Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
7


__ADS_3

Terbesit dalam pikiran Sandi, sebuah pertanyaan mengapa Fajar sang ketua kelas menghubungi Widya. Dan sejak kapan mereka saling tukar nomor hp. Itulah yang ada dipikiran Sandi. Karna tak ingin terus penasaran, akhirnya setelah mereka keluar dari kamar Widya, Sandi pun mengutarakan rasa penasarannya kepada Widya.


"Wid, !" seru Sandi saat mereka sedang duduk di bangku taman belakang rumah Widya.


"Hmm" hanya gumaman yang Widya berikan sebagai jawaban.


"Ngapain si Fajar nelfon kamu?" tanya Sandi sambil terus menatap wajah Widya dari samping.


Widya pun menoleh menatap Sandi. Tatapan mereka pun kembali bertemu, sejenak terdiam saling memandang. Seakan ada perasaan yang ingin diucapkan namun entah terhalang apa.


"Cuman mastiin besok jadi apa enggak.." Jawab Widya akhirnya sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Emang mau ngapain atau mau kemana besok?" Jiwa ke kepoan Sandi pun meningkat.


"Kepo banget sih!" ucap Widya sambil menahan senyum, melihat ekspresi Sandi yang sangat kepo itu.


"Ya biarin, gak apa-apa kan kalo aku tau?" keukeuh Sandi terus menatap Widya.


"Iya iya, besok aku sama Fajar mau jalan-jalan. Makannya tadi dia mastiin lagi, jadi apa enggak nya." Jelas Widya, dan Sandi hanya terdiam.


Merasa seseorang yang duduk di samping nya itu diam, Widya pun menoleh kembali menatap Sandi.


"San, kok malah diem? Tadi aja nanya mulu, kayak wartawan." cibir Widya heran melihat Sandi terdiam seperti menahan sesuatu.


"Aku pulang dulu ya, udah malem. Salam aja buat ayah sama bunda. Daah!" Sandi pun langsung pergi meninggalkan Widya yang tengah bingung sendiri.


"Hey! Loh, kenapa sih dia?? Aneh deh ih!" Gerutu Widya menatap punggung Sandi yang semakin menjauh dari tempatnya berada.


Hari Sabtu pun tiba. Kini Widya sedang bersiap-siap di kamarnya, dia memakai dress berwarna soft pink kesukaan nya. Tak lupa dia pun memakai liptin warna senada dengan baju yang dia pakai. Karna Widya tak suka bila harus berlama-lama make up, toh dia masih remaja pikirnya. Setelah memakai sepatu nya dan mengambil sling bag nya, Widya pun keluar dari kamarnya menuju ruang tengah.


"Ayah, bunda!" Sapa nya saat berhadapan dengan orangtua nya yang sedang duduk bersama di ruang tengah.


"Aduu putri ayah cantik banget sih, mau kencan ya?" Puji ayah sambil mengusap kepala Widya. Tepat nya mengacak acak rambut Widya.


"Ish ayah kok malah diacak-acak sih, kan jadi berantakan!" Gerutu Widya sambil merapikan kembali rambut nya. Sang ayah hanya terkekeh senang.


"Mau kemana sayang, udah rapi gitu?" bunda pun bertanya lembut.


" idya mau main dong bun, masa sabtu gini diem aja di rumah..gak asik dong!" Jawab Widya sambil tersenyum memamerkan deretan gigi nya.


"Nah gitu dong ada kemajuan, meski jomblo harus tetep happy!" seru ayah kembali menggoda sang putri.


"Iya dong Yah, masa iya jadi jones..hehe" ucap Widya semangat.

__ADS_1


"Emang mau main kemana, sama siapa?Sandi?" tanya bunda kembali.


"Bukan bun.." ucapan Widya terpotong karna ada suara bel berbunyi.


Ting tong


"Eh, itu kayaknya temen Widya deh.. Widya buka dulu ya." seru nya sambil beranjak membuka pintu.


"Assalamu'alaikum.." ucap Fajar saat pintu terbuka.


"Wa'alaikumussalam.. Hai Jar!" jawab Widya tersenyum manis. Yang membuat jantung Fajar berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Ha..i. Wid!" ucap nya gugup, terpana melihat penampilan Widya yang menurutnya sangat cantik. "Kamu cantik banget Wid!" gumamnya dalam hati.


"Eumm kita langsung berangkat, atau kamu mau ijin dulu sama orangtua aku? Secara kan mau ngajak anak gadis, hehe!" gurau Widya tersenyum geli dengan ucapannya sendiri.


"Emang boleh?" Fajar pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal cengengesan.


"Boleh apa?" tanya Widya polos.


"Ya kalau bawa kamu tanpa ijin." jawab Fajar asal, Widya pun hanya bengong. "Ya aku ijin dulu dong Wid, masa iya aku ajak main tapi gak bilang dulu." sahut Fajar sambil mengacak rambut Widya.


