Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
19


__ADS_3

Sejak hari itu, Irda tak lagi mempertanyakan bagaimana perasaan Sandi. Karna meski tak bertanya pun, Irda sudah tau jawabannya. Sandi takkan pernah mencintainya. Tapi, Irda pun tak rela bila harus mengakhiri hubungannya dengan Sandi. Entahlah, mungkin dia memang egois.


Liburan pun tiba, sebagian murid mungkin ada yang memilih untuk berlibur ke luar negeri ataupun ke rumah keluarga yang berada di luar kota. Namun tidak bagi Widya, dia memilih untuk menghabiskan liburan di rumah saja. Karna memang, dia pun tak memiliki kerabat di luar kota. Apalagi untuk berlibur ke luar negeri, terlalu malas bagi Widya. Perjalanan jauh yang hanya akan membuatnya semakin lelah.


Begitu juga dengan Sandi, yang memilih untuk pulang ke rumah orangtuanya. Dia berencana akan mengisi liburan disana selama beberapa hari saja. Selebihnya dia akan kembali ke kostan. Apalagi Sandi tau, kalo Widya pun tak pergi liburan seperti teman-temannya yang lain.


"Kamu kapan berangkat sayang?"tanya Irda. Kini, mereka sedang berada di sebuah kafe.


"Rencana sih, besok siang." jawab Sandi datar.


"Kira-kira berapa hari disana?"tanya Irda lagi sembari pandangannya menuju pintu masuk.


"Seminggu mungkin." Entah mengapa, Sandi merasa malas bicara.


"Oh. Eh, itu Widya bukan sih?" ujar Irda menunjuk pada sosok yang dikenalnya, yang baru masuk ke dalam kafe.


"Widya sama Fajar?" gumam Sandi dalam hati, melihat ke arah mereka.


"Widya!"teriak Irda tiba-tiba, melambaikan tangan. Serentak para pengunjung melihat ke arahnya, termasuk Widya juga Fajar.


"Itu Sandi sama ceweknya kan?" tanya Fajar yang juga melihat ke arah Irda.


"Iya. Gimana, kita kesana dulu aja?" tanya Widya sedikit ragu.


"Aku sih, hayu aja!" mereka pun menghampiri Sandi juga Irda.


"Kebetulan banget ya, kita ketemu disini!Gabung aja sini sama kita!"seru Irda semangat.


Sebelum menjawab, Widya menatap Sandi yang juga sedang menatapnya dengan intens. Seperkian detik, akhirnya Widya pun mengalihkan pandangannya pada Fajar, meminta pendapatnya. Fajar pun hanya mengangkat kedua bahunya


"Gimana?"Irda pun kembali bertanya.


"Iya deh!" jawab Widya pada akhirnya, duduk di kursi berhadapan dengan Sandi. Fajar pun duduk di samping Widya.


"Kalian gak pergi liburan?" tanya Irda, menatap Widya dan Fajar bergantian.


"Aku sih, lusa mau ke Bali." jawab Fajar.


"Wah, kereen!Aku udah lama gak ke Bali, jadi pengen liburan juga, tapi sayang.."ucap Irda dengan nada yang berubah lesu.


"Kenapa?"Tanya Widya heran.


"Orangtuaku terlalu sibuk, gak mungkin ada waktu buat liburan. Tapi, juga gakkan ngizinin aku liburan sendiri." Jelas Irda memasang wajah tak bersemangat.


"Oh, gak apa-apa Da. Mereka gitu kan buat kamu, pasti mereka juga khawatir kan kalo kamu pergi sendiri. Maaf yaa bukan maksud aku sok nasehatin!" ucap Widya tersenyum.


"Iya, gak apa-apa kok. Nyantai aja!Kamu sendiri, liburan kemana Wid?"tanya Irda dengan senyum ramahnya.


"Aku mah di rumah aja, heu."jawab Widya nyengir.


"Kenapa gak pergi liburan kemana gitu?"tanya Irda lagi.


"Males aja, mending di rumah. Lagian aku juga gak punya sodara di luar kota, semua sodara aku ada disini, deket-deket lagi." ujar Widya.

