
Widya dan Sandi kini sedang berada di rooftop, mereka duduk berdampingan sembari menatap langit senja yang sebentar lagi akan berubah menjadi gelap. Tak ada perbincangan di antara mereka, terlalu asik dengan pemikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya Sandi yang lebih dulu memulai mengeluarkan suara. Sandi menoleh pada Widya yang masih asik menatap langit.
Terlihat dari samping wajah putih Widya semakin cantik dengan hidung yang terlihat mancung. Siapapun pasti akan terpesona dengan Widya. Tak terkecuali Sandi, yang memang dari kecil selalu bersama-sama. Tau hal-hal yang buruk maupun baik dari keduanya. Seiringnya waktu, perasaan yang Sandi rasakan terhadap sahabat kecilnya itu semakin dalam. Bukan sekedar rasa sayang terhadap sahabat, namun perasaan itu ingin semakin bertambah melebihi dari sekedar sahabat.
Widya yang merasa diperhatikan, sontak menoleh ke arah Sandi yang masih menatapnya intens. Pandangan mereka saling terkunci, seolah tak ingin terpisah. Saling menyalurkan rasa yang terpendam lewat mata mereka.
"Wid, kamu tau gak?"tanya Sandi masih menatap Widya.
"Enggak, kamu kan belum bilang."jawabnya polos.
"Ck. Kamu mah, lucu!Kamu mau tau gak?"tanya Sandi lagi.
"Iya apa ih?"Widya mulai gemas.
"Aku gak suka, kamu deket-deket sama cowok lain."ujar Sandi serius.
"Kenapa?"tanya Widya heran.
"Yaa.. aku.. aku gak suka aja!Apalagi kamu deket banget sama si Fajar. Mulai besok, aku jemput kamu ya. Pulang juga aku yang anter!"ujar Sandi yang terkesan maksa.
"Kamu kenapa sih San?Aneh tau gak, gak biasanya juga posesif gini!"Widya mengerucutkan bibirnya kesal.
"Jadi kamu gak mau aku antar jemput Wid?"tanya Sandi sendu.
"Ya bukan gitu, aku mau kok. Cuman aku gak suka kamu larang-larang aku deket sama yang lain, terutama Fajar. Dia kan temen kita, masa iya aku gak boleh deket sama dia."ungkap Widya yang terlihat kesal.
Sandi mendesah nafas panjang, "Iya oke, maafin aku ya. Aku cuman gak suka aja. Aku gakkan larang-larang kamu kok."ujarnya tersenyum.
"Tapi, aku masih penasaran loh. Kamu tuh kenapa, putus dari Irda kok jadi posesif gini sih sama aku?"Widya merasa heran dengan sikap Sandi yang tiba-tiba berubah.
"Aku gak posesif loh. Aku kan sahabat kamu, wajar dong kalo aku jaga kamu dari laki-laki lain yang mungkin aja mau jahatin kamu."alasan Sandi yang terdengar aneh bagi Widya.
Widya hanya bisa melongo mendengar jawaban dari Sandi. Tak habis pikir, kenapa Sandi bisa-bisa nya punya pikiran seperti itu. Padahal Fajar adalah teman mereka berdua. Apalagi Widya sudah mengenal Fajar dari kelas 10.
Widya meletakkan telapak tangannya di kening Sandi. "Gak panas, tapi kenapa kamu jadi ngawur gini ya?"gumam Widya lirih.
Sandi menepis pelan tangan Widya. "Apaan sih Wid, aku tuh sehat tau ih!"gerutu Sandi kesal.
"Ya abisnya kamu tuh aneh tau gak? Pikiran kamu kejauhan, lagian selama ini aku juga kan gak pernah deket sama cowok lain. Selain kamu sama Fajar."
__ADS_1
"Ya jaga-jaga aja atuh Wid. Kenapa sih, kamu gak suka aku jagain?"
"Ya bukan gitu juga. Ah udahlah, yang jelas kamu tau kan kalo aku gak mungkin deket sama orang lain yang belum aku kenal. Dan kalo Fajar, dia kan baik sama gak mungkin juga jahatin aku."
"Iya iya. Tapi, besok kita mulai berangkat bareng lagi ya!"
"Iya San, iya! Yauda yuk turun siap-siap maghriban!"Widya langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan Sandi yang masih menatapnya.
Sandi terus menatap punggung Widya yang semakin menjauh dan menghilang dari penglihatannya. Entah mengapa, rasanya Sandi ingin mengutarakan segala rasa yang selama ini dia rasakan untuk Widya. Sandi tak ingin membohongi lagi perasaannya, apalagi dia semakin tak suka saat Widya dekat dengan Fajar. Kini Sandi yakin bahwa dirinya benar-benar mencintai Widya, bukan sekedar menyayangi sebagai sahabat kecilnya. Tapi, dia juga takut bila hubungan persahabatannya akan hancur bila Widya tak memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Widya akan menjauh darinya, dan itu adalah hal yang paling tak ingin terjadi dalam hidupnya.
Widya masuk ke dalam kamarnya, segera menutup pintu kamarnya. Widya berdiri di balik pintu, memikirkan ucapan Sandi yang terkesan aneh. Tak mungkin kan Sandi cemburu, pikirnya. Segera Widya masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap-siap melaksanakan shalat maghrib bersama-sama kedua orangtuanya juga Sandi.
"San, gimana kabar orangtua kamu?"tanya Ayah Shofi, saat mereka telah selesai sholat berjama'ah.
