
Beberapa hari setelah kejadian waktu itu, sikap Irda berbeda dari biasanya. Dia kini tak lagi terlalu mengikuti Sandi, ataupun berusaha mendekatinya saat berada di kelas. Namun, dirinya baru mendekati Sandi saat dia sedang bersama Widya. Seperti saat ini, Sandi yang baru saja masuk ke kanti bersama Widya, tiba-tiba saja Irda datang menghampiri mereka.
"Hai, kalian belum dapet kursi?"tanya Irda yang tiba-tiba saja berdiri di samping Sandi.
"Belum, kita juga baru masuk Da."jawab Widya.
"Tuh tadi aku liat di sana ada kursi kosong, yuk kita ke sana aja."tanpa aba-aba Irda langsung menarik tangan Widya untuk ikut bersamanya menuju kursi kosong yang berada di pojok kantin.
"Yee main tinggal aja!"gerutu Sandi yang juga mengikuti di belakang mereka.
"Kalian mau pesen apa? Biar aku yang pesenin."tanya Irda saat mereka bertiga sudah duduk di kursinya masing-masing.
"Gak apa-apa Da, biar kita pesen sendiri aja."tolak Widya merasa tak enak.
"Santai aja, ini sebagai ucapan makasih dari aku karna kalian udah mau temenan sama aku."ujar Irda tersenyum. "Jadi, kalian mau pesen apa? Buruan keburu masuk kelas loh."sambungnya.
"Yaudah aku pesen mie ayam aja, tapi jangan terlalu pedes ya."ujar Widya.
"Aku samain aja sama Widya."jawan Sandi datar. Dirinya masih tak bisa bersikap ramah, meski dirinya sudah benar-benar memaafkan Irda.
"Oke, tunggu bentar ya!"Irda pun segera menuju kedai mie ayam yang terletak sedikit jauh dari tempat duduk mereka.
Tanpa sepengetahuan mereka, Irda telah merencanakan sesuatu khususnya untuk Widya. Irda memesan mie ayam sesuai pesanan Widya juga Sandi. Namun, tanpa ada yang melihat Irda mencampurkan sesuatu ke dalam mangkuk mie ayam milik Widya. Setelah semuanya siap Irda pun kembali ke meja mereka.
"Nah pesenan datang!"ujar Irda saat tiba di meja mereka. Dia pun segera memberikan masing-masing pesanan mereka.
"Makasih ya Da. Maaf kalo jadi ngerepotin."ujar Widya dengan ramah.
"Gak apa-apa Wid. Aku gak merasa direpotin kok. Yaudah yuk makan!"mereka pun makan dengan tenang. Diam-diam Irda pun tersenyum menyeringai saat melihat Widya memakan makanannya dengan lahap. Tanpa tau apa akibat dari memakan makanan yang sudah dicampur sesuatu oleh Irda.
*
__ADS_1
*
*
Di lain tempat, Fajar baru saja tiba di apartemennya. Hari ini dia memang masuk kelas pagi, jadi saat siang hari sudah selesai dengan mata kuliahnya. Saat dirinya masuk ke dalam apartemen, hal pertama yang dia dapatkan adalah aroma masakan yang begitu menggiurkan. Sehingga, dia langsung menuju dapur setelah menutup kembali pintunya. Dan ternyata Sabitha tengah memasak, saking seriusnya dia tak menyadari kehadiran Fajar di belakangnya.
"Masak apa, aromanya wangi banget?"tanya Fajar tiba-tiba mengagetkan Sabitha. Sabitha yang tengah mengaduk masakannya reflek menjatuhkan spatula dan tepat mengenai kakinya.
"Aww!"pekik Sabitha langsung berjongkok memegang kakinya.
"Eh, kamu gak apa-apa?"tanya Fajar yang langsung menghampiri Sabitha dan ikut berjongkok di depan Sabitha.
"Kamu ngagetin tau gak?!"ketus Sabitha tanpa menatap Fajar seraya mengusap-usap kakinya yang terasa panas.
"Ya maaf, aku gak tau bakal bikin kamu kaget."ucap Fajar merasa bersalah.
Karna jarak antara mereka cukup dekat, saat Sabitha hendak berdiri tak sengaja kepalanya membentur kening Fajar yang ada di hadapannya.
"Aww!"pekik mereka berdua barengan sambil mengusap kepala masing-masing.
"Maaf aku gak sengaja!"ucap Sabitha tak enak, posisi mereka masih saling berjongkok berhadapan.
