Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
63


__ADS_3

Irda masih menatap Erick tanpa berkata sepatah kata pun. Dan itu membuat Erick semakin gugup juga merasa tak enak. Mungkinkah Irda marah padanya atas pernyataan perasaannya barusan. Atau mungkin Irda malah kini membencinya. Batin Erick terus berperang menghadapi sikap Irda yang sama sekali belum merespon apapun atas pernyataannya. Erick perlahan melepaskan pegangannya dari tangan Irda.


Namun, belum sempat tangan Erick terlepas sempurna Irda lebih dulu menggenggam balik tangan Erick dengan erat. Sontak hal itu membuat Erick langsung menatap Irda dengan lekat.


"Makasih Rick, makasih banget karna Lo udah sayang sama gue. Padahal selama ini, gue selalu bersikap seenaknya sama Lo. Dan, gue harap apa yang lo ungkapin sekarang akan terus lo pertahanin, sampe gue bisa bener-bener bisa membalas perasaan lo."ucap Irda yang kini memberikan senyuman manisnya pada Erick.


Erick masih terdiam mencoba mencerna ucapan yang baru saja Irda katakan padanya. Hingga akhirnya, Erick langsung menarik lembut Irda masuk ke dalam dekapannya. Erick memeluk Irda dengan erat, merasa senang karna Irda akhirnya mau menerima perasaannya meski mungkin belum bisa membalasnya.


"Gue janji, akan terus selalu sayang dan cinta sama lo Da. Dan gue juga bakalan bikin lo bales perasaan gue."ucapnya dengan lantang.


Irda hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang semakin lebar. Irda juga memeluk Erick tak kalah eratnya. Akhirnya mereka pun menjalin hubungan dengan bahagia, meski Irda belum sepenuhnya bisa membalas perasaan Erick.


*


*


*


Satu bulan sudah, Sabitha bekerja pada Fajar. Dan hari ini, karna Fajar sedang libur dari kegiatan kampusnya dia sengaja mengajak Sabitha pergi berjalan-jalan. Ya, memang hubungan mereka selama sebulan ini semakin dekat. Sabitha mulai terbiasa dengan tugasnya, dia juga merasa senang karna selain bekerja membersihkan apartemen milik Fajar, dia juga bisa ikut mempelajari materi yang selalu Fajar ajarkan padanya.


"Lo mau ngajak gue kemana sih sebenernya?"tanya Sabitha yang kini duduk di bangku samping kemudi yang diduduki Fajar.


"Kemana aja, lo ada tempat yang pengen dikunjungi gak?"Fajar melirik sekilas pada Sabitha sebelum kembali fokus pada jalan di depannya.


Sabitha tampak berpikir, kemana dia harus mengajak Fajar. Sampai akhirnya dia mengingat sebuat tempat yang memang sudah sejak lama ingin dia kunjungi.


"Gue ada tempat nih, udah lama gue pengen ke sana. Tapi, agak jauh sih gimana?"tanya Sabitha sedikit ragu.

__ADS_1


"Gak masalah, seharian ini gue bakalan anterin lo kemanapun. Tenang aja, jadi kemana kita sekarang?"jawab Fajar membuat Sabitha tersenyum dengan tatapan yang berbinar.


"Serius Lo?"


"Iyalah, sejak kapan gue gak serius?"Sabitha hanya memutar matanya jengah.


Setelah hampir 2 jam lebih Fajar mengemudikan mobilnya menuju tempat yang sudah Sabitha beritahukan sebelumnya. Yang ternyata tempat yang mereka kunjungi adalah sebuah taman yang cukup luas. Di taman itu terdapat berbagai tanaman bunga yang cukup banyak juga berwarna-warni. Dan di sana juga terdapat sebuah danau buatan namun terlihat seperti danau asli.


Selain mereka berdua yang datang ke tempat itu, ada beberapa yang juga tengah menikmati keindahan taman itu. Meski tempatnya agak jauh dari kota, namun karna tempatnya yang sangat indah maka banyak pengunjung yang sengaja jauh-jauh datang ke sana.


