Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
82


__ADS_3

"Aku sayang kamu Wid!"ucap Sandi dengan lantang, sontak membuat Widya terpaku.


Widya menatap Sandi dengan lekat, mencoba mencari ketulusan di kedua bola mata milik sahabat kecilnya itu. Di dalam hatinya tentu dia sangat senang dengan pernyataan Sandi barusan, hanya saja masih ada yang mengganjal di pikirannya.


Widya menepis rasa senangnya, karna dia tak ingin terlalu berharap yang mungkin saja kenyataannya tak sesuai dengan apa yang dirinya harapkan.


"Ya aku tau, kamu sahabatku dari kecil. Masa iya gak sayang kan?"elak Widya sembari memalingkan wajahnya menghadap arah lain.


Sandi mengernyit mendengar ucapan Widya, tak menyangka Widya malah berpikiran seperti itu. Apa mungkin dirinya tak memiliki perasaan yang sama dengannya? Batin Sandi.


"Wid, coba deh kamu tatap mata aku!"ucap Sandi seraya menarik kedua bahu Widya agar kembali menghadap ke arahnya. Mau tak mau, akhirnya Widya pun menghadap ke arahnya dan langsung bertemu dengan tatapan Sandi padanya.


Deg!


Dengan hanya bertatapan dengan Sandi, sudah membuat jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya. Badannya merasakan hawa panas, namun telapak tangannya malah mengeluarkan keringat dingin. Apalagi saat Sandi memegang kedua tangannya itu.


"Wid, kok tangan kamu basah sih?"tanya Sandi sontak membuat Widya langsung melepaskan genggaman tangan Sandi.


"Gerah aja, makannya keringetan."jawab Widya sedikit gugup.


"Wid, aku mau jujur sama kamu. Dan aku harap kamu gak marah atau malah ngejauhin aku nantinya."ucap Sandi langsung membuat Widya semakin berdebar.


"Duh, Sandi mau ngomong apa sih? Kenapa malah bikin aku jadi makin deg degan gini."batin Widya.


"Wid, kamu mau janji kan sama aku? Apapun nanti yang aku ucapin ke kamu, aku minta kamu jangan marah ataupun jauhin aku!"


"Hah? Emang kamu mau ngomong apa sih? Kejujuran apa yang malah bikin aku marah coba? Emang kamu udah bohongin aku?"ucap Widya bingung.


Lagi-lagi Sandi pun menghela napas beratnya, menghalau rasa gugupnya. Sandi berniat untuk jujur pada Widya tentang perasaannya. Meski mungkin, Widya tak memiliki perasaan yang sama dengannya. Sandi akan tetap jujur padanya dan menerima semua keputusan Widya. Kecuali bila Widya menjauhinya, Sandi tak akan menerimanya.

__ADS_1


"Enggak Wid, aku gak pernah bohongin kamu. Sebenarnya aku tuh sayang sama kamu, bener-bener sayang sebagai pria terhadap wanita. Bukan hanya sekedar sayang kepada sahabatnya."jelas Sandi dengan lugas, meski dalam hatinya dia sungguh gugup.


Widya masih terdiam mencerna kata-kata yang barusan terucap secara jelas oleh Sandi. Dirinya masih tak percaya bila Sandi akan mengatakan hal itu kepadanya. Sesuatu yang selalu dirinya tunggu dan harapkan. Dan tentu mendengar Sandi mengatakan bahwa dia benar-benar menyayangi dirinya sebagai wanita, membuat hatinya sangat bahagia. Akhirnya perasaannya terbalaskan.


"Kamu serius San?"tanya Widya kembali meyakinkan bahwa dirinya tak salah mendengar.


"Iyalah, mana mungkin aku main-main sama perasaan Wid?"jawabnya dengan lemas.


"Ya bisa aja kan, buktinya kamu tuh udah sering banget gonta ganti cewek. Malah yang terakhir tuh, masih deket aja."mengingat Irda perasaan Widya kembali memburuk.


"Ish, apaan aku gak pernah ya gonta ganti cewek kayak gitu. Dan soal Irda, kan kamu sendiri yang bilang sama aku kalo aku gak boleh terus-terusan musuhan kan sama dia? Lagian aku sama dia juga murni temenan sekarang tuh!"jelas Sandi panjang lebar.


