Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
46


__ADS_3

Malam ini, Irda telah menyiapkan tempat untuk acara perpisahan kelas mereka. Hampir semua teman sekelasnya datang. Termasuk Widya, Sandi juga Fajar. Sebenarnya Irda ingin dalam acara ini, dirinya bisa dekat kembali dengan Sandi. Namun, ucapan Erick tempo hari membuatnya selalu terngiang di telinganya.


flashback on


Erick dan Irda kini sedang berada di sebuah kafe. Sepulang sekolah tadi, Erick mengajaknya ke kafe terlebih dulu.


"Da, kamu lanjut kemana?"tanya Erick yang duduk di depan Irda.


"Kayaknya sih ke kampus Mahardika. Kalo kamu?"


"Aku, belum tau sih. Pengennya sih, sama kayak kamu. Biar aku bisa terus deket sama kamu."jawabnya tersenyum manis.


deg!


"Eh, kenapa nih?Liat dia senyum gitu, tiba-tiba jantungku berdebar gini sih?!"gumam Irda dalam hati menatap Erick.


"Gak apapa kan Da, kalo aku pengen deket lagi sama kamu?"tanya Erick serius.


"Maksud kamu pengen deket sama aku gimana?"tanya Irda sedikit gugup.


"Ya, aku pengen deket sama kamu Da. Jujur, setelah kamu pindah sekolah, aku ngerasa kehilangan banget. Dan sekarang, aku gak mau kehilangan kamu lagi. Aku sayang sama kamu Da!"ujar Erick tulus.


Irda hanya bisa terdiam, mendengar ucapan Erick. Namun, tidak dengan jantungnya yang kini malah semakin berdebar dengan cepat. Ada perasaan yang berbeda saat Erick mengucapkan kata sayang padanya. Dan itu membuat dirinya senang.


"Aku gak minta balasan dari kamu sekarang Da. Aku cuman pengen kamu tau perasaanku aja. Aku juga udah tau sih, kalo kamu sama cowok kamu itu udah putus. Dan aku harap kamu gak jauhin aku lagi."


flashback of


"Da, kamu hebat bisa nyewa ni kafe. Yang aku tau kan ni kafe mahal banget!"ujar Desi salah satu teman sekelasnya.


"Biasa aja kali, kebetulan aja aku kenal sama pemilik kafenya."jawabnya cuek.


"Oh pantesan. Yaudah aku kesana dulu ya,"Desi pun meninggalkan Irda yang masih menunggu kedatangan Sandi.


"Pokoknya aku pengen bisa jadian lagi sama Sandi!"gumam Irda dalam hati.


Setelah beberapa menit menunggu kedatangan Sandi, akhirnya dia datang bersama Widya. Irda merasa kesal karna Sandi semakin dekat dengan Widya. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, Irda segera menghampiri Sandi dan Widya. Dengan membawa segelas air sirup di tangan kanannya.


Saat tepat di hadapan Sandi dan Widya, dengan sengaja Irda menjatuhkan dirinya ke depan Widya. Hingga gelas yang dirinya pegang tumpah mengenai gaun yang Widya pakai.

__ADS_1


"Ya ampun!"pekik Irda saat terjatuh, tepat di hadapan Widya yang sigap memeluk tubuh Irda.


"Aduh!"jerit Widya saat air dari gelas Irda tumpah mengenai gaun miliknya.


"Widya, kamu gak apapa?"tanya Sandi khawatir.


"Aduh Wid, aku minta maaf!Aku kesandung tadi,"ucap Irda dengan nada berpura-pura merasa bersalah.


"Aku gak apapa kok, tapi aku harus ke toilet deh. Baju aku basah,"ujar Widya.


"Yaudah aku anterin yuk!"langkah Sandi dan Widya terhenti, saat Irda lagi-lagi mengaduh.


"Awww!"teriak Irda.


"Kenapa Da?"tanya Widya.


"Kaki aku sakit nih, gara-gara kebentur tadi kayaknya."Irda meringia sembari memegang lututnya.


"San, kamu temenin Irda dulu aja ya. Aku gak apapa kok,"


"Tapi, Wid..."


"Makasih ya Wid! Kamu udah perhatian sama aku."


"Iya. Yaudah aku ke toilet bentar ya!"Widya pun segera berlalu ke kamar mandi.