"Ish, ini rambut tuh udah di rapi-rapi malah diacak-acak lagi! Yaudah hayu ketemu sama ayah bunda dulu, " Gerutu Widya yang harus kembali merapikan rambutnya, sambil masuk ke ruang tengah diikuti Fajar di belakang nya.


"Kamu lucu Wid.." gumamnya lirih nyaris tak terdengar.


"Pagi Om, tante.." sapa Fajar sambil melangkah mencium punggung tangan ayah dan bunda Widya.


"Pagi, siapa namanya?" tanya ayah sok dingin.


"Fajar Om.." jawab nya tenang.


"Oh, temen Widya dari mana?"masih dengan nada dingin menatap Fajar tajam.


"Saya temen sekelasnya Widya om.." Masih juga menjawab dengan tenang dan tersenyum


"Oh berarti temen nya Sandi juga dong ya, " ucap bunda mendahului ayah yang akan kembali bertanya.


"Iya tan, " Dijawab dengan anggukan sopan.


"Udah dong tanya jawabnya, keburu siang ini berangkat nya!" Seru Widya, kesal karna daritadi seperti melihat acara cerdas cermat saja. Saling tanya jawab.


"Yaudah, kalian hati-hati pergi nya. Pulang nya jangan terlalu sore, apalagi malam!" tegas ayah masih bersikap dingin.

__ADS_1


"Iya ayah, yaudah Widya sama Fajar berangkat dulu ya!" Ucap Widya sambil mencium tangan dan pipi ayahnya, Widya pun berbisik. " Ayah jangan berubah jadi sok dingin jutek gitu deh, gak pantes!" bisik Widya sambil menahan senyumnya.


"Bun, berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum. Yuk Jar!" sambung Widya sambil menarik tangan Fajar pergi keluar dari rumah.


"Ayah kenapa sih sok dingin jutek gitu, anak orang malah di jutekkin! " Ucap bunda sambil mendelikkan matanya.


"Ya gak apa-apa bun, iseng aja pengen liat reaksinya.." terkekeh ayah merangkul pundak bunda.


"Ih dasar ayah jail banget sih!" bunda hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Kini Widya dan Fajar sedang berada diatas motor yang dikendarai Fajar. Awalnya tak ada perbincangan diantara mereka, sampai Fajar tiba-tiba menarik tangan Widya untuk berpegangan di pinggang nya.


"Eh, kenapa tangan aku ditarik gini?" ucap Widya kaget.


"Biar kamu pegangan yang bener Wid, ntar jatoh lagi kalau cuman megang pundak aku! Lagian aku kan bukan kang ojeg!" jawab Fajar santai.


"Hemm modus!" gerutu Widya, namun tetap memegang pinggang Fajar. Fajar pun kembali fokus mengendarai sepeda motornya, sesekali melihat wajah Widya dari kaca spion nya sambil tersenyum.


Di kostan Irda.


"Sayang, kok baru dateng sih? Aku nunggu udah ampir sejam tau!" Ucap Irda kesal, karna Sandi yang baru saja datang telat dari waktu yang sudah ditentukan sebelumnya.


"Iya maaf ya, tadi aku bangun kesiangan." ucap Sandi mengelus kepala Irda mencoba menenangkannya.


"Yaudah, yuk langsung berangkat aja.. aku udah laper!" ucapnya tak lagi kesal,sambil menggelayut manja di tangan Sandi.


"Yaudah yuk!" mereka pun pergi, menggunakan motor yang selalu Sandi pakai kemana mana.


Akhirnya setelah tigapuluh menit di perjalanan, Widya dan Fajar tiba di tempat yang mereka tuju. Yaitu taman kota, yang kini sedang ada pasar jajanan makanan yang murah meriah tapi rasa juga kebersihannya tak kalah dengan yang ada di toko-toko mahal.


"Waaah banyak banget ini yang jualan, jadi bingung!" ucap Widya sedikit berteriak semangat. Saat memasuki taman kota.


"Mau beli semua nya juga gak apa-apa kali Wid, gak ada yang larang." ucap Fajar sambil terus menyusuri stand-stand penjual berbagai macam makanan.


"Iya emang gak ada yang larang, tapi gak semua nya dibeli juga kali ah!" seru Widya terus memilih-milih apa yang akan dia beli. Fajar pun hanya menggaruk kepala nya tersenyum.


Disaat Widya memilih untuk masuk ke salah satu stand makanan yang akan dia beli, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang gadis.


Brukk


Widya dan gadis itu pun terjatuh, hingga terduduk di jalanan yang untungnya tidak terlalu kotor.


"Widya, kamu gak apa-apa?" tanya Fajar sambil membantu Widya untuk berdiri.

__ADS_1


"Kamu gak apa-apa?" ucap seorang pemuda yang suaranya tak asing bagi Widya dan Fajar. Mereka pun terkejut saat melihat siapa orang pemilik suara itu.


Mohon dukungannya yaa...Boleh lah kirim komentar nya🙏🙏🤭😁


__ADS_2