
Setelah hari itu, Widya akhirnya benar-benar memilih jurusan sastra sesuai keinginannya. Meski tak satu jurusan dengan Sandi, tapi Widya dan Sandi tetap masih bisa bersama-sama. Dan hari ini adalah hari pertama Widya menjadi seorang mahasiswi. Sandi menjemput Widya seperti biasanya, dan hubungan mereka pun masih sebatas sahabat. Karna di antara mereka belum ada yang mau mengungkapkan perasaan masing-masing.
"San, aku denger Fajar sama Irda juga lolos masuk Mahardika ya?"tanya Widya, kini dia sedang berada satu mobil dengan Sandi. Ya, Papa Sandi membelikan sebuah mobil untuk Sandi sebagai hadiah karna mendapatkan nilai tertinggi saat kelulusan kemarin.
"Ya katanya sih gitu, tapi aku gak tau mereka ambil jurusan apa."jawab Sandi tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.
"Kamu masih marah sama Irda?"tanya Widya hati-hati.
"Udah gak usah bahas yang gak penting. Nanti kamu beres jam berapa?"Sandi masih tak suka bila mendengar nama Irda disebut.
"Sekitar jam 2 an deh kayaknya,"
"Heumm, sama kalo gitu. Nanti siapa yang beres duluan tunggu di parkiran ya!"ucap Sandi, bertepatan dengan sampainya mereka di kampus.
"Iya jelek. Yuk turun!"Sandi dan Widya pun turun dari mobil. Mereka berjalan saling bergandengan tangan. Meski merasa kaget, karna tak biasanya Sandi menggandeng tangannya. Namun, hal itu membuat Widya merasa nyaman.
Sandi sengaja mengantar Widya terlebih dulu menuju kelasnya. Beralasan menjaganya dari mata-mata para buaya darat yang sedang mencari mangsa. Possesif dasar.
"Udah sampe sini aja ih, mending sekarang kamu ke kelas kamu sana. Nanti telat lagi,"ucap Widya saat mereka tiba di depan kelas Widya.
Sandi pun melepas genggaman tangannya, dan tersenyum manis pada Widya. "Yaudah aku ke kelas ya. Kamu yang semangat belajarnya!"
"Iya, kamu juga ya!"Widya pun masuk ke dalam kelas setelah Sandi berbalik menuju kelasnya.
Di lain tempat, Irda yang masuk fakultas ekonomi dan memilih jurusan managemen baru saja tiba di kampus Mahardika. Irda yang masih berharap dapat kembali bersama Sandi, bertekad untuk kembali mendekati Sandi. Dan Irda pun memang sengaja masuk fakultas yang sama dengan Sandi, agar dirinya bisa sering bersama-sama dengannya.
Irda baru saja turun dari mobilnya, dengan memakai sepatu heels dari salah satu merek yang cukup terkenal di Indonesia. Sepatu yang memiliki kesan mewah dan elegan karna menggunakan bahan kulit berkualitas premium. Irda juga memakai pakaian yang membuatnya terlihat sangat anggun, dengan dres polos di atas lutut yang dipadukan dengan menggunakan jaket denim biru laut. Semakin membuatnya terlihat cantik.
__ADS_1
Banyak para mahasiswa baru juga para senior yang memperhatikan dirinya dengan tatapan kagum dan terpesona. Namun, seolah tak memperdulikan tatapan mereka yang terus mengikutinya, Irda terus melangkahkan kakinya menuju kelas. Tujuannya hanya ingin cepat-cepat bertemu dengan Sandi. Namun, saat di lorong menuju kelas seseorang tiba-tiba menghadang langkah Irda.
"Hai cantik! Mau kemana sih, buru-buru banget kayaknya?"tanya seorang pemuda yang tiba-tiba datang dan berdiri di hadapan Irda.
Irda memutar matanya malas. Merasa jengah karna harus bertemu dengan dirinya, di saat yang tak tepat.
"Ngapain sih, aku tuh emang buru-buru tau!"ucap Irda ketus.
"Nyantai dong, kita kan baru ketemu lagi Da."
"Ya tapi Rick, sekarang aku emang buru-buru. Aku ada kelas sekarang, nanti keburu dosen masuk lagi ah!"pemuda yang ada di hadapan Irda adalah Erick.
