
Widya pov
Entah mau dibawa kemana aku ini oleh Sandi, yang jelas aku malas hanya untuk sekedar bertanya padanya. Aku masih sangat kesal karna dirinya yang tiba-tiba datang tadi, dan membuat Evan pergi. Aku benar-benar merasa tak enak pada Evan, pokoknya besok di Kampus aku harus minta maaf sama Evan.
"Wid, kok kamu diem aja sih? Masih marah sama aku?"Sandi sedikit mengeraskan suaranya, karna memang kami berada di jalan raya yang cukup ramai kendaraan.
"Enggak. Biasa aja!"aku pun menjawab dengan suara keras dan ketus. Entahlah rasanya aku benar-benar kesal sama Sandi.
Tak ada lagi suara di antara kami, mungkin Sandi pun merasa kesal padaku atas sikapku ini. Bodo amatlah.
Setelah sekitar mungkin 35 menit kita berdua menghabiskan wakti dengan tanpa ada yang berbicara, akhirnya Sandi menghentikan sepeda motornya di tempat yang... sangat indah. Dan aku baru pertama kalinya datang ke tempat ini. Aku pun tak tahu tepatnya berada di mana, karna sepanjang jalan tadi pikiranku dikuasai oleh rasa kesalku hingga aku tak memperhatikan jalan-jalan yang tadi kita lewati.
"Betah banget ya di atas motor?"suara Sandi membuatku mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Oh."ucapku singkat seraya turun dari motor. Malu sih, karna aku malah asik melihat pemandangan di depannku tanpa sadar motor telah lama berhenti.
Ku lirik, Sandi terlihat tersenyum geli. Ah, melihat senyumnya kenapa rasa kesalku tiba-tiba hilang ya? Sebucin itukah aku padanya?
"Yuk kita ke sana!"lagi-lagi suaranya membuatku tersadar, hingga aku pun mengikutinya yang entah akan mengajakku kemana lagi.
Saat ini aku tengah berjalan di tempat yang menyerupai taman, hanya saja lebih alami karna semua tanaman di sini bukanlah tanaman hias. Namun, tetap terlihat sangat indah dan juga terawat. Mungkin memang ada petugas yang merawatnya hingga tanaman di sini terlihat rapih juga bersih.
Sandi masih terus berjalan hingga kita berhenti tepat di depan sebuah sungai yang dikelilingi berbagai macam tanaman bunga-bunga liar namun cantik. Aku pun sangat menikmati hawa sejuk juga pemandangan yang indah di depan mataku.
"Wid, duduk sini!"Sandi yang sudah terlebih dulu duduk lesehan di atas rumput yang menghadap ke sungai, dan aku pun segera duduk di sampingnya.
"Kok, kamu tau tempat ini San?"tanyaku setelah duduk di sampingnya, namun pandanganku tetap mengarah ke sekitar.
"Ya, waktu itu gak sengaja aja lewat. Kalo sore sih, tempat ini rame. Ada yang jualan juga."aku pun menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Wid, kamu udah gak marah kan?"tanya Sandi yang kini menatapku sendu.
__ADS_1
Aku pun menghembuskan napas sebelum menjawab pertanyaannya. Mungkin aku memang harus jujur padanya, kekesalanku tadi.
"Marah sih enggak, aku tuh cuman kesel aja San."
"Kesel kenapa?
"Ya, kamu tiba-tiba dateng terus bersikap seenaknya gitu. Mana si Evan kamu kacangin lagi, seolah-olah tadi tuh dia gak ada tau gak! Aku kan gak enak sama dia."akhirnya ku ungkapkan rasa kesalku padanya, tanpa menatap wajahnya.
"Emang kamu sama Evan ada hubungan apa sih Wid? Sampe se gak enaknya gitu, kamu sama dia!"nada bicara Sandi sedikit ketus namun tetap lembut.
"Hubungan? Ya kan aku udah pernah bilang sama kamu, aku sama Sandi ya cuman temenan. Tapi, kan tetep aja tadi tuh kesannya kayak ngusir dia."
