Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
57


__ADS_3

Kenny tengah berdiri di depan pagar sembari terus menatap ke layar ponselnya. Karna sejak tadi, dia mencoba untuk memesan ojeg online selalu gagal. Bahkan yang sudah on the way pun tiba-tiba membatalkan orderan. Kenny sudah sangat kesal, karna setengah jam lagi kelasnya akan segera dimulai. Tepat saat Kenny menyerah dan hendak menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas nya, saat itu juga Deni keluar dari rumahnya.


Penampilan Deni sudah rapi, menggunakan kaos polos berwarna hitam dipadukan dengan kemeja polos berwarna navy yang sengaja tak dikancing. Juga memakai celana jeans hitam dan sepatu converse berwarna senada dengan celananya. Tanpa sadar, Kenny terus menatap ke arahnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Hingga akhirnya Deni pun menyadari bahwa Kenny sedang menatapnya. Deni hanya meliriknya sekilas tanpa mau menyapa Kenny.


Meski Kenny sudah menjelaskan alasan mengapa dulu dia pergi, tapi Deni masih belum bisa sepenuhnya memaafkan Kenny.


Flashback on


"Jadi, apa yang mau kamu jelaskan sama aku?"tanya Deni, setelah terdiam beberapa saat.


Sebelum menceritakan semuanya Kenny pun menarik napasnya dalam dan menghembuskannya secara pelan. Kenny menatap Deni yang masih belum mau membalas menatapnya.


"Jadi, waktu itu aku terpaksa harus cepet-cepet pergi ke Singapure. Karna Papa aku terkena serangan jantung. Dan sewaktu aku sampe di sana, hp aku ilang. Aku gak sempet buat hubungin kamu, karna aku keburu panik sama kondisi Papa."Kenny menjeda ucapannya, karna ingin melihat bagaimana reaksi Deni. Namun, Deni masih tetap tak ingin menatap ke arahnya.


"Setelah Papa kembali sehat, aku coba hubungin kamu. Tapi, ternyata kontak kamu gak bisa dihubungi. Dan seperti yang kamu tau, aku gak pernah menyimpan kontak lain selain punya kamu. Jadi, aku gak bisa hubungi Akbar, Fahmi ataupun Ilham. Den, aku benar-benar minta maaf karna tiba-tiba pergi tanpa ada kabar."ujar Kenny mengakhiri ceritanya.


flashback of


Melihat Deni hendak pergi, Kenny lantas segera memanggilnya dan menghampirinya.


"Deni, tunggu!"panggil Kenny seraya berlari kecil menghampiri Deni.


Awalnya Deni tak ingin menghiraukan Kenny, namun dia kembali mengingat cerita Kenny kemarin. Akhirnya Deni pun menghentikan langkahnya dan menunggu Kenny menghampirinya.


"Den, kamu mau ke kampus?"tanya Kenny saat telah berdiri di hadapan Deni.


"Hm."jawab Deni singkat.


"Naik apa? Kok, gak pake motor?"tanya Kenny bingung.


"Naik bus."jawab Deni sembari melangkahkan kembali kakinya. Mau tak mau, Kenny pun mengikutinya.


"Oyah? Aku boleh ikut bareng kan? Daritadi aku coba order ojol tapi gak dapet-dapet."

__ADS_1


"Terserah."Kenny pun tersenyum, meski Deni masih bersikap dingin padanya. Tapi, setidaknya Deni tak menghindarinya.


Dulu, Kenny memang sedikit introvert. Hanya dengan Deni, dirinya bisa bersikap ceria juga kadang cerewet. Tetapi sekarang, setelah bertahun-tahun tinggal di Singapure Kenny berusaha untuk membuka dirinya dengan tak lagi bersikap introvert.


Di kampus Mahardika, Widya yang baru saja selesai dengan mata kuliahnya segera keluar dari kelas. Dan baru saja dia sampai di depan pintu, Sandi sudah datang menghampirinya.


"Widya!"teriak Sandi yang baru saja datang.


Widya merasa senang saat mendengar Sandi memanggilnya, apalagi Sandi mau menghampirinya di kelasnya. Perhatiannya semakin besar dia berikan untuknya.


"Kamu udah selesai kelas San?"tanya Widya saat Sandi sudah berada di depannya.


"Udah, hari ini emang cuman ada 2 kelas aja sih. Kamu masih ada kelas atau udah selesai?"


"Aku juga udah selesai kok. Yaudah, yuk pulang!"Widya menarik tangan Sandi agar segera pergi dari depan kelasnya.


Namun, baru saja beberapa langkah harus terhenti karna panggilan dari Irda.


"Sandi, tunggu!"teriak Irda seraya berlari kecil menyusul Sandi dan Widya.


"Sandi, kenapa malah ninggalin sih? Tadi kan aku bilang, aku pengen pulang bareng kamu!"rengek Irda tanpa menghiraukan keberadaan Widya.


Sandi menatap Irda dengan tajam dan langsung menggenggam tangan Widya dengan erat. "Kamu gak liat aku sama siapa? Lagian siapa juga yang mau pulang bareng Kamu?"sarkas Sandi seraya mengangkat tangannya yang sedang menggenggam tangan Widya.


"Eh, hai Wid! Sorry aku tadi gak liat kamu."ucap Irda sok lembut.


"Iya gak apa-apa."jawab Widya datar.


