
Beberapa hari setelah kejadian saat itu, sikap Sabitha dan Fajar menjadi semakin canggung. Terutama Sabitha, entah mengapa setiap kali berhadapan dengan Fajar rasanya jantungnya berdebar dua kali lipat dari biasanya. Sabitha juga selalu merasa tubuhnya memanas, sehingga membuat kedua pipinya selalu memerah. Maka dari itu, sebisa mungkin Sabitha selalu menghindar tak ingin berhadapan langsung dengan Fajar.
Tak berbeda jauh dengan Sabitha, rupanya Fajar pun sebenarnya merasakan hal yang sama dengan Sabitha. Hanya saja, Fajar lebih bisa mengontrol perasaannya untuk terlihat lebih tenang dan santai. Padahal, saat berhadapan dengan Sabitha selalu muncul bayangan saat dirinya mencium Sabitha yang membuat debaran jantungnya bekerja dua kali lipat dari biasanya.
Pagi ini, Fajar tak pergi ke kampus karna memang tak ada jadwal kelas. Hanya saja tugas yang diberikan dosen memang cukup banyak, alhasil dia pun tak berniat untuk pergi keluar. Fajar ingin tugasnya cepat selesai. Seperti biasa, Sabitha menyiapkan saraoan untuk Fajar, dan kali ini dirinya memasak sayur sop ayam dan juga perkedel kentang. Setelah selesai menyiapkan sarapan untuk Fajar, Sabitha berniat untuk pergi ke supermaket karna bahan-bahan masakan di kulkas telah habis.
Awalnya Sabitha akan pergi sendiri, namun Fajar malah memintanya untuk sarapan bersamanya terlebih dulu. Lalu setelahnya Fajar akan mengantarnya ke supermaket.
"Udah deh mending sarapan dulu, nanti ke supermaketnya aku anter."ucap Fajar, saat Sabitha meminta uang untuk belanja keperluan dapur.
"Gak apa-apa, aku mah gampang. Nanti beli sarapannya di sana aja. Lagian kan kamu lagi banyak tugas, nanti malah gak cepet selesai lagi."tolak Sabitha.
"Udah deh, buruan duduk sini. Di sini udah ada makanan, ngapain harus beli di luar coba!"Fajar langsung menarik Sabitha dan menuntunnya untuk duduk di kursi, dan dia pun langsung duduk di sebelahnya.
"Biasa juga kita sarapan bareng kan? Lagian tugas aku tinggal dikit kok. Gak usah khawatir, oke!"sambungnya seraya mengisi piring milik Sabitha.
Sabitha pun akhirnya pasrah tak ingin lagi menolak perintah dari majikannya itu. Mereka pun makan dengan tenang, meski sesekali Fajar melirik Sabitha dengan senyuman tipis di bibirnya.
*
*
*
Sementara di kampus, tepatnya di kantin kampus terjadi suasana yang begitu dingin di salah satu meja yang berisikan empat orang mahasiswa dan mahasiswi. Mereka adalah Widya, Sandi, Irda juga Evan. Awalnya Widya dan Evan tengah duduk berdua sembari membahas masalah tugas yang memang mereka kerjakan berdua. Namun, tiba-tiba Sandi datang dan duduk berhadapan dengan mereka berdua dengan wajah dan tatapan yang begitu tajam. Dan tatapan itu dia tujukan pada Evan.
Sandi pun datang tak sendiri, tentu Irda selalu ada di sampingnta. Lebih tepatnya, Irda yang selalu mengikuti kemanapun Sandi pergi selama mereka ada di kampus.
__ADS_1
"Pulang jam berapa Wid?"tanya Sandi lembut, namun tatapannya masih tertuju pada Evan.
"Nanti sih jam 3 an. Tapi, aku mau ngerjain tugas dulu sih sama..."ucapan Widya terpotong, karna Sandi lebih dulu bersuara.
"Aku temenin!"ucap Sandi langsung.
