Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
9


__ADS_3

Akhirnya Sandi pun sampai di rumah Widya, namun dia belum beranjak dari motornya. Dia masih duduk di atas motor nya, di halaman rumah Widya memperhatikan Widya yang baru saja turun dari motor yang dikendarai oleh Fajar. Iya, Widya dan Fajar baru saja pulang karna tadi setelah dari taman kota mereka memutuskan untuk pergi ke toko buku. Tentu itu keinginan Widya.


Melihat ke arah Sandi, Widya pun memberikan helm yang dia pakai kepada sang empunya.


"Mau masuk dulu Jar, tuh ada Sandi juga." Ucap nya sambil melirik ke arah Sandi yang tak melepaskan tatapannya dari tadi ke arah mereka.


"Emm lain kali aja ya, Wid. Udah gerah banget nih, hehe." tolak Fajar, karna merasa tatapan Sandi seperti tak suka dia ada berada disana.


"Oh, iya nih sama aku juga! Oyah, makasih udah nemenin ke toko buku tadi." ucapnya tersenyum sangat manis dan tulus. Membuat jantung Fajar berdetak cepat tak seperti biasanya. Namun Sandi tak suka itu.


"Nyantai aja kali, yaudah aku pulang ya. San, duluan! " seru Fajar melambaikan tangan, yang dijawab dengan anggukan saja. Fajar pun pergi meninggalkan Widya dan Sandi.


Widya menghampiri Sandi, meski hati nya masih merasakan sakit namun dia berusaha menutupi perasaannya.


"Kok baru dateng?Katanya tadi langsung pulang?" tanya Sandi ketus, saat Widya sudah berada di hadapannya.


"Iya, tadi nya emang mau langsung pulang. Tapi, aku minta anterin ke toko buku dulu, beli novel baru. Kamu sendiri kenapa disini, bukannya tadi bilang mau jalan-jalan dulu sama pacar?" tanya Widya balik dengan nada yang tak kalah ketus nya.


"Kenapa emang kalau aku kesini gak boleh? aku kan kangen sama ayah bunda." Jawabnya sambil melenggang masuk ke dalam rumah meninggalkan Widya tanpa rasa salah.


"Ish, ini tuh rumah aku..malah dia yang masuk duluan!" gerutu Widya mengikuti Sandi masuk.


"Assalamu'alaikum. Ayah, bunda!" teriak Sandi saat memasuki ruang tengah seolah dialah tuan rumah disana.


"Ih emang yaa ni anak, gak ada sopan-sopan nya!" masih menggerutu di belakang Sandi, jengah melihat tingkah sahabat kecil nya itu.


"Gak sopan gimana sii, kan aku udah ngucapin salam. Eh, ayah sama bunda kemana sih?" ucap Sandi mengamati seisi ruangan, mencari keberadaan ayah bunda dari Widya.


"Paling di kamar, yaudah kamu tunggu aja dulu. Aku panggilin bentar!" ketus Widya pergi menuju kamar orangtua nya.


Tak lama, Widya pun kembali ke ruang tengah bersama kedua orangtuanya menghampiri Sandi yang sedang duduk memainkan hp nya.


"Nak Sandi." seru bunda, saat tiba di ruang tengah menyapa Sandi.

__ADS_1


"Eh bunda, apa kabar bunda?" tanya Sandi menghampiri bunda dan mencium tangan ayah dan bunda.


"Alhamdulillaah baik, kamu kemana aja baru main lagi kesini?" mereka pun telah duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Ehehe, ada aja kok bun.." menggaruk tengkuknya sembari tersenyum kikuk menjawab.


"Sibuk pacaran bun, " sahut Widya menjulurkan lidah kepada Sandi.


"Ih apaan enggak kok bun, " Elak Sandi merasa tak enak.


"Elaah boong tuu..Yah, bun Widya mandi dulu ya udah gerah banget. San, katanya kamu kan kangen sama ayah bunda, jadi ngobrol aja ya sama mereka..daah!" ujar Widya seraya beranjak pergi menuju kamar nya. Sandi pun hanya menatap punggung Widya hingga tak terlihat karna sudah masuk ke kamarnya.


"Emang iya, kamu udah punya pacar San?" tanya ayah yang duduk di hadapan Sandi.


"Kata siapa sih ayah gosip aja deh.." Elak Sandi masih tak ingin mengakui.


"Jadi cuman gosip apa fakta?" timpal bunda menggoda sahabat dari putrinya itu.


"Ih, kalian ini..bikin malu aja deh!" seru Sandi bersembunyi di balik punggung bunda, seolah dia benar-benar sedang merasa malu. Ayah dan bunda hanya tertawa melihat tingkah Sandi.


