
Sesuai rencana yang sudah disepakati sebelumnya, Widya dan Evan kini tengah menuju perpustakaan untuk mengerjakan tugas yang telah diberikan salah satu dosennya. Sebenarnya, bukan hanya mereka berdua saja. Beberapa teman-temannya yang lain pun ikut mengerjakan bersama di perpustakaan, hanya saja memang mereka berbeda kelompok dengan Widya juga Evan. Mereka memilih mengerjakan bersama di perpustakaan karna agar lebih mudah untuk mencari bahan-bahan yang memang mereka butuhkan untuk mengerjakan tugas mereka.
Di tengah perjalanan, Widya melihat Sandi yang baru saja keluar dari kelasnya bersama dengan Irda. Perasaan kesal juga sakit di hatinya kembali dirinya rasakan, karna melihat Sandi begitu dekat dengan Irda. Terlihat Sandi kini tengah tertawa lepas, bahkan dengan santainya kini sambil berjalan Sandi merangkul Irda begitu dekat. Sandi tentu tak menyadari keberadaan Widya yang kini masih menatapnya dengan sendu, hingga akhirnya Sandi dan Irda berbelok menuju parkiran.
"Udah gak usah diliatin terus!"ujar Evan yang sejak tadi ikut memperhatikan apa yang tengah Widya lihat.
"Ish, kamu tuh selalu aja ngagetin tau gak?"omel Widya yang memang merasa terkejut setelah mendengar suara Evan.
"Jadi ke Perpus apa mau nyusul mereka aja?"lagi-lagi Evan mengucapkan kalimat yang membuat Widya merasa kesal.
Widya mendelikkan kedua matanya, lalu kembali melangkahkan kakinya menuju perpustakaan.
"Perpuslah!"ujar Widya ketus, sembari terus berjalan cepat meninggalkan Evan. Lantas Evan pun hanya bisa mengikutinya dari belakang dengan senyuman tipis yang tersemat di bibirnya.
Di lain tempat, Sandi dan Irda baru saja masuk ke dalam mobil milik Sandi. Sesuai permintaan Irda, lagi-lagi Sandi harus menemaninya pergi ke toko buku. Padahal jauh di lubuk hatinya, Sandi sebenarnya ingin menemani Widya. Terlebih karna dirinya mengetahui Widya kini tengah bersama Evan. Dan itu sangat membuat dirinya merasa kesal. Benar-benar mengganggu pikirannya, tetapi karna dirinya juga tak bisa membatalkan janjinya dengan Irda mau tak mau dia harus menahan perasaan kesalnya.
"Kita langsung ke toko buku yang biasa kan?"tanya Sandi seraya menyalakan mesin mobilnya.
"Emmmz kalo kita ke kafe dulu gak apa-apa kan? Soalnya aku laper San, tadi di kantin kan aku belum sempet makan."ujar Irda dengan lembut.
Sandi pun hanya bisa mengangguk pasrah, karna tak mungkin juga dirinya membiarkan Irda kelaparan. Karna dia sangat tahu, kalau Irda memiliki riwayat penyakit magh.
__ADS_1
Akhirnya Sandi melajukan mobilnya menuju kafe yang terletak tak jauh dari toko buku yang akan mereka datangi. Diam-diam Irda pun tersenyum menyeringai, karna rencananya lagi-lagi berhasil. Tentu dirinya tak akan membiarkan Sandi pergi menyusul Widya dengan cepat nantinya. Bagaimanapun caranya, Irda akan terus menahan Sandi agar tetap bersamanya.
"Pokoknya, hari ini gak akan aku biarin kamu nemuin Widya San."gumam Irda dalam hati.
*
*
*
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Sandi baru saja mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah Irda. Ya, setelah tadi dari toko buku Sandi langsung mengantarkan Irda pulang. Namun, karna bertepatan dengan datangnya kedua orangtua Irda yang baru pulang dari luar kota, Sandi pun diminta untuk ikut makan malam bersama mereka. Sandi yang merasa tak enak karna baru pertama kali bertemu dengan orangtua Irda pun tak bisa menolak permintaan mereka. Yang akhirnya Sandi pun benar-benar tak bisa menyusul Widya kembali ke kampus.
