
"Sandi...!"panggil Widya tiba-tiba.
"Widya!"seru Sandi menghampiri Widya yang tengah berdiri tak jauh dari meja tempat Sandi.
"Irda kenapa?"tanya Widya melirik sekilas ke arah Irda yang juga sedang menatap ke arah mereka.
"Kakinya terkilir, dan katanya dia pengen pulang aja."jawab Sandi.
"Wid, gak apa-apa ya kalo Sandi anterin aku pulang? Soalnya kaki aku sakit banget,"ucap Irda yang sudah berjalan dengan pelan menuju tempat Widya dan Sandi berada.
Sebenarnya Widya tak rela, bila Sandi harus mengantar Irda pulang. Widya merasa cemburu dan takut, bila Sandi kembali bersama dengan Irda. Namun, dia juga tak ingin bersikap egois membiarkan Irda pulang sendiri dengan keadaan seperti itu. Akhirnya Widya pun meminta Sandi untuk mengantar Irda pulang.
"Iya gak apa-apa kok Da."jawab Widya dengan senyuman yang terpaksa.
"Tapi, Wid aku kan sama kamu. Masa aku harus anterin dia sih?"ucap Sandi tak suka dengan keputusan Widya.
"Gak apa-apa San, nanti kalo masih keburu ya kamu kan bisa dateng lagi ke sini. Aku tungguin."ujar Widya tersenyum.
"Tapi, Wid..."
"Udah buruan anterin Irda, kasian tuh kakinya biar cepet bisa diobayin juga."Widya tetap memaksa Sandi walaupun berat.
Sandi mengusap wajahnya dengan kasar, dengan berat hati harus meninggalkan Widya di pesta itu.
"Oke, aku anterin kamu pulang Da!"baru saja Sandi akan melangkag, Irda sudah menarik tangan Sandi agar dirinya dapat jalan bersama dengannya.
"San, tunggu dong! Kaki aku kan sakit, gak bisa jalan cepet! Bantu aku jalan dong,"rengek Irda dengan manja. Mau tak mau, Sandi pun memegang lengan Irda agar dirinya dapat berjalan dengan mudah.
Namun, Irda malah memeluk pinggang Sandi, sontak hal itu membuat Widya merasa tak suka. Apalagi saat Sandi membiarkan Irda memeluknya seperti itu.
"Wid, kita duluan ya. Nikmatin aja ya pestanya, semuanya udah aku bayar kok. Bye!"Widya hanya menanggapinya dengan anggukan dan senyuman tipis.
Widya terus menatap ke arah Sandi dan Irda pergi, dengan tatapan nanar. Ingin rasanya menolak permintaan Irda, tapi dia juga tak tega dengan keadaan Irda. Setelah menarik napas panjang, Widya pun mencoba untuk menenangkan hatinya dengan bergabung bersama teman-temannya yang lain. Berharap, Sandi segera datang kembali menemuinya.
Di tempat lain, seorang pemuda yang kini tengah berdiam diri di balkon kamarnya. Sejak tadi sore dirinya mengurung diri di kamar, Deni merasa sangat kacau. Bayangan seseorang yang dulu selalu menemani hari-harinya, kembali muncul. Perpisahan tanpa ada kejelasan, membuat Deni merasa marah dan kecewa.
"Kenapa sih kamu harus dateng lagi?Susah payah aku coba lupain kamu, dan disaat aku hampir bisa benar-benar lupain kamu. Dengan mudahnya kamu malah dateng lagi!Arggh, aku benci keadaan kayak gini!"gumam Deni sembari menarik rambutnya kasar.
Kostan Irda
Sandi baru saja tiba di kostan Irda. Dan Sandi masih terus membantu Irda berjalan mengantarnya sampai masuk ke dalam kamarnya. Sandi membantu Irda untuk duduk di atas kasurnya. Tadinya, Sandi berniat untuk langsung kembali ke acara pesta. Namun, lagi-lagi Irda menahannya agar tak buru-buru pergi. Irda meminta Sandi untuk membelikannya makan, dengan alasan saat di kafe tadi belum sempat memakan apapun.
