Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
29


__ADS_3

Hari ini, di kelas Widya Pak Anton guru mapel Bahasa memberikan tugas kelompok untuk membuat sebuah berita. Masing-masing kelompok hanya terdiri dari 2 orang, dan Widya satu kelompok dengan Fajar. Meski merasa canggung, tapi Fajar berusaha untuk bersikap biasa saat berhadapan dengan Widya.


"Kita mau cari tema apa Jar?"tanya Widya saat dirinya bersama Fajar di perpustakaan.


"Emm, gimana kalo tentang anak-anak jalanan yang suka ngamen di lampu merah gitu."usul Fajar tanpa menatap Widya. Dia fokus menatap buku yang sedang dibacanya.


"Boleh juga, jadi kapan kita mau mulai?"tanya Widya lagi, yang terus menatap Fajar dan berharap Fajar juga melihat wajahnya.


"Besok pulang sekolah aja, sekarang aku ada perlu."ujarnya sembari membereskan buku-buku miliknya.


"Oh oke!Terus sekarang kita pulang aja?"tanya Widya yang juga ikut membereskan buku-buku miliknya.


"Iya. Maaf ya, aku gak bisa anterin. Kamu gak apa-apa kan pulang sendiri?"tanya Fajar, menatapnya sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya.


"Iya gak apa-apa kok, santai aja Jar."ucap widya sedikit lesu.


"Yaudah aku duluan ya. Kamu hati-hati!"Fajar pun tersenyum lalu bergegas pergi meninggalkan Widya yang masih duduk di kursinya menatap kepergian Fajar.


"Kamu kok berubah Jar, dan rasanya tuh..."gumam Widya pelan. Dia pun segera membereskan buku-bukunya untuk segera pulang.


Di kostan Irda.


"Da, besok pulang sekolah aku gak jemput ya."ucap Sandi saat dirinya duduk di kursi depan kamar Irda.


"Kenapa?"tanya Irda dengan nada tak suka.


"Ada tugas yang harus dikerjakan segera. Dan tugasnya di lapangan."jelas Sandi.


"Oh, gitu ya? Yaudah deh gak apa-apa kok."ucap Irda tersenyum, meski sedikit kesal.


"Kamu gak apa-apa kan pulang sendiri?atau ada temen yang bisa anterin?"tanya Sandi.


"Aku belum tau sih, tapi kamu tenang aja gak usah khawatir, aku gak akan kenapa-napa kok!"ujar Irda dengan yakin.


"Oke, tapi kalo ada apa-apa cepet hubungin aku ya! Yaudah, aku pulang dulu ya."


"Iya, hati-hati ya sayang!" Sandi pun menaiki sepeda motornya dan segera pergi dari kostan Irda.


Sore harinya, saat Widya sedang berada di rooftop rumahnya. Widya tak sengaja melihat ke arah rumah Ibu Resni yang berada tepat di seberangnya. Widya melihat Deni sedang berdiri di balkon, sepertinya balkon yang berada di dalam kamar Deni.


"Sebenernya kak Deni ganteng sih, tapi aneh..Eh ngapain juga mikirin ka Deni!"gumam Widya yang masih memperhatikan Deni dari kejauhan.


Deni sedang bersantai di atas balkon, lebih tepatnya sedang memikirkan seseorang yang telah lama berada di hati dan fikirannya. Seseorang yang tiba-tiba meninggalkan dirinya pas lagi sayang-sayangnya.


"Kamu apa kabarnya disana?Sial!!kenapa sampe sekarang aku gak bisa buang semua tentang kamu dari hati aku!"gerutu Deni, sembari mengacak rambutnya frustasi.


"Tuh kan aneh, dari kemarin kak Deni ngomong sendiri kayak gitu aja. Sekarang malah keliatan marah-marah gitu, dasar aneh!"gumam Widya yang masih melihat Deni dari atas rooftop.

__ADS_1


ting!


📥Sandi


Wid, udah mulai nugas?


^^^📤Widya^^^


^^^Belum San. Kamu gmana?^^^


📥Sandi


Sama, belum juga. Lagi apa?


^^^📤Widya^^^


^^^Lagi nyantai aja.^^^


📥Sandi


Aku maen ya kesana?


^^^📤Widya^^^


^^^Biasa juga langsung kesini ah!^^^


"Loh Kak Deni nya udah masuk ya."ujar Widya yang melihat ke arah Deni tadi berdiri. Widya pun akhirnya turun menuju kamarnya untuk menunggu Sandi.


Tak lama, Sandi pun benar datang. Sandi ingin mengatakan kecurigaannya terhadap Irda, rasanya Sandi sudah tak tahan harus terus berpura-pura menyayangi Irda. Apalagi, Sandi juga tak ingin Widya semakin dekat dengan Fajar.


