
Ternyata kabar diadakannya kemping sebelum ujian memang benar adanya. Tepatnya seminggu sebelum ujian dilaksanakan, dan kemping itu sendiri akan dilaksanakan selama 3 hari 2 malam. Untuk tempatnya masih belum dikonfirmasi. Murid-murid kelas 12 menyambut kabar itu dengan gembira dan penuh semangat, termasuk Widya juga Sandi.
"Nanti, kamu ikut kan Wid?"tanya Sandi, saat mereka sama-sama duduk di bangku taman belakang sekolah mereka.
"Insya allah. Pasti bakalan seru ya, semua murid kumpul sambil menikmati hangatnya api unggun. Tidur di tenda, makan seadanya."ucap Widya dengan tatapan berbinar membayangkan acara kemping nanti.
"Emang kamu gak takut, kalo acaranya di hutan gimana?"ujar Sandi sedikit menakuti Widya.
"Ya selama, masih bareng-bareng sama yang lain sih ngapain takut. Kan kemping itu melatih kerja sama juga kemandirian."jawabnya santai.
"Emm gitu ya. Tapi nanti kamu jangan jauh-jauh ya dari aku."ucap Sandi serius.
"Kenapa?"tanya Widya menatap Sandi penuh tanya.
"Ya biar kamu aman."jawabnya sembari mengelus kepala Widya dengan senyuman termanis di bibirnya.
Widya terpaku, terpesona melihat senyuman Sandi yang selalu membuatnya merasa nyaman juga tenang. Tanpa sadar, Widya menganggukan kepalanya, yang juga tersenyum manis pada Sandi.
"Sial!!Kenapa sih mereka berduaan terus?!"Irda merasa geram melihat Sandi bersama Widya.
"Pokoknya, Sandi harus jadi pacar aku lagi!"ucapnya tegas. Irda segera menghampiri Sandi dan Widya, tanpa diketahui Widya juga Sandi karna duduk membelakangi.
"Ekhem!Hai, aku boleh gabung ya?"ujar Irda yang langsung duduk di sebelah Sandi. Posisi kini Sandi berada di antara Widya dan irda.
"Ngapain sih ?"Ujar Sandi ketus.
"Aku lagi duduk lah, di kantin penuh. Makannya aku duduk di sini. Gak apapa kan Wid?"seru Irda menyondongkan kepalanya untuk bisa melihat Widya.
"I iya gak apapa kok."ucap Widya kikuk.
"Tuh, Widya aja gak apa-apa. Oya, nanti kalian ikut kemping?"tanya Irda tanpa mengabaikan Sandi yang sudah sangat kesal padanya.
"Kalo aku sih Insya allah, kamu sendiri?"jawab Widya.
"Kalo aku pasti ikut!"ujarnya melirik Sandi. "Kamu ikut San?"tanya Irda pelan.
"Kalo Widya ikut aku pasti ikut lah."jawabnya singkat.
"Oh..Eh, Wid nanti pulang sekolah aku main ke rumah kamu ya?Sekalian aku mau ke rumah Tante Resni juga."ujar Irda.
"Euh?"Widya bingung, dirinya pun melirik Sandi seolah meminta bantuan untuk menjawab.
__ADS_1
"Widya mau jalan dulu sama aku."jawab Sandi yang mengerti maksud dari tatapan Widya.
"Oh, yaudah lain kali boleh ya Wid?" Widya hanya mengangguk tersenyum kikuk.
Setelah bel tanda usainya pelajaran, Sandi segera menarik tangan Widya untuk bergegas pergi meninggalkan sekolah. Karna dia tak ingin Irda kembali membujuk Widya untuk bisa datang ke rumahnya. Sandi merasa tak nyaman, saat Irda terus mencoba untuk dekat dengan Widya.
"San, kita mau kemana sih?"tanya Widya, yang duduk di belakang Sandi diatas motornya.
"Kemana aja, yang penting happy!"teriak Sandi.
"Ish kamu mah!"Widya hanya mendengus kesal dengan jawaban yang dberikan Sandi. Akhirnya dia pun terdiam pasrah, membiarkan Sandi membawanya ke tempat yang entah kemana.
Setalah 30 menit di perjalanan, akhirnya Sandi menghentikan motornya di sebuah tempat. Di sana terdapat sebuah danau, yang pasti danau buatan. Namun tetap terlihat indah dan sejuk. Di sana juga ada beberapa kursi panjang, juga terdapat beberapa pohon-pohon yang penuh dengan bunga-bunga indah. Sandi menggandeng tangan Widya, mengajaknya terus masuk hingga mereka tepat berdiri di depan danau buatan itu. Disana terlihat juga ada beberapa pasangan yang sama-sama sedang menikmati keindahan danau tersebut.
"San, ini indah banget!!"seru Widya kagum.
"Kamu seneng Wid?"tanya Sandi menatap Widya tersenyum.
"Seneng banget!Aku gak tau ada tempat kayak gini. Kamu kok, bisa tau?"Widya pun menatap sekilas pada Sandi namun cepat mengalihkan kembali tatapannya pada keadaan sekitar.