"Oke, oke. Tapi, nanti aku tunggu kamu di kantin ya!"
"Iya iya, udah ah aku harus ke kelas. Bye!"Irda pun segera pergi menuju kelas tanpa menghiraukan lagi Erick yang masih menatapnya.
"Aku gak akan pernah nyerah Da, Kamu pasti bisa aku dapetin sekarang!"gumam Erick pelan, dengan senyuman menyeringai di bibirnya.
Di kelas, Irda mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Sandi. Dan begitu dirinya menemukan sosok yang selama ini menjadi pemilik hatinya, dia langsung mendekati pemuda itu berada. Dengan tanpa rasa malu, Irda langsung duduk di kursi sebelahnya yang kosong. Selain itu Irda juga langsung menggeser kursinya agar lebih dekat dengan kursi milik Sandi.
"Hai, San!"sapa Irda dengan suara yang lebih lembut, namun tak membuat Sandi menatap ke arahnya.
Sandi asik dengan ponselnya, tanpa menghiraukan keberadaan Irda di sampingnya.
"San, kok lo masih cuekkin aku aja sih? Aku kan udah minta maaf sama kamu,"ujar Irda dengan sendu.
Sandi menghela nafasnya kasar, menatap tajam ke arahnya. "Aku udah maafin kamu. Tapi, anggap kita gak pernah punya hubungan apa-apa."
__ADS_1
"Tapi, San..."ucapan Irda tertahan karna kedatangan dosen di kelas mereka. Dengan terpaksa, Irda kembali menggeser kursinya sedikit menjauh dari kursi milik Sandi.
Meski merasa jengah dengan sikap Irda yang terus saja mencari-cari kesempatan untuk dekat dengannya, Sandi tetap bertahan menahan emosinya. Karna dirinya yang berada di dalam kelas, tak mungkin membuat kegaduhan, walau begitu dia tetap bersikap dingin pada Irda.
Hingga kelas pun berakhir, dengan gerakan cepat Sandi segera membereskan barang-barangnya dan bergegas keluar dari kelasnya. Irda hendak menyusul Sandi, namun langkahnya terhenti saat Erick mencekal lengannya.
"Ish, ngapain sih Rick?Seneng banget tiba-tiba datang gini!"Irda menepis tangan Erick dari lengannya.
"Kan tadi aku udah bilang mau ngajakin kamu ke kantin, yuk!"tanpa mau mendengar jawaban dari Irda, Erick menarik kembali tangan Irda dan menggenggamnya dengan erat. Berulang kali Irda mencoba untuk melepasnya, tapi tenaganya yang memang lebih lemah pun tak bisa melepaskan genggaman Erick.
Dengan pasrah akhirnya Irda mengikuti Erick dengan tangan yang saling berpegangan. Sedangkan Sandi yang masih ada waktu sebelum masuk kelas berikutnya, memilih untuk pergi ke perpustakaan. Karna Widya pun masih ada kelas. Daripada harus diikuti terus oleh Irda, dia lebih memilih belajar di perpustakaan.
Rumah Widya
"Tan, Kenny berangkat dulu ya!"pamit Kenny pada Bunda Novie.
"Kamu pergi naik apa sayang? Apa mau diantar sopir?"tanya bunda Novie lembut.
"Kenny pesen ojeg online aja Tan, biar cepet hafal jalan juga."jawab Kenny tersenyum.
"Loh kenapa, kebetulan tante gak akan kemana-mana kok. Jadi pak Toni juga gak akan kemana-mana."
"Gak apa-apa Tan, beneran. Aku udah pesen kok ojeg nya, paling bentar lagi juga nyampe."
"Heum yasudah. Kamu hati-hati ya! Dan semangat kuliahnya, cari teman yang banyak juga ya sayang."bunda Novie mengelus rambut panjang milik Kenny.
"Iya, Tan. Yauda aku tunggu di depan aja ya. Assalamu'alaikum Tan,"Kenny pun pergi menuju halaman untuk menunggu ojeg online yang sudah dirinya pesan.
__ADS_1
~terima kasih sudah membaca ^
~Maafkan bila masih ada typo •