
Sandi kembali ke kostan Irda dengan membawa beberapa kantong makanan. Sandi dengan telaten menyiapkan makanan dan juga obat yang akan diberikannya pada Irda. Meski dia tak benar-benar mencintai Irda, namun dia tak bisa membiarkan Irda sendiri dengan keadaannya yang sakit seperti sekarang.
"Nih, kamu makan dulu Da. Udah itu minum obatnya."ucap Sandi memberikan sepiring nasi dengan lauk berupa sayuran.
"Tapi, badan aku lemes banget San. Kamu mau ya suapin aku?"ucap Irda dengan suara yang dibuat selemah mungkin, agar Sandi luluh.
Menghela nafas dengan terpaksa, Sandi pun mau menyuapi Irda. Meski pikirannya pun tak bisa berhenti memikirkan Widya. Sedangkan Widya sendiri, setelah selesai makan siang dia segera kembali menuju kamarnya. Mengaktifkan hp nya yang tadi sempat dirinya charge, dia ingin segera menanyakan kabar Fajar. Setelah Hpnya aktif, dia pun segera mencari kontak Fajar dan menghubunginya.
"Hallo assalamu'alaikum! Jar, aku denger kamu sakit? Sakit apa? Kok bisa sakit sih, abis ngapain?"tanya Widya langsung ketika sambungannya terhubung dengan Fajar.
"Wa'alaikumussalam Wid. Kamu nanyanya satu-satu dong Wid!"ucap Fajar terkekeh, walau sedikit lemas.
"Eh, iya maaf. Jadi, kamu sakit apa Jar?"tanya Widya kembali.
"Cuman gak enak badan kok, besok juga udah masuk sekolah. Maaf ya, tadi aku jadi gak bisa jemput kamu."ucap Fajar merasa bersalah.
"Gak apa-apa kali Jar. Tapi, beneran kan kamu gak sakit parah?"
"Ya allah beneran lah Wid, emang kamu maunya aku sakit parah ya?"lagi-lagi Fajar terkekeh mendengar pertanyaan Widya, namun juga merasa senang karna Widya khawatir padanya.
"Ya enggaklah! Ya syukurlah kalo kamu gak apa-apa Jar. Maaf ya aku gak jenguk kamu, soalnya aku kan gak tau rumah kamu dimana."
"Kamu mau tau rumahku Wid?"goda Fajar.
"Ya mau lah kalo emang boleh." jawab Widya santai.
"Bener nih? Yaudah nanti kalo aku udah sehat, aku ajak kamu ke rumah aku ya!"
"Oke, siapa takut? Hahaa."
Mereka pun terus mengobrol saling cerita apapun secara random. Hingga tak terasa waktu pun sudah menjelang maghrib, Widya pun menyudahi acara telfonan mereka karna akan melaksanakan ibadah bersama kedua orangtuanya.
*
*
*
Beberapa minggu lagi semua murid di SmA Jaya akan diadakan ujian semester. Maka dari itu, akhir-akhir ini Widya semakin rajin belajar. Entah itu sendiri atau pun belajar bersama Fajar juga Sandi. Iya, mereka bertiga belajar bersama, seperti sekarang ini. Fajar dan Sandi datang ke rumah Widya, tentu mereka tidak janjian. Hanya saja, suatu kebetulan mereka bisa datang bersamaan.
"Loh, kamu ngapain kesini Jar?" tanya Sandi, saat dia baru saja tiba di halaman rumah Widya.
"Aku mau ketemu Widya lah, kamu sendiri ngapain?" balik Fajar yang bertanya, mereka sama-sama baru saja memarkirkan motornya di halaman rumah Widya.
"Aku juga, ada apa kamu ketemu Widya?" Sandi semakin ketus.
"Aku mau ajak dia belajar bareng, kenapa gak boleh?" tanya Fajar membuat Sandi terdiam. Ya tentu, emang dia siapa larang-larang?