__ADS_1
"San, aku laper. Aku minta tolong ya, mau kan beliin aku makan?"Irda menatap Sandi dengan wajah memelas.
"Kamu tuh ya, kenapa gak sekalian tadi sih di jalan?"gertak Sandi ketus.
"Ya kan lapernya baru kerasa sekarang. Ayo dong masa kamu tega sih biarin aku kelaparan? Beliin aku mie baso aja yang di ujung jalan itu, yang biasa kita beli. Mau ya?"Irda terus merengek, membuat Sandi mau tak mau akhirnya pergi menuruti keinginan Irda.
"Makasih Sandi!"teriak Irda, saat Sandi melangkah keluar untuk membeli pesanan Irda. "Kamu nikmatin sendiri aja ya Wid pestanya, karna Sandi gak akan balik lagi ke sana!"gumam Irda tersenyum menyeringai.
Acara perpisahan kelas Widya sudah berlangsung selama hampir 1 jam, tetapi orang yang Widya harapkan tak juga menampakkan diri. Ya, Sandi belum juga datang kembali ke kafe itu. Widya merasa tak tenang, memikirkan apa yang dilakukan Sandi bersama Irda. Namun, dia juga tak ingin berpikiran negatif. Widya percaya pada Sandi, dia tak akan melakukan hal-hal di luar batas.
"Wid, kamu kok bengong aja di sini? Kenapa gak gabung sama yang lain?"tanya Fajar yang datang menghampiri Widya yang kini tengah duduk sendiri di kursi yang terletak di bagian luar kafe.
"Eh, Jar. Gak apa-apa kok. Panas aja di dalem, lagian aku juga kan gak terlalu deket sama mereka."jawab Widya dengan senyuman sendu.
"Oh, kamu lagi nungguin Sandi ya?"Widya sedikit terkejut dengan pertanyaan Fajar. Nyatanya memang dirinya tengah menunggu kedatangan Sandi.
"Gak juga sih, aku emang bosen aja di dalem."elak Widya lirih.
"Yaudah kalo bosen, kita pulang aja gimana? Mungkin Sandi juga gak akan balik ke sini."Widya terdiam memikirkan ucapan Fajar yang mungkin saja memang benar kalau Sandi tak akan kembali datang ke acara pesta.
"Yaudah deh, yuk. Aku juga udah capek."ujar Widya pada akhirnya.
"Oke, yuk pamit sama yang lain dulu!"Fajar dan Widya pun masuk ke dalam untuk berpamitan pada teman-temannya yang lain.
"Da, udah ya aku mau balik sekarang! Mending sekarang kamu istirahat aja. Lagian gak enak sama tetangga, nanti disangka kita ngapa-ngapain lagi!"ujar Sandi beranjak dari kasur Irda.
"Iya iya, makasih ya San udah mau bantuin aku. Tapi, maaf kalo aku jadi ngerepotin kamu."ucap Irda lirih.
"Hm. Yaudah aku balik sekarang!"baru saja Sandi akan keluar, Irda kembali memanggilnya.
"San, kamu mau balik ke kafe?"tanya Irda menghentikan langkah Sandi.
"Iya, kenapa?"
"Kayaknya acaranya udah selesai deh, soalnya aku nyewa tu kafe cuman sampe jam 9, sedangkan sekarang udah jam 1/2 9."jelas Irda membuat Sandi menghela napas kasar.
"Yaudah deh!"tanpa berkata apa-apa lagi Sandi segera pergi dari kostan Irda dengan perasaan kesal.
"Haha, rencanaku pasti berhasil. Meski Sandi masih bersikap jutek, tapi dia masih peduli sama aku. Aku yakin dia pasti bakal jadi milik aku lagi!"gumam Irda setelah Sandi pergi dari kostannya.
