
Pagi harinya, semua murid sudah berkumpul untuk kembali mendapat pengarahan dari guru pembina juga anggota OSIS. Acara pagi ini, akan mereka isi dengan beberapa permainan sebelum nanti siang mereka akan kembali pulang ke rumah masing-masing. Setelah selesai mendengarkan pengarahan dari guru Pembina, seperti sebelumnya para siswi bersiap untuk menyiapkan sarapan.
Kali ini, Widya yang bertugas untuk memasak yang dibantu dua orang dari kelas lain. Yang lainnya ada yang bertugas mengambil air, juga memasak nasi dan ada juga yang memang free seperti Irda. Kali ini Widya memasak telur dadar dan sosis goreng untuk sarapan semua murid. Tanpa Widya tau, tak jauh dari tempat Widya duduk ada seseorang yang sedang memperhatikannya dengan tatapan yang tajam.
"Wid, aku ke kamar mandi dulu ya. Kebelet nih!"ujar Bella salah satu murid yang membantu Widya memasak.
"Oke!"jawab Widya sembari mengacungkan ibu jarinya.
Tak lama Bela pergi, Novi temannya satu lagi pun menyusulnya. "Duh, Wid maaf aku juga kebelet nih!Gantiin aku dulu ya, ini tolong aduk aduk dulu berasnya biar kecampur bumbunya, udah itu mah biarin aja."Novi segera berlari menuju kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Widya.
"Ish, pada kenapa sih mereka?"Widya pun menggeser posisi duduknya ke tempat perapian dimana sedang memasak nasi liwet yang dititipkan Novi tadi.
Disaat Widya asik dengan nasi liwetnya, Irda datang ke tempat Widya memasak. Tanpa sepengetahuan Widya juga yang lain, Irda memasukkan garam dengan takaran yang begitu banyak ke dalam mangkuk yang berisikan kocokan telur. Setelah urusannya selesai, Irda langsung pergi dengan terburu-buru. Tepat setelahnya Bela dan Novi kembali dari kamar mandi, mereka pun kembali dengan tugas masing-masing.
Setelah sarapan telah siap, semua murid juga guru kembali berkumpul untuk sarapan bersama. Beberapa murid pria membantu untuk membagikan sarapan pada mereka semua. Namun, baru saja mereka memakan satu sendok ke mulut mereka. Mereka langsung memuntahkan kembali makanannya. Termasuk Sandi juga Fajar. Widya yang memang belum sempat memakan sarapannya, merasa heran dengan semua teman-temannya.
"Eh, kenapa?Kok, kalian muntahin lagi makanannya?"tanya Widya pada salah satu temannya.
"Ya gimana gak dimuntahin, makanannya asin banget ini!"jawabnya dengan ketus.
"Hah, asin?"tanya Widya kaget.
"Iya nih telurnya asin banget!Siapa sih yang masak?Gak becus banget, masa masak telur aja gak bisa!"cecar temannya yang lain.
"Emm maaf yang masak telur memang aku. Tapi, aku gak tau.."ucap Widya merasa bersalah juga bingung.
"Oh, jadi kamu yang masak?Heh, kalo gak bisa masak gak usah sok sok an masak makannya!"ujar salah satu murid perempuan dengan ketus.
"Iya nih, kamu pengen kita-kita pada darah tinggi hah?!"salah satu murid perempuan yang lain yang juga merasa kesal.
"Enggak, enggak!Tadi aku,"lagi-lagi ucapan Widya terpotong.
"Udahlah, gak usah banyak bacot!Gara-gara kamu, kita jadi gak selera makan tau gak?!"
"Hey!Kalian gak usah lebay bisa?!Itu masih ada sosis, makan aja gak usah ribut!"ujar Fajar yang tiba-tiba datang menghampiri Widya dan teman-temannya.
__ADS_1
"Ya tetep aja lah kita gak terima, sarapan kita malah dikasih garam!Huh, kalo gak bisa gak usah sok!"mereka pun pergi meninggalkan Widya yang menunduk karna malu.
"Udah Wid, kamu tenang aja. Gak usah dipikirin ya!Kamu belum sarapan kan, yuk kita sarapan!"ajak Fajar menggenggam tangan Widya.
Tak jauh dari tempat mereka, Sandi dan Irda sedang memperhatikan mereka. Tatapan Sandi yang begitu tajam, menampakkan wajah tak suka melihat kedekatan Widya dengan Fajar. Namun, berbalik dengan Irda yang tersenyum puas melihat wajah marah Sandi.
