
Ketegangan masih nampak di ruang kerja Ayah, tak ada yang berani bersuara setelah Widya mengutarakan keinginannya. Ayah masih menatap Widya dengan lekat, sedangkan Widya masih menundukkan kepalanya tak berani menatap balik sang Ayah. Sandi yang berada di antara anak dan ayah itu, merasa canggung dan bingung.
"Sandi kamu ambil jurusan yang sama juga dengan Widya?"tanya Ayah menatap Sandi.
"Enggak Yah, kalo Sandi sih jurusan management bisnis Yah."jawab Sandi tersenyum.
"Heumm ya ya, kamu kan memang harus jadi penerus Papa kamu."menghembuskan nafas berat, kembali menatap Widya. "Kenapa kamu ingin masuk sastra sayang?"tanya Ayah lembut, membuat Widya merasa lega.
"Maaf Yah, karna Widya memang dari dulu suka sastra. Maaf, kalo Widya gak bisa nurutin keinginan ayah."ucap Widya sembari meremas kedua tangannya.
"Heumm, sastra apa yang kamu pilih?"tanya ayah lagi tanpa melepas tatapannya pada Widya.
"Sastra Indonesia juga Jepang Yah."menjawab dengan yakin.
Hening.
Ayah kembali fokus pada lembaran kerjanya, sebelum menjawab keinginan Widya. Widya adalah pewaris satu-satunya, jelas Ayah ingin Widya kelak menjadi penerus yang akan menggantikan posisinya. Tetapi, dilain sisi Ayah pun tak ingin bila memaksa kehendaknya sendiri, yang malah nantinya akan merugikan dirinya juga Widya sendiri.
"Yasudah, kalau memang kamu yakin dengan pilihanmu. Ayah setuju, tapi...."Ayah sengaja menggantung ucapannya, melihat reaksi putri satu-satunya yang duduk di hadapannya.
"Tapi apa Yah?"tanya Widya ragu juga penasaran.
"Setelah 2 tahun kamu kuliah, kamu harus mulai belajar bisnis. Karna bagaimana pun, kamu putri ayah satu-satunya. Dan kamu yang nanti akan menggantikan posisi Ayah."jelas ayah dengan tegas.
"Ayah gak mungkin kan menyerahkan perusahaan ayah pada orang lain? Ayah harap kamu mau dan bisa mengerti posisi kamu sebagai pewaris tunggal keluarga kita."ucap Ayah tegas.
"Jadi aku harus ambil fast track Yah?"ucap Widya.
"Ya kalau kamu sanggup, lakukan."
__ADS_1
Widya menatap Sandi meminta dukungan, Sandi pun mengangguk tersenyum memberikan semangat.
"Iya Ayah, Widya akan berusaha dan pasti Widya bisa bikin Ayah bangga!"ujar Widya dengan yakin.
"Ya, Ayah percaya. Dan Ayah harap kamu gak ngecewain Ayah."Ayah tersenyum hangat pada Widya. Melihat ayahnya tersenyum, Widya langsung menghampiri dan memeluk sang Ayah.
"Makasih Ayah, Widya janji gak akan ngecewain Ayah. Makasih udah ngasih kesempatan buat Widya ngelakuin apa yang menjadi keinginan Widya."ucap Widya dengan air mata yang sudah berjatuhan membasahi kedua pipinya.
"Iya sayang, Ayah akan selalu mendukung apapun yang terbaik untuk kamu. Ayah melakukan ini pun demi kebaikan kamu di masa depan, Ayah tetap ingin kamu belajar bisnis karna itu memang untuk bekal masa depanmu."Ayah mengusap kepala Widya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Iya Ayah, Widya paham."Widya semakin mengeratkan pelukannya di dada sang Ayah.
Kampus Mahardika
Kini Kenny dan Deni sudah berada di area parkir kampus Mahardika. Mereka baru saja sampai di sana, dan kini Deni sedang memarkirkan motornya. Kenny melihat ke sekitar, tantenya alias bunda Novie bilang padanya tadi kalau kampus Mahardika adalah kampus yang cukup baik dan menjadi kampus favorit. Namun, Bunda Novie sengaja tak memberi tahu Kenny bahwa Deni adalah anak dari pemilik kampus Mahardika. Karna itu permintaan dari Ibu Resni sendiri.
