
Meski hatinya sedang tak menentu, karna tak suka melihat kedekatan Widya dengan Evan. Akhirnya Sandi pun menghampiri Widya, yang kini tengah tertawa lepas dengan Evan. Sandi langsung duduk di antara Widya dan Evan, hingga kini dirinya berada di tengah-tengah dan langsung menatap Widya dengan senyuman tanpa ada rasa bersalah.
"Sandi? Kok kamu bisa ada di sini?"tany Widya yang terkejut dengan kedatangan Sandi yang tiba-tiba. Sedangkan Evan hanya menatap Sandi dengan datar.
"Ya bisa dong, ini kan tempat umum. Yang semua orang bisa dateng ke sini kan? Kenapa, gak boleh aku ada di sini?"
"Ish apaan sih? Ya enggak gitu! Aku tuh kaget aja, kamu tiba-tiba dateng kayak gini! Pake langsung duduk aja kayak gini lagi,"dumel Widya menatap Sandi kesal.
"Ya tadi kan aku liat kamu, makannya aku langsung samperin ke sini. Kamu gak suka?"
"Ish! Udah ah, gak perlu di bahas juga!"
Merasa suasana menjadi canggung, akhirnya Evan memutuskan untuk pergi memisahkan diri dari Widya dan Sandi. Dengan alasan ada keperluan lain, karna Evan menyadari keberadaannya disana membuat Sandi tak nyaman. Lebih tepatnya Sandi tak menyukai dirinya dekat-dekat dengan Widya.
Karna Evan memang benar-benar tulus ingin berteman dengan Widya. Dan dia pun tahu jika sebenarnya Widya dan Sandi memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat. Hanya saja yang dirinya tak mengerti mengapa dua orang itu hanya memendam tak berani saling mengungkapkan. Dan Evan tak ingin ikut campur dalam hal itu, maka dari itu dirinya lebih baik menjauh daripada Sandi semakin salah faham padanya.
"Loh Wid, temen kamu tadi mana?"tanya Kenny yang baru kembali bergabung dengan mereka.
"Evan pulang Kak, katanya ada urusan."jawab Widya sembari melirik sinis ke arah Sandi, yang duduk di sebelahnya tanpa merasa bersalah.
"Oh. Eh, kamu Sandi kan ya?"tanya Kenny lagi beralih menatap Sandi.
"Iya Kak,"jawab Sandi tersenyum sungkan.
"Yaudah Wid, kakak sama kak Deni ada keperluan lain. Kamu gak apa-apa kan kakak tinggal? Kan ada Sandi,"ucap Kenny dengan senyuman menggoda Widya.
"Ish. Yaudah gak apa-apa kak. Udah ini aku juga mau langsung pulang kok."
"Yaudah kalo gitu, kalian hati-hati yaa. Daah!"
__ADS_1
"Kakak juga hati-hati!"Kenny dan Deni pun pergi meninggalkan Widya yang masih duduk bersama Sandi.
Widya beranjak dari tempat duduknya tanpa berniat untuk mengajak Sandi, karna dirinya yakin Sandi pun akan mengikutinya tanpa diminta.
"Mau kemana Wid?"tanya Sandi yang langsung berjalan di samping Widya.
"Mau cari cakue."jawab Widya singkat.
"Wid, yang tadi tuh sodaranya Irda kan yang rumahnya di depan rumah kamu?"
"Iya."mendengar nama Irda disebut, malah semakin membuat perasaannya kacau. Intinya sih gak suka.
"Mereka pacaran?"Sandi masih saja terus bertanya tanpa melihat raut wajah Widya yang semakin ditekuk.
"Gak tau."Widya mempercepat langkahnya saat kedua bola matanya melihat gerobak makanan yang sedang dirinya cari.
"Wid, kok lari sih? Tungguin dong!"Sandi menyusul Widya yang tiba-tiba saja berlari meninggalkan dirinya menuju gerobak cakue.
"Enggak."