Sandi langsung melajukan mobilnya menuju rumah Widya, perasaannya masih tak tenang bila belum bertemu langsung dengan Widya. Terlebih karna sejak tadi no Widya tak bisa dihubungi, semakin membuatnya merasa khawatir.
"Masuk jangan ya? Tapi, gimana kalo Ayah sama Bunda udah pada tidur, kan gak enak. Gak sopan juga rasanya bertamu malem-malem gini."monolog Sandi bimbang.
"Lagian Widya kemana sih, daritadi gak bisa dihubungi?"sambungnya dengan nada yang kesal.
Setelah beberapa kali menelfon Widya, dengan dirinya yang masih duduk di dalam mobilnya akhirnya sambungan telfonnga terhubung dengan Widya.
"Hallo Wid! Kamu daritadi kemana aja sih? Kamu udah di rumah kan sekarang? Pulang jam berapa tadi?"Sandi langsung menyerbu Widya dengan pertanyaan-pertanyaan, tanpa ada jeda sedetik pun.
__ADS_1
"Hei, kamu lagi nanya apa lagi ngajak demo sih? Napas dong, satu-satu nanya nya!"jawab Widya dengan kesal.
Widya memang baru menyalakan kembali ponselnya setelah tadi kehabisan batre saat dirinya masih berada di perpustakaan kampus.
"Oke, oke. Sorry! Abisnya aku tuh khawatir tau gak, no kamu gak bisa dihubungi daritadi. Jadi, sekarang kamu di rumah kan?"Sandi kembali bertanya dengan suara yang terdengar lebih tenang walau masih sedikit ada nada cemas.
Widya yang tengah tiduran di ranjang pun hanya bisa menghela napas pelan. Widya merasa senang, karna Sandi masih peduli dan mengkhawatirkan dirinya. Tetapi dirinya juga masih merasa kesal karna Sandi semakin dekat dengan Irda. Lebih tepatnya, Widya merasa cemburu karna kedekatan Sandi dengan Irda.
"Aku udah di rumah, San. Tadi tuh Hp aku mati dan aku lupa gak bawa charger atau PB."jelas Widya.
"Emang kamu pulang jam berapa?"
"Jam 7 tadi aku udah di rumah, beresnya sih dari jam 5 cuman tadi aku sama temen-temen pergi makan-makan dulu."
"Sama si Evan juga?"tanya Sandi dengan nada yang terdengar dingin.
"Iya dong, malah yang nganterin aku pulang kan Evan."ujar Widya santai. Tanpa tahu, di sebrang sana Sandi tengah mengepalkan tangannya menahan kesal.
"Oh yaudah."tanpa berkata apa-apa lagi, Sandi langsung mematikan sambungan telfonnya sepihak.
"Loh, San? Halo?"Widya kaget karna tiba-tiba sambungan telfonnya terputus. "Ish, kenapa sih dia tuh? Sensi banget kalo denger nama Evan disebut. Nyebelin banget!"gerutu Widya sembari menyimpan hp nya di atas nakas, dia pun langsung membaringkan tubuhnya untuk segera menuju alam mimpi.
__ADS_1
Sedangkan Sandi yang masih berada di depan rumah Widya, hanya bisa menahan rasa amarahnya. Sudah jelas dia sangat tak suka Widya semakin dekat dengan Evan. Tetapi, dia juga masih merasa ragu untuk mengutarakan perasaannya terhadap Widya. Dia takut Widya malah akan memusuhinya karna tak dapat membalas perasaannya. Namun, di sisi lain dia juga tak rela bila Widya harus bersama dengan pria lain.
"Aah si*l!! Kenapa harus ada yang namanya Evan sih? Apa aku harus jujur sama Widya, soal perasaan aku sama dia ya? Tapi, gimana kalo dia malah marah sama aku? Hemm, tapi aku sama sekali gak rela kalo Widya makin deket sama si Evan Evan itu!"