
Malam harinya, setelah mengantar Irda pulang ke rumahnya Sandi segera pulang ke kostannya. Tadinya dia berniat untuk menemui Widya, hanya saja waktu sudah menunjukkan jam 9 malam jadi dia urungkan dan langsung pulang. Begitu masuk ke dalam kamarnya, Sandi segera membuka hp nya dan menghubungi Widya.
"Hallo assalamu'alaikum Wid!"ucap Sandi begitu sambungan telefonnya telah tersambung.
"Wa'alaikumussalam San. Ada apa?"tanya Widya dengan datar.
"Wid, tadi kamu kok gak ke kantin?"
"Gak apa-apa, males aja."
"Maaf tadi aku pulang duluan, aku tadi nganterin Irda ke toko servis laptop..."
"Iya gak apa-apa kok San, gak perlu minta maaf juga."
"Kamu marah ya?"
"Enggak."
"Kok daritadi jawabnya singkat banget sih? Maaf Wid, tadi aku emang lupa ngasih kabar sama kamu. Tapi, besok-besok aku gak akan gitu lagi kok."
"Gak apa-apa San, lagian aku kan bukan cewek kamu. Gak perlu lah kamu sampe harus selalu ngasih kabar ke aku kan? Aku juga gak ada hak buat marah sama kamu. Kita kan cuma sahabat."ucap Widya dengan lantang meski sakit yang dia rasakan saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Kamu kok ngomongnya gitu sih Wid? Emm yaudah deh, kita omongin lagi besok. Besok aku jemput kayak biasa ya. Sekarang kamu istirahat. Sekali lagi aku minta maaf. Bye Wid!"Sandi langsung mematikan sambungan telfonnya.
Perasaan Sandi menjadi tak enak saat mendengar perkataan Widya yang menjelaskan bahwa hubungan mereka hanyalah sahabat. Meski memang benar seperti itu, tapi rasanya sungguh menyesakkan hatinya. Karna jauh di lubuk hatinya, Sandi berharap hubungan mereka lebih dari sekedar sahabat. Tapi, apakah itu mungkin terjadi?
"Sahabat yaa? Aarghhh kenapa jadi kesel gini sih?!"teriak Sandi kesal.
Sedangkan Widya juga merasa tak enak hati setelah mengatakan hal tadi pada Sandi.
"Hugh! Rasanya kok nyesek ya, ngomong kayak tadi. Padahal kenyataannya kan emang kita cuman sahabatan. Apa mungkin sahabat jadi pacar?"monolog Widya sembari menatap langit-langit kamarnya.
*
*
*
📥Fajar
Udah tidur?
Pesan yang muncul di hp milik Sabitha, saat dirinya tengah bersiap-siap untuk menuju dunia mimpi membuat dirinya kembali duduk.
"Tumben dia chat malem-malem gini."gumam Sabitha sebelum membalas pesan dari Fajar.
__ADS_1
^^^📤Sabitha^^^
^^^Baru mau tidur.^^^
^^^Kenapa?^^^
📥Fajar
Sorry ganggu kalo gitu 😅
^^^📤Sabitha^^^
^^^Gak apa-apa sans aja.😄^^^
📥Fajar
Btw besok kan aku libur, mau gak temenin aku jalan?
^^^📤Sabitha^^^
^^^Jalan?^^^
^^^Aku kan harus beresin apartemen dulu.^^^
📥Fajar
Jadi kamu temenin aku jalan oke.
^^^📤Sabitha^^^
^^^Dih kok jadi maksa?😑^^^
📥Fajar
Pokoknya besok aku jemput jam 10.
Bye!
"Lah dasar aneh, bisa-bisanya ngasih libur kerja malah harus nemenin dia jalan! Hugh dasar!"gerutu Sabitha seraya menyimpan kembali hp nya ke atas meja nakas di sebelah ranjang kasur miliknya.
*
*
*
__ADS_1
Keesokan paginya, sesuai yang dikatakan Sandi semalam. Dia datang menjemput Widya untuk sama-sama pergi ke kampus. Namun, tak seperti biasanya di dalam mobil yang selalu ramai oleh obrolan dan juga candaan sekarang malah terlihat sepi dan juga canggung. Entah mengapa di antara mereka tak ada yang ingin berbicara duluan. Hanya terdengar deru napas juga suara mesin mobil saja.