"San jangan dulu pulang ya, kita sekalian makan malam bareng. Udah lama juga kan kamu gak makan disini." Ajak bunda yang juga merasa kangen pada Sandi yang sudah dianggap anak oleh mereka.


"Ouh siap bun, dengan senang hati!!" jawab Sandi penuh dengan semangat.


"Dasar kamu ini, yaudah bunda mau ke dapur dulu ya siapin buat makan malam nanti." ucap bunda lalu pergi ke dapur.


"Yah, Sandi boleh ya ke kamar Widya..kok dari tadi dia gak keluar-keluar, jangan-jangan dia di telen nenek gayung lagi!" ucap Sandi dengan wajah sok serius.


pletak


"Aaww!" ucap Sandi mengaduh, mengusap kening nya karna ayah menjitak pelan keningnya.


"Pelan juga! Mana ada sih nenek gayung kamu ini ! Yang ada tuh buaya darat! " ucap ayah tertawa membuat Sandi melongo. "Yaudah sana, mungkin ketiduran dia, bilang bantuin bunda gitu!" sambung ayah, memberi ijin Sandi.

__ADS_1


"Siap ayah!" Sandi pun melangkah menuju kamar Widya.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Sandi langsung masuk ke dalam kamar bernuansa hijau muda itu untuk menghampiri sahabat kecilnya. Yang ternyata benar dugaan ayah, kini Widya sedang tertidur dengan posisi setengah badan diatas kasur, sedangkan kakinya dibiarkan menggantung begitu saja. Handuk pun masih tergeletak disampingnya. Membuat Sandi yang melihat nya menggelengkan kepala.


Sandi pun terus mendekatinya, hingga dia duduk di samping Widya. Menatap wajah Widya lekat, dari ujung kepala sampai ke dagu nya. Entah mengapa ada perasaan tenang saat menatapnya seperti itu.


"Kamu emang cantik Wid." gumam Sandi tersenyum, membelai pipi Widya.


"Eugh!" karna merasa ada yang menyentuh wajah nya, Widya pun perlahan membuka matanya. Sandi pun segera mengangkat tangannya, namun tatapannya terus pada wajah Widya.


"Sandi? " gumam Widya, saat dia membuka matanya. Melihat wajah seorang sahabat yang sudah mencuri hati nya sejak mereka beranjak remaja begitu dekat sekali.


"Iya ini aku, kok malah tidur sih?" ucapnya lembut sambil tersenyum manis. Membuat jantung Widya kembali berdetak lebih cepat. Mungkin bisa sampai terdengar oleh Sandi.


"Aku ketiduran, capek banget soalnya. " jawab Widya sambil beranjak duduk, mencoba menenangkan jantungnya yang semakin tak karuan.


"Kasian, emang ama si Fajar diajak lari-lari ampe kecapean gitu sih!" ucapnya mengelus rambut Widya penuh perhatian.


"Hah? Ya enggak lah, bukan gitu maksud aku! Eh, emang sekarang jam berapa sih?" tanya Widya semakin gugup.


"Udah jam 6, makannya aku bangunin kamu. Tuh ditungguin bunda, di dapur!"


"Ngapain?" tanya Widya polos.


"Nyangkul! " jawab Sandi mengacak acak rambut Widya yang memang sudah acak-acak karna tertidur.


"Eh kamu mah ya, mana ada nyangkul di dapur sih?" gerutu Widya manyun.


"Haha, ya kamu malah nanya.. ya di dapur itu masak lah! Ayo bantuin bunda tuh masak, bukannya tidur. " seru Sandi tertawa.


"Iya, iya kan namanya juga ketiduran! Yaudah yuk keluar, aku mau bantuin bunda." Widya pun berdiri, hendak keluar namun ditarik kembali oleh Sandi. Karna kaget, posisi Widya pun jadi tak seimbang tak sengaja Widya pun mendorong Sandi hingga akhirnya mereka terjatuh ke atas kasur. Dengan posisi, Widya menindih Sandi.


Tatapan pun terjadi lagi. Sekian detik, hingga menit mereka masih betah dalam posisi itu. Jantung mereka sama-sama berdetak sangat kencang. Ada perasaan yang berbeda saat mereka saling menatap. Hingga satu pertanyaan keluar dari mulut Sandi.

__ADS_1


"Kamu ada hubungan sama Fajar?" tanya Sandi menatap Widya semakin tajam.


Mohon dukungannya yaaa 🙏🙏🙏


__ADS_2