
Setelah selesai makan, Widya dan Evan memutuskan untuk pulang. Tadinya Evan menawari untuk pulang bersama, namun karna Widya membawa mobil sendiri jadinya mereka pulang dengan mengendarai kendaraannya masing-masing.
Yang tak Widya sadari, sejak dirinya dan Evan keluar dari food court menuju tempat parkir ada yang mengikutinya diam-diam. Sandi. Ya dia sengaja mengikuti Widya secara diam-diam, untuk memastikan apa Widya pulang bersama dengan Evan atau tidak. Ada perasaan lega begitu tahu, kalau Widya pulang sendiri dengan mobilnya. Namun, perasaan kesal itu juga masih ada saat mengingat tadi melihat Widya yang begitu akrab dengan Evan.
"San!"seseorang dari belakang, menepuk pundak Sandi membuat dirinya refleks langsung memutar badannya karna kaget.
"Ya allah, aku kira siapa!"pekik Sandi begitu tahu siapa yang sudah membuatnya terkejut.
"Ngapain di sini? Bukannya tadi katanya mau ke toilet ya?"tanya Eki.
"Ya tadi udah dari toilet, aku gak sengaja liat temenku waktu SMA. eh pas disusul udah keburu pergi."ujar Sandi sedikit berbohong.
"Oh, yaudah yuk kita gabung lagi sama yang lain. Katanya cewek-cewek mau ke toko baju dulu."ajak Eki, yang langsung disetujui oleh Sandi. Mereka pun akhirnya masuk kembali menuju tempat teman-temannya berada.
Sedangkan di perjalanan, Widya kembali menangis karna bayangan tadi saat di food court terus muncul di kepalanya. Dimana Sandi begitu dekat dengan Irda, bahkan saat tak sengaja Widya melihat Irda menyuapi Sandi makanan dari piring Irda. Cemburu. Ya, Widya sangat cemburu melihat kedekatan mereka. Meskipun dirinya menyadari bahwa dirinya sama sekali tak berhak merasa seperti itu. Karna dirinya bukanlah siapa-siapa bagi Sandi. Hanya sahabat.
Akhirnya Widya tiba di rumah, keadaan rumah sangat sepi. Entah pergi kemana kedua orangtuanya, pikir Widya. Karna setaunya tadi saat dirinya pergi kedua orangtuanya juga Kenny masih berada di rumah. Widya pun segera melangkah menuju dapur untuk menemui asisten rumah tangganya.
"Bi, kok sepi sih. Pada kemana?"tanya Widya begitu melihat sang asisten rumah tangga yang tengah mencuci piring.
"Eh, si non udah pulang. Iya non, ibu sama bapak tadi pergi katanya ada undangan dari kantornya tuan. Kalo non Kenny, tadi juga pergi setelah ibu dan bapak pergi. Cuman bibi gak tau non Kenny pergi kemana."jelas asisten rumah tangga, membuat Widya menganggukan kepalanya mengerti.
"Oh, yaudah Widya ke kamar dulu ya Bi."
"Non, mau disiapkan makan?"
"Gak usah bi, tadi udah makan kok sebelum pulang. Bibi, istirahat aja kalo udah beres cuci piringnya."
__ADS_1
"Iya non."Widya pun segera berlalu dari dapur menuju kamarnya.
Begitu masuk ke dalam kamarnya, Widya segera menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Widya pun langsung merebahkan dirinya di atas ranjang empuknya. Dengan kepala yang ditutup bantal, Widya lagi-lagi menangis. Hatinya begitu sakit, mengetahui Sandi kembali dekat dengan Irda. Widya semakin mengira kalau Sandi telah kembalo berpacaran dengan Irda. Dan itulah yang membuat hatinya kembali sakit.
Meski kebenarannya belum pasti, hanya saja dengan melihat kejadian tadi itupun sudah cukup membuat hatinya terluka. Rasanya Widya tak siap bila ternyata Sandi benar-benar kembali berpacaran dengan Irda. Di tambah, sudah beberapa hari ini hubungannya terkesan merenggang. Entah mengapa Sandi seperti semakin menjauh darinya.
"Apa aku gak pernah ada di hatimu San? Atau aku yang terlalu berharap, kalau perasaan kita sama?"gumam Widya disela-sela tangisnya.
