Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
61


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Sabitha segera membereskan piring dan langsung mencucinya. Sedangkan Fajar, dia langsung duduk di sofa ruang tv. Hari ini, Fajar memang berangkat siang ke kampus. Fajar yang melihat Sabitha sudah beres mencuci piring, dengan lantang segera memanggilnya agar dia ikut duduk di sana bersama Fajar.


"Kamu duduk dulu deh sini, aku mau ngasih tau tugas-tugas kamu selama kerja di sini."ucap Fajar seraya menunjuk dengan ekor matanya ke arah sofa single yang berada di samping Fajar.


Sabitha pun langsung duduk tanpa berkata apapun, hanya menatap Fajar dengan serius. Soal pekerjaan, Sabitha memang selalu serius karna dia benar-benar ingin membantu kedua orangtuanya. Tak ada waktu baginya untuk main-main sekarang.


"Ini semua tugas kamu. Kalo semisalnya ada yang membuat kamu keberatan, bilang aja sekarang."Fajar memberikan selembar kertas berisikan tulisan beberapa tugas Sabitha selama dia bekerja di sana.


Sabitha membacanya dengan cermat, tak ada yang terlewat satu pun. Hingga dia mengeryitkan kedua alisnya saat membaca tugas terakhir yang harus dia kerjakan. Fajar memintanya untuk menjadi pasangannya bila sewaktu-waktu ada acara yang mengharuskan dirinya membawa pasangan.


"Ini maksudnya apa sih, kenapa aku harus jadi pasangan kamu?"tanya Sabitha jelas menunjukkan kebingungannya.


"Ya, seperti yang tertulis di sana. Kamu harus mau jadi pasangan aku, kalo nanti aku ada acara. Entah itu pesta atau saat aku kumpul sama temen-temenku. Tenang aja, untuk tugas itu aku langsung kasih bonus sama kamu. Dan itu juga gak akan sering kamu lakuin kok."jelas Fajar panjang lebar.


Sabitha masih menatap Fajar dengan tatapan yang sulit diartikan. Yang pasti dia tak pernah membayangkan Fajar akan memberikan tugas seperti itu padanya. Baginya itu hanyalah tugas konyol.


"Kalo aku gak mau gimana?"tanya Sabitha lantang.


*


*


*


Di kampus, Widya baru saja masuk ke dalam kelasnya. Widya masih belum mendapatkan teman yang dekat dengannya. Teman-teman sekelasnya hanya sebatas kenal saja. Dan Widya sendiripun memang tak berniat untuk mencari teman dekat. Yang penting baginya dapat belajar dengan fokus agar semua keinginannya juga keinginan sang ayah dapat tercapai.


Widya duduk di kursi ketiga barisan tengah, karna dosen yang mengisi kelasnya belum datang dia pun membuka ponselnya. Sekedar melihat beberapa postingan di media sosial. Hingga ada pergerakan dari kursi depannya yang agak kasar membuat kursi yang diduduki Widya sedikit terdorong. Widya pun mendongak untuk melihat siapa yang sudah membuatnya merasa terkejut.

__ADS_1


Dan di depannya kini tengah duduk seorang pria yang berpenampilan cukup urakan. Rambutnya yang agak panjang, juga terlihat telinga sebelah kirinya dipasang tindik. Pria itu memakai hoodie hitam. Melihatnya saja, Widya sudah kesal karna dia duduk dengan sangat tidak lembut. Tapi, dia pun malas untuk menegurnya, maka Widya pun kembali menatap layar ponselnya.


Akhirnya selama kurang lebih 2 jam mendapatkan materi pembelajaran dari dosen, kini waktunya Widya untuk keluar dari kelas. Sebenarnya masih ada satu kelas lagi, hanya masih ada waktu 1 jam lagi. Jadi, Widya putuskan untuk pergi ke perpustakaan karna Sandi yang masih ada kelas belum bisa menemaninya.


"Widya!"panggil seseorang dari arah belakang, membuat Widya menghentikan langkahnya dan menengok ke arah suara yang memanggilnya.


"Eh, kak Kenny."balasnya tersenyum setelah melihat siapa yang memanggilnya.


"Mau kemana?"tanya Kenny saat sudah berada di hadapan Widya.


"Mau ke perpus Kak, kakak baru dateng?"


"Iya, setengah jam lagi masuk kelas. Yuk bareng."ucap Kenny sembari merangkul lengan Widya mengajak untuk ke perpus bersama.


"Kakak tadi sama kak Deni lagi?"tanya Widya saat mereka tiba di perpus dan duduk di kursi yang berada paling pojok.