"Bebas!"ucap Sandi, berlalu menuju pintu rumah Widya. Dia pun mengetuk pintu, setelah Fajar pun berdiri di sampingnya.
tok
tok
tok
"Iya tunggu!" teriak seseorang dari dalam. "Loh, kalian?" tanya Widya, setelah membuka pintunya.
__ADS_1
"Hai, Wid!" sapa Sandi dan Fajar barengan. Mereka pun beradu pandang sinis.
Widya pun hanya terseyum kecil melihat mereka. "Yuk masuk!" ajak Widya akhirnya.
"Kok, sepi Wid. Ayah sama bunda kemana?" tanya Sandi setelah mendudukkan dirinya di kursi ruang depan.
"Ayah sama bunda ada kok, di halaman belakang. Mau aku panggilin?Sekalian aku bikinin minum dulu buat kalian."ucap Widya yang masih berdiri dekat pintu.
"Boleh, aku minta es jerukk yaa!" ucap Sandi cengengesan.
"Iyaa, kalo kamu Jar mau apa?"Beralih menatap Fajar yang dari tadi hanya terdiam.
"Ah, samain aja deh Wid." ucapnya kikuk.
"Oke, tunggu bentar ya!" Widya pun masuk, sembari memberitahukan pada orangtuanya.
Tak lama, Widya pun datang menghampiri Sandi dan Fajar sembari membawa nampan berisikan 2 gelas es jeruk dan beberapa cemilan. Setelah sebelumnya Ayah dan bunda menghampiri mereka.
"Loh, ayah sama bunda belum kesini?" ucap Widya, setelah menyimpan nampan di atas meja.
"Udah kok, baru aja ke dalem lagi. Katanya lagi asik berduaan di belakang." Jawab Sandi, terkekeh.
"Ish kamu mah, yaudah silakan diminum dulu!" ucap Widya tersenyum.
"Makasih Wid!" ucap Sandi dan Fajar lagi barengan.
"Haha, dari tadi kalian barengan terus!" Widya pun tertawa renyah, mendengar kekompakkan Sandi dan Fajar yang tak sengaja.
"Ini mah Si Fajarnya aja yang ngikutin aku Wid!" ucap Sandi ketus.
"Yee, siapa juga yang ngikutin kamu!" Fajar pun tak mau kalah.
"Enggak!Kita kesini mau belajar!" serentak, Sandi dan Fajar kembali menjawab barengan.
"Hahahaha." tawa Widya pun kembali pecah. "Gak janjian, tapi barengan terus, jangan-jangan kalian jodoh lagi!" ucap Widya ditengah-tengah tawanya.
"Ihhh naj**s!!" ucap mereka lagi.
Setelah adegan drama antara Sandi dan Fajar, kini mereka bertiga tengah serius belajar bersama di halaman belakang rumah Widya. Meski beberapa kali diselingi oleh perdebatan kecil antara Fajar juga Sandi. Setelah kurang lebih 1 jam mereka berlatih mengerjakan soal-soal, mereka pun istirahat untuk sejenak.
drttt
drtttt
drttttt
"Iya, hallo!" ucap Sandi setelah menggeser ikon hijau di layar hp nya.
"......"
"Aku lagi belajar Da!"ucapnya singkat dengan nada ketus.
"....."
"Iya di rumah temen. Banyakan kok!"ucapnya bohong.
"......"
__ADS_1
"Yaa kurang lebih masih lama."
Widya dan Fajar saling pandang mendengarkan perbincangan Sandi yang entah dengan siapa.
"Iya, bye!" akhirnya Sandi pun memutuskan sambungan telefonnya. Dan langsung menatap kedua temannya yang masih terbengong menatap ke arahnya.
"Kalian kenapa?"tanya Sandi heran.
"Eh, gak apa-apa kok!" jawab Widya, menggaruk pelipisnya tersenyum kikuk. Sedangkan Fajar, segera membuka buku yang ada di hadapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya, tiba waktunya Widya juga teman-temannya yang lain untuk melaksanakan ujian semester di sekolahnya. Semua murid terlihat sangat serius dalam mengerjakan semua soal-soal yang ada di hadapan mereka. Meski entah, keseriusan mereka itu benar-benar mengerjakan dengan tepat, atau malah sebaliknya.