"Kamu suka sama dia?"pertanyaan Sandi benar-benar membuatku bingung, kenapa sih sama dia?
"Ya sukalah, kalo aku gak suka mana mau aku temenan sama dia. Lagian dia orangnya baik dan pinter, ya walaupun irit ngomong sih."jawabanku membuat Sandi memutar matanya malas. Kenapa lagi coba?
"Maksud aku suka, naksir Wid. Bukan suka sebagai teman."
"Hah?Naksir?"ku rasa Sandi semakin aneh deh hari ini. "Ya enggaklah San, aku tuh bener-bener tulus temenan aja sama dia. Kamu tuh kenapa sih? Dari tadi aneh tau gak?"
Widya pov and
Di tempat lain, Irda dan Erick baru saja keluar dari cafe tempat tadi mereka menghabiskan waktu hanya dengan kebisuan. Lebih tepatnya Irda yang merasakan tak enak pada Erick, setelah pembahasan soal kedekatannya dulu saat masih sama-sama Di SMa.
"Da, aku anterin pulang ya? Atau kamu mau jalan-jalan dulu?"tanya Erick setelah keluar daei cafe.
"Kita langsung pulang aja deh, aku capek."jawab Irda tanpa menatap ke arah Erick.
"Yaudah kamu tunggu di sini ya, aku bawa mobil dulu."Erick langsung berlari menuju parkiran. Sedangkan Irda memilih untyk menunggunya di depan gerbang keluar cafe.
"Aku kok jadi ngerasa gak enak ya sama Erick. Dia tuh dari dulu selalu care sama aku, padahal aku udah bersikap gak baik sama dia."gumam Irda dalam hati, seraya mengingat kembali kenangan-kenangan dulu saat bersama Erick.
__ADS_1
Meski mereka tak pernah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, tetapi perlakuan Erick terhadapnya seperti seorang pacar yang selalu peduli dan perhatian. Yang bahkan selama Sandi menjadi pacarnya tak pernah seperhatian Erick.
tin
*tin
tin*
Suara klakson dari mobil Erick membuyarkan lamunan Irda. Setelah membuka pintu depan samping kemudi, Irda pun langsung masuk. Saat dirinya hendak memasang sealtbet, Erick lebih dulu memasangkannya. Hingga wajah mereka berjarak sangat dekat, aroma mint dari tubuh Erick tercium sangat jelas oleh Irda.
Deg
Tiba-tiba saja Irda merasa debaran jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ada debaran di sudut hatinya yang belum pernah dirinya rasakan bila berdekatan dengan seorang pria, termasuk Sandi.
"Oh Tuhan, kenapa aku? Kenapa rasanya jantungku berdebar banget?"gumam Irda dalam hati, sembari dirinya terus menatap wajah Erick yang masih begitu dekat dengan wajahnya.
Bila dilihat lebih dekat, wajah Erick yang putih bersih, kedua mata yang tajam namun memiliki tatapan yang teduh, juga hidungnya yang mancung, terlihat sangat tampan juga manis.
"Ganteng."gumam Irda lirih nyaris tak terdengar, tanpa sadar.
fyuhh
"Kamu ngomong apa Da?"Erick telah kembali pada posisinya, dan juga telah memasang sealtbetnya sendiri.
"Hah? Eh, enggak aku gak ngomong apa-apa."elak Irda menahan malu, memalingkan wajahnya menghadap jendela.
"Oh."Erick tersenyum tipis, seraya melajukan mobilnya keluar dari cafe.
Di taman, Widya dan Sandi masih duduk berdampingan menikmati pemandangan sungai yang ada di hadapan mereka.
"Kamu sendiri sama Irda gimana? Kayaknya makin deket tuh, kalian balikan ya?"meski ada perasaan sakit juga takut mendengar jawaban dari Sandi, namun dirinya pun tak bisa menghilangkan rasa penasaran tentang hubungan Sandi dan Irda.
__ADS_1
Sandi menolehkan wajahnya menhadap Widya, menatap Widya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Merasa dirinya ditatap, Widya pun mengalihkan pandangannya dan kini tatapan mereka saling menyatu.
"Aku sayang kamu Wid!"