"Ada apa San, kayaknya kamu mumet gitu?"tanya Widya sembari memberikan minuman pada Sandi.


"Aku capek Wid..salah gak sih kalo aku curiga sama Irda?"keluh Sandi lesu.


"Curiga sama Irda?Kenapa?"Widya mengernyitkan keningnya tak mengerti.


"Beberapa hari ini, aku sering liat Irda di datengin sama cowok di kostannya. Emang sih mereka cuman ngobrol aja di teras. Tapi aku gak tau cowok itu siapa?"curhat Sandi langsung.


"Kamu udah tanyain sama Irda nya?"


"Belum sih, yang aku tau nama cowok itu Erik. Soalnya dia juga sering nulis atau pun posting foto yang nandain Irda juga."


"Ya kamu tanyain aja sama Irda, biar jelas San."


"Iya nanti biar aku coba tanyain sama dia. Oiya, tugas kelompok kamu gimana?"tanya Sandi mengganti topik.


"Besok pulang sekolah kita udah mulai cari berita soal anak-anak pengamen gitu."

__ADS_1


"Emm, coba aku yang sekelompok sama kamu Wid. Bukannya si Fajar."ucap Sandi ketus.


"Lah emang kenapa kalo aku sama Fajar?"tanya Widya menatap Sandi dengan heran.


"Ya aku gak suka aja, kamu deket sama Fajar!"jujur Sandi dengan ketus.


"Ish, kamu cemburu yaa..hayoo!" ujar Widya meledek.


"Enggak, bukan cemburu. Aku tuh..aku yaa, gak suka aja. Kamu kan sahabat aku,!"elak Sandi menutupi kegugupannya.


"Ya terusss..kamu mah aneh deh, gak cemburu tapi gak suka. Yaudah sih, lagian aku sama Fajar juga gak ada hubungan apa-apa!"Widya mengerucutkan bibirnya kesal.


"Kamu emang bener Wid, aku cemburu..tapi bolehkah aku cemburu?"batin Sandi.


*


*


*


Keesokannya, sesuai rencana Widya dan Fajar pergi bersama untuk mewawancarai anak-anak pengamen yang selalu berkumpul dan mencari uang di lampu merah. Meski dengan kondisi yang masih canggung, namun akhirnya Widya dan Fajar bisa menyelesaikan tugas mereka.


"Haus nih, cari minum dulu yuk Jar!"Ajak Widya setelah beres mewawancari salah satu anak pengamen.


"Ok, kita kesana aja tadi aku liat ada warung disana."ajak Fajar.


Widya dan Fajar pun tiba di warung kecil tak jauh dari lampu merah.


"Nih, minum dulu!"ujar Fajar seraya memberikan sebotol minuman segar.


"Makasih Jar!"Widya pun langsung membukanya dan meminumnya hingga setengahnya.


"Haus banget Wid?"tanya Fajar yang daritadi memperhatikan Widya.


"Iya, emangnya kamu gak haus apa?Daritadi kita jalan kesana kesini, ngomong ini itu sama anak-anak tadi. Kan lama-lama capek, kering banget rasanya tenggorokkan aku tau gak?!"keluh Widya.


Fajar yang mendengarnya tersenyum geli, melihat Widya yang berbicara panjang lebar. Padahal katanya capek. "Iya iya, yaudah mau langsung pulang atau makan dulu?Kita juga belum makan kan daritadi?"ujar Fajar dengan masih tersenyum.


"Makan dulu, sebelum cacing di perut aku demo. Mending duluan dikasih makan."ujar Widya cengengesan.


"Ish, yaudah yuk!"ucap Fajar sembari mengacak-acak rambut Widya.


"Ish gak usah diacak-acak juga kali ah!"Kesal namun tersenyum.


Widya dan Fajar pun memutuskan untuk pergi ke tempat makan cepat saji. Sementara Sandi, sebelum pergi mengerjakan tugasnya. Sandi datang terlebih dulu ke sekolah Irda, dia hanya ingin tau dengan siapa Irda pulang. Sandi bersembunyi di tempat yang agak jauh dari gerbang sekolah, namun tetap bisa melihat siapa saja yang keluar dari gerbang itu.


Sampai akhirnya yang ditunggu pun muncul, namun Sandi tak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Sandi tak menyangka bahwa Irda telah membohonginya, sebelumnya Irda bilang pulang sendiri kenyataannya Irda pulang bersama teman lelakinya. Sandi terus mengikuti Irda, karna Irda bukan pulang ke kostan melainkan menuju Mall.

__ADS_1


__ADS_2