Sandi semakin menatap tajam pada Irda mendengar ucapan Irda yang sama sekali tak menganggap keberadaan Widya. Baru saja, Sandi memutar tubuhnya dan mengajak Widya pergi, namun lagi-lagi Irda kembali menahan mereka.


"San, ayo dong mobil aku mogok. Aku ikut bareng kalian ya? Gak apa-apa kan Wid?"Irda menatap Widya dengan wajah memelas.


Widya pun merasa tak tega dengannya, Widya menatap Sandi mengisyaratkan bahwa dia tak keberatan bila Irda ikut pulang bersama. Dengan terpaksa Sandi pun akhirnya mau mengajak Irda pulang bersama. Mereka pun pergi bersama-sama menuju ke parkiran.

__ADS_1


Saat tiba di depan mobil, Widya yang hendak membuka pintu depan samping kemudi tiba-tiba saja Irda mendahului membukanya dan langsung masuk ke dalam. Sandi yang melihatnya, ingin meminta Irda untuk duduk di belakang namun Widya mencegahnya. Widya lebih memilih untuk mengalah duduk di belakang, daripada harus membuat keributan.


"San, anterin aku ke rumah tante aku ya! Itu loh, rumahnya yang di depan rumah Widya."ucap Irda saat Sandi dan Widya sudah masuk ke dalam mobil. Irda juga sengaja meminta Sandi untuk mengantarnya ke rumah Ibu Resni karna ingin lebih lama bersama Sandi.


"Hm."jawab Sandi singkat, karna sudah sangat malas menghadapi Irda yang semakin menyebalkan.


Sementara di sebuah kafe, tempat Sabitha bekerja. Terjadi kekacauan, yang melibatkan Sabitha. Sabitha baru saja menumpahkan makanan dan minuman yang dia bawa dan mengenai pelanggan yang baru saja datang. Sebenarnya pelanggan itu yang sudah menabrak Sabitha, hingga dirinya menjatuhkan nampan yang dirinya bawa. Tapi, pelanggan itu tak mau mengakui kesalahannya dan melimpahkannya pada Sabitha.


"Heh, Lo bisa kerja gak sih? Liat nih baju mahal gue jadi rusak gara-gara Lo!"teriak pelanggan itu pada Sabitha.


"Maaf nona, saya gak sengaja."ucap Sabitha yang masih terduduk di lantai.


"Gak sengaja Lo bilang? Heh, kalo Lo gak bisa kerja ya gak usah kerja! Emangnya Lo bisa ganti baju gue hah? Dengan gaji lo aja gak akan bisa ganti ni baju tau gak?!"hardik pelanggan itu dengan cukup keras.


"Maaf Nona, ada apa ini?"tanya manager kafe menghampiri mereka.


"Karyawan Anda sudah merusak pakaian gue. Pokoknya gue minta ganti rugi!"


"Baik Nona, semua kerugian pasti kami ganti. Maafkan kami karna kecerobohan pelayan kami."ucap Manager kafe itu menundukkan kepalanya.


"Oke, dan satu lagi. Gue harap dia dipecat sekarang juga! Anda gak mau kan kehilangan pelanggan hanya gara-gara pelayan yang gak becus kayak dia!"


"Baik Nona. Mari saya antar ke kamar mandi dan karyawan saya yang lain akan membawakan pakaian ganti untuk Nona."manager kafe itu menunjukkan jalan pada pelanggannya menuju kamar mandi khusus.


Sedangkan Sabitha langsung membersihkan piring juga gelas yang pecah, sembari menahan tangisnya. Karna tak hati-hati, jari telunjuknya terkena pecahan gelas hingga mengeluarkan darah. Namun, dirinya tahan karna hatinya lebih sakit dibanding luka di tangannya.


Setelah selesai, Sabitha pun menunggu manager di ruangan karyawan. Perasaannya kacau, dia takut akan kehilangan pekerjaannya. Dia bingung harus mencari pekerjaan di mana lagi, bila dia dipecat dari sana. Sabitha duduk dengan cemas, dia pun mengabaikan luka di jari telunjukknya. Sampai akhirnya manager pun datang menghampirinya dengan membawa sebuah amplop.


"Sabitha. Kamu tahu kan kesalahan kamu, dan kamu sendiri tadi mendengar apa yang diinginkan nona muda tadi. Karna dia adalah salah satu pelanggan tetap Kafe kita, juga anak salah satu owner kafe ini jadi dengan terpaksa hari ini adalah hari terakhir kamu bekerja di sini. Dan ini bayaran kamu."manager itu langsung memberikan amplop itu pada Sabitha, dan pergi meninggalkan Sabitha.


Tangis Sabitha pun pecah, dirinya tak menyangka akan kehilangan pekerjaan yang baru saja dia dapat. Sabitha pun segera ke kamar mandi untuk mengganti seragamnya. Dirinya tak tahu harus kemana lagi mencari pekerjaan. Karna dengan hanya menggunakan ijazah SMA sudah pasti akan sulit mendapatkan pekerjaan.


~Marhaban ya Ramadhan mohon maaf lahir dan batin semuanya. Semoga puasanya lancar ya, meski masih dalam kondisi seperti ini...

__ADS_1


~Semoga semuanya dalam keadaan sehat...


like nya yaa jangan lupa


__ADS_2