"Alhamdulillaah, mereka baik Ayah. Cuman mereka sekarang katanya lagi ada di Surabaya."jawab Sandi.
"Oh, ya syukurlah kalau mereka dalam keadaan sehat. Oya, rencana setelah lulus mau terusin kuliah dimana?"tanya ayah lagi.
"Sandi pengennya sih di Singapure Ayah."melirik sekilas ke arah Widya yang juga sedang menatapnya.
"Di Singapure?Kenapa?"tanya Ayah sembari meminum air teh yang sudah Bunda sediakan di meja ruang keluarga.
Daritadi Widya hanya mendengarkan dan menatap Sandi dengan tatapan yang tak bisa dimengerti.
"Kalo kamu sayang, mau kuliah dimana?"Ayah mengalihkan tatapannya pada Widya yang duduk di sebelah Ayah.
"Widya mau kuliah di Universitas Mahardika Yah. Mudah-mudahan sih bisa lolos."ujarnya semangat.
"Aamiin. Dimanapun kalian nanti kuliah, yang penting kalian belajar yang bener! Jangan sampe kebiasaan waktu di SMA dibawa-bawa ke kampus!"panjang lebar Ayah memberi wejangan, yang mendengar hanya bisa manggut-manggut saja.
"Yaudah Ayah, Bunda. Sandi pamit pulang sekarang."Sandi pun beranjak, mencium punggung tangan Ayah dan Bunda Widya.
"Iya, kamu hati-hati ya !Jangan ngebut bawa motornya."ujar Bunda lembut. Sandi hanya tersenyum mengangguk. Sandi pun keluar diikuti Widya di belakangnya.
"Sandi..."Panggil Widya saat berada di teras.
"Ya?"ujar Sandi membalikkan tubuhnya menghadap Widya.
"Kamu..beneran mau kuliah di Singapure?"tanya Widya pelan sembari menunduk sendu.
__ADS_1
"Baru rencana Wid, aku juga belum terlalu yakin sih. Kenapa?takut kangen ya sama aku?"ujarnya sembari menaik turunkan alisnya.
"Ge Er deh!"elak Widya memalingkan wajahnya.
Sandi hanya tersenyum gemas melihat Widya yang salting. Sandi melangkah maju mendekati Widya, sontak membuat Widya kaget karna jarak mereka yang begitu dekat. Sandi berdiri tepat di depan wajah Widya, menggenggam tangan kanan Widya.
"Jujur sih aku juga pengennya di sini aja sama kamu Wid. Tapi, yaa aku juga pengen belajar mandiri di sana."ucap Sandi menatap kedua mata Widya dengan lekat.
"Tapi, selama ini juga kan kamu udah mandiri. Jauh dari papa sama mama."
"Ya beda lah. Singapure kan jauh, lagian di sana juga ada kampus yang emang bagus. Aku mau belajar bisnis, biar bisa nerusin perusahaan papa. Aku gak mau papa terus-terusan kerja. Begitu juga dengan mama."
"Tapi, di sini juga kan bisa San. Masa kamu tega sih ninggalin aku? Katanya mau jagain aku,"
Sandi menggenggam kedua tangan Widya, menatapnya dengan tatapan hangat juga senyuman yang membuat perasaan Widya selalu tenang.
"Kamu tenang aja ya Wid, itu kan baru rencana aja. Kamu takut banget ya aku tinggalin?"goda Sandi menaik turunkan kedua alisnya.
"Ish kamu mah!"Widya melepas genggaman tangan Sandi. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar sangat kencang karna posisi mereka yang begitu dekat. Widya pun segera melangkah menuju sepeda motor Sandi.
"Yaudah katanya mau pulang, udah sana pulang!"ujar Widya sedikit ketus.
"Yee malah ngusir."ucap Sandi terkekeh, dia pun menghampiri Widya. "Yaudah, besok aku jemput yaa! Dan kamu tenang aja, aku pasti akan selalu jagain kamu kok."ujar Sandi mengelus kepala bagian belakang Widya dengan lembut.
Sontak hal itu membuat kedua pipi Widya merona merah, padahal hanua sentuhan biasa. Tapi, sudah membuat hatinya berantakan tak karuan.
"Aku pulang ya, bye!"Sandi pun melajukan sepeda motornya keluar dari halaman rumah Widya.
Setelah tak terlihat, Widya pun segera masuk ke dalam rumah. Tanpa Widya sadari, ada sepasang mata yang melihat kejadian tadi. Dirinya menatap Widya dengan tatapan tajam, merasa geram dan tak suka melihat Widya bersama Sandi.
"Pokoknya, Sandi harus kembali lagi sama aku!"sahut Irda penuh dengan amarah.
Ya, Irda yang sedang berada di rumah Ibu Resni tanpa sengaja melihat Sandi bersama Widya. Irda semakin ingin memisahkan Widya dan Sandi. Bagaimanapun Irda harus kembali bersama Sandi. Irda yang sejak tadi berdiri di atas balkon, masuk kembali ke dalam rumah dengan perasaan penuh amarah.
Widya kini sedang berada di kamarnya, kata-kata Sandi terus terngiang di telinganya. Ada perasaan bahagia mengetahui bahwa Sandi akan selalu menjaganya. Meski mungkin hanya sebagai sahabat, tapi itu sangat membuat hatinya bahagia. Dan sedikit memberi harapan, bahwa mungkin suatu saat nanti Sandi akan membalas perasaannya.
maaf yaa kalo part ini berasa gak nyambung
tetep like dan vote nya yaa
__ADS_1