
Sesuai kesepakatan sebelumnya, pagi-pagi sekali Erick sudah datang ke rumah Irda. Tepat pukul 6 pagi, Erick turun dari mobil sport berwarna biru miliknya. Sangat jarang dirinya memakai mobil, karna lebih sering menggunakan motor.
Disaat Erick yang sudah siap mengajaknya pergi, tetapi Irda masih asik di dunia mimpinya. Irda masih berada di dalam kamarnya bergelung dengan selimut tebalnya.
"Assalamu'alaikum!"salam Erick saat pintu utama rumah Irda di bukakan oleh asisten rumah tangga.
"Wa'alaikumussalam!Maaf, mencari siapa ya?"tanya Bi Mar, sang asisten rumah tangga yang sudah bekerja selama 18 tahun di rumah itu.
"Saya temennya Irda, Bi. Saya udah janjian sama dia,"jawab Erick dengan ramah.
"Oh, silakan masuk Den. Non Irda masih di kamar, sebentar saya panggilkan dulu."ucap Bi Mar sembari mempersilakan Erick masuk.
"Terima kasih Bi!"Erick pun duduk di sofa setelah Bi Mar pergi menuju kamar Irda.
"Siapa yang dateng Bi?"tanya Mamanya Irda yang baru saja turun dari lantai dua, di mana kamarnya berada.
"Itu, katanya temennya Non Irda Nyonya."jawab Bi Mar seraya menundukkan kepalanya.
"Temen?Pagi banget, yasudah Bi Mar buatkan minum saja dulu baru nanti panggil Irda turun!"perintahnya yang langsung dijawab anggukan oleh bi Mar. Setelahnya Mama Irda pun menghampiri Erick yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya.
"Ekhem."deheman dari Mamanya Irda membuat Erick mengalihkan atensinya dari ponselnya kepada Mama Irda berada.
"Eh tante,"sapa Erick tersenyum seraya berdiri menghampiri Mamamya Irda.
"Loh, kamu...Erick kan?"tanya Mama Irda kaget.
"Iya Tan, saya Erick anaknya Mama Yanes sama Papa Luthfi."jawab Erick lalu mencium punggung tangan Mama Irda.
"Ya ampun, pangling tante!Apa kabar sama orangtua kamu Nak?"tanya Mama Irda seraya menarik Erick untuk duduk bersama di sofa berwarna cokelat di ruangan itu.
"Alhamdulillaah tante mereka baik,"jawab Erick dengan senyumannya.
Tak lama, Bi Mar datang membawa minuman hangat untuk Erick juga majikannya itu. Setelahnya Bi Mar pun pergi ke kamar Irda untuk membangunkannya.
tok
tok
"Non, non Irda!Ada temennya yang dateng,"Bi Mar sedikit teriak, karna tak ada jawaban dari sang pemilik kamar.
"Non, bibi masuk ya!"Bi Mar pun membuka pintu kamar milik Irda, yang memang tak pernah dikunci. "Ya allah si Non masih pules,"gumamnya pelan menghampiri Irda.
__ADS_1
Bi mar pun menepuk pundak Irda tak pelan juga tak kencang, namun tindakannya mampu membuat Irda bangun dari tidurnya.
"Non, bangun!"ucap Bi Mar tanpa mengurangi rasa sopannya.
"Euggh,"Irda pun menggeliat sebelum akhirnya membuka matanya perlahan. "Bi Mar?Ada apa?"Irda bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk.
"Maaf Non, saya sudah membangunkan Non."ucap Bi Mar seraya menundukkan kepalanya.
"Emang sekarang jam berapa sih?"sembari mengucek kedua matanya, Irda terus menguap tanda dirinya masih mengantuk.
"Jam 6 Non,"jawab Bi Mar singkat, sembari membuka gorden di kamar Irda.
"Masih pagi, ada apa Bi?Aku kan masih libur, masuk kuliah masih pekan depan loh."ucap Irda malas.
"Maaf Non, tapi di bawah ada temen Non."
"Hah?Siapa yang dateng pagi-pagi gini?"tanya Irda kaget.
"Saya gak tau namanya Non, sekarang Nyonya lagi nemenin di bawah."
"Heumm yaudah, aku ke kamar mandi dulu sebentar!"
"Yaudah,"Irda pun turun dari tempat tidurnya segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya. Irda sangat penasaran siapa yang sudah datang ke rumahnya pagi-pagi seperti saat ini.
