Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
41


__ADS_3

Akhirnya setelah 2 hari mengadakan acara perkemahan, kini waktunya mereka untuk kembali pulang ke rumah masing-masing. Dan kini mereka sedang berada di dalam bus, perjalanan dari tempat kemping menuju sekolah menempuh waktu selama kurang lebih 3 jam. Maka sebagian dari mereka ada yang lebih memilih untuk tidur saja. Tapi, tidak dengan Widya yang masih memikirkan kejadian saat sarapan tadi.


"Wid, kamu kenapa diem aja?"tanya Sandi yang kembali duduk di sebelah Widya. Meski tadi pagi sempat kesal karna melihat kedekatan Widya dengan Fajar, tetapi Sandi tak bisa bila harus menjauhi Widya.


"Gak apapa kok San, aku cuman capek aja."ucap Widya bohong.


"Yaudah kalo capek tidur aja, sini pundak aku kan kosong!"Sandi menarik kepala Widya dan menyandarkannya di pundaknya. "Sekarang pejamkan mata kamu, gak usah pikirin hal-hal yang gak penting!"ujar Sandi sembari mengelus puncak kepala Widya lembut.


Merasa nyaman dengan perlakuan Sandi, Widya pun akhirnya memejamkan matanya dan segera beralih ke dunia mimpi. Berada dekat dengan Sandi selalu bisa membuat dirinya merasa tenang dan nyaman.


Kafe The Akbar


Semua sahabat Deni telah berkumpul bersama, dan seperti yang tadi Akbar ucapkan. Kali ini perkumpulan mereka bukan hanya sekedar kegabutan yang melanda dirinya. Namun, ada hal penting yang akan dirinya sampaikan pada sahabatnya itu, terutama Deni. Karna hal itu berkaitan dengan Deni.


"Bar, katanya ada yang mau disampein?Apaan sih, penasaran nih?!"tanya Fahmi.


"Oke, dengerin baik-baik!2 hari yang lalu, aku kan baru dari Singapure. Nah tau gak di sana aku ketemu sama siapa?!"ucapnya penuh semangat.


"Lah ya mana kita tau lah, yang ke Singapure kan maneh bukan kita?"sela Ilham ngegas.


"Ya biasa aja dong, ga usah ngegas elah!"sungut Akbar balik ngegas.


"Lah dia nyuruh tenang, malah ngegas balik!"balas Ilham mendelik.


"Udah berisik terus kalian ini!Terusin Bar ceritanya."ucap Deni melerai perdebatan sahabatnya.


"Oke!Nah di sana tuh aku ketemu sama si Kenny dong!"ujar Akbar sembari menaik turunkan alisnya, menatap pada sahabat-sahabatnya.


Deg!


"Kenny?"batin Deni kaget. Mendengar nama itu, tiba-tiba tubuh Deni menegang, debaran jantungnya berpacu dengan cepat. Sekelebat bayangan-bayangan yang selama ini susah payah Deni lupakan, kembali bermunculan.


"Wah gila, beneran dia Kenny?"tanya Fahmi yang sama kagetnya dengan Deni, seraya melirik ke arah Deni yang masih terpaku tanpa mengeluarkan suara.


"Beneran lah, orang dia duluan yang nyapa."Akbar melihat ekspresi sahabatnya, sebelum melanjutkan ucapannya. "Kita sempet ngobrol banyak di sana. Dan dia juga bilang, dalam waktu dekat dia bakalan balik ke Indo."sambungnya sembari terus menatap ke arah Deni.


"Den, gak apapa?"tanya Ilham hati-hati.


Deni hanya melirik sekilas, lalu tanpa berkata apapun Deni segera pergi meninggalkan mereka.


"Loh, mau kemana woy?!"teriak Fahmi, melihat Deni yang semakin menjauh.

__ADS_1


"Udah biarin aja,"ujar Akbar santai.


"Si Deni kayaknya emang belum bisa move on ya dari si Kenny."ucap Ilham.


"Ya pastilah, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya bro. Tapi, harusnya sih Si Deni tuh dengerin penjelasan si Kenny dulu. Bukan malah main ngeblok aja."terang Akbar.


"Maksudnya?"tanya Fahmi bingung.


"Iya, kemarin tuh si Kenny cerita setelah dia pergi ke Singapure tuh, si Deni malah langsung ngeblok si Kenny. Jadinya, pas waktu si Kenny mau jelasin alasan dia pergi ya gak bisa. Dan dia juga gak ada kontak kita-kita, karna waktu itu hp dia ilang pas nyampe di sana. Gitu sih yang dia ceritain ke aku.


"Heumm. Terus di sana apa si Kenny udah punya cowok lagi?"tanya Ilham.


"Nah gak tau sih soal itu."jawab Akbar pelan.


"Kira-kira kalo si Kennya balik ke Indo, mereka bakal baikan gak ya?"tanya Fahmi kepada kedua sahabatnya yang hanya mengangkat kedua bahunya acuh.