Kecuali Widya, Sandi juga Fajar yang memang sudah dari orok terlahir menjadi siswa siswi yang pandai. Mereka nampak sangat tenang, dalam mengerjakan soal-soalnya. Ujian kali ini diadakan selama 3hari, dan hari ini adalah hari terakhir mereka ujian. Setelahnya mereka akan berlibur, selama 2minggu.
"Alhamdulillaah, akhirnya beres juga!!!" teriak Widya saat keluar dari kelas, bersama Sandi juga Fajar.
"Kamu, ada rencana liburan kemana Wid?" tanya Fajar, yang berjalan di sebelah kiri Widya.
"Belum tau, paling masih di rumah aja sih. Kalo kalian gimana?"
"Aku juga belum tau, belum ada rencana soalnya." jawab Fajar.
"Wid, aku duluan ya. Nanti kalo sempet aku main ke rumah ya! Bye!" seru Sandi segera berlari menuju parkiran.
"Si Sandi buru-buru amat dah!" ucap Fajar, menatap Sandi yang semakin menjauh.
"Ditungguin pacarnya kali!Udah ah, aku mau pulang. Pengen rebahan, nyantaiii!" seru Widya mempercepat langkahnya.
"Wid, tunggu!Aku anterin aja ya, kamu gak dijemput kan?" ajak Fajar, langsung menarik tangan Widya, tanpa menunggu jawaban dari Widya.
"Ish, kebiasaan ya maen tarik-tarik aja!" gerutu Widya, namun tak berniat melepaskan.
Mereka pun segera pergi meninggalkan area sekolah menuju rumah, tempatnya untuk istirahat setelah kurang lebih 4 jam di sekolah mengerjakan soal-soal yang mungkin bagi sebagian siswa membuat kepalanya hampir meledak. (Bom kali meledak!)
"Gimana sayang tadi ujian nya, lancar?" tanya Irda, kini mereka sedang berada di sebuah kafe.
"Alhamdulillaah lancar, kamu sendiri gimana?"jawab Sandi, sambil meminum jus jeruknya.
"Aku juga lancar sayang. Oya, liburan nanti kamu kemana?"
"Kayaknya untuk beberapa hari, aku mau pulang ke rumah Mama Papa aja. Udah lama juga aku gak pulang."
"Ouh, sama dong aku juga mau pulang. Tapi, gak lama.. " ucapnya lirih.
"Kenapa?" tanya Sandi.
"Ya, pastinya juga mereka sibuk. Jadi, otomatis di rumah juga bakalan sepi. Mending di kostan aja sekalian."
"Oh gitu. Ya kamu yang sabar aja, mereka seperti itu juga kan buat kamu."ucap Sandi, membuat Irda yang tengah memakan kentang goreng nya tersenyum, karena merasa Sandi begitu perhatian padanya.
"San, kamu udah beneran sayang belum sama aku?" tanya Irda tiba-tiba, membuat Sandi terdiam.
"Kok, kamu gak jawab San?" ucap Irda dengan nada yang sedih.
"Jujur, aku belum tau Da. Selama kita berhubungan, meski awalnya emang aku terpaksa. Tapi, aku nyaman saat bareng kamu. Tapi, kalo sayang..aku juga belum bisa ngasih harapan itu ke kamu." jelas Sandi, membuat Irda merasakan amat sangat kecewa.
__ADS_1
Tak ada lagi perbincangan diantara mereka. Irda merasa kecewa karna Sandi masih saja tak bisa membalas perasaaannya. Sedangkan Sandi pun merasa tak enak, namun dia juga benar-benar tak ingin membohongi perasaannya juga Irda.
mohon dukungannya yaa...kalo udah dibaca, boleh dong di like kasih vote juga apalagi boleehhh!! Makasiih ☺☺