"Kepala kamu keras juga ya, bisa benjol nih jidat aku!"ledek Fajar terkekeh.
"Hah? Yang bener? Coba sini aku liat, sapa tau beneran benjol!"tanpa aba-aba, Sabitha langsung maju lebih dekat dengan Fajar, tangannya meraba-raba kening Fajar. Tanpa sadar Sabitha juga meniup-niup kening Fajar.
Apa yang dilakukan Sabitha membuat Fajar terpaku. Melihat wajah Sabitha dari jarak yang sangat dekat membuat jantungnya berdebar sangat kencang. Namun dengan cepat, Fajar segera menetralkan kembali debarannya dan segera menepis tangan Sabitha dengan pelan.
"Apaan sih, aku gak apa-apa kok. Tuh masakan kamu, hati-hati gosong!"ucap Fajar yang langsung berdiri dan bergegas pergi menuju kamarnya.
"Ah iya ampir aja lupa!"teriak Sabitha langsung kembali fokus pada masakannya.
__ADS_1
Di kamar, Fajar masih berdiri di depan pintu kamarnya yang tertutup sembari memegang dadanya yang kembali berdebar. Entah mengapa dirinya merasakan hawa panas saat mengingat wajah Sabitha yang tadi begitu dekat dengan dirinya. Fajar akui Sabitha memang cantik, walau selalu berpenampilan agak tomboy.
"Aku kenapa? Gak mungkin kan kalo aku suka sama tuh cewek?"gumam Fajar masih memegang dadanya.
*
*
*
Widya, Sandi juga Irda baru saja selesai makan. Dan baru saja mereka berdiri dari kursinya, tiba-tiba saja Widya merasakan tak enak pada perutnya. Widya merasa perutnya seperti kembung juga melilit secara bersamaan, hingga akhirnya tanpa bisa dicegah tiba-tiba Widya membuang gas dengan bunyi yang cukup keras. Suasana kantin yang sudah mulai sepi, membuat suara ke**ut Widya terdengar sangat jelas. Hingga orang-orang yang berada di sana secara serempak langsung melihat ke arah Widya, termasuk Sandi juga Irda.
Widya tentu merasa sangat malu, kini wajahnyapun sangat merah. Karna perutnya yang juga semakin tak enak, Widya segera berlari meninggalkan kantin namun lagi-lagi dia kembali mengeluarkan bunyi yang sangat keras. Sontak hal itu membuat semua penghuni kantin menertawakan Widya.
"Wid, Widya tunggu!"teriak Sandi hendak menyusul Widya, namun Irda segera mencegahnya.
"Sandi tunggu, Widya pasti lagi malu banget sekarang. Mending jangan dikejar dulu, kasian dia."ujar Irda seolah-olah prihatin.
"Tapi, dia mau kemana?"tanya Sandi gusar.
"Kamu tenang aja, dia pasti cuman ke toilet. Mending kita ke kelas sekarang San, udah waktunya kelas Mr. Gibran loh."ajak Irda yang memang sudah waktunya Sandi masuk kelas. Mau tak mau Sandi pun pergi bersama dengan Irda menuju kelasnya.
"Yes, rencana pertama berhasil! Nikmatin aja tuh mules-mules!"gumam Irda dalam hati tersenyum menyeringai.
Di kamar mandi...
"Yaa allah, aku kenapa sih ini? Perasaan tadi mie ayam nya gak pedes deh. Tapi, kenapa perut aku jadi gak enak gini? Mana tadi malu-maluin banget lagi ah!"gumam Widya lirih saat baru saja keluar dari kamar mandi.
Widya mencuci wajahnya di wastafle, dirinya benar-benar merasa sangat malu. Namun, dirinya pun tak bisa terus berdiam diri di kamar mandi. Karna dia harus mengikuti 1 mata kuliah lagi, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.
Saat keluar dari kamar mandi, Widya mencari keberadaan Sandi yang dirinya kira akan mengikutinya saat tadi berlari keluar dari kantin. Tapi ternyata Sandi tak ada menyusulnya, yang ada hanya beberapa mahasiswi yang menatap ke arah nya dengan tatapan meledek. Mereka yang tadi berada di kantin, saling berbisik membicarakan Widya saat tadi di kantin.
__ADS_1
Dengan perasaan kecewa karna Sandi tak ada menemaninya, juga malu karna kini mahasiswi-mahasiswi sedang membicarakan dirinya Widya segera pergi menuju kelasnya dengan menahan air matanya agar tak turun. Berharap teman-teman satu kelasnya tak ada yang mengetahui kejadian tadi di kantin.