Hingga akhirnya mobil yang dikendarain Sandi tiba di tempat parkir khusus mahasiswa kampus Mahardika. Widya hendak membuka pintu, saat Sandi memanggil namanya.
"Wid.."panggil Sandi pelan membuat Widya menengok ke arahnya.
"Ya?"
"Kamu selesai jam berapa?"tanya Sandi.
"Heumm sekitar jam 1 kayaknya. Kenapa?"
"Oh, hari ini aku masih harus ngerjain tugas. Kamu gak apa-apa kan pulang sendiri?"ucap Sandi merasa tak enak.
"Iya gak apa-apa kok. Yaudah aku duluan ya."Widya pun segera turun dari mobil tanpa menunggu Sandi. Sedangkan Sandi hanya bisa menghembuskan napas beratnya, melihat ke arah Widya yang semakin menjauh dari tempatnya.
"Aku gak mau kita jadi gini Wid."gumam Sandi lirih. Sebelum akhirnya dia pun turun dari mobilnya dan segera menuju kelasnya.
Di lain tempat, Irda tengah mengendarai mobilnya sembari mendengarkan lantunan musik dari radio. Tiba-tiba saja mobilnya berhenti, untung saja Irda masih sempat menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
"Duh, kenapa lagi sih ini?"gerutu Irda seraya turun dari mobilnya.
Irda pun melihat ke arah ban depan juga belakang, namun tak ada masalah dengan ban nya. Irda membuka kap mobilnya, tetapi itu pun percuma karna dirinya sama sekali tak mengerti soal mesin mobil. Dia pun hanya bisa menggerutu kesal, di tambah pagi ini dia ada kelas dengan dosen yang cukup killer. Malah dirinya harus terjebak dengan mobil yang mogok.
Di saat dirinya akan menghubungi pihak bengkel langganan Papinya, ada seorang pria yang mengendarai motor berhenti di depan mobilnya. Awalnya Irda tak tahu siapa pria itu, sampai akhirnya dia membuka helm miliknya.
"Erick? Untung aja kamu lewat, tolongin aku Rick!"ucap Irda senang, karna Erick datang di waktu yang tepat.
"Mobilnya kenapa lagi Da?"tanya Erick yang sudah turun dari motornya.
"Gak tau nih, padahal baru kemarin beres di servis lah ini udah mogik lagi aja."jawab Irda dengan kesal.
"Kamu udah hubungin pihak bengkelnya?"
"Oiya, ini baru aku mau telfon. Bentar ya! Awas kamu jangan tinggalin aku!"
"Iya, aku bakalan tetep ada di samping kamu kok."ucap Erick dengan senyum manisnya. Irda mencoba mengabaikannya meski ada sedikit perasaan aneh yang dia rasakan saat mendengar ucapan Erick barusan. Irda memilih untuk segera menguhubungi pihak bengkel, untuk segera datang.
"Udah yuk Rick, buruan aku udah ampir telat nih!"tanpa basa basi lagi, Irda segera menaiki motor sport hitam milik Erick. Erick memang selali gonta ganti sepeda motor, maka dari itu tadi Irda sempat tak mengenalinya.
Setelah Irda duduk dengan nyaman, akhirnya Erick pun kembali melajukan sepeda motornya menuju kampus Mahardika. Tak ada perbincangan selama perjalanan, Erick fokus dengan jalan di depannya begitu juga dengan Irda dengan pikirannya sendiri. Hingga akhirnya setelah 35 menit di perjalanan, mereka pun tiba di kampus Mahardika.
"Rick makasih ya, aku duluan ya soalnya 5 menit lagi kelas aku mau mulai nih."Irda hendak berlari meninggalkan Erick setelah turun dari motornya, namun Erick segera mencekal pergelangan tangan Irda yang membuatnya kembali membalikkan badannya menghadap Erick dengan tatapan bingung.
"Kenapa lagi Rick? Aku buru-buru nih,"ucap Irda gusar.
__ADS_1
"Aku mau minta sesuatu sama kamu, sebagai ganti ucapan terima kasih karna aku udah tolongin kamu tadi.
"Hah? Maksudnya gimana sih, jadi aku gak perlu ucapin terima kasih. Tapi, sebagai gantinya aku menuhin permintaan dari kamu. Begitu?"tanya Irda setelah mengerti apa yang di maksud dengan ucapan Erick.