__ADS_1


Tak lama pesanan Widya dan Fajar pun datang. Mereka pun menikmati makan siang mereka dengan diselingi obrolan-obrolan kecil di antara mereka.


"Habis ini kalian mau kemana lagi?"tanya Sandi sembari menatap Widya.


"Kita sih mau ke toko buku dulu, kalo kalian?"jawab Widya.


Baru saja Irda akan menjawab, namun Sandi sudah terlebih dulu berbicara. "Langsung pulang, soalnya aku harus siap-siap buat berangkat besok."jawab Sandi dengan yakin, membuat Irda menatapnya kesal.


"Sandi selalu aja gitu, padahal tadi udah mau di ajak jalan-jalan dulu! Pasti ini gara-gara si Widya jalan sama cowok lain!"gerutu Irda dalam hati, merasa kesal pada Sandi.


Setelah menghabiskan makanan mereka, mereka pun memutuskan untuk pulang. Sandi dan Irda pergi menuju kostan Irda. Sedangkan Widya dan Fajar pergi ke toko buku.


"Jar, kamu sama siapa ke Bali?"tanya Widya, sambil melihat-lihat buku-buku novel yang tertata rapi dalam rak.


"Sendiri, kenapa kamu mau ikut?"tanya Fajar tersenyum menggoda.


"Enggaklah!Bisa bisa, ayah sama bunda ngamuk lagi. "jawab Widya terkekeh.


"Hehe, iya yaa bisa bisa aku juga ditolak jadi calon mantu karna dianggap bawa kabur anak mereka lagi! " ucap Fajar tertawa.


"Haha, bisa aja kamu!" Widya pun tertawa, sembari terus menyusuri rak-rak yang ada di toko buku itu.


"Kamu makin cantik kalo ketawa gitu Wid!" ujar Fajar tiba-tiba.


Widya pun segera menghentikan tawanya. Dia merasakan perubahan pada pipi nya yang sudah berubah warna seperti tomat. Entah mengapa, dia merasa malu dan senang dipuji seperti itu oleh Fajar.


"Kok, jadi merah gitu?Kamu sakit?" tanya Fajar, seolah tak mengerti dengan apa yang dirasakan Widya saat ini.


"Apaan, enggak ih aku gak sakit!" elak Widya, salah tingkah membuat dia mengambil asal buku yang ada di hadapannya. "Udah yuk, nih aku udah dapet bukunya!" menunjukkan buku yang diambil pada Fajar, tanpa membacanya terlebih dahulu.


"Hah?"Widya pun membelalakkan matanya saat membaca judul buku yang dia ambil di salah satu rak yang ada di hadapan dia.


"Emang kamu mau naklukin cewe yang mana Wid?" Goda Fajar, karna buku yang di ambil Widya adalah buku yang berisikan tentang tips untuk menaklukkan hati wanita.


"Ish, ini... ini bukan buat aku!Tapi, buat sodara aku. Iya sodara aku, tadi dia nitip katanya!" ucap Widya bohong, menutupi rasa malu nya yang sungguh membuat pipi nya semakin memerah.


"Ooh gitu ya?Yaudah yuk kita bayar aja sekarang!" ucap Fajar, menarik tangan Widya menuju kasir dengan masih menahan tawanya agar Widya tak merasa tersinggung atau semakin malu.


"Ish, kenapa juga aku gak liat dulu ah malu kan jadinya!" batin Widya merutuki sikapnya sendiri.


Seusai membayar buku yang tak pernah ada niatan untuk membelinya, Widya dan Fajar segera berlalu meninggalkan toko buku menuju parkiran. Widya meminta untuk segera pulang ke rumah, karna dia sudah tak tahan menahan malu. Ingin rasanya dia membenamkan wajahnya pada bantal yang ada di kamarnya, untuk menutupi wajah nya karna malu.


"Assalamu'alaikum!"salam Sandi. Kini dia sedang berada di depan pintu rumah Widya. Rupanya setelah mengantar Irda pulang, Sandi segera pergi ke rumah Widya.


"Wa'alaikumussalam!" jawab Bunda, membukakan pintu. "Eh, Sandi. Ayok masuk!" ajak Bunda, yang diikuti Sandi masuk ke dalam rumah.