Sandi merasa bingung dengan sikap Widya yang sejak tadi terus saja ketus padanya. Pada akhirnya, Sandi menggenggam yangan Widya dan menariknya untuk berjalan mengikutinya menuju parkiran.
"Sandi! Eh, lepasin ih kenapa aku ditarik-tarik gini sih?"Widya mencoba untuk melepaskan genggaman Sandi, namun Sandi malah semakin erat menggenggam tangan Widya. Hingga mereka tiba di parkiran, barulah Sandi melepaskan genggamannya.
"Ish, kamu tuh kenapa sih pake tarik aku segala?"Widya semakin kesal dengan sikap Sandi.
"Kamu tuh yang kenapa? Dari tadi cuekkin aku terus, mana sitanya jawabnya ketus banget lagi! Emang aku salah apa coba?"ucap Sandi pelan namun penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Gak ada. Lagian aku biasa aja tuh."Widya memalingkan wajahnya tak ingin menatap Sandi sembaei melipat kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"Yakin tuh biasa aja?"Sandi pun menghela napas, mencoba untuk menenangkan pikiran dan gejolak amarah yang hampir saja meledak karna sikap aneh Widya padanya.
"Yaudah, sekarang ikut aku ya!"ujar Sandi sembari memakaikam helm pada Widya tanpa menunggu jawaban darinya.
"Eh eh, ikut kemana?"tanya Widya bingung, namun dia tetap menaiki jok belakang motor Sandi.
"Ya pokoknya ikut aja, dijamin gak bakalan bikin kamu rugi kok!"Sandi pun menyalakan mesin dan segera melajukan motornya setelah Widya duduk aman di belakangnya. Widya pun hanya bisa pasrah kemanapun Sandi membawanya pergi. Toh dia percaya Sandi tak akan berbuat yang macam-macam padanya.
*
*
*
Sedangkan Irda kini tengah berada di cafe, sepulangnya dari rumah Ibu Resni. Karna tak ingin langsung pulang, dan perasaannya yang masih kesal ditinggal Sandi. Disaat dirinya sedang menunggu pesanannya sembari memainkan ponselnya tiba-tiba saja kursi yang berada di depannya ditarik seseorang yang tanpa izin langsung duduk di hadapannya.
"Eh, kamu? Ngapain sih?"Irda merasa kaget dengan kedatangan Erick di depannya, namun dia langsung merubah ekspresinya menjadi kesal.
"Ya mau makan lah."jawab Erick santai dengan senyuman manis di bibirnya, namun sayang Irda sama sekali tak melihat ke arahnya.
"Terus ngapain duduk di sini? Kan kursi yang lain masih kosong tuh di sana!"tunjuk Irda asal tanpa melihat ke arah yang dirinya tunjuk, karna dirinya masih tetap fokus pada ponselnya.
"Ya karna pengen di sini lah."lagi-lagi Erick masih menjawabnya dengan santai tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Irda yang sudah terlihat sangat kesal.
"Ish kamu tuh makin nyebelin deh!"akhirnya Irda pun membalas menatap Erick dengan tatapan galaknya. "Kamu mau ngapain sih? Tiba-tiba dateng bikin aku kesel aja tau gak!"
"Emang aku ngapain, daritadi kan aku cuma duduk di sini. Kenapa kamu kesel? Padahal dulu, kita malah selalu kayak gini kan?"ujar Erick dengan nada yang sendu.
Irda terdiam tanpa melepas pandangannya dari Erick. Terlintas bayangan saat mereka dulu saling dekat, selalu bersama-sama kemanapun. Lebih tepatnya Erick yang selalu menamani Irda kemanapun dirinya pergi. Karna saat di SMA dulu, Irda tak mempunyai banyak teman perempuan. Meskipun ada, tapi mereka tak cukup dekat dengannya. Hanya Erick yang mau benar-benar dekat dengannya.
__ADS_1
Tentu kedekatan mereka sebelum Irda mengenal Sandi, karna setelah Irda bertemu dan berpacaran dengan Sandi, dia mulai menjauh dari Erick.
"Ish apaan sih Rick!"Irda melengos, merasa tak enak.