Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
23


__ADS_3

Widya dan yang lainnya sudah memesan makanan mereka masing-masing. Dan tak lama pesanan mereka pun tiba di meja mereka. Awalnya mereka berempat makan dengan tenang tanpa ada yang bersuara. Namun, akhirnya Irda pun yang berbicara terlebih dulu.


"Sayang, udah ini anterin aku ke rumah Om aku ya. Soalnya kemarin katanya Om ku itu, baru pindah rumah. Udah lama juga aku gak ketemu sama Om dan keluarganya."ujar Irda pada Sandi sambil menggenggam tangan Sandi.


"Iya."Jawab Sandi singkat, sambil melepaskan genggaman Irda.


"Kalo kalian mau kemana lagi nih?"tanya Irda menatap Widya dan Fajar bergantian.


"Aku sih gimana Widya aja."Jawab Fajar yang kembali fokus pada makanannya.


"Kayaknya kita mah langsung pulang aja. Udah beres juga belanjanya."ucap Widya tersenyum. Meski dalam hati tak suka.


"Ouh, atau kalian mau ikut kita aja?Sekalian aku kenalin sama Om dan tante aku, kalo aku disini punya banyak temen."ajak Irda semangat.


"Emm, gimana ya?Bukannya gak mau sih, tapi aku udah capek banget nih. Gak apa-apa ya?"ucap Widya lembut.


"Oh gitu, yaudah gak apa-apa kok. Lain kali aja, aku kenalin kalian."Ucap Irda tersenyum.


Mereka pun segera menghabiskan makanan mereka. Setelah itu mereka pun berlalu untuk segera pulang ke tempat tujuan mereka. Namun tak disangka dari mulai keluar dari parkiran, motor Sandi juga motor Fajar terus berlaju beriringan. Mereka sama-sama melewati jalan yang sama.


"Jar, kok mereka ngikutin kita terus ya?Dari tadi perasaan mereka di belakang kita terus."tanya Widya, yang dibonceng Fajar.


"Mungkin arah mereka emang sama kali Wid, jangan Ge Er deh!" ucap Fajar terkekeh meledek.


"Ish kamu mah, siapa juga yang Ge Er ih!" ucap Widya sebal. Namun terus melihat ke belakang lewat spion, dimana ada Sandi juga Irda yang mengikuti mereka.


"Sayang, mereka searah ya sama kita?"tanya Irda.


"Iya, ini jalan menuju rumah Widya."Sandi pun kembali fokus mengendarai sepeda motornya.


"Apa jangan-jangan rumahnya itu tetanggaan lagi sama rumahnya Om Agam?"batin Irda bertanya-tanya.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar 45menit, mereka pun tiba di depan rumah Widya dan juga rumah Om Agam. Iya, Agam tetangga baru Widya adalah Om nya Irda. Adik dari Papa nya Irda.


"Loh, ini rumah kamu Wid?"tanya Irda saat turun dari motor, tepat di depan rumah Pak Agam juga Ibu Resni.


"Iya, ini rumah aku Da. Terus rumah Om kamu itu yang mana?"tanya Widya yang sudah melepaskan helmnya.


"Ini rumah Om aku Wid, Om Agam sama Tante Resni. Jadi, kalian tetanggan dong ya!Asik nih bisa sering maen kesini, sekalian main juga ke rumah kamu Wid!"Ucap Irda dengan senyuman yang lebar.

__ADS_1


"Oh, iya."jawab Widya pelan. "Ish, kalo kamu sering kesini mah males aku. Apalagi kalo bareng Sandi ah!"gumam Widya dalam hati, sebal. "Yaudah aku masuk duluan ya, Yuk Jar!San, aku masuk ya!"pamit Widya lalu segera masuk ke dalam rumahnya.


"Yuk sayang kita juga masuk, tadi aku udah kasih tau tante Resni, kalo kita bakalan dateng!"ajak Irda, menarik tangan Sandi yang belum turun dari motornya.


"Irda, kamu gak liat aku kan belum turun ?"ucap Sandi ketus.


"Eh iya lupa aku!Maaf ya. Yaudah yuk, bawa sekalian aja ke dalem motornya!"Irda pun segera membuka pagar berwarna putih itu, disusul Sandi yang mendorong sepeda motornya masuk ke dalam halaman rumah Ibu Resni.


