
Keesokan harinya, pagi ini Widya membantu sang bunda membuatkan sarapan untuk semuanya. Karna hari ini, Widya masuk jadwal siang ke kampus jadinya Widya masih memakai baju piyama. Terlalu malas untuk mandi pagi, di saat jadwal ke kampus siang harinya.
Setelah selesai membantu sang bunda, Widya menghampiri Kenny yang masih berada di dalam kamarnya.
"Kak Kenny?"panggil Widya ketika berada di depan pintu kamar Kenny yang sedikit terbuka.
"Eh, Wid. Masuk sini!"seru Kenny yang tengah duduk di depan meja riasnya.
"Kakak masuk pagi?"tanya Widya begitu masuk ke dalam kamar, dan kini duduk di pinggir ranjang yang bersebelahan dengan meja rias Kenny.
"Iya, cuman 1 mata kuliah aja sih. Kamu sendiri? Kok, masih pake piyama?"
"Aku masuk siang kak, sampe sore. Emm, kak boleh tanya gak?"
"Boleh, mau nanya apa emang?"Kenny pun memutar tubuhnya mengghadap Widya.
"Kak Kenny pacaran sama ka Deni?"pertanyaan Widya sontak membuat Kenny salah tingkah.
"Eh, enggak! Kamu kok bisa nanya kayak gitu sih?"elak Kenny sedikit gugup.
"Ya enggak apa-apa sih kak, soalnya aku pernah liat kakak sama Kak Deni di kantin kampus lagi makan bareng. Ya, aku kira kalian pacaran."ujar Widya menjelaskan.
"Enggak kok, kita gak pacaran. Kita temenan aja."jawab Kenny yang sudah kembali bersikap santai.
Widya hanya manggut-manggut percaya dengan ucapan Kenny. Dia pun tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan kakak sepupunya itu. Tak lama asisten rumah tangga memanggil mereka untuk turun sarapan bersama dengan kedua orangtua Widya.
Mereka pun menikmati sarapan bersama dengan diselingi obrolan ringan seputar kuliah Widya juga Kenny. Di tengah-tengah waktu sarapan mereka, ternyata Sandi datang dan langsung bergabung sarapan bersama mereka. Meski keadaan menjadi sedikit canggung karna diamnya Widya, sesekali Sandi melirik ke arah Widya yang daritadi menundukkan kepalanya tak ingin menatap Sandi.
Setelah mereka sarapan, ayah Irwan dan Kenny pun sudah berangkat. Sedangkan bunda pergi ke supermaket bersama asisten rumah tangga, tinggallah Widya dan Sandi. Kini mereka tengah duduk di kursi halaman belakang. Namun, setelah 10 menit mereka duduk di sana belum ada perbincangan sama sekali di antara mereka. Widya dengan pikirannya yang bingung, sedang Sandi pun dengan pikirannya yang entah seperti apa.
"Ehemm..."Suara Sandi memecahkan keheningan yang sejak tadi menemani mereka berdua. Widya pun menoleh menatap wajah Sandi yang kini juga tengah menatap dirinya.
"Wid, aku capek."ucap Sandi lirih.
__ADS_1
"Capek? Kenapa?"tanya Widya bingung.
"Iya capek, dengan keadaan kita yang kayak gini."Sandi memalingkan wajahnya menatap ke arah depan.
"Emang kita kenapa?"Widya masih bersikap santai, meski hatinya sudah merasa waswas juga berdebar. Takut Sandi tak ingin bersahabat lagi dengan dirinya, karna adanya Irda di hidupnya kini.
"Wid, apa beberapa hari ini kamu sengaja menghindar dari aku?"tanya Sandi yang kini kembali memutar tubuhnya menghadap Widya.
Dengan sebelah alis terangkat, Widya menatap Sandi dengan tatapan bingung, karna setaunya Sandi lah yang terkesan menjaga jarak dengannya.
"Kenapa kamu nanya gitu sih San? Bukannya malah kamu ya, yang selalu menjaga jarak sama aku? Kamu sendiri yang selalu sibuk, ngerjain tugaslah apa lah."ucap Widya sedikit kesal.
"Lah kan emang kenyataannya aku beneran ngerjain tugas Wid."jawab Sandi polos.
"Iyaa, ngerjain tugas sambil PDKT."ucap Widya lirih, namun tetap terdengar jelas oleh Sandi.
Mendengar ucapan Widya, Sandi mengernyit heran.
