
Widya masih terdiam, menatap Sandi dengan lekat. Jantungnya berdegup semakin tak beraturan, bahkan kini dahi juga tangannya semakin mengeluarkan keringat dingin. Mungkinkah ini hanya mimpi, batin Widya masih merasa tak percaya dengan pertanyaan yang baru saja Sandi lontarkan padanya.
Sandi, sahabatnya baru saja memintanya untuk menjadi kekasihnya. Sesuatu hal yang memang dari dulu dia harapkan, namun selalu dirinya tepis harapannya itu setiap kali Sandi memberitahukan tentang pacarnya.
"Wid, kamu kenapa diem aja? Kamu marah ya?"tanya Sandi gugup. Padahal tadi dirinya sangat percaya diri, Widya akan langsung menerima permintaannya untuk menjadi kekasihnya.
Namun, sekarang Widya malah mendiamkan dirinya. Mungkinkah Widya tak suka dengan pertanyaannya barusan?
"Wid, ngomong dong! Kalo aku...."
"Aku mau!"ucapan Sandi terpotong tiba-tiba oleh ucapan Widya
Sandi terpaku, mendengar ucapan Widya. Widya menerima dirinta menjadi kekasihnya.
"Hah?"
"Ish Sandi, kok malah hah sih?"Widya mengerucutkan bibirnya kesal dengan respon Sandi.
"Wid kamu serius? Maksud kamu, kamu mau jadi pacar aku kan?"tanya Sandi masih tak percaya.
Dengan senyuman malu-malu, Widya menatap Sandi seraya menganggukkan kepalanya pelan. Sontak hal itu membuat Sandi tersenyum lebar pada Widya. Sandi memegang kedua tangan Widta, masih dengan senyuman hangat yang dia tunjukkan untuk sahabatnya itu.
"Jadi... Jadi kita sekarang bukan cuman pacaran dong?"tanya Sandi semangat.
"Ya menurut kamu gimana? Aku sih ngikut aja deh."ujar Widya tersenyum jahil.
"Yeessss yess! Akhirnya kita pacaran!"teriak Sandi tiba-tiba berjingkrak-jingkrak di depan Widya.
"Hei, Sandi! Ish ngapain sih? Jangan teriak dong!"Widya salah tingkah malu karna sikap Sandi yang tiba-tiba seperti itu. Meski tak banyak orang di sekitarnya, tetap saja hal itu membuatnya merasa malu.
"Aku tuh seneng banget Wid, akhirnya yang selama ini aku harapkan bisa tercapai. Makasih ya Wid, tadi aku kira kamu bakalan nolak aku dan marah sama aku." ujar Sandi yang kini berdiri di hadapan Widya.
__ADS_1
"Aku gak mungkinlah bisa narah sama kamu San. Kamu pacaran sama orang lain aja, aku tetep selalu ada deket kamu kan? Padahal hati aku tuh sakit banget tau gak."ucap Widya sembari memukul pelan lengan Sandi.
"Hehe. Iyaa, maafin aku ya karna waktu itu aku belum yakin banget sama perasaan aku. Tadinya aku kira kalau aku pacaran sama cewek lain bakalan ngilangin perasaan aneh yang aku rasain sama kamu. Nyatanya malah semakin gak bisa ilang."
"Modus aja kamu mah. Tapi, makasih ya San. Aku juga seneng banget, karna ternyata perasaan yang selama ini aku pendam dapet balesan yang sama dari kamu. Dan aku minta, meski kita pacaran. Kita tetap seperti dulu saat kita masih sahabatan. Maksud aku, di antara kita gak boleh ada yang disembunyiin. Apapun itu kita harus saling terbuka, saling cerita dan saling bantu."
"Siap kalo itu, aku pun gak mau walau status kita berubah tapi sikap dan kebiasaan kita gak perlulah ikutan berubah. Oiya, aku juga ada permintaan."
"Apa?"tanya Widya penasaran.
"Kamu gak boleh terlalu deket sama si Evan Evan itu. Aku gak suka!"ucap Sandi dengan tegas.