Bruk


Buku yang baru saja Widya ambil dari rak terjatuh, karna saat membalikkan badannya tak sengaja dirinya menabrak seseorang yang entah sejak kapan berdiri di belakang Widya dengan posisi yang membelakangi Widya.


"Maaf, maaf! Aku kira gak ada orang,"ucap Widya seraya berjongkok untuk mengambil bukunya yang terjatuh tanpa melihat siapa yang dirinya tabrak.


Dilihat dari bawah, orang yang dirinya tabrak membalikkan badan namun tetap berdiri. Widya terus memperhatikan dari ujung sepatu orang itu hingga akhirnya dia berdiri dan berhadapan dengan orang itu yang ternyata adalah lelaki yang tadi duduk di depan bangkunya saat di kelas.


Widya agak terkejut, namun sebisa mungkin dirinya tak menunjukkan pada lelaki itu. Sebisa mungkin, dia harus bersikap tenang meski sebenarnya dirinya sangatlah gugup dan sedikit takut. Karna melihat penampilan lelaki itu yang seperti lelaki urakan yang galak mungkin.


"Maaf ya, tadi aku gak tau kalo ada orang di belakangku."ucap Widya sekali lagi.

__ADS_1


Namun, bukannya memberi jawaban lelaki itu malah langsung pergi dari hadapan Widya.


"Lah? Ish dasar!"rutuk Widya saat lelaki itu sudah menjauh darinya. Widya pun kembali ke kursinya dengan perasaan dongkol.


Sementara di kelas, Sandi tengah serius mendengarkan dosen yang sedang memberikan materi. Meski di sebelahnya, Irda terus saja mencoba untuk mengganggunya. Sandi tetap tak menghiraukannya menganggap tak ada Irda di sebelahnya. Hingga akhirnya pembelajaran pun selesai. Sebelum Sandi keluar dari kelas, Irda terlebih dulu menghalangi Sandi.


"San, tunggu dulu dong. Kenapa buru-buru sih?"ucap Irda mencekal lengan Sandi saat akan beranjak dari kursinya.


"Lepasin! Aku emang buru-buru, ngapain sih ngalangin tau gak?"sentak Sandi menepis tangan Irda kasar.


"San, aku mohon kamu jangan jutek terus dong ama aku. Aku kan udah minta maaf."Irda memasang wajah sendu berharap Sandi akan luluh.


"Dan aku juga udah bilang kan, kalo aku udah maafin kamu. Udah sana!"Sandi menggeser tubuh Irda agar dirinya dapat lewat. Namun, lagi-lagi Irda menarik tangan Sandi.


"San, kalo kamu udah maafin aku. Bisa kan kita kayak dulu lagi? Maksud aku, kamu jangan jauhin aku! Please, kamu mau kan kita kayak dulu lagi?"Irda mengatupkan kedua tangan di dadanya menatap wajah Sandi dengan sendu. Sebisa mungkin membuat Sandi mau benar-benar memaafkan dirinya.


Sandi menghela napas pasrah, menatap ke arah Irda dengan tatapan yang sulit di artikan. Sandi sebenarnya merasa jengah dengan sikap Irda yang selalu saja mengikutinya. Tapi, karna Widya pernah mengatakan padanya untuk memaafkan Irda agar dirinya merasa tenang. Mungkin memang benar adanya, dirinya akan mendapat ketenangan setelah memaafkan Irda.


"Oke, kali ini aku bener-bener maafin kamu Da. Dan kita bisa mulai dari awal lagi untuk berteman. Hanya teman. Karna dari awal kamu pun udah tau kan perasaan aku gimana sama kamu."ujar Sandi pada akhirnya.


"Seriusan San, kamu beneran maafin aku? Iya San, aku tau dengan kamu mau jadi temen aku aja, udah bikin aku seneng. Tapi, kamu juga harus tau San kalo perasaan aku juga tetap sama."ujar Irda tersenyum manis.


"Ya, aku harap kamu juga benar-benar tulus Da. Kalo kamu mau berteman denganku, kamu juga harus mau berteman dengan Widya. Jangan pernah libatkan perasaan kamu, dengan pertemanan kita."


"Iya San kamu tenang aja, meskipun aku masih sayang banget sama kamu tapi, aku gak akan maksa kamu untuk balas perasaan aku. Aku seneng bisa temenan sama kamu lagi. Juga dengan Widya."


"Oke. Kalo gitu aku pergi sekarang, aku harua nemuin Widya."Sandi pun segera pergi dari kelas.

__ADS_1


"Gak apa-apa sekarang kita temenan. Tapi, nanti kita pasti pacaean lagi."gumam Irda tersenyum smirk.


__ADS_2