah, bosen nih di kostan.
^^^📤Widya^^^
^^^Yaudah hayu aja!^^^
📥Sandi
Oke, aku ke rumah sekarang!
__ADS_1
Setelah berkirim pesan dengan Sandi, Widya keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah untuk kembali menemui orangtuanya.