Deni keluar dari kafe, langsung menuju mobilnya yang berada di parkiran. Deni merasa marah bercampur sedih, saat kembali mendengar nama gadis yang pernah ada di hatinya dulu. Semua memori tentang Kenny yang sudah lama dia buang, dengan mudahnya kembali muncul hanya dengan mendengar namanya disebut.


"Kenapa Kamu harus datang lagi ke sini, setelah aku hampir berhasil lupain Kamu?!"teriak Deni kesal. Deni langsung melajukan mobilnya keluar dari area kafe.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam, akhirnya rombongan murid kelas 12 SMA JAYA tiba di sekolah. Sebagian murid yang memang menyimpan kendaraannya di sekolah, langsung pulang sedangkan sebagian lagi masih harus menunggu di jemput oleh orangtua mereka.


"Enggak San, tadi Ayah nge chat katanya ada rapat mendadak."


"Yaudah, yuk pulang bareng!"ajak Sandi seraya menggenggam tangan Widya menuju parkiran.


"Sandi!"teriak Irda dari arah belakang, menghampiri Sandi dan Widya. Sandi dan Widya terpaksa menghentikan langkahnya untuk menunggu Irda.


"San, anterin aku pulang dong!"pinta Irda dengan wajah memelas.


"Gak bisa, aku mau pulang sama Widya!"tolak Sandi dengan tegas.


"Yah, tapi kan kamu tau di sini aku sendirian San. Papi sama Mami aku lagi gak ada di Indo. Please ya, HP aku juga mati, gak bisa order taxi."ujar Irda sembari menatap Sandi penuh harap.


"Ya tetep gak bisa Irda, aku..."


"Udah gak apapa San, kamu anterin aja Irda. Aku bisa minta jemput supir aja."ucap Widya, yang tak tega melihat Irda.


"Tapi, Wid aku gak mau..."bisik Sandi.


"San, udah anterin aja. Masa kamu tega, ini udah mau maghrib loh. Udah sana,"Widya mendorong Sandi agar mau mengantar Irda.

__ADS_1


"Thank's ya Wid!"ucap Irda dengan senyuman yang sinis.


Akhirnya dengan terpaksa Sandi mengantar Irda pulang. Widya hendak menelfon supir yang biasa mengantar Ayahnya, tetapi ternyata Hp nya tak menyala. Keadaan sekolah yang sudah mulai sepi, membuat Widya harus keluar dari sekolah dengan berjalan kaki menuju halte. Fajar yang baru saja keluar dari ruang guru, tak sengaja melihat Widya yang baru saja akan melewati gerbang sekolah dengan cepat memanggil Widya.


"Widya!"teriak Fajar sembari menghampirinya.


"Eh, Fajar kirain kamu udah pulang?"ucap Widya saat Fajar telah berdiri di hadapannya.


"Tadi aku bantuin guru dulu di ruang guru. Kamu pulang sendiri?"


"Iya, Ayah gak bisa jemput."jawabnya tersenyum.


"Terus Sandi kemana?"


"Dia nganterin Irda."


"Irda?"Fajar menaikkan sebelah alisnya heran.


"Aku yang nyuruh, soalnya Irda gak ada yang jemput. Dia juga sendirian kan disini, ortu nya lagi gak ada di Indo."jelas Widya, seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan Fajar.


"Heum, yaudah kamu pulang bareng aku aja!"


"Seriusan?"


"Iya lah, yuk!"Fajar pun menarik tangan Widya menuju parkiran tempat Fajar menyimpan sepeda motornya.


Sandi telah tiba di kostan Irda, tak ingin berlama-lama di sana Sandi pun segera pamit pada Irda. Namun, Irda malah terus menahannya agar tak cepat-cepat pergi dari sana.


"Da, aku langsung pulang ya!"ujar Sandi seraya menyalakan kembali mesin motornya.


"Eh tunggu San, temenin aku dulu sebentar ya!Please!"ucap Irda dengan memelas.


"Ngapain sih Da, aku capek pengen istirahat!"Sandi merasa jengah dengan sikap Irda.


"Aku laper San,"ucapnya dengan lemah.


"Terus hubungannya sama aku apa?"Sandi mengangkat sebelah alisnya tak suka.


"Temenin aku cari makan dulu, ya?Persediaan makanan di dalem udah abis, aku lupa belum belanja. Kamu juga pasti laper kan, yuk kita makan dulu!"Irda langsung naik ke atas motor Sandi, dan akhirnya Sandi pun tak bisa menolak lagi.


Dengan terpaksa Sandi menamani Irda untuk mencari makan malam terlebih dulu. Padahal dirinya sudah sangat lelah dan malas bila terus bersama dengan Irda. Namun, dirinya pun tak tega bila harus membiarkan Irda sendirian.

__ADS_1


__ADS_2