"PDKT? Maksudnya apa sih Wid? Siapa yang PDKT?"tanya Sandi yang masih tak menyadari maksud dari ucapan Widya.
"Udah deh, kamu mending pergi duluan aja ke kampus. Soalnya aku masuk siang. Kasian kan kalo Irda nunggu kamu lama."ujar Widya masih membelakangi Sandi.
"Kok, jadi bawa-bawa Irda sih? Wid, kamu kenapa sih? Kamu beneran ngehindarin aku kan? Apa karna sekarang kamu lagi deket sama si Evan itu ya?"tanya Sandi ketus, kini dia berdiri di samping Widya menatapnya dengan tajam.
"Lah, kenapa jadi Evan? Lagian siapa juga yang deket sama dia?"Widya kini membalas tatapan Sandi.
"Kalo gak deket ngapain kemarin itu jalan bareng sama dia, bahkan sampe makan bareng juga kan?"
"Kemarin aku gak sengaja ketemu sama dia. Lagian kemarin aku tuh bawa mobil sendiri, mana ada jalan bareng sama dia."jelas Widya malas.
Sandi pun menghembuskan nafasnya lega setelah mendengar penjelasan dari Widya. Meski masih ada rasa kesal, karna Widya makan bareng dengan Evan tapi setidaknya Widya mengaku hubungannya dengan Evan tak sedekat seperti yang dia pikirkan.
"Jadi, kamu gak lagi deket sama Evan kan Wid?"tanya Sandi dengan sedikit tersenyum menatap Widya.
__ADS_1
"Ya enggak lah! Kenapa sih emang?"
"Ya gak apa-apa..."
"Lagian kenapa coba kalo misalnya aku deket sama Evan? Dia orangnya baik kok. Ya meskipun rada cuek, tapi aku suka temenan sama dia."ujar Widya yang membuat Sandi kembali mencebikkan bibirnya tak suka.
"Kamu suka sama dia?"tanya Sandi tak suka.
"Ya suka lah, kan tadi aku bilang dia itu temen yang baik."
"Tapi aku gak suka!"ujar Sandi tiba-tiba dengan nada yang sedikit meninggi. Widya menatap Sandi dengan kaget, karna Sandi tiba-tiba meninggikan nada suaranya.
"Sorry! Yaudah, aku pergi ke kampus dulu!"Sandi pun segera berlalu meninggalkan Widya yang masih bingung menatap kepergiannya.
"San! Ish, dia kenapa sih?"Widya pun memilih untuk pergi menuju kamarnya.
Di dalam mobil, Sandi memukul setir kemudinya dengan cukup keras. Melampiaskan kekesalannya, setelah mendengar ucapan Widya tadi. Entah mengapa hatinya terasa panas dan tak suka, saat Widya mengatakan bahwa dirinya menyukai Evan meski masih sebatas pertemanan. Sandi tak ingin, dan merasa takut bila nantinya rasa suka itu akan berubah menjadi cinta mungkin.
"Gak! Aku gak rela kalo Widya malah beneran suka sama si Evan itu! Apa aku harus ungkapin perasaan aku sama dia?"gumam Sandi frustasi.
Setelah merasa cukup tenang, Sandi pun segera melajukan mobilnya menuju rumah Irda. Ya karna lagi-lagi Irda memintanya untuk menjemputnya agar berangkat ke kampus sama-sama.
*
*
*
Sementara di apartemen milik Fajar, Sabitha tengah mencuci pakaian milik Fajar. Sedangkan Fajar sendiri sedang mengerjakan tugasnya di ruang tengah. Sabitha yang baru saja selesai menyalakan mesin cuci pun, menghampiri Fajar duduk di sebelahnya. Sudah bagian dari tugasnya, bila Fajar sedang mengerjakan tugas maka Sabitha oun harus ikut membantu mengerjakan tugas-tugas kampus Fajar.
"Apa nih yang harus aku kerjain?"tanya Sabitha setelah dirinya duduk di samping Fajar.
Karna posisi duduk mereka yang berhimpitan, dan kepala Sabitha yang sangat dekat dengan pundak Fajar. Ketika Fajar memalingkan wajahnya menghadap Sabitha, tak sengaja dirinya mengecup pelipis Sabitha.
__ADS_1
Sontak hal tersebut malah membuat mereka berdua mematung, dengan Fajar yang belum melepaskan ciumannya. Seketika debaran jantung mereka berdetak begitu cepat, hawa panas pun kini menjalar ke tubuh mereka. Membuat kedua pipi mereka merona merah seperti terbakar.