Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
32


__ADS_3

Sandi benar-benar tak habis pikir dengan Irda, dari awal dia telah membohongi dirinya. Pantas saja selama 2 minggu lebih bersama, Sandi tak bisa benar-benar mencintai dirinya. Karna mungkin di hatinya memang sudah ada seseorang yang menempati sejak lama.


Dan kini Sandi sedang berada di rumah Widya, setelah pertemuan terakhirnya beberapa hari yang lalu dengan Irda Sandi mulai sering datang ke rumah Widya. Setiap kali datang ke rumah Widya rasanya membuat dia merasa tenang dan nyaman. Karna selain Widya, Ayah dan Bunda pun selalu menerima Sandi dengan senang.


"San, ada yang mau kamu ceritain gak ke aku?akhir-akhir ini aku liat kamu sering murung, kenapa?"tanya Widya sembari mendudukan dirinya di sebelah Sandi.


"Aku udah putus sama Irda, Wid."jawabnya datar.


"Putus?Kok bisa?"tanya Widya kaget.


"Dia boongin aku Wid, yah intinya aku ngerasa bebas sih sekarang. Meski rasa kesal itu masih ada."ujarnya sembari menegadahkan pandangannya pada langit.


"Heumm..ya apapun yang jadi alasannya, kalo itu yang terbaik buat kamu. Aku selalu dukung kok. Tapi, kamu jangan murung terus dong. Jelek tau liat kamu cemberut gitu."ujar Widya menoel-noel pipi Sandi, sembari tersenyum jail.


"Ish apaan sih?!"Sandi mencekal tangan Widya yang terus saja menoel pipinya. Sejenak tatapan mereka saling terkunci, saling menatap penuh kasih. Seakan rasa yang selama ini terpendam tersalurkan oleh tatapan mereka.


Sandi menggenggam tangan Widya dan menyimpannya diatas dadanya. Sembari terus menatap wajah Widya.


"Wid kamu ngerasain ini juga gak?"tanya Sandi menatap Widya lekat.


"Ma..maksud kamu San?"tanya balik Widya dengan gugup.


"Ini..detak jantung aku, kayak mau lompat dari tempatnya."ucap Sandi polos.


Widya merasakan hawa panas, padahal mereka sedang duduk di ruangan yang cukup adem. Pipi nya berubah menjadi merah, dan jantungnya semakin cepat berdetak. Ingin melepas, tapi tak ingin juga.


"Wid, kamu gak apa-apa?pipi kamu merah, kamu sakit?"tanya Sandi masih tak mau melepaskan tangan Widya.


"Eh, enggak gak aku gak sakit. Kamu yang kenapa tuh, pipi kamu juga merah."seru Widya melepaskan genggaman Sandi dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Masa sih?Ini pasti karna jantung aku. Kok jadi panas ya Wid.."ucap Sandi sembari mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.


"Iya nih, gatau."Widya masih tak ingin menatap Sandi.


"Kita keluar aja yuk!"ujar Sandi melangkah menuju teras depan.


"Ish, si Sandi mah bikin malu aja!Rasanya jantung aku mau copot tadi huh!"gumam Widya saat Sandi sudah melangkah jauh.

__ADS_1


*


*


*


Hari ini di kelas Widya kedatangan murid baru. Pindahan dari SMA SEBELAH. Yups, dia adalah Irda. Irda sengaja pindah ke SMA JAYA, agar dia bisa kembali mendekati Sandi. Tentu itu membuat Sandi geram, semakin tak suka dengan sikap Irda yang seenaknya. Sebaliknya, Irda justru sangat senang bisa satu kelas dengan Sandi.


"Hai San, Wid!Aku boleh gabung disini ya."seru Irda saat mereka berada di kantin.


Melirik sekilas pada Sandi, "Boleh kok, silakan!"ucap Widya, yang langsung dapat tatapan tajam dari Sandi.


"Makasih."ujar Irda tersenyum, Irda terus menatap Sandi yang malah tak ingin melihatnya. "Emm, San kamu apa kabar?"tanya Irda sembari memegang tangan Sandi, namun dengan cepat ditepis olehnya.


