
Fajar telah sampai di depan sebuah rumah sederhana, tetapi tetap terlihat rapi dan sejuk. Karna ada beberapa tanaman juga pohon buah mangga yang cukup tinggi dan besar. Ya, Fajar kini berada di depan rumah Sabitha.
"Thanks ya udah anterin sama makan siangnya."ucap Sabitha tulus, dengan senyuman tipisnya. Lebih ke gugup sih.
"Santai aja. Yaudah, aku pamit. Bye!"Fajar segera melajukan sepeda motornya meninggalkan Sabitha yang masih terus menatapnya.
"Cakep. Eh, apaan sih?"Sabitha menggeleng-geleng kepalanya seraya melangkah masuk ke dalam rumah setelah membuka pagar rumahnya.
****
Satu minggu telah berlalu, pengumuman kelulusan pun telah keluar. Dan semua murid kelas XII SMA JAYA, telah lulus dengan nilai yang cukup baik. Terutama Sandi, Widya dan Fajar yang selalu menjadi 3 murid terbaik di SMA JAYA.
Sampai saat ini, Sandi dan Widya masih sama-sama menyembunyikan perasaannya masing-masing. Namun, perhatian-perhatian selalu mereka berikan satu sama lain. Sedangkan, Irda masih saja terus mencoba mendekati Sandi, meski selalu mendapat perlakuan yang kurang baik dari Sandi.
"San, selamat ya!"Irda menghampiri Sandi yang saat ini tengah duduk bersama Widya di taman sekolah.
"Hm."jawab Sandi singkat, tanpa menoleh ke hadapan Irda.
"Gimana kalo kita rayain kelulusan kita?Ajak temen-temen yang lain juga,"Irda dengan penuh semangat mengajak, dengan maksud agar dirinya bisa dekat dengan Sandi.
Sandi menatap Widya yang juga sedang menatapnya. Seolah meminta jawaban untuk ajakan Irda.
"Kalo aku sih terserah yang lain aja."jawab Widya.
"Kalo kamu gimana San?"
"Ya aku gimana Widya aja."
"Oke, aku kasih tau temen-temen yang lain dulu ya!"Irda segera berlari menuju kelasnya.
"Males banget tau gak, kenapa kamu mau sih nerima ajakan dia?"keluh Sandi pada Widya, setelah Irda pergi.
"Biarin dong San, toh ini kan moment terakhir kita sama temen-temen yang lain. Irda juga ngajak temen sekelas kan, bukan cuman kita?"ucap Widya tersenyum.
__ADS_1
"Yaudah deh, aku sih ikut aja. Tapi, hari Minggu besok jadi ya kamu ikut aku pulang?"
"Emmm, ikut gak ya?"Widya mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya, seolah sedang berpikir.
"Gak ada penolakan ya, pokoknya nanti aku yang bakalan minta izin sama Ayah Bunda!"Widya hanya bisa menghela napas pasrah.
"Ish..."Widya memalingkan wajahnya dari Sandi. Menyembunyikan senyuman tipis di wajahnya.
"Jadi gimana?Kok malah diem?"
"Iya, iya aku ikut. Udah yuk ah, ke kelas."Widya beranjak dari kursinya dan melangkah terlebih dahulu menuju kelas.
"Woy tunggu dong!"Sandi pun menyusul Widya dan merangkulnya saat tepat berada di sampingnya.
Di kelasnya, Irda telah memberitahukan dan mengajak semua teman-temannya untuk merayakan kelulusan mereka. Dan hampir semua teman kelasnya menyetujui ajakan Irda. Dan Irda yang akan mencari tempat untuk acara perpisahan mereka.
Fajar baru saja keluar dari parkiran, karna sudah waktunya untuk pulang. Saat dirinya keluar dari gerbang sekolah, Fajar melihat Sabitha yang tengah berjalan menuju halte. Fajar pun segera menyusul Sabitha dan memanggil namanya.
"Sabitha!"panggil Fajar, membuat Sabitha menghentikan langkahnya. "Mau pulang?"tanya Fajar setelah berada di samping Sabitha.
"Yakali aja gitu beneran mau konser. Yuk naik!"Sabitha mengernyit bingung. "Ayo, aku anterin!"ujar Fajar, melihat raut wajah Sabitha yang kebingungan.
