Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
35


__ADS_3

Pagi harinya, Widya telah siap untuk berangkat sekolah. Setelah sarapan bersama kedua orangtuanya, kini Widya tengah duduk di kursi yang berada di teras rumahnya. Widya menunggu Sandi yang katanya sedang di jalan menuju rumahnya. Sandi sudah mewanti-wanti dari semalam, bahwa dirinya akan menjemput untuk pergi bersama ke sekolah.


Bertepatan dengan Sandi yang baru saja tiba di depan rumah, saat itu juga Deni keluar dari rumahnya. Seperti biasa, dia akan menaiki bus dibanding harus menaiki motor ataupun mobil miliknya sendiri. Deni sempat melirik sekilas ke arah Sandi berada. Begitu juga dengan sandi yang menatap ke arah Deni, tersenyum tipis mengangguk tanda memberi salam. Deni membalasnya dengan anggukan dan senyuman ramahnya. Deni pun melanjutkan kembali langkahnya menuju halte.


"Perasaan bukannya itu cowoknya Irda ya?"gumam Deni dalam hati, menginggat pertemuannya dengan Sandi saat datang ke rumahnya.


"Hai San!"sapa Widya yang baru saja membuka pagar rumahnya.


"Hai Wid!Yuk berangkat sekarang."ujarnya sembari memakaikan helm pada Widya. Jarak wajah mereka sangat dekat, membuat Widya merasakan hawa panas di kedua pipinya. Tercium aroma mint dari hembusan nafas Sandi, juga farfum yang sangat menyejukan indra penciuman Widya.


"Sudah, yuk!"Sandi yang sudah siap menstarter motornya, terdiam kala melihat Widya yang masih saja berdiri di tempatnya. "Wid, kok malah bengong sih?Ayo, nanti telat loh!"sahut Sandi membuyarkan lamunan Widya. Widya pun segera naik ke atas motor Sandi.


"Maaf maaf, yuk berangkat!"ujar Widya setelah duduk nyaman di belakang Sandi. Akhirnya Sandi menjalankan motornya menembus keramaian di jalan raya menuju sekolahnya.


Akhirnya, Widya dan Sandi tiba di sekolah dengan aman. Situasi di sekolah nampak sudah agak ramai, banyak siswa siswi yang masih berseliweran di koridor kelas. Widya dan Sandi jalan berdampingan menuju kelas. Namun, baru akan menaiki tangga menuju kelasnya Fajar menghentikan langkah mereka.


"Sandi!"panggil Fajar, menghentikan langkah Sandi juga Widya.


Sandi mengernyitkan keningnya bingung, merasa tak pernah ada urusan dengan Fajar. Namun kali ini Fajar tiba-tiba memanggilnya.


"Ada apa?"tanya Sandi datar.


"Kamu dipanggil sama Pak Heri, ditunggu di aula."Pak Heri adalah guru olahraga sekaligus pelatih tim basket di sekolahnya. Sandi memang ketua tim basket saat kelas 11 dulu. Sejak naik kelas, Sandi sudah tak aktif lagi di klub basketnya.


"Heum, yasudah aku ketemu Pak Heri dulu ya Wid. kamu duluan aja."ujar Sandi tersenyum. Lalu pergi menuju aula tanpa melirik Fajar.


"Si Sandi kenapa sih?Kayaknya sensi banget sama aku?"tanya Fajar yang sudah berdiri di samping Widya, melihat kepergian Sandi.


"Udahlah gak usah dipikirin. Yuk ke kelas!"ajak Widya seraya melangkah terlebih dahulu, baru setelahnya disusul oleh Fajar.


Widya dan Fajar tiba di kelasnya, Widya langsung duduk di kursinya begitu juga Fajar. Baru saja dia melepaskan tas dari gendongannya, Widya dihampiri oleh Irda yang bersikap sok akrab dengan dirinya.

__ADS_1


"Hai Wid!"sapa Irda tersenyum manis namun palsu.


"Eh, hai Da!"jawab Widya tersenyum canggung.


"Kamu dateng sendiri?"Irda duduk di bangku milik Sandi.


"Sama Sandi, cuman dia lagi dipanggil sama Pak Heri."jawab Widya mencoba untuk bersikap biasa saja.