"San, tolongin aku ya. Kita ke dalem yuk, udah ada yang lain kok tenang aja!"ajak Irda dengan wajah memelas.


Dengan terpaksa, Sandi pun memapah Irda masuk ke dalam kafe. Sedangkan Widya, mencoba untuk membersihkan noda sirup yang ada di gaunnya. Setelah selesai dengan gaunnya, Widya masuk ke salah satu bilik kamar mandi yang kosong. Karna dirinya yang tiba-tiba ingin buang air kecil.


Dan saat itu juga ada 2 orang yang masuk ke dalam toilet. 2 orang itu malah membicarakan kedekatan Irda dengan Sandi. Widya yang berada di dalam bilik itu, dengan sangat jelas dapat mendengar ucapan mereka.


"Eh, tadi liat gak?Sandi sama si Irda mesra banget ya?!"ucap salah satu teman sekelas Widya, yang bernama Mely.


"Iya aku liat, mereka tuh cocok banget ya!"balas Lina.


"Tadinya aku kira, Sandi tuh pacaran loh sama Widya. Eh, sekarang malah mesra-mesraan sama si Irda."


"Ya namanya juga cowok cakep, bebaslah mau sama siapa aja. Kalo boleh mah aku juga mau kali sama dia, haha"

__ADS_1


"Uuuh itu sih maunya kamu aja, eh udah yuk ah. Ngapain lama-lama di kamar mandi."mereka pun keluar dari kamar mandi.


Setelah mereka pergi, Widya pun keluar dari bilik. Ada perasaan sakit yang dirinya rasakan, saat mendengar dua orang temannya tadi membicarakan Sandi bersama Irda.


"Gak mungkin lah, Sandi kayak gitu!Aku harus percaya sama Sandi. Kan tadi aku sendiri yang nyuruh Sandi buat tolongin Irda."gumam Widya sembari melihat dirinya di cermin. Mencoba untuk tetap tersenyum.


Setelah merapikan baju dan riasan wajahnya, Widya pun keluar dari kamar mandi. Berniat untuk segera menemui Sandi.


Di lain tempat, Irda yang masih berpura-pura sakit pada kakinya. Terus saja menempel pada Sandi, dirinya dengan sengaja memeluk lengan Sandi. Dengan alasan, agar dirinya bisa berjalan dengan berpegangan pada lengan Sandi. Padahal Sandi sudah menyuruhnya untuk duduk, tetapi Irda malah mengajaknya terus berjalan menghampiri beberapa teman-temannya.


"Da, udah dong katanya kakinya sakit. Kenapa gak duduk aja sih?"bisik Sandi saat Irda terus mengajaknya berjalan.


"Iya bentar, kita kan belum nyapa temen-temen yang lain San. Toh, Widya juga masih di kamar mandi kan. Please ya, temenin aku dulu!"ucapnya memelas.


Sandi hanya bisa menghela nafas, pasrah. Karna tak mungkin dirinya membiarkan Irda berjalan sendiri. Meski perasaannya benar-benar tak tenang, memikirkan Widya.


Setelah berkeliling menghampiri meja teman-temannya, Irda pun akhirnya mengajak Sandi untuk duduk. Tetapi, tetap saja Irda tak melepaskan Sandi begitu saja. Dengan alasan tak ada teman, Irda meminta Sandi untuk menemaninya. Sekalian menunggu Widya datang.


Sampai akhirnya, Irda melihat Widya yang sedang mencari keberadaan Sandi. Irda dengan segera memposisikan dirinya seolah-olah sedang memeluk Sandi. Bertepatan dengan Widya yang sedang melihat ke arah mereka berdua.


"Aww, San!"pekik Irda memegang pundak Sandi, sembari merintih.


"Kenapa?"tanya Sandi yang juga memegang tangan Irda, agak menunduk.


"Sandi..."gumam Widya pelan, menatap Sandi dan Irda.


"Duh, San kaki aku sakit banget nih. Kayaknya terkilir deh."ujar Irda lirih.


"Terus gimana, Kamu mau pulang?"


"Kamu yang anterin tapi ya?Please...!"Irda memasang wajah memelas berharap Sandi mau mengantarnya pulang.


"Aku..."


"Sandi..!"panggil Widya tiba-tiba.


Maaf yaa, baru Up..


kemarin-kemarin terlalu riweuh😅

__ADS_1


__ADS_2