"Gak usah makasih, aku bisa naik bus kok!"jawabnya lembut. "Eh, napa aku jadi lembut gini?!"gumamnya dalam hati.
"Udah buruan naik!"ucap Fajar yang baru saja selesai memasangkan helm pada Sabitha.
"Loh, kapan masangnya ini?"Sabitha memang tak menyadari saat Fajar memasangkan helm padanya.
"Barusanlah, makannya jangan bengong!"Fajar pun menarik tangan Sabitha agar dia naik ke atas motor Fajar.
Dengan pasrah, akhirnya Sabitha pun naik ke atas motor Fajar. Fajar yang melihat wajah Sabitha dari kaca spion diam-diam tersenyum tipis. Melihat wajah Sabitha yang cemberut membuatnya merasa gemas. Saking asiknya memperhatikan Sabitha lewat spion, Fajar tak juga melajukan sepeda motornya.
"Woy!"tepuk Sabitha di pundak Fajar, membuat Fajar tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Awww, ngapain mukul sih?Sakit tau!"geram Fajar karna merasakan sakit di pundaknya.
"Ya kamu ngapain malah diem aja, aku daritadi udah duduk, bukannya maju nih motor malah diem aja!"ucap Sabitha tak kalah ngegas.
"Ya tapi ini pukulan kamu tu sakit tau!Pokoknya kamu harus tanggung jawab!"ujar Fajar seraya melajukan sepeda motornya tanpa aba-aba, membuat Sabitha hampir saja terjungkal, bila tak langsung memeluk pinggang Fajar.
"Ish kalo mau maju bilang-bilang dong!"teriak Sabitha makin kesal. Fajar terus fokus pada jalanan, meskipun dirinya mendengar ucapan Sabitha.
Sepanjang perjalanan, Sabitha terus menekuk wajahnya. Tak habis pikir dengan sikap Fajar yang seenaknya seperti itu. Padahal mereka baru saja berkenalan beberapa hari, tapi seolah Fajar orang yang sudah lama mengenalnya. Dan anehnya lagi, Sabitha tak bisa menolaknya.
"Eh, kok ke sini sih?Kan aku pengen pulang!"ucap Sabitha saat Fajar menghentikan motornya di sebuah warung mie ayam yang berada di pinggir jalan.
"Laper."jawabnya singkat.
"Ya kalo laper, ngapain ngajak aku sih?"Sabitha terus saja ngedumel mengikuti Fajar masuk ke dalam warung itu.
"Udah duduk aja, gak usah marah-marah terus!"Fajar duduk di salah satu kursi yang kosong, yang langsung diikuti Sabitha di sebelahnya.
"Ngomong-ngomong, kamu lanjut kemana setelah lulus?"tanya Fajar.
"Gak tau, belum ada rencana. Mungkin aku bakal langsung cari kerja aja."jawab Sabitha sembari menundukkan kepalanya.
Fajar mengernyit mendengar jawaban dari Sabitha.
"Oh, kalo aku boleh tau emang kenapa?"tanya Fajar hati-hati.
"Ya gak apapa, biar aku bisa kuliah dengan hasil keringat aku sendiri lah. Aku gak mungkin lah, terus-terusan minta sama orangtua aku buat terus nyekolahin aku. Ya meski itu emang udah tanggung jawab mereka, cuman ya kalo emang aku bisa sendiri. Kenapa enggak kan?"jawab Sabitha panjang lebar dengan sangat serius.
"Keren, salut sama kamu!"ucap Fajar tulus.
"Biasa aja kali. Udah makan buruan, aku pengen cepet-cepet pulang!"Sabitha langsung memakan mie ayam yang baru saja diantar oleh penjualnya ke meja mereka.
Fajar diam-diam memperhatikan Sabitha dengan senyuman yang sangat manis. Sayang, Sabitha tak melihatnya. Sabitha terlalu asik dengan mie ayamnya.
__ADS_1
Sabitha anak tunggal dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya bekerja sebagai guru di sekolah Dasar, sedangkan ibunya seorang penjahit rumahan biasa. Penghasilan kedua orangtuanya memang cukup untuk membiayai dirinya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hanya saja, Sabitha merasa tak enak hati bila harus melihat orangtuanya yang terus berjuang demi dirinya. Maka dari itu, Sabitha lebih memilih untuk menunda kuliahnya, dan lebih dulu mencari pekerjaan.