Deni menghentikan langkahnya, dan dengan malas membalikkan kembali badannya menghadap Kenny.
"Kamu mau kemana?"tanya Kenny pelan.
"Bukan urusan kamu!"jawab Deni ketus. Dirinya kembali membelakangi Kenny hendak pergi, namun lagi-lagi Kennya memanggilnya dan kini menghampirinya.
"Den, tunggu! Apa kita bisa bicara dulu? Please...."ujar Kenny memelas berharap Deni mau diajak berbicara olehnya.
Setelah menarik napas dan membuangnya secara kasar, Deni pun menatap dingin pada Kenny yang kini berdiri di sampingnya.
"Oke. Kita bicara di taman sebelah sana!"Deni pun berlalu menuju taman kampus yang tak jauh dari tempat parkir.
Meski harus sedikit berlari, Kenny terus mengikuti Deni yang sudah lebih dulu berjalan di depannya. Kenny berharap Deni mau mendengarkan semua penjelasan darinya.
__ADS_1
Hari ini memang hari libur, tetapi masih ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang datang ke kampus. Meski tak sebanyak hari biasanya. Tak lama, Deni dan Kenny pun tiba di taman kampus. Suasananya cukup sepi, karna hanya ada beberapa mahawiswa yang sedang duduk-duduk di sana. Ada yang membaca buku, menonton di laptop ada juga yang sedang memadu kasih.
Namun semua itu, sama sekali tak dihiraukan oleh Deni juga Kenny. Mereka kini sudah duduk di kursi panjang, yang memang disediakan di taman itu. Tak ada yang bersuara di antara mereka, yang terdengar hanya hembusan napas mereka. Hingga akhirnya Kenny memberanikan diri untuk berbicara pada Deni.
"Den...."panggil Kenny lirih, dia memutar tubuhnya agar duduk menghadap pada Deni.
"Hm."jawabnya singkat dengan pandangan tetap ke arah depan. Tak ingin menghadap pada Kenny yang ada di sampingnya.
"Aku.. aku.. mau minta maaf sama kamu. Dan aku juga mau jelasin semuanya sama kamu. Kamu mau kan dengerin penjelasan aku.?"ucap Kenny dengan suara pelan karna menahan dirinya agar tak mengeluarkan air mata.
Rumah Widya
Setelah berbicara dengan sang Ayah, kini Widya benar-benar merasa lega karna apa yang dirinya takutkan tidaklah terjadi. Meski memang dirinya harus lebih berusaha dan lebih giat lagi belajar, karna Widya harus mengambil fast track demi bisa melanjutkan S2 jurusan bisnis sesuai keinginan sang Ayah.
"San, apa aku bisa ya?"tanya Widya saat mereka duduk di tepi kolam renang.
"Bisa. Aku yakin kamu bisa kok Wid! Apa yang kamu ragukan?"
"Ya aku takut aja, aku malah bikin Ayah kecewa."Widya menundukkan kepalanya, meremas jari-jari tangannya.
Sandi melihat ke arah tangan Widya, dengan sigap Sandi segera menggenggam tangan Widya dengan lembut. Menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Wid, kamu harus yakin dong. Masa belum juga mulai udah pesimis gitu sih? Aku yakin kok, kalo kamu berusaha dengan sungguh-sungguh pasti semuanya bisa kamu lewatin dengan mudah. Tenang aja, nanti aku pasti bantuin kamu kok!"ujar Sandi mencoba untuk menenangkan Widya.
"Makasih ya San, kamu selalu ada buat aku!"
"Iya.. Tentu aku akan selalu ada di samping kamu Wid."ucap Sandi membuat semburat merah di kedua pipi Widya. Meski bukan yang pertama kali mendengar Sandi mengatakan hal itu tetapi kali ini justru malah membuat dirinya merasakan getaran di dadanya.
~maafkan typo yang bertebaran^
__ADS_1