Widya dan Fajar masih duduk di kursi yang ada di teras depan rumah Widya. Katanya sih, Widya gerah nyatanya dia hanya ingin melihat Sandi juga Irda. Entahlah, mungkin Widya merasa sangat cemburu saat ini.


"Wid, kamu gak apa-apa?"tanya Fajar, melihat Widya yang terus menatap ke rumah Ibu Resni.


"Eh, apa Jar?"ucap Widya kaget.


"Kamu gak apa-apa?"tanya Fajar kembali.


"Enggak, aku gak apa-apa kok. Oya, mau aku ambilin minum?"tanya Widya mengalihkan.


"Enggak, makasih Wid. Aku mau langsung pulang aja. Udah capek juga sih."jelas Fajar tersenyum.


"Ouh yaudah yuk, aku anter ke Bunda."Widya dan Fajar pun masuk ke dalam untuk berpamitan pada Bunda.


"Wa'alaikumussalam!"Ibu Resni pun membukakan pintu. "Irda?!Yaampun sayang, kamu udah tinggi aja sih?!"seru Ibu Resni memeluk Irda.


"Ish tante, ya masa aku pendek terus sih!"ucap Irda dengan nada manjanya.


"Iya, tante becanda sayang. Eh sama siapa ini?" tanya Ibu Resni yang menatap Sandi tersenyum.


"Ini Sandi tan, pa.."ucapan Irda terpotong.


"Woyyy pendekk!!"teriak Deni dari dalam rumah.


"Bang Deniiii!!!" teriak Irda langsung menubruk Deni memeluknya erat. "Aku tuh udah gak pendek tau ih!!"ucap Irda kesal melepaskan pelukannya.


"Hehe, masa sih?Lah ini apa?Kamu tuh masih pendek woy!!"ucap Deni sembari mengacak-acak rambut Irda yang tepat berada di depan dadanya.


"Ini mah, kamunya aja yang ketinggian!"elak Irda manyun. Seketika dia ingat pada Sandi, dan langsung menarik tangan Sandi untuk masuk.


"Wiih siapa nih?"tanya Deni menatap Sandi.

__ADS_1


"Ini Sandi, San kenalin sepupu aku Deni!"ujar Irda mengenalkan Sandi pada Deni.


"Sandi"


"Deni."mereka pun saling berjabat tangan dan tersenyum satu sama lain.


"Oya, Doni mana?"tanya Irda.


"Ada di kamarnya. Kamu udah makan sayang?"tanya Ibu Resni yang datang dari dapur membawa minuman dan beberapa cemilan.


"Udah kok tan, tadi sebelum kesini kita makan dulu."Irda dan yang lainnya pun duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Mari silakan diminum nak Sandi!"ucap Ibu Resni tersenyum ramah.


"Makasih tan."Sandi pun membalas senyumannya.


"Oya tan, kebetulan nih temennya Sandi tetanggaan loh sama tante."Jelas Irda.


"Oyah, dimana?Tante juga belum kenal semua sama tetangga disini, belum sempet keliling soalnya."


"Itu tan, rumahnya tepat di depan rumah tante. Namanya Widya."


"Oyah, berarti rumah nya jeng Novie dong ya. Kalo sama mereka tante udah kenal, kemarin mereka dateng kesini. Malah sampe bawain tante bolu, mereka baik banget."jelas Ibu Resni tersenyum.


"Oyah?Jadi, bolu yang kemarin itu dari tetangga depan Bu?"tanya Deni.


"Iya, enak kan bolu nya?Kapan-kapan Ibu juga mau mampir kesana. Eh Iya, gimana sekolah kamu Da?"tanya Ibu Resni.


"Baik, kok tan. Besok lusa udah mulai masuk lagi"


"Syukurlah, kata Papa kamu sekarang nge kost ya?"


"Iya tan, biar mandiri. hehe"


"Kenapa gak tinggal disini aja sama tante?Daripada ngekost, tante khawatir."


"Kalo Irda tinggal disini, aku bakalan susah dong ketemu sama Widya. Jangan sampe deh, Irda setuju!"batin Sandi berharap.


ayo dong kasii dukungannya yang udah baca... jangan lupa ya, like komen dan vote

__ADS_1


makasii teman temannn


__ADS_2