Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
17


__ADS_3

Hari Senin adalah hari yang selalu membuat murid-murid tak ada semangat untuk pergi ke sekolah. Itu karna mereka harus berlama-lama berdiri di lapangan, apalagi bila cuaca sedang panas. Ditambah tak sarapan pula, pasti akan sangat menyiksa. Begitu juga yang tengah dirasakan oleh Widya. Pagi ini dia telat bangun, masih untung dia bisa tepat datang ke sekolah sebelum pintu gerbang ditutup.


Hanya saja dia melupakan sarapan pagi nya, lebih tepatnya meninggalkan sarapannya karna haru buru-buru pergi ke sekolah. Memang, hari ini dia tak dijemput oleh Fajar seperti biasanya. Dan Fajar pun tak memberi kabar padanya.


"Fajar kemana ya, apa dia gak masuk?"batin Widya, sambil terus melihat setiap barisan di depannya mencari sosok Fajar.


"Kamu nyari siapa Wid?" tanya Doni, salah satu teman sekelasnya yang berbaris tepat di sebelah Widya.


"Fajar, dia gak masuk ya?" ucap Widya sedikit berbisik, karna Upacara akan segera dimulai.


"Iya, katanya sih sakit." jawabnya singkat.


"Oyah?Heumm pantes dia gak jemput, sakit apa ya?"gumamnya dalam hati.


Kurang lebih 25menit, upacara pun telah selesai. Semua murid pun bubar dari lapangan, mereka ada yang memilih untuk pergi ke kantin terlebih dahulu, ada juga yang ke perpustakaan. Karna masih ada waktu 5menit sebelum jam pelajaran dimulai. Sedangkan Widya, memilih untuk segera masuk ke kelas. Meski sebenarnya dia pun merasa haus dan lapar, akibat dia tak sempat sarapan tadi pagi.


Namun Widya merasa sangat lemas untuk berjalan ke kantin yang jaraknya lumayan jauh dari kelasnya. Widya duduk di bangkunya, namun tak mendapati sahabatnya. Mungkin dia telat, pikir Widya. Widya pun menundukkan kepalanya di atas meja dengan beralaskan kedua tangannya yang dilipat. Baru saja Widya memejamkan matanya, dia merasakan hawa dingin yang menempel di lengannya. Sontak, dia pun mengangkat kepalanya, dan melihat siapa yang sudah jahil padanya.


"Ish, Sandi!Dingin tau!" gerutu Widya, saat dilihat sahabatnya lah yang telah menempelkan botol minuman yang dingin ke tangannya.


"Hehe, maaf. Nih buat kamu, pasti belum sarapan kan?" ucap Sandi, sambil menyodorkan satu buah botol minuman dan satu bungkusan yang pasti isi nya makanan.


"Aaah, Sandi kok bisa tau sih?!Aku tuh emang laper banget ini!" seru Widya sambil membuka bungkusan yang diberikan Sandi, dan langsung memakannya dengan lahap.


"Ya tau lah, apa sih yang gak aku tau!" ucapnya sombong.


"Uu, gak usah sombong!" Dengus Widya, yang masih terus makan makanannya.


"Kenapa telat?"tanya Sandi.


"Telat bangun." jawab Widya singkat, dia pun meminum minumannya karna makanannya telah habis. "Makasiih ya San, hah! Kalo gak ada makanan ini, pasti aku udah pingsan!" seru nya mendramatisir.


"Sama-sama. Lain kali jangan telat lagi dong!" ucap Sandi sambil mengacak-acak rambut Widya.


"Ish, gak usah diacak-acak juga dong rambut akunya!" Widya pun mengerucutkan bibirnya sambil merapikan kembali rambutnya. Sedangkan Sandi hanya tersenyum geli melihat ekspresi Widya yang menggemaskan.

__ADS_1


Tak lama, jam pelajaran pertama pun dimulai. Semua siswa di kelas memperhatikan apa yang disampaikan guru yang ada di hadapan mereka. Tak terkecuali Widya dan Sandi. Meski, Widya pun memikirkan kondisi Fajar. Andai saja dia mengetahui alamat rumah Fajar, mungkin dia akan datang ke rumahnya untuk menjenguknya. Sayangnya, Widya tak tau alamat rumah Fajar.


"Wid, nanti kamu pulang sama siapa?Fajar kan gak masuk, aku juga belum bisa nganterin kamu pulang." tanya Sandi, kini mereka sedang berada di kantin.


"Masih ada kang ojek San, tenang aja!" jawabnya tersenyum menatap Sandi.


"Gak apa-apa Wid?" tanya Sandi lagi, karna merasa khawatir juga tak enak, membiarkan Widya pulang sendiri.


"Ya gak apa-apa lah San, tenang aja gak usah khawatir gitu!" ucap nya lagi meyakinkan Sandi. Sandi pun mengangguk mencoba untuk tak khawatir.