Mendengar hal itu, Widya terdiam sejenak. Mencerna apa yang barusan dirinya dengar, sehingga akhirnya dirinya pun tersenyum penuh arti pada Sandi.
"Ih, ngapain kamu malah senyum-senyum kayak gitu?"tanya Sandi bingung.
"Kamu cemburu ya?"tanya Widya yang kini terlihat senyum jahil dari bibirnya.
"Masa sih, terus itu apa namanya kalau bukan cemburu? Kenapa aku gak boleh deket-deket sama Evan?"Widya semakin menggoda Sandi agar mau mengakui bahwa dirinya memang cemburu.
"Ya ya kan aku udah bilang, aku gak suka."
"Ish, tinggal ngaku aja sih. Lagian aku sama Evan juga cuman temenan biasa, kenapa kamu gak suka?"
"Ya, karna aku gak suka aja. Udah ah, jangan bahas si Evan. Udah siang, kita cari makan aja yuk!"Sandi langsung menarik tangan Widya untuk pergi dari tempatnya kini.
*
*
*
__ADS_1
Di lain tempat, Erick baru saja tiba di depan rumah Irda. Irda masih menutup mulutnya rapat sejak mereka keluar dari cafe tadi. Mendadak perasaan Irda menjadi tak enak terhadap Erick. Ada sesuatu hal yang mengganjal di hatinya, dan itu sangat mengganggu pikirannya saat ini.
"Da, kita udah sampe."ucap Erick setelah dirinya mematikan mesin mobilnya. Melihat ke arah Irda yang sejak tadi hanya terdiam, entah apa yang dipikirkan olehnya.
"Da..."panggil Erick saat Irda masih saja asik dengan pikirannya sehingga tak menyadari panggilan Erick.
Karna Irda masih asik melamun, pelan-pelan Erick melepas sabuk pengaman miliknya. Lalu memutar tubuhnya menghadap pada Irda, dengan dahi yang berkerut tanda dirinya bingung dengan sikap teman dekatnya itu. Erick pun memutuskan untuk melepas sabuk pengaman yang menempel di tubuh Irda.
Dan saat tubuhnya sudah berada di hadapan Irda, barulah Irda tersadar dari lamunannya. Pandangan mereka bertemu, dengan gerakan pelan Erick tetap melepas sabuk pengaman di tubuh Irda. Namun, tatapannya masih terpaku pada kedua netra milik Irda.
Deg!
Kedua kalinya Irda merasakan jantungnya berdebar tak karuan saat berhadapan dengan Erick dengan jarak yang sangat dekat seperti sekarang. Entah mengapa, kini dirinya merasa nyaman berlama-lama menatap wajah Erick. Dulu sih boro-boro menatap dengan lekat, dekat saja sih biasa saja.
Kalau saja tak mendengar suara gerbang dibuka, mungkin mereka berdua akan terus berhadap-hadapan tatap-tatapan entah sampai kapan. Akhirnya, Erick kembali ke tempat duduknya sembari tersenyum kikuk. Begitu juga dengan Irda yang mencova menetralkan kembali degup jantungnya. Meski dia menyadari wajahnya kini pasti sudah merona merah.
"Makasih Rick, udah anterin aku pulang."ucap Irda sedikit gugup.
"Iya, yaudah kamu masuk gih. Istirahat."
"Kamu..gak masuk dulu?"tanya Irda sedikit ragu dan malu.
"Aku pulang dulu aja deh, tapi nanti aku pasti balik ke sini."
"Hah?"mendadak Irda tak paham dengan apa yang barusan Erick ucapkan.
"Udah sana kamu masuk, mandi terus istirahat ya."ujar Erick tersenyum.
"Yaudah iya, kamu hati-hati!"Irda pun langsung membuka pintu dan turun dari mobil.
Setelah Irda menutup pintu, Erick kembali menyalakan kembali mesin mobilnya dan segera berlalu meninggalkan kediaman orangtua Irda.
__ADS_1
"Ish aku tuh kenapa sih? Kok jadi deg degan gini deketan sama Erick. Tapi, tadi tuh Erick kok beda ya? Sejak kapan dia jadi ganteng gitu?"ujar Irda setelah mobil milik Erick tak terlihat lagi.