"Wid, aku duluan ke kelas aja ya!"Sandi segera beranjak dari tempat duduk nya dan berlalu meninggalkan Widya bersama Irda.


Widya jadi merasa canggung, entah apa yang harus dia obrolkan dengan Widya. Irda terus menatap punggung Sandi yang semakin menjauh dari area kantin.


"Sandi benci banget ya sama aku, Wid?"tanya Irda tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya.


"Hah?Enggak kok, siapa yang bilang?"ucap Widya kikuk.


"Mungkin, dia masih kesel aja. Kamu bisa coba lain waktu, pelan-pelan aja. Sandi bukan orang yang suka dendam kok."jelas Widya mencoba meyakinkan Irda.


"Makasih Wid!"ucapnya tersenyum. "Dan kalo nanti gue bisa balikan sama Sandi, jangan harap Lo bisa deket lagi sama Sandi!"gumam Irda dalam hati.


Bel tanda usai pelajaran telah berbunyi, semua murid segera bersiap untuk keluar dari kelas yang membuat kepala mereka pusing setelah menerima pelajaran dan juga tugas-tugas yang menumpuk. Sandi mengajak Widya untuk pulang bersama, tentu Widya menerimanya.


"Udah beres semua?Yuk kita pulang!"ajak Sandi pada Widya.


"Udah, yuk!"Widya dan Sandi pun keluar dari kelas berdampingan. Namun, baru saja tiga langkah keluar dari kelas. Langkah mereka terhenti karna ada yang memanggil.


"Sandi!"teriak Irda menyusul mereka.


"Apa?"jawab Sandi ketus, saat melihat siapa yang memanggilnya.


"Aku mau minta tolong sama kamu, boleh?"tanya Irda dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

__ADS_1


"Apa?"masih dengan nada ketusnya.


"Anterin aku ke rumah tante Resni."ujarnya memelas.


"Gak bisa, aku mau pulang sama Widya!"Sandi segera menarik tangan Widya meninggalkan Irda. Namun Irda tak menyerah, Irda berlari dan berpura-pura jatuh di belakang Sandi dan Widya.


"San..Awww!"teriak Irda, setelah jatuh dan terduduk di lantai. Refleks Sandi dan Irda menoleh melihat ke arah Irda berada.


"Ya allah Irda!"seru Widya kaget, segera menghampiri Irda. Sedangkan Sandi hanya menatapnya jengah.


"Kamu gak apa-apa Da?"tanya Widya sembari berjongkok di depan Irda yang memegang pergelangan kakinya.


"Aku gak apa-apa kok, tadi kesandung kaki sendiri."ucapnya sembari menahan sakit.


"Yuk sini aku bantu berdiri!"Widya pun memegang tangan Irda membantunya berdiri.


"Aww!"Lagi lagi Irda meringis kesakitan.


"Kamu kenapa, ada yang sakit?"tanya Widya cemas.


"Kayaknya kaki aku terkilir deh!Aku gak kuat jalan, kaki aku sakit Wid."rintih Irda melirik sekilas ke arah Sandi yang masih tak bergeming di tempatnya.


"Mau kita anter ke UKS dulu gak?"tanya Widya yang kini sudah merangkul Irda.


"Emm gak deh, biar nanti di rumah tante Resni aja dipijit sama Om Agam."


"Yaudah kalo gitu, San kamu anterin Irda ya. Kasian dia."ujar Widya.


"Apaan sih, kenapa harus aku yang anterin coba?Aku kan mau anterin kamu Wid."sahut Sandi sewot tak terima.


"Ya gak apa-apa San, nanti kita langsung ketemu di sana aja. Kasian loh ini Irda, kalo harus pesen taksi online dulu kelamaan."paksa Widya semakin membuat kesal Sandi.


"Terus kamu sendiri gimana?"


"Aku mah gampang San. Udah yuk, cepet!"ajak Widya sembari terus merangkul Irda melangkah menuju parkiran. Sandi hanya bisa pasrah dan mendengus kesal, tak bisa menolak.


likenya

__ADS_1


komennya


kritik pun boleh kok, sapa tau jadi masukan buat aku..


__ADS_2