"Bunda kira kamu udah pulang ke rumah orangtua kamu." ucap Bunda, yang sudah duduk di kursi ruang tamu berhadapan dengan Sandi.


"Besok Bunda, Widya ada Bun?" tanya Sandi mengedarkan pandangannya ke dalam ruang tengah.


"Widya belum pulang, tadi dia dijemput Fajar. Katanya sih mau ke toko buku, paling bentar lagi juga pulang."


"Ouh gitu ya Bun, Sandi gak apa-apa kan kalo nunggu disini?" tanya Sandi.

__ADS_1


"Ya boleh dong sayang, kamu ini kan udah Bunda anggap anak sendiri. Jadi, gak usah sungkan gitu ah!Gak suka Bunda!" ucap Bunda, memasang wajah cemberut tak suka.


"Hehe, iya Bunda. Makasih ya, selama ini Bunda udah merhatiin Sandi. Jadinya kan Sandi enak, hehe!" ucap Sandi memamerkan deretan giginya.


"Iyaa, yaudah Bunda ke dapur dulu ya. Mau masak buat nanti malem. Kamu makan disini ya, awas aja kalo nolak!Gakkan Bunda ijinin pulang!" Rajuk Bunda, dengan tatapan seolah benar-benar marah.


"Haha, iya Bunda tenang aja. Sandi gakkan pulang sebelum makan masakan Bunda kok!" jawab Sandi tersenyum, memeluk Bunda dari sahabatnya itu.


Tak lama, setelah Bunda pergi menuju dapur, Widya pun datang bersama Fajar. Fajar tak langsung pulang, karna seperti biasa setelah mengajak Widya pergi, pasti dia pun akan kembali berpamitan pada orangtua Widya.


"Assalamu'alaikum!"salam Widya, saat masuk ke dalam rumah, diikuti Fajar di belakangnya.


"Wa'alaikumussalam!"jawab Sandi, yang kini tengah duduk santai menonton tv di ruang tengah.


"Udah lama San?" tanya Widya, sesantai mungkin.


"Ya, lumayan lah udah 2 sinetron azab yang selesai selama aku disini." jawab Sandi tanpa mengalihkan pandangannya pada tv. Iya, dia lagi fokus nonton sinetron azab.


"Ya ampun, sejak kapan kamu suka nonton sinetron?"tanya Widya menahan senyumnya.


"Sejak tadi, sebelum kamu datang."Sandi pun menoleh menatap Widya dan Fajar di belakangnya. "Eh ada ketua kelas..ayo duduk, anggap rumah sendiri aja!" ujar Sandi mendelik, kembali fokus pada tv.


"Ish dasar kamu mah!Oya, Jar kamu duduk dulu ya. Aku panggilin Bunda dulu!" ujar Widya, berlalu menuju dapur.


"Abis darimana kalian?" tanya Sandi datar.


"Toko buku." jawab Fajar singkat.


"Oh."jawab Sandi tak kalah singkat.


"Nak Fajar,"seru Bunda yang datang bersama Widya menghampiri Fajar dan Sandi.


"Bunda." jawab Fajar tersenyum.


"Ish, sejak kapan nih ketua kelas manggil bunda juga?!Ikut-ikutan aja!" gumam Sandi menggerutu.


"Ikut makan malam disini ya, Jar?"ucap Bunda tersenyum ramah.


"Makasih Bunda, tapi maaf Fajar harus segera pulang. Mau beres-beres buat keperluan besok ke Bali." tolak Fajar halus.


"Oyah?Kamu mau ke Bali?" tanya Bunda antusias.


"Iya, disuruh sama Mama buat pulang kesana selama liburan." jelas Fajar.


"Loh, jadi orangtua kamu ada di Bali?Terus kamu tinggal sama siapa disini?


"Sama kakek dan nenek, Bun. "jawabnya masih dengan senyuman.


"Ouh gitu, yaudah tapi lain kali kamu harus ikutan makan disini ya!" ucap Bunda pada akhirnya.


"Iya Bunda, lain kali pasti Fajar ikutan makan disini."


"Ish, sok akrab!" gerutu Sandi dalam hati tak suka.

__ADS_1


Like vote komen yaa!!


__ADS_2