"San, Fajar baik banget ya sama Widya. Mereka kayak pasangan kekasih ya, cocok."ucap Irda sengaja memanas-manasi Sandi.
Sandi hanya terus menatap Widya dan Fajar tanpa mau membalas ucapan Irda. Dirinya sudah sangat merasa panas dan sesak melihat kedekatan Widya dengan Fajar.
"Bagus, tanpa aku minta Fajar udah sangat ngebantu. "dengan senyum tipis, Irda menatap tajam Widya dan Fajar.
"Nih, Wid udah kamu makan aja. Gak usah dengerin omongan orang lain."ucap Fajar memberikan sepiring nasi dengan sosis goreng.
"Makasih Jar!Tapi, aku malu Jar. Aku gak tau telurnya bakalan seasin itu. Aku pikir tadi takarannya udah pas...."ujar Widya sedih.
"Yaudah gak apapa Wid, makan ya sekarang. Udah gitu kita siap- siap, kita kan mau pulang. Udah gak usah dipikirin lagi!"Fajar pun segera memakan makanannya. Dengan lesu, Widya pun memakan sarapannya.
Rumah Ibu Resni.
"Jeng, tahun ini Widya lulus SMA kan?"tanya Ibu Resni yang tengah duduk santai di halaman belakang bersama Bunda Novie.
"Iya, dan sebentar lagi ujian kelulusannya."
"Emm, rencananya mau diteruskan kemana?"
"Widya sih bilang ingin masuk Universitas Mahardika, kampusnya suami jeng itu."jawabnya terkekeh.
"Haha, ya mudah-mudahan Widya bisa lulus dengan nilai yang bagus ya dan bisa masuk ke universitas Mahardika."ucap Ibu Resni tersenyum.
"Aamin."
"Bu! Eh, ada tamu."ucap Deni yang tiba-tiba memanggil ibu Resni dari dalam.
"Kenapa sayang?"tanya Ibu Resni.
__ADS_1
"Deni mau ijin pergi ketemu temen."
"Oh yasudah, tapi jangan sampe pulang malem ya!"
"Iya. Yaudah, Deni pergi dulu ya. Assalamu'alaikum!"setelah mencium tangan Ibunya dan Bunda Novie, Deni pun segera pergi.
"Anakmu sopan ya Jeng, padahal seumuran dia jarang loh yang mau pergi main pamit dulu sama orangtuanya."
"Ya alhamdulillaah jeng, Deni selalu ijin dan memberi kabar kalau pergi dan pulang terlambat. Begitu juga Doni adiknya."
"Sudah punya calon belum nak Deni itu?"
"Kayaknya sih belum, sejauh ini Deni belum pernah ajak temen perempuannya ke rumah. Yang diajak pasti selalu teman pria nya. Kadang, saya juga heran seumuran dia kan biasanya lagi seneng-senengnya pacaran. Tapi dia malah asik sendiri aja. Mana kalo ke kampus gak pernah mau pake motor atau mobil."keluh Ibu Resni.
"Lah terus dia pake apa ke kampus?"
"Naik Bus. Katanya sih biar gak makin macet."
"Wah sama tuh kayak Widya, belakangan ini dia juga lebih milih naik bus daripada bawa mobil sendiri. Padahal Ayahnya sudah mengizinkan dia bawa mobil sendiri."
"Anak-anak sekarang memang susah ditebak ya Jeng?"
"Ya, selama itu masih baik-baik saja sih, kita sebagai orangtua hanya bisa mendukungnya kan."
"Iya betul."
Hari ini Deni tak ada jadwal ngampus, maka dari itu Deni putuskan untuk pergi ke tempat biasa dirinya dan sahabat-sahabatnya berkumpul. Mereka berkumpul di sebuah kafe, yang pemiliknya sahabatnya sendiri. Akbar, sahabat Deni dari sejak SMA adalah pemilik kafe The Akbar. Selain Akbar, ada juga Fahmi dan Ilham.
"Kirain gak akan dateng Bro!"ujar Fahmi yang sudah tiba lebih dulu di sana.
"Ngapain sih ngajak ngumpul pagi-pagi gini?"tanya Deni yang langsung duduk di samping Fahmi.
"Tanya noh sama si Akbar, dia tuh yang nelfon subuh-subuh!"dengus Fahmi melirik Akbar yang baru saja duduk bergabung dengan mereka.
"Kalem woy!Aku tuh nelfon kalian kesini bukan cuman karna gabut. Eh tapi tunggu si Ilham dulu ya!"ujar Akbar.
__ADS_1
"Laga Lo kayak anak ABG tau gak?!"ucap Fahmi.