"Loh, San tapi kan kamu udah janji mau temenin aku ke toko buku."Irda langsung protes tak terima, membuat Sandi menatapnya. Dirinya memang sebelumnya sudah berjanji akan menemani Irda pergi ke toko buku. Dan dia baru saja melupakan janjinya itu, karna tak ingin Widya berduaan dengan Evan.
Sandi pun menghela napasnya berat, karna baru mengingat janjinya itu. Widya yang mendengar alasan Irda pun merasa tak suka.
"Yaudah San, kamu pergi aja sama Irda. Lagian aku ngerjain tugasnya agak lama, nanti kamu malah bosen lagi."ucap Widya dengan datar. Sedangkan Evan sejak tadi hanya mendengarksn obrolan mereka, dan juga menatap ke arah Sandi dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sandi kembali menatap Widya dengan tatapan tak suka karena mendengar ucapannya.
"Da, emang harus banget ya ke toko buku nya hari ini?"tanya Sandi penuh harap.
Tentu hal itu berhasil membuat Sandi merasa tak enak. Dengan berat hati, akhirnya Sandi pun tetap memilih untuk pergi bersama Irda. Karna memang dirinya lebih dulu berjanji pada Irda.
"Aku tetep temenin kamu kok Da."ujar Sandi tersenyum menatap Irda. Widya memutar matanya malas, mendengar ucapan Sandi.
"Beneran ?"tanya Irda penuh semangat. Sandi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tapi, Wid nanti kalo misalnya kamu selesai pas kita jiga udah selesai telfon aku ya. Biar aku jemput."ucap Sandi, membuat senyum Irda memudar seketika.
Widya sempat menatap ke arah Irda, yang juga menatapnya dengan tatapan seperti menyiratkan kekecewaan.
"Iya, liat nanti aja San."jawab Widya pada akhirnya.
__ADS_1
"San, kayaknya udah waktunya kita ke kelas deh."ujar Irda.
Sandi pun melihat jam yang menempel di tangannya. Dengan perasaan yang sedikit kesal, dengan berat hati Sandi pun pergi meninggalkan Widya bersama Evan.
"Wid, kita ke kelas duluan ya."ucap Irda dengan senyuman yang manis. Widya hanya menganggukkan kepala dengan senyuman tipisnya.
Sandi dan Irda pun akhirnya berlalu dari kantin menuju kelasnha. Tinggalah disana Widya bersama Evan dengan suasana yang sedikit canggung. Lebih tepatnya Widya yang merasa kesal atas sikap Sandi.
Disaat Widya masih menatap kepergian Sandi, tiba-tiba ada benda dingin yang menempel di pipinya. Sontak hal itu membuat Widya kaget dan langsung menoleh ke arah sang pelaku.
"Ish, Evan ngapain sih?"seru Widya sedikit meninggikan suaranya. Untung saja, suasana kantin sudah agak sepi karna mahasiswa yang lain sudah masuk kembali ke kelasnya masing-masing.
"Biar adem, gak panas."ucapnya santai.
"Siapa yang kepanasan sih?"elak Widya memalingkan wajahnya kembali, menatap buku yang ada di hadapannya.
"Hati kamu."kembali Evan berucap dengan santai tanpa menatap ke arah Widya yang kini semakin mengerucutkan bibirnya.
"Sok tau kamu! Udah ah, yuk beresin kita ke kelas aja."Widya pun segera membereskan buku-bukunya yang juga diikuti oleh Evan.
Setelahnya mereka berdua pun pergi menuju kelasnya. Meski dengan perasaan yang masih kesal.
"Hugh, kenapa aku kesel banget sih? Harusnya aku tuh mulai belajar untuk gak peduli sama Sandi. Biarin aja dia sama Irda, aahhh tapi rasanya masih aja gak rela! Nyebelin, mana Sandi lebih milih tetep jalan sama Irda lagi!"gerutu Widya dalam hati, karna masih kesal dengan sikap Sandi.
maafkan yang baru bisa kembali up...
semoga aja masih ada yang mau baca ^_^
__ADS_1