"Lo tau darimana tempat ini?"tanya Fajar saat mereka tengah duduk di atas rumput yang menghadap ke arah danau.


"Dulu waktu masih kecil, gue cukup sering dateng ke sini kalo lagi liburan sekolah. Dimana orang-orang pada pergi ke tempat wisata, ayah gue cuman bisa bawa gue ke sini. Tapi, itu udah sangat bikin gue seneng. Karna di sini tempatnya indah. Malah dulu tuh lebih indah sih."jelas Sabitha panjang lebar, mengingat masa kecilnya dulu yang selalu diajak sang ayah untuk berlibur ke sana.


Fajar hanya diam sembari terus menatap wajah Sabitha dari samping. Dirinya pun terus tersenyum mendengar cerita Sabitha, entah karna ceritanya atau karna Fajar yang memang memiliki perasaan lebih terhadap Sabitha.


"Eh, sory gue denger kok. Eh, kita cari jajanan aja yuk. Di sana kayaknya rame tuh!"Fajar langsung berdiri agar Sabitha tak lagi bertanya.


"Ish gak jelas dasar, lo."gerutu Sabitha seraya ikut berdiri dan mulai berjalan menuju penjual makanan yang berada tak jauh dari taman.


Di sekitar taman itu memang ada beberapa penjual makanan, yang berada di dekat gerbang masuk taman juga di pinggir-pinggir luar taman. Karna memang di dalam taman dilarang adanya penjual juga para pengunjung tidak dibolehkan untuk membawa makanan ke dalam wilayah taman.


Fajar mengajak Sabitha untuk membeli batagor, setelah memesan Fajar dan Sabitha duduk di kursi yang sudah disediakan oleh penjualnya.


"Gimana Tha, lo seneng gak kerja sama gue?"tanya Fajar disaat setelah mereka duduk.


"Ya gue sih seneng-seneng aja, lagian kerja sama lo kayak gak kerja tau gak?"keluh Sabitha mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Emang gimana? Kok lo bilang gitu?"tanya Fajar sembari menahan senyumnya.


"Ya masa iya gue kerja, cuman masak sama nemenin lo makan aja? Sedangkan beres-beres juga jarang banget. Lo sih orangnya kelewat rapi, jadinya apa yang harus gue beresin coba di apartemen lo. Cucian juga kenapa lo langsung cuci sendiri sih?"Sabitha terus mengungkapkan kekesalannya selama bekerja dengan Fajar.


"Hahaha. Lo tuh aneh ya, disaat orang-orang pada gak pengen capek kerja, lo malah ngeluh karna gak ada kerjaan. Harusnya lo seneng dong, meskipun kerjaan lo sedikit tapi kan lo tetep dapet bayaran full."


"Ya gue gak enak lah, masa iya gue kerja enak-enakkan tapi gue malah dapet bayaran full sih?"


"Yaudah sih, gak usah dipikirin. Nanti gue tambah deh kerjaannya buat lo."


"Apaan?"


"Cukup Lo selalu ada di samping gue. Temenin gue sarapan, makan siang juga makan malam."jawab Fajar enteng sembari tersenyum menggoda menatap Sabitha yang bingung.


"Hah? Lo aneh tau gak?"Sabitha memalingkan wajahnya ke arah lain. Karna tiba-tiba pipinya terasa terbakar, dan sudah dipastikan pasti kini pipinya merah seperti kepiting rebus.


"Loh kok aneh sih? Kan katanya lo mau ada kerjaan lain?"


"Ya masa cuman nemenin lo makan? Itu sih bukan kerjaan, itu mah kayak...."Sabitha tak meneruskan ucapannya, karna semakin merasa malu.


"Kayak apa maksud lo?"goda Fajar.


"Ya ya kayak gitu lah,"


"Lah lo tuh yang aneh."ucap Fajar terkekeh.


"Ish lo nyebelin tau gak!"

__ADS_1


__ADS_2