Setelah mencuci mukanya dan merapikan rambutnya, Irda pun keluar dari kamarnya untuk segera turun menemui Erick. Mendekati ruang tamu, Irda mendengar suara yang cukup familiar di telinganya. Irda mempercepat langkahnya, dan alangkah kagetnya saat Irda melihat orang yang sangat dirinya kenal.
"Erick?"pekik Irda saat tiba di ruang tamu.
Erick dan Mamanya langsung mengalihkan atensi mereka pada Irda. Erick tersenyum manis pada Irda, yang masih tak menyangka bahwa Erick akan menagih bayarannya secepat ini.
"Sayang, kamu belum mandi?"tanya Mama Irda.
"Belum Mah, baru bangun."jawab Irda sedikit ketus, kini dia duduk di samping mamanya, menatap tajam pada Erick.
"Ya ampun anak gadis jam segini baru bangun, sudah sekarang kamu cepet mandi sana, Erick bilang tadi mau ajak kamu jalan!"perintah Mama Irda, membuat Irda mengerutkan keningnya bingung.
"Mama udah kenal sama Erick?"tanya Irda pada akhirnya.
"Kenal lah sayang, Erick ini anak dari sahabat Mama."jawaban Mama Irda semakin membuat Irda menganga tak percaya. Irda melirik ke arah Erick yang tengah tersenyum padanya.
"Kok Lo gak pernah cerita sama gue?"tanya Irda ketus pada Erick.
__ADS_1
"Ya Lo kan gak pernah nanya."jawabnya enteng.
"Ish, nyebelin!"Irda mengerucutkan bibirnya kesal.
"Sudah ah, ayo sana mandi!"Mama Irda menarik tubuh Irda untuk berdiri dan mendorong pelan menuju tangga.
"Ish Mama ini tuh masih pagi banget, aku juga masih ngantuk!"ucap Irda menghentikan langkahnya.
"Eh, kalo mandi pasti ngantuknya ilang!Udah ah, gak enak itu Erick nungguin!Cepet sana mandi!"dengan lemas Irda pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Sedangkan Mama Irda tersenyum menyeringai, memikirkan sesuatu.
Sedangkan Widya kini tengah bersiap untuk lari di taman perumahan tempatnya tinggal. Widya memakai hoodie polos berwarna cokelat dengan memakai kaos polos sebagai **********. Widya juga memakai celana training hitam dan sepatu sneakers dengan warna senada dengan celananya.
Saat Widya keluar dari rumahnya, bertepatan dengan Deni yang juga baru saja menutup pagar rumahnya. Widya menatap ke arah Deni dan tersenyum ramah padanya. Widya pun berjalan terlebih dahulu, namun panggilan Deni menghentikan langkahnya.
"Wid!"panggil Deni yang kini berada di belakang Widya.
Widya pun membalikkan badannya menghadap Deni. "Ya Kak?"
"Mau lari bareng?"ajak Deni menghampiri Widya.
"Euh?Eh, iya iya bolek Kak.."jawab Widya gugup sembari menganggukkan kepalanya.
Widya dan Deni pun berjalan santai menuju taman komplek, yang jaraknya lumayan tak jauh dari rumah mereka. Selama beberapa menit tak ada perbincangan di antara mereka. Widya yang gugup, membuatnya bingung untuk mencari topik obrolan. Begitu juga dengan Deni yang tiba-tiba kehabisan kata-kata.
Hingga akhirnya Deni yang terlebih dahulu mengajak bicara Widya.
"Wid kamu lanjut kemana?"tanya Deni tanpa menatap Widya.
"Kampus Mahardika."jawabnya singkat yang juga tak menatap ke arah Deni.
"Oh junior aku dong ya,"ucapnya terkekeh.
"Iya Kak,"Widya pun mengulum senyumnya.
"Kamu ambil jurusan apa?"
"Pengennya sih Sastra, tapi Ayah bilang ambil bisnis aja. Aku juga jadi bingung,"ucapnya lirih.
"Eumm, ya kalo aku boleh ngasih saran sih...Mending pilih yang memang kamu bisa dan kamu sukai. Soalnya percuma juga kalo salah pilih atau asal-asalan pilih, ujung-ujungnya malah jadi gak fokus nanti kuliahnya."ujar Deni panjang lebar.
Widya hanya manggut-manggut mencoba mencerna ucapan Deni. Memang benar yang diucapkan Deni, sesuatu yang memang tak disukai dari awal akan membuatnya tak fokus dalam mengerjakannya.
__ADS_1