"Maaf Wid, andai aja gak ada Irda!" gumam Sandi dalam hati, sambil kembali memakan mie ayamnya.


Sepulang sekolah, Sandi langsung pergi menuju sekolah Irda.


"Hai, sayang!" sapa Irda, saat Sandi baru saja mematikan mesin sepeda motornya.


"Yuk, langsung pulang aja!"ucap Sandi tanpa membuka helmnya.


"Kenapa buru-buru sih sayang, kita makan dulu yuk di kafe biasa!" ajak Irda.


"Enggak, aku mau ngerjain tugas!Lagi banyak banget soalnya. Gak apa-apa kan?Atau aku mau anterin aja kesana?"tolak Sandi, walau sedikit berbohong.


"Yaudah, yuk!" Sandi dan Irda pun akhirnya langsung pulang menuju kostan Irda.


Sejujurnya Sandi ingin cepat-cepat pulang, karna dia akan datang ke rumah Widya. Memastikan apa sahabatnya itu pulang dengan selamat. Berlebihan memang, tapi memang dia khawatir.


"Assalamu'alaikum!" salam Widya saat dia memasuki rumahnya.


"Wa'alaikumussalam!Loh, anak bunda lemes gini sih kenapa?"tanya bunda, saat melihat kondisi putri satu-satunya itu sangat lemas dan lusuh.


"Widya capek bun, abisnya Widya pulang naek angkot. Mana angkotnya penuh banget lagi. Ehh di tengah jalan, malah mogok. Alhasil, Widya jalan kaki sampe rumah, soalnya gak ada lagi angkot yang lewat." cerita Widya sambil memeluk bundanya.


"Loh, emank kamu gak diantar Fajar?Oya, tadi pagi juga dia gak jemput ya?"tanya bunda, sambil mengelus rambut Widya.


"Iya bunda, katanya sih Fajar sakit. Jadi, dia gak masuk sekolah." ucap Widya semakin lesu.

__ADS_1


"Ouh, terus kenapa gak pake ojol aja?"tanya bunda lagi.


"Nah itu dia, pas tadi mau pesen eeh hp Widya malah mati!" ucap Widya menekuk wajahnya kesal.


Bunda pun hanya mengulum senyumnya, takutnya Widya makin bete kalau sampe lihat bundanya tersenyum mengejek. "Yaudah, sekarang kamu bersih-bersih gih, terus makan!" ucap bunda, melepas pelukannya.


"Iya bunda. " jawab Widya, dia pun bangkit dari tempat duduknya menuju kamarnya. Untuk segera membersihkan badannya.


Tak butuh waktu lama, Widya telah usai membersihkan seluruh badannya yang terasa lengket. Kini dia terlihat segar, dengan memakai kaos polos berwarna pink, dan celana jeans selutut membuatnya semakin imut.


"Hari ini rasanya, hari paling buruk!! Udah telat bangun, gak sarapan pula. Eh pulangnya malah jalan kaki! Hugh bete!" gerutu Widya, sambil tiduran diatas kasurnya.


"Widya, makan dulu!" teriak bunda dari luar kamar.


"Oiya, ampe lupa! Iya bunda!" Widya pun tak kalah teriak, lalu segera keluar menuju ruang makan.


Kostan Irda


"Aku langsung pulang ya, " ucap Sandi di depan kamar Irda.


"Iya, kamu ha...awww!" ucap Irda tiba-tiba merintih sakit, memegang perutnya.


"Kamu kenapa?" tanya Sandi panik.


"Pusing, perut aku sakit banget San!" ucap Irda lemah.


"Yuk, masuk dulu!" ucap Sandi, memapah Irda masuk ke dalam kamarnya.


"Makasih, aku haus San!" ucap Irda, setelah Sandi membantunya untuk tiduran. Sandi pun segera mengambil air minum yang ada di atas nakas dekat kasur Irda.


"Kamu kenapa Da?" tanya Sandi.


"Tadi pagi aku lupa sarapan San, soalnya aku buru buru. Terus sekarang juga belum makan siang. Kayaknya magh aku kambuh deh." ucap Irda, kembali merintih. "Kamu, jangan dulu pulang ya. Temenin aku disini, perut aku sakit banget San! Aku juga lemes banget." ucapnya lagi sambil kembali menekan-nekan perutnya.


"Iya, aku temenin. Yaudah, sekarang aku beli dulu makan ya buat kamu, biar bisa makan obat." seru Sandi, berlalu keluar.

__ADS_1


"Maaf, San cuman dengan cara ini biar aku bisa lama-lama sama kamu!" gumam Irda tersenyum sinis, saat Sandi melangkah pergi keluar kamar Irda.


terus dukung yaa cerita nyaa dengan like dan komen...


__ADS_2