"Ya tau aja, gak sengaja waktu itu jalan liat kesini."jawabnya sembari mendudukan dirinya di depan danau. Melihat Sandi, yang duduk selonjoran di atas rumput Widya pun mengikutinya.
"Iya?"Widya menoleh pada Sandi yang sedang menatapnya dalam.
"Emm... Kamu gak kepikiran buat pacaran gitu?"tanya Sandi tiba-tiba.
"Hah? Pacaran? Maksud kamu?"tanya Widya mengerutkan dahinya bingung.
"Yaa, selama ini kan kamu belum pernah pacaran. Apa kamu gak kepikiran atau gak ada keinginan buat pacaran gitu?"
"Aneh deh pertanyaannya? Kenapa tiba-tiba nanya soal gini coba?"
"Ya pengen tau aja, aku aja udah beberapa kali pacaran. Tapi, kamu sekalipun gak pernah. Emang gak ada cowok yang kamu taksir ya?"
"Yaa jujur sih ya, aku emang belum ada pikiran buat pacaran San. Aku mau fokus dulu sama sekolah. Aku bener-bener pengen masuk kampys Mahardika soalnya. Dan soal ada atau enggak nya cowok yang aku taksir siiih..."Widya sengaja menggantung ucapannya membuat Sandi semakin penasaran.
"Kenapa Wid? Ada atau enggak? Jangan bilang kalo cowok itu Fajar ya?!"tebak Sandi dengan nada tak suka.
"Haha kenapa malah jadi bawa-bawa Fajar sih? Aku kan udah bilang sama kamu, kalau aku sama Fajar itu cuma temenan aja."ujar Widta sembari tertawa. "Yaa meski Fajar punya perasaan lebih sih.."gumamnya dalam hati.
"Ya terus ada atau enggak?"tanya Sandi tak sabar.
__ADS_1
"Ish kamu tuh ya, kepo banget. Nanti juga kamu taulah San, tapi gak sekarang."jawab Widya santai.
"Lah curang kamu tuh!"Sandi mendelik mendengar jawaban Widya yang tak ingin jujur padanya.
"Curang gimana sih kamu tuh. Aku kan bilang nanti kamu juga tau San.. tapi, ya emang belum saatnya sekarang."
Sandi pun hanya bisa menghela napas panjang. Kini perasaannya jadi tak tenang, ada perasaan takut bila Widya menyukai pria lain. Tapi, dirinya pun tak bisa memaksakan kehendak agar Widya memberitahukan padanya. Yang akhirnya dia pun hanya bisa pasrah bila memang ada pria lain di hati Widya.
"Yaudah deh, kalo emang gak mau ngasih tau. Yang pasti kalau misalnya ada cowok yang emang kamu taksir, semoga cowok itu baik. Dan aku minta sama kamu jangan pernah jauhin aku ya!"ucap Sandi sendu dan tersenyum saat mengucapkan kata terakhirnya.
Seketika Widya terdiam, menatap Sandi dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun yang pasti, jantungnya kini berdetak tak seperti biasanya. Seakan jantungnya mau keluar dari tempatnya. Widya tak bisa mengucapkan kata-kata apapun lagi. Mendengar ucapan Sandi seperti itu, malah membuatnya sedih. Widya kira, Sandi memang tak memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Buktinya Sandi dengan santainya malah mendoakan dirinya dengan pria lain.
"Wid?Kok kamu malah bengong sih?"ujar Sandi.
"Ah?Eng enggak kok San, siapa yang bengong ih!"Widya mencoba untuk menetralkan kembali irama debaran jantungnya.
"Ya kamu lah, di sini kan cuman ada kamu sama aku."
"Aku cuman lagi mikir aja sih. Kenapa gak dari dulu aja ya aku pacaran?"goda Widya ingin melihat reaksi Sandi.
"Hah? Maksudnya gimana?"tanya Sandi bingung.
"Iya, harusnya tuh sejak masuk SMA aku udah bisa dapet pacar dong...secara aku kan cantik!"ucap Widya dengan nada sombong, namun diakhiri dengan kekehan karna melihat ekspresi Sandi yang kesal.
"Dasaar narsis!"ujar Sandi menoyor pelan kepala Widya. Widya hanya mendelik lalu kembali menatap ke danau yang ada di depannya.
"Cari makan yuk, laper nih!"ajak Sandi yang kini sudah berdiri di samping Widya.
Widya pun berdiri dan membersihkan rok bagian belakangnya. "Yuk, aku juga laper!"imbuhnya.
Sandi dan Widya pun beranjak dari tempatnya dan pergi mencari tempat untuk makan siang bersama. Mereka sengaja berlama-lama di luar karna tak ingin Irda datang ke rumah Widya.
"Mau pulang sekarang atau masih betah disini?"tanya Sandi setelah selesai makan di sebuah warung makanan seafood.
"Pulang aja deh, udah sore juga."
"Yaudah, yuk!"Sandi berdiri dari tempat duduknya. Dan secara tiba-tiba langsung menggandeng tangan Widya untuk berjalan bersama menuju sepeda motornya.
Deg!
"Kenapa tiba-tiba jantung aku berdebar gini ya?"
__ADS_1