*
__ADS_1
*
*
Akhirnya Widya juga murid-murid yang lain resmi telah lulus dari SMA JAYA, dan sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang mahasiswi di kampus Mahardika. Tinggal beberapa minggu lagi, Widya juga teman-temannya yang lain yang melanjutkan pendidikan mereka akan menjalankan OSPEK.
Dan saat ini, Widya sedang menikmati masa liburannya. Hari ini pula Sandi akan mengajaknya berkunjung ke rumah orangtua Sandi. Ada perasaan gugup yang dirasakan Widya, karna meskipun mereka sudah mengenalnya tetapi tetap saja perasaan gugup itu ada.
"Wid, kamu kenapa?"tanya Sandi saat mereka bersiap untuk pergi.
"Aku gugup San..."jawabnya jujur.
"Gugup?gugup kenapa?"tanya Sandi lagi dengan senyum jailnya.
"Ya, aku takut dan malu aja ketemu sama orangtua kamu. Apalagi udah lama banget gak ketemu sama mereka."jelas Widya lirih.
"Santai aja, toh mereka juga gak akan gigit kamu."kata Sandi sembari mengelus puncak kepala Widya lembut.
Widya pun merasa tenang karna sikap Sandi yang lembut. Setelah berpamitan pada orangtua Widya, Sandi pun segera melajukan sepeda motornya membelah jalanan yang memang agak padat. Karna memang banyak yang berlibur.
Butuh waktu hampir 2 jam di perjalanan menuju rumah kedua orangtua Sandi. Dan akhirnya mereka pun tiba dengan selamat di rumahnya. Sandi segera memasukan sepeda motornya ke garasi setelah menurunkan Widya di depan pintu rumahnya. Widya pun menunggu Sandi sembari menenangkan dirinya yang kembali dilanda gugup.
"Hei, malah bengong!Yuk masuk!"ajak Sandi membuyarkan lamunan Widya. Dirinya pun hanya bisa pasrah saat Sandi menggenggam tangannya dan ikut masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum!"salam Sandi begitu dia membuka pintu rumahnya.
Cukup lama tak ada yang menjawab salam dari Sandi. Hingga Sandi mengulang kembali ucapan salamnya. Sedangkan Widya memilih untuk melihat beberapa foto yang tertempel di dinding ruang tamu.
"Assalamu'alaikum!"ucap Sandi lagi seraya melangkah terus masuk ke dalam, melewati ruang keluarga dan menuju ke dapur.
"Heumm, pantesan gak jawab salam aku. Terlalu asik rupanya,"gumam Sandi saat melihat sang Mama yang sedang sibuk dengan masakannya bersama beberapa asisten rumah tangganya. Ditambah suara musik yang cukup keras dari speaker yang tertempel di dinding dapur.
Secara diam-diam Sandi pun terus melangkah menuju tempat Mamanya berada. Dengan gerakan cepat, Sandi langsung memeluk sang Mama dari belakang. Sontak membuat Mamanya yang masih terlihat cantik itu menjadi kaget.
"Astaghfirullah!"pekik Mama Sandi kaget, hampir saja sendok yang sedang dipegang Mamanya itu melayang ke kepala Sandi.
"Ya Allah, Ma ini Sandi loh masa mau dipukul sih?"ujar Sandi melepaskan pelukannya dari sang Mama.
"Ya allah Sandi, kamu tuh yang bikin Mama kaget!Dateng-dateng bukannya ucapin salam malah main peluk aja. Untung aja Mama gak jantungan!"ucap Mamanya gemas, Sandi hanya nyengir tanpa ada rasa salah.
"Hehe, Sandi daritadi udah ucapin salam kali Mah, Mama aja yang gak denger. Sandi kan kangen sama Mama!"Sandi kembali memeluk Mamanya erat yang dibalas oleh Mamanya.
__ADS_1
like nya dongg...