Namun, Widya masih ragu. Karna selama ini sikap Sandi terhadapnya tak lebih seperti seorang sahabat. Mungkinkah Sandi berkata jujur padanya?


"Wid, kok malah ngelamun? Kamu marah ya sama aku? Kamu... kamu gak suka ya sama pernyataan aku barusan?"tanya Sandi semakin lemas, namun kedua tangannya masih dengan erat menggenggam tangan Widya.


"Enggak San, aku gak marah kok. Sebenarnya aku... Aku,"


"Emm, sebenarnya aku juga sayang sama kamu San."ucap Widya lirih, namun masih dapat terdengar dengan jelas oleh Sandi.


Kedua mata Sandi melebar setelah mendengar kalimat yang baru saja Widya ucapkan. Jantungnya semakin berdebar berkali-kali lipat dari biasanya. Rasanya seperti dirinya diguyur air es yang membuat seluruh tubuhnya terasa segar, padahal tadi rasanya sangat gerah.


"Maksud kamu sayang sebagai apa?"tanya Sandi memperjelas.


"Ya, ya seperti kamu lah!"jawab Widya sembari menarik kedua tangannya, lalu beranjak berdiri membelakangi Sandi.


Dirinya benar-benar merasa malu, tetapi ada perasaan lega kaena dapat berkata jujur pada Sandi. Ditambah perasaannya yang selama ini dirinya simpan rapat-rapat, ternyata mendapat balasan dari orang yang sangat dirinya cintai.


Disaat dirinya tengah mengatur degup jantungnya yang masih berdebar kencang, tiba-tiba Sandi menariknya membalikkan tubuhnya. Dan dalam sekejap dirinya kini berada di dalam dekapan hangat sahabatnya sendiri. Sahabat yang ternyata mencintai dirinya lebih dari seorang sahabat.

__ADS_1


Kedua pipi Widya semakin memerah karna malu juga bahagia. Apa ini tandanya mereka telah jadian? Batin Widya.


"Makasih Wid, makasih! Aku kira kamu bakalan marah dan jauhin aku. Makannya awalnya aku takut bilang ini semua sama kamu."ujar Sandi yang masih memeluk Widya dengan erat.


"Ya gak mungkinlah aku jauhin kamu San! Dari dulu kita tuh selalu bersama, makannya rasa sayang yang aku punya buat kamu semakin bertambah."balas Widya yang juga semakin mengeratkan pelukannya.


Sandi melepaskan pelukannya, menatap Widya dengan lekat.


"Jadi, kamu dari dulu udah sayang sama aku?"tanya Sandi.


Widya hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kok bisa? Kenapa kamu gak pernah bilang sih? Jadinya kan aku malah harus pacaran dulu sama Irda."keluh Sandi.


"Ya aku kan juga takut San, takut kamu gak bisa balas perasaan aku. Aku takut kamu jauhin aku. Aku ngerasa kalo kamu yaa hanya menganggap aku sebagai sahabat kamu."


Sandi menyentil kening Widya pelan, namun tetap membuat Widya meringis.


"Aww ish sakit tau!"pekik Widya sembari mengusap keningnya yang kini berubah warna menjadi sedikitt kemerahan.


Sandi segera mengelus lembut kening Widya yang tadi dirinya sentil.


"Maaf. Maaf karna aku mungkin udah nyakitin kamu Wid, dengan sadar aku malah pacaran sama cewek lain. Tapi itu juga karna aku kira kamu gak punya perasaan yang lebih dari seorang sahabat. Ya mungkin bisa dibilang saat aku pacaran sama Irda pun, hanya sebagai pengalihan aja. Tapi, nyatanya itu gak berhasil."


"Gak berhasil gimana?"


"Ya iya gak berhasil, bukannya ilangin perasaan aku sama kamu. Malah perasaan aku sama kamu makin tambah. Apalagi saat aku liat kamu deket banget sama si Fajar. Terus si Irda pake acara selingkuh lagi sama cowok lain. Kan jadinya aku balik lagi sama kamu."ucap Sandi terkekeh diakhir kalimat.


"Balik lagi? Enak banget ya kamu! Hugh dasar nyebelin!"Widya memukul-mukul pelan lengan Sandi. Sandi pun tertawa puas melihat wajah Widya yang kesal.

__ADS_1


Hingga Sandi pun kembali menggenggam kedua tangan Widya dan menatapnya dengan intens.


"Wid, mau gak jadi pacar aku?"


__ADS_2