"Kenapa rasanya sesakit ini sih San? Gimana caranya biar aku bisa hapus nama kamu di hati aku, San?"
Karna sejak tadi menangis, Widya pun akhirnya tertidur meski air matanya masih terus turun membasahi kedua pipinya.
Sedangkan Sandi baru saja tiba di rumah Irda.
"San, masuk dulu yuk?!"ajak Irda setelah memberikan helm yang baru dirinya pakai.
"Oh, iya gak apa-apa kok San. Yaudah nanti kalo udah sampe kosan, kamu langsung istirahat ya!"ujar Irda tersenyum lembut, sembari mengusap pundak Sandi.
"Iya Da. Yaudah, aku pamit ya. Kamu juga langsung istirahat, pasti capek banget kan abis ngelilingin toko baju."sindir Sandi terkekeh.
"Haha, bagi cewek kalo yang dikelilinginnya toko baju sih gak ada kata capek."jawab Irda tertawa.
"Dasar ya cewek! Yaudah deh, aku pulang ya!"Sandi sudah kembali memakai helmnya dan bersiap menyalakan mesin motornya.
"San, besok mau gak jemput aku lagi?"tanya Irda sebelum Sandi menyalakan mesin motornya.
"Oke, seperti biasa. Bye!"Sandi pun berlalu keluar dari halaman rumah Irda.
__ADS_1
"Yes! Aku yakin Sandi pasti bakalan jadi pacarku lagi! Dan Widya liat aja, kalo aku dan Sandi udah balikan gak akan aku biarin kalian deket lagi!"ujar Irda tersenyum smirk, sebelum masuk ke dalam rumahnya.
Namun, baru saja dirinya menutup pintu rumahnya dan berbalik badan dirinya dikejutkan dengan keberadaan Erick yang tengah duduk di sofa tunggal yang menghadap ke arah Irda berdiri.
"Erick?!"pekik Irda menahan kaget. "Kamu ngapain di sini?"tanya Irda dengan tatapan yang tajam pada Erick.
"Ya mau nemuin kamu lah. Darimana, jam segini baru pulang?"tanya Erick datar.
Memang waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Mendengar pertanyaan dari Erick, Irda hanya memutar matanya malas. Dia pun berniat untuk segera menuju kamarnya tanpa menghiraukan Erick. Namun, dengan cepat Erick mencekal tangan Irda. Hingga terpaksa Irda pun menghentikan langkahnya dan menatap Erick dengan pandangan tak suka.
"Apaan sih Rick? Lepasin ih, aku tuh capek, gerah pengen istirahat!"hardik Irda mencoba menepis tangan Erick, namun Erick malah semakin kuat memegang tangan Irda.
"Da, aku minta kamu jauhin si Sandi!"ucap Erick dengan nada yang dingin menatap Irda dengan serius.
Irda menaikkan sebelah alisnya, menatap Erick dengan tatapan yang meremehkan.
"Siapa kamu, merintah seenaknya gitu sama aku?"tanya Irda kembali menepis tangan Erick, dan kali ini cekalan Erick pun terlepas. "Rick, kamu tau kan dari dulu aku tuh cintanya sama Sandi. Terus sekarang ngapain kamu nyuruh-nyuruh aku buat jauhin dia?"ujar Irda semakin emosi.
"Karna aku berhak untuk larang kamu!"
"Hah? Apa kamu bilang? Berhak? Sejak kapan? Jangan ngaco deh!"Irda tertawa meremehkan Erick, hingga perkataan Erick seketika membuatnya menghentikan tawanya.
"Karna kamu calon istriku!"ujar Erick dengan tegas.
Irda kembali menatap Erick dengan tajam. "Kamu kalo mau ngimpi tuh tidur dulu sana di atas kasur. Udah deh, aku tuh capek! Mending kamu pulang aja sana! Lagian mama papa juga lagi gak ada di rumah!"Irda kembali melangkah untuk meninggalkan Erick, namun lagi-lagi langkahnya terhenti karna ucapan Erick.
"Minggu depan kita tunangan! Dan soal orangtua kamu, mereka pergi bukan karna urusan kerjaan. Tapi, sekarang mereka lagi nyiapin acara pertunangan kita yang bakal digelar di Bali."
__ADS_1
Irda terdiam syok. Tak percaya dengan ucapan Erick barusan, dirinta masih membelakangi Erick dengan perasaan yang tak tentu.