"Oh, oya kapan-kapan aku boleh ya main ke rumah kamu?Kalo aku lagi main ke rumah tante Resni."ucap Irda memasang wajah memelas.


"Hah?Emm, ya boleh aja kok." Dalam hati sih, Widya menolak.


"Makasih ya!Nanti aku kabarin kalo aku main, boleh minta no kontaknya?"ujar Irda seraya menyerahkan Hp miliknya pada Widya.


"Boleh."Widya segera mencatat no Hp miliknya, dan segera mengembalikan kembali Hp milik Irda.


"Makasih Wid!"Tak lama, Sandi pun datang dan segera menghampiri Widya juga Irda.


"Eh, hai San!"sapa Irda tersenyum ramah. Namun Sandi hanya menatapnya datar.


"Permisi aku mau duduk!"ujarnya semakin dingin, tanpa mau melihat wajah Irda.


"Eh iya maaf, yaudah Wid makasih!Nanti aku kabarin ya."Irda pun kembali ke tempat duduknya.


"Ngapain sih dia?"tanya Sandi ketus, saat dirinya duduk di sebelah Widya.


"Biasa aja dong masnya!"ujar Widya terkekeh. "Sama mantan kok galak."Widya semakin menggoda Sandi.


"Biarin, ngapain ramah-ramah sama mantan."ucap Sandi cuek. Widya hanya menggelengkan kepalanya tersenyum menatap Sandi.


Tak lama bel tanda masuk pelajaran pun berbunyi. Semua murid duduk di bangkunya masing-masing dengan rapi. Karna jam pelajaran pertama akan dibimbing oleh guru yang cukup terkenal dengan kegalakannya. Maka dari itu tak ada yang berani mengeluarkan suara saat jam pelajaran berlangsung.

__ADS_1


Hingga akhirnya bel tanda waktu istirahat berbunyi. Bagaikan dapat undian, semua murid bersorak bahagia bisa terbebas dari guru killer. Semua siswa yang merasa perutnya harus diisi, serentak segera memasuki kantin. Begitu juga dengan Widya, Sandi, Irda dan Fajar. Awalnya mereka memang tak bersama-sama, hanya Widya dan Sandi saja yang pergi ke kantin bersama. Tapi Irda yang masih terus berusaha untuk kembali dekat dengan Sandi, dengan tidak ada rasa malu ikut bergabung dengan Widya dan Sandi.


"Wid, nanti pulang sekolah kita mampir ke toko buku dulu yuk!"ajak Sandi saat berada di kantin.


"Kenapa?Ada yang mau kamu beli?"tanya Widya sembari mulai memakan mie ayamnya.


"Iya, aku mau cari buku buat latihan ujian nanti."


"Oh, oke. Aku juga mau kalo gitu."


"Hai, aku gabung ya!"sahut Irda yang langsung duduk di sebelah Sandi, dengan membawa semangkuk mie ayam dan segelas es teh.


"Kenapa harus duduk di sini sih, kan di sana masih banyak bangku yang kosong!"geram Sandi tak suka.


"Kenapa sih San, aku cuman mau makan. Gakkan ganggu kamu kok."ujarnya memasang wajah sedih.


"Iya, San gak apapa."ucap Widya tersenyum. Sandi hanya bisa menghela nafas panjang.


"Woy, napa kalian serius amat tampangnya?"tanya Fajar yang tiba tiba datang dan duduk di sebelah Widya.


"Ini lagi ngapain sih?"Sandi makin kesal.


"Santai dong. Eh, udah pada tau belum?"tanya Fajar tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Sandi.


"Belum lah, kan belum dikasih tau."jawab Widya memotong ucapan Fajar.


"Ya makannya ini aku mau kasih tau. Tadi aku baru aja dari ruang guru, terus aku gak sengaja denger. Gak sengaja loh ya! Aku denger si ketos tuh lagi ngajuin proposal buat acara kemping buat kelas 12."jelas Fajar penuh semangat.


"Kemping?"serempak Widya, Sandi dan Irda mengulang ucapan Fajar.


"Iya kemping, katanya sih sebelum kita ujian. Biar kita anak-anak kelas 12 semakin akrab gitu. Emang ya anak-anak Osis tuh adaa aja yang dijadiin acara."ujar Fajar dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2